" Baby, hati-hati !! "
Teriak pria tampan itu pada wanita yang berjalan terburu-buru ke arahnya. Jantungnya sudah berdetak bak genderang perang akibat ulah wanita kesayangannya yang selalu membuatnya harus ekstra sabar.
"Maaf sayang. Aku sudah tak sabar memakan rujak yang baru kau beli itu"
"Ia tapi hati-hati berjalan. Kau sedang hamil aku takut kau jatuh"
"Kan ada kau sayang yang akan selalu menjagaku"
"Cihh dasar keras kepala"
Cup
Wanita itu hanya cengengesan sambil mempererat pelukannya di leher kekar suaminya yang langsung menggendongnya menuju arah dapur.
Sungguh keluarga yang terlihat harmonis dan penuh kebahagiaan.
Mereka adalah sepasang suami istri bernama Axel Morgan dan Cassie Morgan.
Mereka sudah menikah selama 3 tahun namun baru diberikan momongan pada tahun ke tiga usia pernikahannya.
"Oh my God sayang. Ini enak sekali. Rasanya aku bisa memakan ini seharian penuh" ucap Cassie dengan mulut yang penuh dengan rujak miliknya.
"Ettss, tak bisa. Seminggu sekali aku rasa cukup untuk kamu makan rujak baby. Ingat kata dokter tak boleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan asam, lambungmu bisa bermasalah" sahut Axel cepat. Sudah cukup ia dibuat stres oleh penyakit istrinya. Ia tak ingin istrinya yang bandel itu jatuh sakit.
"Siap sayang"
Cup
Ciuman singkat Axel dapatkan di pipi sebelah kirinya. Ia mengusap penuh kasih sayang surai panjang berwarna kecoklatan sedikit bergelombang milik istrinya. Sungguh ia akan melakukan apapun agar istrinya tetap di sampingnya.
Ia ingat ketika delapan bulan yang lalu ia sangat bahagia mendapati kabar bahwa istrinya mengandung anaknya. Namun kenyataan yang ia mendapati bahwa istrinya mengidap penyakit jantung membuatnya bagai dibogem mentah tepat di jantungnya. Cassie telah menyembunyikan masalah itu dari dirinya. Tentu ia akan menjaga wanita itu dengan seluruh kekuatannya.
Axel takut dengan kehamilan ini apalagi dengan bayi kembar yang bersemayang di rahim Cassie akan membahayakan nyawa wanita yang sangat dicintainya itu.
Sempat terjadi percekcokan antar keduanya, namun akhirnya Axel mengalah dan memilih menjaga kesehatan Cassie dengan sangat protektif dan posesif agar istri dan kedua anaknya baik-baik saja sampai pada saat melahirkan nanti.
Axel memandangi Cassie yang sangat lahap memakan rujak miliknya dan ikut tersenyum bahagia melihat senyum cantik yang tersemat di bibir indah itu.
"Sayang ini cobalah" Cassie menyodorkan sepotong pepaya yang sudah diberi taburan garam dan cabai.
"Cihh. Kau memberiku pepaya padahal kau tahu aku tak begitu menyukai buah ini baby"
Meski begitu, Axel tetap menerima suapan dari Cassie.
"Hehe kau makan saja pepaya nya. Mangga dan kedondongnya khusus untuk diriku"
"Oh begitu. Kenapa kau sekarang menjadi pelit heh ?"
Cassie hanya menunjukkan gigi nya yang tersusun rapi. Sungguh ia tak rela berbagi buah itu pada Axel. Ia hanya bisa memberikan buah pepaya saja yang ia rasa tak enak.
Cup
"Kau.."
"Apa ? Kau kan tidak memberiku buah mangga itu jadi aku mencicipinya lewat bibirmu saja"
Cup
Cup
"Hem, lebih enak"
"Dasar kau mencari kesempatan. Dasar mesum" ucap Cassie kesal karena mangga yang ada di mulutnya direbut oleh Axel.
"Hei bumil aku mesum hanya padamu saja. Kalau bukan padamu lalu pada siapa lagi ? Kau ingin aku mesum pada wanita lain ? Begitu ?" Sahut Axel sambil menaik turunkan alisnya menggoda Cassie yang sudah menunjukkan tanduknya.
