Pagi itu udara semilir dengan mentari cerah yang mulai bersinar. Dedaunan dengan embun pagi terasa segar di pemandangan mata. Sisa hujan semalam telah menguap.
Rania berjalan tergesa menuju kantornya. Pagi ini Rania sedikit terlambat karena dari kemarin sore setelah pulang dari kantornya, dirinya sibuk mengerjakan laporan akhir tahun.
Setumpuk laporan yang Rania bawa pulang menjadi buah tangan yang akhirnya membuatnya begadang semalam suntuk untuk menyelesaikannya. Antara marah dan jengkel dengan sang boss yang seenaknya saja melimpahkan semua tugas sekretaris kepadanya. Memang seharusnya dirinya tidak mencari masalah dengan bossnya yang super nyebelin tetapi jiwa bar barnya meronta ketika mendapati sang pacar bos bertindak semaunya dengan mba Fani office girl dikantornya.
Siang itu, di kantor AnG Corp di pusat Kota XY.
" Aaaww, "
Gubrakkk.
Terdengar suara jeritan di kamar mandi yang diikuti suara berdebum seperti benda besar terjatuh. Sekelebat bayangan laki - laki segera keluar dari salah satu ruang toilet.
Nampak seorang office girl terkejut karena ember dan alat pelnya berjatuhan bersamaan dengan suara gedebruk.
Rania dengan tergesa menyelesaikan kegiatannya di toilet dan segera keluar.
" Kamu, dasar bodoh. Membersihkan kamar mandi saja tidak becus, " seorang wanita cantik bertubuh seksi menampar mba Fania seorang office girl yang sedang berdiri ketakutan.
" Mmaaff, mba. Saya sudah ... . "
Plak.
Rania yang tidak terima pun membalas tamparan wanita tersebut. Sehingga akhirnya terjadi saling balas. Beruntung Rania yang bertubuh kecil adalah seorang karateka dan dengan mudah menundukkan seorang Valentine. Tapi hasil akhirnya Valentine yang ternyata kekasih sekaligus sekretaris sang Boss melimpahkan semua pekerjaannya kepadanya.
" Aaakh, " Rania berjalan di pinggir jalan raya yang masih sepi sambil terus menguap. Dirinya berangkat pagi - pagi ke kantor atas permintaan Bossnya.
" Selama sebulan datang ke kantor sebelum jam 07.00 pagi tepat, siapkan sarapan dan semua pekerjaan Valentine kamu yang handel ... . " suara berat Sang Boss menjatuhkan disiplin.
" Tapi Boss ... . " suara Rania menggantung belum selesai bicara tapi sang Boss melanjutkan dengan suara beratnya.
" SP 2, potong gaji 50% atau phk dengan pesangon setengah gaji ? "
" What ? Boss ? Tapi Tine yang salah, ngapain selingkuh d toilet dengan .... "
" Stop, Rania ! Aku tidak selingkuh Robert hanya menolongku membetulkan risleting gaunku. " Velintine memotong pembicaraan Rania.
" Sayang, kau percaya padaku kan ? " rajuk Valentine, "Sudahlah sayang, kita ke ruanganmu. Lututku sakit akibat terjatuh karena lantai licin. Office Girl itu tidak membersihkan dengan benar, " kilah Valentine lagi ke arah kekasih sekaligus Sang Boss, Alexander Stanley.
" Cukup, Kau Valentine, kita putus dan keluar dari kantorku sekarang. " ucap sang Boss dan menghentakkan tangan untuk melepaskan genggaman Valentine.
Rania menguap sekali lagi. Ingatan kemarin siang masih membekas dalam pikirannya. " Ukh, makanya gak usah pacaran kalau bikin nyesek. Selingkuh dengan teman kantor sendiri. Sahabat lagi. Padahal kurang apa coba Pak Boss, ganteng, tinggi, kaya, bibit unggul. Bodoh si Tine. " gumam Rania sambil berdiri di pinggir jalan sambil menunggu angkot pagi yang menuju ke kantornya.
***
" Sial, Valentine brengsek. Perempuan kurang ajar. Kurang apa coba aku ? " Alexander Stanley mencengkeram kemudinya dengan marah dan frustasi. Perselingkuhan Valentine dengan sahabatnya membuatnya frustasi.
