"Ayah, Bunda, Kenapa kalian meninggalkan aku. Kenapa? Aku lelah menghadapi dunia ini seorang diri. Aku ingin ikut Ayah sama Bunda." Nadia menangis terisak-isak di kamarnya, ia tak menyangka bahwa kedua orang tuanya akan meninggalkan dia, di saat ia masih sangat membutuhkan cinta dan kasih sayangnya.
"Ayah, Bunda, aku janji. Aku akan membalas kematian Ayah dan Bunda. Aku gak akan membiarkan dia berkeliaran di luar sana. Kematian harus di balas dengan kematian," ucap Nadia, ia sangat marah. Walaupun kejadian itu sudah terjadi 1 tahun yang lalu, namun ia tak bisa memaafkan orang yang telah menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dunia.
Kini ia telah bertunangan dengan orang yang telah membuat Ayah dan Bundanya tiada. Yah Nadia emang sengaja menerima lamaran dia, karena dengan menerima lamarannya maka Nadia dengan mudahnya bisa balas dendam atas kematian kedua orang tuannya.
Sekarang adalah hari di mana Nadia genap berumur 21 tahun. Dan ini adalah hari di mana Nadia akan membunuh orang itu dengan tangannya sendiri. la akan membalas kematian Ayah dan Bundannya.
"Non," panggil Bik Imah, pembantu yag bekerja di rumah Nadia.
"Iya bi, ada apa?" tanya Nadia, ia segera menghapus air matanya. la tak ingin siapapun tau akan kesedihannya.
"Mas Revan datang. Sekarang ia ada di ruang tamu," jawab Bi Imah yang berada di luar pintu kamar Nadia.
"lya sudah Bi, entar lagi aku turun. Bibi, tolong buatkan minum ya untuk Mas Revan," pinta Nadia.
"Siap, Non," ucap Bi lmah lalu pergi ke dapur.
Nadia segera merapikan make-upnya lalu turun menemui tunangannya.
"Maaf mas, lama ya," ucap Nadia ramah sambil melemparkan senyuman manisnya.
"Enggak kok. Oh ya hari ini aku ingin mengajak kamu jalan."
"Kemana?" tanya Nadia.
"Ke tempat yang pastinya akan membuat kamu merasa bahagia."
"Tempatnya jauh?" tanya Nadia lagi.
"Enggak terlalu."
"Baiklah. Apa kita akan berangkat sekarang juga?"
"lya."
"Aku akan ke kamar dulu:" Nadia segera pergi ke kamarnya, ia segera mengambil pisau yang sudah ia asah sehingga pisau itu sangat tajam. la taruh di dalam tas mungilnnya. Setelah selesai, ia pun segera keluar menemui Revan.
"Ayo, aku sudah siap," ucap Nadia.
Revan segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan di samping Nadia.
"Bi, aku mau keluar dulu ya sama Mas Revan," ujar Nadia lalu pergi bersama Revan.
"Kok tumben kamu membawa mobil yang ini, emang mobil yang biasanya di pakek kamu kemana?" tanya Nadia ketika mereka sudah berada di perjalanan.
"Aku sengaja pakek mobil yang ini. Karena aku ingin membawa kamu ke tempat yang sangat special," jawab Revan sambil tersenyum.
"Emang kita mau pergi kemana sih?" tanya Nadia penasaran. la harus tau, Revan ingin membawa dirinya kemana. Jangan sampai rencana yang sudah ia niatkan bisa gagal. la tak ingin semua itu terjadi.
"Ada dech ... Nanti kamu pasti tau juga," balasnya.
"Baiklah, aku gak akan tanya lagi." Merekapun saling diam, setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya mereka tiba juga di tengah hutan.
"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Nadia tak mengerti.
"Karena di sini jauh dari keramaian. Bahkan jauh dari desa. Sehingga apapun yang akan kita lakukan gak akan mungkin ketahuan orang."
"Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan," kata Nadia, di dalam hati ia merasa bersyukur, dengan Revan membawanya ke sini maka ia bisa dengan leluasa melakukan rencananya.
"Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Di hari ulang tahunmu, apakah kamu gak ingin meminta sesuatu padaku?" tanya Revan dengan nada sedih.
"Enggak," jawab Nadia cuek.