"TIDAK !! " teriak Cassie dengan nafas memburu. Ia memukul Axel dengan tissue yang ada di atas meja makan.
"Haha makannya jangan pelit baby haha"
Axel tertawa terpinggal pinggal karena berhasil membuat istrinya cemberut. Bibir wanita itu maju 5 cm dan langsung dilahap habis olehnya.
Cassie hanya pasrah menerima serangan brutal dari suami tampannya. Mana mungkin ia membiarkan wanita lain mengambil Axel darinya. Cihh.. Tak akan pernah ia biarkan.
Treett..
Treettt..
Getaran dari benda mungil yang ada di atas meja makan mengganggu waktu romantis keduanya.
"Hem, ada apa ?"
"Tuan, besok kita harus pergi ke negara A. Saya sudah menyimpankan segala keperluan anda. Pukul 3 pagi kita akan berangkat tuan"
"Hem"
Tutt
"Baby, besok aku harus pergi ke negara A. Apakah tak masalah aku tinggal sebentar ? Mungkin sekitar 3 hari aku disana. Bisa kau menungguku hem ?"
Axel berucap sangat lembut dan penuh kasih sayang pada Cassie yang tadi berusaha menguping percakapannya.
"Kau akan meninggalkanku ?" Bibir wanita itu bergetar dengan mata berkaca-kaca seakan menolak ditinggal pergi oleh suaminya.
"Hanya sebentar hem ? Aku akan menyuruh mommy datang untuk menemanimu selama aku pergi. Ia akan menjagamu dengan baik" ucap Axel sambil memegang tangan lembut Cassie. Ia sungguh tak ingin pergi kemana pun karna sebentar lagi Cassie akan melahirkan. Ia ingin menemani Cassie di dalam ruang operasi nanti.
"Ajak aku ya ? Aku ingin ikut" melelehan bening dari mata indahnya jatuh mengenai tangan yang sedang bertaut erat itu.
"Baby, dengarkan aku baik-baik. Aku akan kembali dalam 3 hari. Tapi kalau pekerjaan disana selesai lebih awal dari waktu perkiraan, aku akan segera pulang"
Akhirnya anggukan kepala itu membuat Alex bernafas lega.
"Nah pintar"
Cup
"Baiklah karena kau sudah menurut bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke taman bermain hem ? Pasti si kecil juga akan bahagia" sambung Axel sembari mengelus perut buncit Cassie. Ia berusaha menghibur istri cantiknya itu.
"Ayo sayang. Sudah sangat lama kita tak pergi bermain kesana" jawab Cassie berusaha tersenyum. Ia tahu pekerjaan Axel sangat banyak sebagai direktur utama perusahaan tentu saja ia memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Ia memilih mengalah dan mendoakan agar pekerjaan suaminya bisa selesai lebih cepat.
-----
"Wah sayang ini sangat indah. Eh tapi kenapa sepi ? Biasanya taman bermain itu kan ramai" ucap Cassie bingung mendapati taman bermain itu sangat sepi hanya terdengar musik romantis yang mengudara.
"Mungkin belum dibuka baby. Kita orang pertama yang kesini hari ini" jawab Axel sambil menggandeng dan mengawasi setiap langkah istrinya. Kehamilan pada bulan ke delapan membuat Axel harus menjaganya dengan sangat baik.
"Oh ya ? Tapi rasanya sangat aneh taman bermain sesepi ini" sahut Cassie sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.
"Sudah tak usah dipikirkan. Ayo kau ingin bermain apa baby ?" Genggaman tangan Alex tak pernah lepas sedetik pun.
"Aku ingin bermain capitan terlebih dahulu sayang. Selanjutnya akan aku pikirkan nanti"
"Ok let's go"
Mereka berjalan menghampiri mesin capitan yang berisi boneka-boneka yang lucu. Cassie sangat bahagia ketika ia mendapatkan boneka beruang yang cukup besar.
"Sayang, lihat. Aku mendapatkan ini"
Axel tersenyum bahagia melihat Cassie seperti anak kecil.
"Kau sungguh hebat baby"
Cup
"Ayo apalagi yang ingin kau lakukan" sambung Axel setelah menghadiahi Cassie ciuman singkat di bibir.
