Namaku Arkan Syafrian, umurku baru 17 tahun. Saat ini diriku tinggal di kota Bersama Abiyoso, sepupuku. Dan aku memiliki saudara kembar tak identic, Namanya Ayla. Saat ini ia sudah lulus SMA dan sudah dijodohkan dan akan segera menikah. Sedih memang, apalagi dari kecil ia selalu bermain bersamaku, rasanya sulit untuk menerima kenyataan seperti ini. Namun, sebagai kakak aku harus mengalah kepada adikku ini.
“Andra, Abiyoso… kalian masih lama tidak??” tanyaku pada Andra dan Abiyoso, sepupuku.
Kedua sepupu sekaligus sahabat yang sama kocaknya denganku keluar dari kamarnya masing masing, sambil membawa tas ransel besar mereka berdua berjalan menuruni tangga rumah berwarna abu abu itu.
“lama sekali!! Ngapain bawa tas sebesar itu?? Memangnya mau menginap dalam waktu lama??” tanyaku pada Andra dan Abiyoso yang kewalahan membawa tas mereka itu.
Kami bertiga pun menunggu angkutan umum, tak lama sebuah mobil angkot berwara hijau berhenti dan menawarkan jasanya. “Ayo mas!! Masih ada tiga lagi!!” Diriku duduk di depan samping sopir, sedangkan Andra dan Abiyoso duduk di belakang.
Selama perjalanan, kami terjebak kemacetan. Dan akhirnya adzan maghrib berkumandang dan kami pun memutuskan turun dari angkot untuk shalat magrib.
Usai shalat magrib, seorang pria pengurus masjid membawa tiga gelas air, lalu beliau menawarkannya kepada kami. “nih minum dulu.”
Kami menerima pemberian bapak itu, “Baik pak, terimakasih. Bismillah..”
Setelah shalat maghrib dan beristirahat dengan minum air tadi, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke rumah. “Kita lanjut jalan kaki saja ya!! Sudah dekat ini.,,” ucapku pada Andra dan Abiyoso.
Andra menjawab, ‘Yowes..”
Lima menit kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke rumahku yang disana sedang ada acara adikku.
Saat melintasi sebuah pohon, kami terkejut karena ada seorang gadis yang sudah tergeletak di tengah jalan. Lantas kami pun menghampiri gadis itu, ternyata dia sudah tak bernyawa, kami pun berteriak meminta tolong dan menghubungi petugas setempat.
“Tolong!!!”
Para warga berdatangan, lalu membawa jenazah gadis itu ke rumah sakit. Tak berselang lama, kami dimintai keterangan oleh polisi. Lalu kami diizinkan melanjutkan perjalanan yang kurang lebih lima belas menit lagi sampai
Setibanya kami di rumah, suasana mendadak berubah mencekam. Padahal ini ada di rumahku sendiri. “kakak!!” sambut Afnan, adikku yang masih berusia 14 tahun.
Diriku membalas sambutan itu dengan merangkul adikku ini. Lalu aku mengajak ia ke dalam untuk makan malam.
“makan malam dulu yuk!!” seru diriku pada Afnan.
Afnan menjawab,”Gaskeun,,”
Saat kami berempat ke ruang makan, disana sudah ada Ayla yang sedang diberikan petuah oleh para tetua di desaku. Mereka terkejut karena melihat tatapan mata kami yang sangat menyeramkan. Padahal, jika kami bercermin kami merasa ngakak sendiri saat melihat wajah sendiri.
“Kalian kenapa??” tanya Andra.
Tanpa pikir Panjang, kami mengambil piring lalu memutuskan makan malam di kamar karena tingkah mereka semakin aneh.
Keesokan harinya, acara pernikahan adikku dimulai pada jam sepuluh pagi, saat adikku selesai dirias dan siap dibawa untuk disandingkan dengan mempelai pria, sebuah kejadian ganjil menimpa Abiyoso. Bahunya mendadak terasa berat, padahal ia sama sekali belum satu pun melakukan aktivitas.
Seorang tukang rias melirik kepada kami, lalu ia berteriak histeris karenA mengklaim melihat hantu berpakaian suster rumah sakit berada di bahu Abiyoso. Diriku pun menepuk bahu Abiyoso, tak lama kemudian bahunya Kembali normal.
