Malam di selimuti bintang yang bertaburan di langit, cahaya biru sang bulan memasuki celah jendelakudan suara jangkrik di malam hari menemaniku dalam sudut kamar yang gelap dan hanya ada cahaya bulan yang masuk. Mengingatmu begitu membuatku sangat tersiksa, banyak penyesalan tertanam di dalam benakku.
°•°•°•°
Namaku Stella Wijaya. Ada satu hal yang membuatku benar-benar dalam keadaan hancur, namun dia mulai datang dan menjadi terangnya cahaya kecil yang semakin membesar dalam gelapnya hati ini. Namun dia kini pergi.. Ku sangat merindukanmu.
Aku berlari kencang menuju pintu putih ke emasan dalam mimpiku, berlari kencang tanpa adanya akhir dan menjauh dari kegelapan. Seketika aku terbangun dan mendapati diriku sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Sekujur tubuhku di penuhi alat-alat medis yang sangat tidak familiar di otakku. Rupanya di sebelahku ada seorang remaja laki-laki yang sepertinya lebih muda 5 tahun dariku.
Perlahan aku bangun dan menyenderkan punggungku pada sisi ranjang, Ada perawat yang masuk kedalam ruangan untuk mengecek anak itu.
"Dia sakit apa sus?" Celetuk ku pelan. "Dia terkena tumor pada otaknya, sekarang sedang koma" mendengar jawaban sang perawat membuat ku merasa iba dan mengangguk perlahan.
_Selang beberapa hari kemudian...
Saat ini aku sudah di perbolehkan untuk kembali pulang ke apartemen ku, Namun, selama aku di rumah sakit ini sama sekali tidak ada yang menjenguk anak lelaki di sebelahku ini. Apa orangtuanya tidak peduli dengan anak ini? Sungguh kasihan. Aku mengemasi barang-barang ku ke dalam koper sedang ku. Perlahan mendekati pintu keluar dan menoleh sebentar ke belakang dan mengucapkan salam perpisahan kepada anak itu.
Satu Minggu sudah terlewàti, seperti biasa paginya aku pergi bekerja lalu sorenya mampir minimarket membeli bahan makanan untuk di apartemen. Entah kenapa tiba-tiba terbesit dalam pikiran bagaimana keadaan anak lelaki itu, pikiran itu selalu menempel dalam otakku, seperti jika tidak mengunjungi nya maka pikiran itu tidak akan hilang dalam diri ini.
Keesokan paginya aku memutuskan untuk menyelesaikan pikiran aneh yang sangat menganggu ketenangan batin ini. Suara high heels berwarna hitam itu menggema di lorong rumah sakit. Ku buka pintu ruangan itu perlahan, masih sama dengan sebelumnya, anak itu masih tetap berada di ruangan itu tanpa adanya orang yang menemani. Ku tarik perlahan kursi di samping ranjangnya dan duduk di atasnya. Selang pernafasan dan makanan serta yang lainnya masih tertancap jelas di tubuhnya, sudah satu Minggu lebih tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan terbangun dari koma kata salah satu perawat di sana.
Lama kelamaan minggu berganti bulan, sejak saat pertama kali kembali berkunjung itu kini diriku sudah hampir setiap hari menemaninya yang sedang dalam kesendirian di ambang hidup dan mati. Ku belikan beberapa baju baru dari gaji yang ku dapatkan.
Hari ini, tepat dua bulan setelah aku keluar dari rumah sakit waktu itu ku usap kepalanya perlahan. Membasuh badannya perlahan dengan air dan handuk dan itu membuatku seperti kembali mendapatkan sebuah keluarga baru yang selama ini sama sekali sudah tidak punya siapa-siapa, kedua orangtuaku dan adikku sudah meninggal dalam tragedi kecelakaan pada 10 tahun yang lalu. Melihat perawat masuk membawa dorongan berisi obat itu lantas aku menyingkir dari sekitar anak itu dan mempersilahkan perawat memberikan obatnya. "Sus, sampai kapan sadarnya belum di tentukan ya?" tanyaku pelan. "Maaf, saat ini pasien belum terlihat adanya perkembangan pada dirinya" setelah mengucapkan itu lantas perawat itu langsung meninggalkan ku berdua dengan anak itu.