"Aku ingin main itu, itu, itu dan itu" tunjuknya tak sabaran.
"Silahkan tuan putri" Axel membungkukkan sedikit badannya dan mempersilahkan Cassie untuk berjalan.
"Haha terima kasih pangeran"
Cup
Begitulah mereka menghabiskan waktu bersama. Hanya dengan hal-hal sederhana mampu membuat keduanya bahagia.
Sebelum pulang, Cassie meminta untuk naik bianglala. Tentu saja Axel akan menuruti permintaan itu. Selama ada dia, kemana pun Cassie melangkah maka wanita itu akan baik-baik saja.
"Wah sayang, lihat langitnya sangat indah. Berwarna jingga sayang wah" ucap Cassie histeris melihat langit yang memang sangat indah. Mereka berhenti tepat di tempat paling atas. Langit disana terlalu indah sampai membuatnya tak memperhatikan pria yang ada di depannya sedang memperhatikannya dengan instens.
"Ya memang sangat indah baby" ucap Axel lirih. Ia terlalu terpesona dengan objek yang ada di depannya sehingga tak memperhatikan langit disana.
"Baby" Axel memegang pipi Cassie yang seketika menoleh padanya.
"Baby, kau sangat cantik. Terima kasih sudah ingin hidup bersamaku. Awal pertemuan kita 4 tahun yang lalu sungguh sangat aku syukuri. Sampai aku mati hanya ada namamu dalam hatiku. Tak akan pernah berubah dan hilang di telan waktu. Aku mencintaimu seumur hidupku baby"
"Sa..sayang" ucap Cassie terbata karena sangat terharu. Genangan yang sudah ia coba tahan akhirnya luruh di pipi mulusnya.
"Sa..sayang a..aku juga sa..sangat mencintaimu. Te..terima kasih sudah men..cintaiku selama ini dan su..sudah menjagaku de..ngan sangat baik. Ma..af kalau aku masih sering keras kepala hikss" tangisan itu pecah di atas ketinggian puluhan meter dari tanah.
"Ssuutt.. Jangan bicara seperti itu hemm ? Aku tak masalah walaupun kau sering keras kepala asalkan kau hanya mencintaiku seorang, dan selalu di sampingku itu lebih dari cukup baby. Aku tetap mencintaimu"
Axel berucap dari relung hatinya yang paling dalam. Berharap perkataannya itu tersampaikan dengan baik untuk wanita yang sedang berada dalam dekapan hangatnya itu.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Kau adalah suami terhebat untukku. Aku sangat mencintaimu"
"Aku tahu"
Cup
Di atas bianglala itu, tempat pertama kali mereka bertemu 4 tahun lalu, dan disaat ini mereka kembali lagi ke tempat yang sama. Tempat yang mengukir sejarah mereka berdua. Tempat yang mempertemukan dua insan itu dalam sebuah ikatan cinta yang terpaut sangat erat.
------
Cup
"Baby, aku harus segera berangkat. Jaga diri baik-baik hem ? Boys jaga mommy kalian, jangan membuatnya kesakitan. Awas kalau daddy kembali kembali dan mommy mengeluh sakit perut"
Axel mengusap perut buncit Cassie yang sedang tertidur lelap. Wanita itu terlalu lelah sehabis bermain di taman bermain.
"Aku pergi baby. Aku sangat mencintai kalian. Tunggu aku kembali"
Cup
Cup
Cup
Axel melangkah keluar kamar sambil sesekali menoleh ke belakang memperhatikan istrinya yang tertidur dengan sangat cantik.
Ia tersenyum dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Tuan, sudah waktunya kita berangkat"
"Hem"
Axel memasuki mobilnya dan sekali lagi memperhatikan rumahnya, lebih tepatnya mencoba menerobos dinding itu berharap bisa melihat istrinya yang sedang tertidur lelap.
------
"Sayang" suara serak Cassie menggema di ruangan yang sepi itu. Hanya dirinya seorang yang berada di atas tempat tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi ketika ia terbangun dari tidurnya karena tak mendapati kehangatan yang biasa ia rasakan.