“Aaaaa!!!!”
Acara pun berlanjut hingga sore hari, adikku yang Sudah kelelahan dengan mengenakan gaun berwarna pink. Kembali ke kamarnya dibantu oleh diriku dan seorang lelaki 28 tahun suaminya yang sama sekali tak pernah diperkenalkan kepadaku.
Malam pun tiba, diriku sedang membackup video dan foto tadi di kamar. Tak lama, ada sesuatu yang melintas di belakangku.
“Bryusshhhh”
“Andra??Abiyoso??” panggilku,
Mereka berdua masuk ke dalam kamar sambil meminum es seduh. Diriku yang penasaran pun mencoba es seduh itu lalu menanyakan sesuatu yang baru saja terjadi pada mereka.”Kalian ngapain lari lari tadi?” tanyaku pada kedua sepupuku ini.
Andra menjawab,”Kata siapa?? Dari tadi kita berdua jajan es seduh benar begitu Abiyoso??” tanya Andra.
Diriku terdiam, mungkin diriku kelelahan..
“Kalian kenapa saling diam di lawang pintu??” tanya Ayla yang berjalan bergandengan bersama suaminya.
Diriku menoleh, lalu menghampiri lelaki itu untuk menanyakan apakah tadi beliau yang melintas di belakangku. Namun sikapnya mendadak aneh, lelaki itu berjalan mundur dengan wajah pucat dan keringat dingin bercucuran.
“Ampun!!!” teriaknya panik.
Diriku Kembali terdiam, “beliau kenapa?? Kok sikapnya mendadak aneh seperti ini?? Ini ada hal yang tidak beres..”
Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar Ayla, belum sampai semenit. Suami Ayla itu mendadak teriak histeris dan membuat seisi rumah terkejut.
“Aaaaa!!!!!!”
Diriku dan dua sepupuku menyusul mereka, dan benar saja hantu yang tadi diteriakkan oleh perias Ayla sedang berdiri di sudut kamar. Namun ia menghilang saat diriku datang Bersama Andra dan Abiyoso.
“Sudah, tidak ada apa apa… kalau begitu kami Kembali ke kamar dulu..” ucapku karena keadaan Kembali normal.
Lelaki itu mengambil bantal, guling dan selimut. “kalau begitu mas tidur di ruang tengah saja.. mas kehilangan Hasrat untuk tidur bersamamu.”
Ayla hanya terdiam, lalu ia menangis membanting pintu kamarnya dan menguncinya.
Beberapa bulan kemudian
Diriku mengambil sebuah gitar yang menggantung diatas meja, lalu mengalunkannya pelan bersama Afnan adikku yang memainkan pianika miliknya.
"Dreerttt!!"
Kulihat ponsel milikku, ternyata dari Ayla. "Halo?? kamu kenapa Ay?? kok suaranya kayak yang menangis seperti itu??" tanyaku pada Ayla.
Ayla menjawab, "Kamu bisa kesini tidak Arkan?? aku butuh kamu banget."
Kuhembuskan nafas sejenak, "Oke, saya kesana sekarang.."
Diriku mengenakan jaketku, lalu kuminta pada Afnan untuk menjaga situasi di rumah. "Nan, kalau ada apa apa bilang ya sama kakak.."
"Baik kak.." jawab Afnan.
Kuhubungi Andra dan Abiyoso, lalu kami janjian di rumah Andra.
"Halo?? Assalamualaikum Ndra, saya akan pergi ke rumah Ayla dan suaminya, kamu tahu jalur untuk kesana kan??" tanyaku pada Andra.
Andra menjawab, "Iya, kamu mau saya dan Abiyoso temani??"
"Baik, nanti start dari rumah kamu.." balasku pada Andra.
Andra menjawab, "Yowes, nanti saya dan Abiyoso menunggu di depan rumah."
Diriku menaiki motor gede milikku, lalu saatnya aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi 9 bulan ini. apalagi banyak desas desus tetangga yang membahas adikku yang belum juga hamil.
Setelah setengah jam perjalanan, diriku melintas tepat di depan rumah Andra. lalu kubunyikan klakson untuk memberikan kode agar Andra mulai menunjukan jalan ke rumah suami Ayla itu.