Ku duduk kembali di sebelahnya dan mengambil tangan kanannya lantas menggenggamnya perlahan. Ku usap pelan tangan indah itu dalam genggaman ku. Sungguh manusia yang sempurna, memiliki wajah indah dan tangan yang sangat cantik. "Ijinkan aku menjagamu hingga waktu yang tidak di tentukan" Kubawa genggamannya memasuki mimpiku.
Tanpa ku sadari, seseorang mulai membuka matanya perlahan dan menatapku secara teliti saat ku tertidur "siapa kamu?" kalimat itulah yang membuatku terbangun dengan tangan masih menggenggam tangannya dan kepala ku senderkan di atas ranjang. "Eh! Sadar, Udah sadar!!" Ucapku histeris. Sebuah jemari tertempel di bibirku "shttt, jangan berisik, pusing..." ucapnya lirih. "ehhh!!, iya-iya, ini minum dulu" aku mengambil gelas berisi air putih di atas nakas dan menyodorkan sedotan ke mulutnya, ku bantu tegakkan badannya perlahan dan menyuapinya air hangat. "gimana? enakan tenggorokannya? sebentar Okey, mau manggil suster" belum sempat ia menjawab aku sudah berlari pergi mencari suster terdekat dari kamarnya.
Sejak dirinya sadar dan mulai pulih secara perlahan-lahan itu kini dia mulai memberi tahu namanya dan sedikit tertawa. Rupanya nama dia adalah Rico, nama yang indah. Berbagai candaan aku lontarkan untuk membuat keadaannya semakin membaik. Berjalan-jalan di taman rumah sakit adalah kegiatañ yang paling sering ku lakukan bersamanya, dia duduk di atas kursi roda dengan aku di belakangnya membantu membawanya pergi. Jam berkunjung sudah hampir habis tiba-tiba dia menarikku hingga aku terjatuh di atas tubuhnya, ku coba untuk menyingkir dari tubuhnya, namun entah dapat tenaga dari mana dirinya dapat menahan pinggang ku hanya dengan satu tangannya saja, ku lihat bibirmu yang tampak sangat indah jika di lihat sedekat ini, dengan perlahan kamu memajukan kepalamu dan mulai mencium perlahan bibirku dengan bibirmu, sungguh! aku sama sekali tidak pernah melakukan ini sebelumnya!
Setelah ciuman itu, paginya aku dan Rico secara resmi sudah berpacaran.
5 tahun sudah berlalu... aku pergi sebentar ke cafetaria yang ada di rumah sakit untuk membeli susu dan roti, Aku berjalan dengan cepat menuju ruangan dengan susu dan roti favoritnya di tanganku. Ku buka pintu ruangan dengan perlahan, kudapati Rico tidak ada di dalam ruangan itu beserta ranjangnya. Ku cari suster terdekat dan langsung menanyakan keberadaan Rico dengan membawa kresek berisi roti dan susu itu di tangan. Ruang operasi.... kata sang suster,dengan perasaan sangat khawatir aku berlari kencang ke depan ruang operasi, ku duduk di sana. Satu jam kemudian sebuah ranjang keluar dari ruangan itu, orangnya di tutupi dengan selimut putih, ku buru-buru berdiri dan menanyakan keadaan Rico. Dengan tangan gemetar ku buka kain putih yang menutupi wajah orang itu. Lutut ku langsung melemas, air mataku mengalir deras melewati kedua pipi, kedua tanganku memeluk orang itu, benar, dialah Rico yang selama ini ku temani 5 tahun tanpa mengenal lelah, kini dia telah pergi selamanya dari kehidupan ini, pergi tanpa berpamitan denganku, sungguh. Hancur sudah kehidupan bahagia ini, Rupanya Hari Terakhir.