"Apa ia sudah pergi ? Kenapa tak membangunkanku.. Ciihh menyebalkan"
Ia bangun dan beranjak menuju kamar mandi dengan langkah pendeknya.
Tokk..
Tokk..
"Nak, ini mommy sayang. Apa kau sudah bangun ?"
"Iya mom sebentar" Cassie membuka pintu kamar setelah ia selesai mengganti pakaiannya.
"Loh mommy datang jam berapa ?" tanya Cassie heran.
"Sudah dari tadi nak. Ayo apa kau lapar ? Mommy sudah menyiapkan sarapan untukmu"
"Iya mom. Oh ya mom apa Axel menelepon mommy ? Tadi dari tadi menghubunginya tapi nomornya diluar jangkauan terus"
Wanita paruh payah itu seketika menegang dan merusaha menyembunyikan air matanya.
"Iya nak. Tadi Axel sempat menghubungi mommy katanya dia sudah sampai dan mungkin akan sedikit lama disana sayang"
Wajah kekecewaan jelas terlihat di wajah cantik Cassie.
"Oh ya sudah mom yang penting dia sudah sampai dengan selamat"
"Ia nak" ucap mommy berusaha tegar.
-----
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa sudah sebulan Axel belum kembali ke rumah. Informasi terakhir yang Cassie dapat dari mommy nya bahwa Axel berada di tempat yang susah sinyal sehingga tak bisa menghubunginya langsung.
"Sayang, sudah sebulan tapi kau tak kunjung pulang. Sebentar lagi aku akan melahirkan anak-anakmu, apa kau tak ingin menemaniku di ruang operasi ?"
Lirihan sendu itu terucap dari mulut Cassie. Ia sedang berdiri di depan jendela kamar sambil menikmati suara hujan di luar sana.
"Boys, daddy kalian belum pulang juga. Mommy sudah sangat merindukannya. Mommy ingin menyusulnya kesana tapi bagaimana dengan kalian ? Mommy tak ingin sesuatu terjadi pada kalian. Mungkin sebentar lagi daddy akan pulang. Ayo kita tunggu sedikit lagi" ucap Cassie penuh semangat.
Beberapa hari kemudian adalah hari Cassie untuk melahirkan secara caesar. Ia dibawa ke rumah sakit oleh mommy nya selalu setia menemaninya selama sebulan penuh.
Akhirnya setelah melalui proses yang menyakitkan, kedua putranya lahir ke dunia.
"Alexander Morgan, Alexandro Morgan selamat datang ke dunia nak" ucap Cassie sangat bahagia walau pun Axel tak menemaninya namun ia bahagia karena anak-anaknya lahir dengan sehat.
------
Waktu pun berlalu, ke dua bayi itu sudah berusia 1 bulan. Selama itu pula Axel belum kembali juga.
"Kasihan sekali nyonya. Bagaimana kalau ia tahu kejadian yang sebenarnya ?"
"Iya kasihan sekali. Nyonya pasti akan sangat terluka kalau tahu kenyataannya suami yang ia tunggu sudah meninggal pada saat kejadian tragis itu"
Deg
Cassie yang kalah itu sedang berjongkok menyiram bunga di taman seketika menegang mendengar kalimat itu keluar dari mulut pelayan yang sedang bergosip di dekatnya.
"APA KALIAN BILANG ?!!!" Teriakan Cassie menggema di seluruh penjuru rumah dua tingkat itu.
"N..ny..nyonya" para pelayan itu seketika gemetar ketakutan. Mereka sudah dilarang membahas masalah ini di rumah itu karena takut nyonya muda nya terkena serangan jantung.
"JAWAB !! APA KALIAN TAK PUNYA MULUT HAH ? BERANI-BERANI NYA KALIAN BERKATA SUAMIKU SUDAH MATI !! "
Plak
Plak
Plak
Tamparan keras itu ia layangkan pada tiga pelayan yang sudah gemetar ketakutan sembari menahan air mata.
"Ma..maaf nyonya ta..tapi itu benar" mungkin menurut mereka lebih baik mengatakan kebenarannya dari pada selalu melihat nyonya nya itu menunggu di depan pintu rumah dengan sejuta harapan.