"Kenapa?? ada masalah kah??" tanya Andra.
Kujawab, "Begini, di desa banyak desas desus dan juga orangtuaku dihujani pertanyaan soal Ayla yang belum juga memberi kabar hamil. lalu tadi Ayla memintaku ke rumahnya dengan suara tersedu sedu, sepertinya ada masalah disana."
Abiyoso menepuk bahuku, "Coba kita selidiki dulu.."
Setibanya disana, diriku terkejut karena sudah banyak orang berkerumun di depan rumah Ayla. dan tangisan saudara kembarku itu pun menyambut kedatanganku.
"Kak...." teriak Ayla.
Diriku merasa iba melihat adikku yang nampak pucat itu, lalu diriku turun dari motor dan berusaha menenangkan adikku itu.
"Kamu kenapa?? coba cerita sama kakak.." perintahku pada Ayla.
Ayla menjawab, "Dari sejak aku dibawa pertama kali ke rumah ini, sudah banyak gangguan yang dialami mas Yono. lebih dominan sih hantu suster itu.."
Abiyoso turun dari motornya, lalu ia menemukan beberapa puzzle yang harus ia gabung menjadi satu.
"Wait, ada yang tidak beres nih.... pertama, mayat yang kita temukan itu kan semacam mahasiswi kedokteran gitu, kedua sebelumnya kita sempat lewat pemakaman, dan ada sebuah pohon besar. apakah mungkin ada yang mengikuti kita sampai ke rumah??" tanya Abiyoso.
Andra menjawab, "Kurasa iya, dan pada pukul 22.30 malam saat sehari sebelum pernikahan Ayla. seingatku salah satu dari kita sempat masuk ke kamar Ayla, dan kondisi kita saat itu tidak segera ganti baju."
Diriku mulai paham, ternyata disinilah letak kejanggalan itu. dimana ada hantu suster, saat dia muncul hantu itu menghilang.
"Berarti, itu artinya semua masalah ini muncul saat kita tiba di rumah. dan kita langsung menemui Ayla, sepertinya kita diikuti oleh something. dan mereka nampaknya mencium bau wangi pengantin baru. makanya saat malam pertama Ayla, malah diperlihatkan hantu." kata Diriku.
Abiyoso membenarkan, "Iya, apalagi saat itu Andra malah berbicara sompral.. benar begitu Andra??"
Andra membalas ucapan Abiyoso, "Dan anda saat itu sedang berjalan dengan pikiran kosong."
"Waduh, maafkan kakak ya.." ucapku pada Ayla.
Ayla melepas peganganku, "Maaf?? setelah pernikahanku diujung tanduk kalian baru minta maaf??"
"Aaaa!!!"
Diriku bersama Andra dan Abiyoso menghampiri sumber suara itu. ternyata kedua orangtua mas Yono sudah tiada.
"Maafkan saya dan dua teman saya ya mas!!" ucapku pada mas Yono.
Mas Yono menghubungi orangtuaku, "Halo?? maaf pak, anak bapak yang bernama Ayla resmi saya talak tiga. saya tunggu di pengadilan, kedua orangtua saya meninggal dunia dan tidak sempat melihat cucunya lahir. karena sejak awal saya dan Ayla tak melakukan apapun."
Pak Tarmiji, ayahku tak bisa berbuat banyak. beliau pun turut mengakui kekalahan atas kegagalan perjodohan ini.
"Puas kalian?? setelah melihat perjodohan ini gagal??" tanya mas Yono.
Diriku bersama Ayla, Andra dan Abiyoso berjalan mundur. lalu tubuh kami terhempas dan sosok suster itu datang dan mencekik mas Yono.
"Aaaaaa!!!"
"Brugggg!!!!"
Flashback
Taman Pemakaman Umum Sinar Semboja
Diriku melintasi jalanan kuburan yang licin, sambil mata fokus ke depan diriku memperhatikan jalur yang dilalui hingga sebuah pukulan mengenai bahuku dengan cukup keras.
"Buggg!!!"
"Aahhh!!!"
Diriku meringis kesakitan, lalu Andra dan Abiyoso membantuku berjalan keluar dari areal pemakaman itu.
"Siapa yang mukul ya?? perasaan tadi saya sama Abiyoso diam saja." tanya Andra.