Valentine, gadis cantik keluarga Degard adalah kekasihnya sejak setahun lalu. Hubungan yang manis dan pekerjaan yang selalu bersama menjadi peluang rasa cinta tumbuh.
" Akhh, " Alexander mengerang sekali lagi. Rasa marah atas penghianatan Velentine membuatnya patah hati. Hingga semalam suntuk dia habiskan di Oranye Club hanya untuk minum sekedar menghilangkan rasa marahnya.
" Awas kau, " Alexander mulai mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan tinggi untuk melampiaskan kemarahannya. Jalanan yang lengang membuat seorang Alexander kurang berhati - hati hingga sampai di tikungan jalan yang licin tiba - tiba sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi juga dari arah yang berlawanan.
Alexander yang terkejut pun membanting stir ke kanan dan menabrak pohon besar.
Duar.
" Astaga, " Rania yang sedang melamun di pinggir jalan pun menebah dadanya yang terkejut karena suara tabrakan yang keras.
Tanpa pikir panjang Rania menghampiri mobil sport yang menabrak pohon. Berulang kali Rania mengetuk kaca mobil tapi tak ada suara apapun. Padahal saat yang bersamaan asap mulai mengepul dari bagian depan mobil.
Suasana jalan masih sangat lengang. Rania dengan cepat mencari batu untuk memecahkan kaca mobil dan berhasil, dibukanya dengan tergesa pintu mobil.
" Pak Boss ! Pak Boss ! Ukh, " Rania berulang kali menepuk pipi sang Boss supaya sadar. Bau terbakar mulai tercium dan dengan kekuatan penuh Rania menarik tubuh tinggi besar sang boss.
Bruk.
Rania menarik tubuh Sang Boss keluar dari ruang kemudi dengan susah payah dan dengan kekuatan penuh Rania mendorongnya ke seberang jalan. Tubuh sang Boss terlempar ke rerumputan di seberang jalan.
Duarr.
Mobil meledak.
Tubuh Rania terlempar mengenai bahu jalan akibat ledakan mobil. Rania merasakan dorongan yang kuat melalui punggungnya dan menghempaskannya di bahu jalan.
" Akh, "
Semuanya gelap.
***
Tiga minggu setelah peristiwa itu.
" Dokter, " suara berat seorang laki - laki terdengar berteriak memanggil Dokter.
Seorang dokter dan beberapa perawat segera masuk ke dalam ruangan serba putih dan melakukan pengecekan.
" Syukurlah, pasien sudah sadar dari koma. Saya akan pindahkan ke ruang perawatan segera. Semuanya baik dan tidak ada yang bermasalah. Ini adalah mujizat dari Tuhan. Kau beruntung Al, ada yang menolongmu waktu kecelakaan itu. Kalau tidak, entah nyawamu sudah dimana ? " ucap Dokter Farhad sambil tersenyum.
Sang Boss berjalan mendekati sisi ranjang. Rania yang sudah sadar dan duduk bersandar nampak terkejut melihat sang Boss berjalan menghampirinya dengan wajah dingin.
Rania mendadak ketakutan. Ingatan terakhir adalah laporan. " Maaf Boss, laporannya hilang." cicit Rania dengan ketakutan.
Sang Boss menatap dingin dan menatapnya dengan amarah yang besar.
Tiba - tiba sang Boss memeluknya dengan erat. Rania tampak terkejut. Rania bisa merasakan hangat tubuh Sang Boss dan deburan jantungnya yang berdetak dengan cepat.
" Maaf, Boss ! Ukh, nanti saya akan kerjakan ulang. Tapi jangan pecat saya ! " cicit Rania lagi dalam pelukan sang Boss.
" Rania, kau membuatku khawatir. Sial. Kau ... " dengan gemas Sang Boss meraup bibir Rania dan menciumnya dengan sayang. " Terima kasih. " sebuah pelukan lagi dirasakan Rania. Sepasang tangan kokoh memeluknya dengan erat.
" Terima kasih sudah menyelamatkanku dari kecelakaan itu, "