Mereka sungguh sakit melihat nyonya nya yang dulu selalu cerita dan bahagia bersama tuan nya, seketika berubah menjadi dingin dan tak tersentuh sejak perginya Axel. Cassie hanya akan menjadi hangat bisa bersama mommy dan kedua anaknya.
Cassie berlari ke dalam rumah mencari mommy. Ia harus mendengar semuanya dari mulut wanita itu.
"MOMMY !!" Teriaknya menggelegar sampai membuat anak-anaknya yang tidur seketika menjerit namun ia tak pedulikan.
"MOMMY !! " Teriaknya lagi. Ia seperti kehilangan akal sehatnya berteriak seperti orang tak waras.
"Nak, ada apa ? Kenapa berteriak begitu hem ?" Mommy keluar dari arah dapur dan menghampiri Cassie yang sudah pucat pasih.
"Katakan, katakan kalau itu tak benar" ia berbicara sambil memegang dadanya yang sangat sakit. Jantungnya seperti diremas dan ditusuk dengan pisau.
"Apa maksudmu nak ?" Mommy mulai bisa membaca situasi yang sedang ia hadapi hanya bisa mengatur suaranya agar tak bergetar.
"KATAKAN !! KATAKAN DIMANA AXEL !! KATAKAN PADAKU ! Teriak Cassie menjerit sampai seluruh penghuni rumah menghampiri ke dua wanita itu. Mereka hanya diam dan menangis melihat betapa rapuhnya nyonya mereka.
"N..nak. A..axel ada di.."
"DIMANA ? KATAKAN PADAKU !!" Teriaknya lagi sambil memegang jantungnya yang semakin sakit.
"N..nak kau tenang dulu hem ? Mo.mommy akan mengantarmu kalau ka..u sudah lebih tenang"
"ANTAR AKU SEKARANG JUGA !!" Teriakan terakhir itu membuatnya tumbang di atas lantai. Ia berusaha tetap sadar untuk bisa bertemu suaminya.
"Ba..baiklah. A..ayo kita berangkat" mommy berusaha tegar meskipun ia sendiri seakan menjadi gila. Sudah lama rahasia ini ia simpan karena tak ingin Cassie dalam bahaya apalagi ia sedang mengandung dulu. Ia tentu akan merasa bersalah dan menyalahkan dirinya bila Cassie dalam bahaya.
------
"I..ini.. i..inii.. Ti..dak mungkin TIDAK !!"
Cassie meraung kencang di depan sebuah makan seseorang. Makam yang memiliki nama seperti suaminya Axel Morgan.
"Mom, ini bukan Axel mom. Axel sedang bekerja. Ayo kita pulang mungkin sebentar lagi ia akan pulang mom. Ayo kita tunggu di rumah saja" ucap Cassie gemetar tak ingin menoleh lagi ke makam itu. Ia menarik lengan mommy nya untuk segera pulang.
"N..nak hiks" mommy menggeleng dan menuntun kembali Cassie ke hadapan makan megah itu.
"I..ini benar Alex sayang. Ma..maaf mo..mommy menyembunyikannya darimu n..nak. Mommy hanya tak ingin ka..u dalam bahaya hiks maaf nak" ucap mommy sambil memeluk Cassie dengan sangat erat.
"Ax..axel ?" Gumamnya lirih dengan air mata yang semakin jatuh dengan deras.
"Ya nak, ini Axel suamimu hiks"
"Ax..axel ? Ax..axel ? AXEL !!!!!!!" Jeritan kesakitan itu terdengar memenuhi makam pria yang paling ia cintai. Pria yang selalu ia tunggu kedatangannya namun tak kunjung kembali, dan tak akan pernah kembali.
------
Suara monitor detak jantung dan bau obat yang sangat menyengat tercium jelas di dalam ruangan itu.
Mata indahnya perlahan terbuka, semakin lama semakin jelas terlihat semua objek yang ada di dekatnya, namun ia hanya mencari satu objek yang sangat ia hafal bentuknya.
"Sayang, kau dimana ?" Suara seraknya terdengar oleh seorang wanita paruh baya yang sedang tertidur di sofa panjang.
"Nak, kau sudah bangun hem ? Apakah dadamu masih sakit ?" ucap mommy nya lembut.