Diriku terdiam, hingga pandanganku tertuju pada seseorang yang tergeletak di jalan ujung gang sempit yang kami lalui.
"Siapa itu yang tergeletak??" tanyaku pada Andra.
Andra menjawab, "Mungkin dia kelelahan.."
"Ehh jangan sembarangan bicara b*d*h, siapa tau dia korban kejahatan malam.." balas Abiyoso.
Diriku dan dua sepupuku menghampiri orang itu dan benar saja sudah meninggal dunia.
Versi Andra
Setibanya di rumah Arkan, Andra langsung mengambil makanan tanpa ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu. apalagi ia baru saja pulang dari pemakaman.
"Main makan aja... bukannya ganti baju dulu!!" ucapku yang ternyata sama sama belum mengganti pakaian yang kami kenakan." gumamku yang turut makan malam bersama dua anak itu.
Setelah makan malam, mungkin kekenyangan. kami bertiga tertidur lelap. dan saat jam menunjukan pukul setengah sebelas malam, Andra terbangun karena ingin buang air. ia berlari kencang hingga menginjak kaki Abiyoso hingga muncul kebun binatang dadakan.
****
"Ahh.. kukira jam empat, masih jam setengah sebelas malam. mending ganti baju dulu, enggak kuat sama bau badan sendiri." gumamku.
Sementara itu, Abiyoso melanjutkan tidurnya. saat diriku melintas di depan kamar Ayla, tak sengaja diriku melihat gadis mungil itu belum tertidur.
"Ay.. kakak masuk ya!!!" ucapku.
Ayla mengizinkan, lalu diriku yang masih memegang handuk dengan pakaian kaos oblong hitam dan celana gunung berwarna crame masuk dan duduk di depan meja rias adikku.
"Kakak belum tidur??" tanya Ayla.
Diriku tertawa, "Justru itu kakak malah terbangun karena si Andra bikin si Abiyoso teriak sampai ada kebun binatang dadakan."
"Kak, aku enggak bisa tidur.. mana besok aku mau dirias lagi.. sejujurnya aku masih belum siap untuk menikah." gumam Ayla.
Mungkin karena mengantuk, kelelahan dan emosi tak terkendali. diriku malah keceplosan dan mengucapkan kata ini.
"Tidak akan pernah ada yang bisa menyentuh kamu... whoaammm..." balasku sambil menahan kantuk.
Karena kantukku tak lagi bisa dikendalikan, akhirnya diriku terlelap di tempat tidur adikku. dan akhirnya Ayla bisa terlelap setelah memeluk tubuhku yang sejatinya sangatlah bau.
disinlah letak kesalahanku, setelah melintasi pemakaman dengan pikiran kosong. diperparah lagi Andra dan Abiyoso yang bersikap sompral dan juga ikut mengangkat jenazah membuat beberapa dari "mereka" ikut ke rumah dan mereka singgah di kamar Ayla karena mencium bau gadis yang akan menikah.
Flashback off
Diriku melihat sebuah cahaya terang, dimana si gadis yang kami temui di jalan melangkahkan kakinya lalu ia menoleh dan melambaikan tangannya tanda berterima kasih.
"Aaaa!!! terang sekali!!"
Saat diriku tersadar, ternyata itu hanyalah mimpi lalu Andra, Abiyoso dan Ayla ikut siuman dari pingsan yang kami alami.
"Akhirnya kalian sadar juga, maafkan papa ya Arkan.. Ayla... papa mengakui kekalahan atas kegagalan perjodohan ini... kini papa dan mama harus menerima konsekuensinya.. kita harus pergi dari desa." kata pak Tarmiji, papaku.
Diriku membalas, "Iya, tidak apa apa... kita mulai lagi dengan sesuatu yang baru.."
"Benar itu paman, di samping rumah Andra ada rumah kosong. tapi sudah dibeli oleh Arkan, kalian bisa tinggal disana."
"Terimakasih Arkan.." ucap papaku.
Diriku menjawab, "Sama sama... yowes kita pulang sekarang.. papa sama Ayla ikuti dari belakang ya.."
"Baik.." jawab pak Tarmiji.
Setelah kejadian itu, kisahku dikenal sebagai After the Afternoon...
Tammat...