"Baiklah, bolehkah aku memelukmu?" tanya Revan lagi.
"Silahkan," balasnya.
Revan memeluk Nadia dengan penuh kasih sayang.
"Nadia, aku sangat menyayangi dan mencintai kamu. Di dunia ini, hanya kamulah orang yang paling penting dalam hidupku. Aku tak ingin yang lain, aku hanya ingin kamu seorang. Tapi aku
sadar aku tak bisa memilikimu selamannya." Belum selesai Revan berbicara, pisau yang di bawa Nadia dari rumahnya kini sudah menancap di perut Revan.
Revan tetap memeluk Nadia dengan menahan rasa sakit di perutnya, darah mengalir deras tapi Revan tak peduli. la tetap memeluk Nadia. Nadia hanya diam dalam pelukan Revan, ia merasa begitu bahagia karena di hari ulang tahunnya sekarang, ia bisa membalaskan kematian Ayah dan Bundanya.
"Nadia, kamu sudah berhasil. Aku sangat bahagia karena rencanamu untuk membunuhku kini sudah kamu lakukan," ucap Revan lalu ia jatuh karena ia sudah tak mampu lagi untuk berdiri. la memegang perutnya.
"Nadia, ada satu hal yang harus kamu tau. Bukan aku yang membunuh kedua orang tuamu. Saat itu, aku datang kerumahmu karena aku di suruh Ayah untuk menyampaikan pesan. Tapi saat aku datang, aku melihat Ayah dan lbumu sudah bergeletak di lantai. Aku tak tau apa yang terjadi, tiba-tiba kamu datang dan melihat semua kejadian itu. Dan kamu
menuduhku bahwa aku yang telah membunuh Ayah dan Ibumu. Tapi percayalah, aku bukan orang yang tega membunuh orang lain. Aku tau selama ini kamu merasa tersiksa menjadi tunanganku, aku minta maaf. Aku tau, kamu mau menerima
lamaranku karena kamu ingin membalaskan kematian Ayah dan Ibumu. Sudah beberapa kali, kamu mencoba untuk membunuhku tapi selalu gagal dan kini aku ingin membantumu untuk mewujudkan keinginanmu. Aku sengaja membawamu ke sini agar kamu dengan mudahnya bisa membunuhku dengan kedua tanganmu. Aku tak akan membencimu atas apa yang telah kamu lakukan terhadapku. Aku tetap akan menyayangi dan mencintai kamu. Aku persembahkan kematianku sebagai kado ulang tahunmu," ucap Revan dengan menahan rasa sakit.
Nadia yang mendengarkan semua perkataan Revan hanya berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Jika benar bukan Revan yang membunuhnya lalu siapa orang yang telah membunuh Ayah dan Bundannya.
Nadia menangis, ia menyesal atas apa yang telah ia lakukan. la pun memeluk Revan, inilah pertama kalinnya Nadia memeluk Revan dari hatinya.
"Mas, Maafin aku. Gara gara aku ingin membalaskan kematian Ayah dan Bunda, aku tega menyakiti Mas Revan. Maafin aku mas."
"Kamu tidak perlu menangis. Kamu juga tidak perlu meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu." Revan menghapus air mata Nadia. Nadia merasa hatinya begitu sakit. la memegang perut Revan.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan darah ini agar tidak keluar. Mas aku mohon kamu bertahan, aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Gak perlu Nadia, percuma kamu membawaku kesana. Aku sudah gak tahan. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, aku ingin mati dalam pelukanmu. Nadia, aku sangat meyayangi kamu."
"Aku juga sangat menyayangi dan mencintai Mas Revan tapi dendamku telah membutakan mata hatiku sehingga aku tega melakukan ini. Maafin aku." Nadia memeluk Revan dengan erat. la mencium kening Revan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Revan hanya diam.
"Nadia, jaga diri kamu baik baik," ucap Revan lagi di sela-sela menahan rasa sakitnya.
Nadia semakin menangis terisak isak, ia memegang perut Revan. la ingin menghentikan agar darahnya tidak keluar tapi ia bingung, ia gak tau bagaimana caranya.
Tiba tiba Revan menutup matanya, yah ia menutup matanya untuk selama-lamanya. Nadia histeris, ia memanggil nama Revan tapi yang di panggil hanya diam menutup mata.