"Sedikit mom. Apa Axel sudah pulang ?" Ia masih belum menyadari apakah ini hanya mimpi atau kenyataan. Ia menyingkirkan selang oksigen yang nenghambat ia bicara.
"Nak. Axel sudah tenang di atas sana. Walaupun kejadian itu sudah 10 tahun yang lalu tapi kau harus mengikhlaskan dia agar dia bisa tenang disana hem ?"
Deg
"10 tahun ? Mo..mommy a..aku"
"Suutt sudahh jangan bersedih lagi. Masih ada anak-anak yang harus kau urus nak"
"A..anak ?"
Deg
"Mo..mommy anak-anak dimana ?" ucap Cassie khawatir.
"Mereka dirumah nak. Tenang saja mereka baik-baik saja. Ada dari luar kota datang untuk menjaga mereka. Lebih baik sekarang kau makan dulu, sudah 5 hari kau tertidur nak"
"Apa ? 5 hari ?"
"Iya kau pingsan di makam milik Alex. 5 hari yang lalu kau pergi berkunjung ke makam nya tapi sampai malam hari kau tak kembali ke rumah. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu nak"
"Maaf mom"
"Sudah tak apa-apa yang penting kau sudah sehat kembali nak"
"MOMMY !! " Teriakan itu terdengar memekikan telinga datang dari arah pintu masuk.
"Mommy kamu sangat merindukanmu. Jangan pingsan lagi mommy. Kamu janji tak akan nakal lagi" ucap ke dua bocah laki-laki itu yang sangat mirip dengan wajah daddy mereka.
Cassie tersenyum dan memeluk mereka berdua yang menangis karena sangat khawatir dengan mommy nya.
"Oh boys, maafkan mommy. Mommy janji tak akan pingsan lagi hem ?"
Cup
Cup
"Ayo nak, biarkan mommy makan dan istirahat dulu"
"Iya Grandma"
-----
"Sayang apa kau tak merindukanku ? Kau jahat sekali membuatku seperti ini selalu menangisimu. Anak-anakmu sudah besar sayang. Mereka menjadi anak-anak yang luar biasa. Tapi yang paling penting mereka mewarisi ketampananmu" ia terdiam sejenak memandangi makam indah itu yang sudah ia pindahkan ke halaman belakang rumahnya.
"Sa..sayang ap..apakah kau melihatku dari atas sana ? Ten..tu kau sangat ta..hu kondisiku se..karang saya..ng hiks. A..ku sungguh in..gin me..melihatmu hikss sayang hiks hiks" ia mencoba tak menangis tapi tetap saja air matanya akan jatuh bila sudah berhadapan dengan makam ini.
"Su..sudah 10 tahun berlalu sayang hikkss.. Ta..tapi a..ku selalu memimpikan hal yang sama. Rasanya a..ku tak ingin bangun dari mimpi itu.. Mimpi di..mana kita ada di atas biangkala 10 tahun ya..yang lalu. Ta..tapi rasanya seperti kemarin sayang" ia menangis sambil memeluk batu nisan yang bertuliskan belahan jiwanya.
"Ka..kau sungguh tak adil. Bagaimana mu..ngkin hanya aku yang merasakan sa..kit seperti ini hem ? Ja..jawab aku hikss sayang" rasa sakit ditinggalkan membuatnya tak mampu lagi bertahan hidup.
"Kalau bu..kan karena anak-anak a..ku sudah me..nyusulmu sa..sayang. Aku tak sa..nggup lagi. Aku terlalu merindukanmu sa..yang hikss" tangisan dan curhatan itu membuat dua bocah yang sedang berdiri dibelakangnya ikut menangis.
"Mo..mommy hiks"
Cassie menoleh dan mendapati ke dua anaknya sedang menangis.
"Oh boys" mereka berpelukan di depan makam pria yang sama-sama mereka cintai. Mereka saling memeluk erat seakan mencoba mencari kekuatan dari pelukan itu.
"Sa..sayang aku akan menjaga mereka dengan baik. Tolong kau ja..ga kami dari atas sana. A..ku sangat mencintaimu sayang"
"WE LOVE YOU DADDY"