Malam itu hujan turun begitu derasnya,aku melihat keluar dari jendela kamarku yang berada di lantai 2,kulihat ada seorang pria yang berlarian ditengah hujan
"sedang apa dia hujan hujanan seperti itu ?" fikirku.
Kusapukan lagi pandangan ku kearah lain,tak jauh dari pria tadi aku melihat 2 pria lain yang mengacungkan jari kearahnya,sayup ku dengar suara 2 pria itu berteriak
"hoy,jangan lari !",
tapi pria yang di awal tadi kulihat tak mengindahkan perkataan mereka. Dia masih saja berlari sekuat tenaga ditengah hujan yang mengguyur bumi. Sampai ia berhenti di dekat rumahku,aku memberi perintah pada sekurity yang kebetulan sedang berpatroly agar menarik pria itu masuk ke dalam area rumah.
"bagaimana kalau dia orang jahat non ?" tanya seorang security bernama Anam
"kami tidak mau ambil resiko non" timpal security yang lain.
"lakukan !! atau kalian akan kupecat ?" ucapku menggertak.
Sungguh hanya ingin membantu pria itu dari kesusahan,karena ku lihat nafasnya sudah sangat terengap engap.
Aku jadi teringat kala aku dikejar anjing.
Flash back on
waktu dulu,dengan sisa tenaga yang aku punya aku berlari karena aku berlari sambil sesekali menengok kebelakang,hingga aku menabrak seorang pria yang kala itu sedang berdiri di separator jalan.
Brukkkk
"adduhhhh" ucapku mengaduh sambil memegangi bokongku yang terhempas ke tanah dengan indahnya.
"kamu baik² saja dek ?" tanyanya terlihat khawatir melihatku terluka.
"kamu kenapa lari-larian begini,ini dekat jalan raya,kau bisa saja dalam keadaan bahaya" tegurnya padaku.
"aku dikejar anjing om" jawabku dengan nafas yang masih memburu.
Orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri tapi sepertinya tak ada apa².
Akupun akhirnya kembali pulang ke rumah dengan diantar oleh pria yang tadi tak sengaja ku tabrak tadi.
Flash back off
Kembali ke pria yang berlari tadi.
Dia kini sudah berada di dalam pos pengamanan,
"Dia pingsan non" kata seorang security padaku.
Aku berlari ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar kakakku,bermaksud akan meminjam baju kepadanya. Tanpa pikir panjang,kakakku mengiyakan dan segera memberikan satu kaos dan celana kolor panjang padaku.
"tolong bantu ganti pakaiannya!!" perintahku lagi pada security.
Ku telepon dokter untuk memeriksa keadaannya,dan dalam waktu kurang dari 30 menit dokter yang kupanggil datang. Segera dokter itu melakukan tugasnya.
"tidak ada yang perlu dikhawatirkan,dia hanya pingsan karena kelelahan" kata dokter menjelaskan.
Setelahnya dokter tersebut pun pamit untuk pulang.
"Terima kasih banyak dok" ucapku padanya.
"Tolong bawa masuk dia di kamar tamu" lagi lagi aku meminta tolong pada 2 security yang bekerja di rumahku.
Setelah itu aku kembali masuk ke dalam rumah dan menuju kamarku untuk tidur karena hari yang sudah cukup larut. Lagipula aku harus berangkat pagi besok untuk bekerja.
Tak terasa pagi sudah menjelma,aku terbangun karena suara alarm yang kusetel jam 5 pagi.
Segera aku menyiapkan baju kerja yang akan kupakai di atas ranjangku. Dengan membawa selembar handuk yang kusampirkan di pundak,aku masuk ke dalam kamar mandi setelah lebih dulu aku membersihkan wajahku dengan kapas dan cairan penyegar didepan kaca rias. Rurinitas yang biasa kulakukan tiap bangun tidur setelah melakukan olahraga ringan.
Kurang dari 60 menit kubutuhkan untuk ku bersiap pergi bekerja. Kini aku sudah siap,kemeja bloush warna biru muda dan celana panjang hitam serta sepatu pantofel dengan hak yang tidak terlalu tinggi menghiasi kaki jenjangku,ditambah tas selempang warna hitam melengkapi outfit kerjaku hari ini.
Mama,papa,dan kakakku sudah berada di meja makan.
"tumben kamu ketinggalan dek ?" tanya mama padaku,karena aku yang biasanya lebih dulu berada di meja makan dari pada yang lain.
"semalem dia nolongin cowok yang tadi,ma" kakakku yang menjawab pertanyaan mama padaku.
"bahkan memanggilkan dokter segala" tambahnya lagi.
"oh," hanya itu tanggapan mama dan papa.
Kami pun segera menyelesaikan sarapan pagi kami,dan setelahnya kami pun menuju tempat kerja masing².
Mama dan papa adalah seorang dosen dikampus yang berbeda,kakakku bekerja di cafenya sendiri.
Aku ? Aku bisa saja bekerja di cafe milik kakakku,tapi aku lebih memilih kerja sesuai bidangku. Aku yang lulusan sekolah akuntansi bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan swasta di kotaku.
Seperti biasa sebelum pergi ke cafenya kakakku akan lebih dulu mengantarkanku sampai di depan gedung perkantoran tempatku bekerja,baru setelah itu dia langsung menuju ke cafe miliknya yang berada tidak jauh dari kawasan kampus tempat mama dan papa mengajar.
"pagi Len?" sapa seorang rekan kerja padaku
"pagi juga Bram ?" jawabku ramah sambil melempar senyum padanya,kulakukan hal yang sama pada teman kerja yang juga menyapaku tiap pagi sebelum kami akhirnya bekerja di meja kami masing².
Kulihat kalender dimeja kerjaku,hari ini ada kunjungan dari kantor pusat,dan yang kudengar dari gosip yang beredar hari ini jabatan direktur di perusahaan cabang yang kosong akan diisi oleh anak tunggal dari direktur utama yang juga pemilik perusahaan tempatku bekerja.
Jam menunjukkan pukul 11.30 siang, sudah tiba jam makan siang. Aku bersama karyawan lain segera menuju kantin kantor yang berada di lantai teratas gedung kantor.
Meja meja dikantin sudah mulai penuh oleh para karyawan yang makan siang,tapi ada satu meja yang membuatku terperangah karena ada sesuatu yang berbeda di sana.
Tanganku tak henti menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutku,tapi mataku terus saja menatap seorang pria yang duduk di antara jajaran direktur di kantin yang sama dengan karyawan yang lain. Wajah pria itu seperti tak asing bagiku,tapi aku sedikit lupa dimana pernah bertemu.
45 menit waktu istirahat sudah berlalu,aku dan karyawan yang lain sudah kembali bekerja. Saat aku sedang sibuk berkutat dengan deretan angka² nominal uang masuk dan keluar perusahaan. Seorang karyawan yang ku tahu adalah sekretaris utama datang ke mejaku.
"Alena,kamu dipanggil direktur baru kita. Beliau memintamu menemuinya dikantornya sekarang juga. " ucapnya padaku,kemudian ia pun beranjak kembali ke meja sekretarisnya setelah aku mengiyakan ucapannya.
Kuhentikan segala kesibukanku lalu bangkit dan berjalan mengikuti langkah sekretaris utama yang bernama Amir.
"Kamu tunggu disini dulu" kata Amir lalu ia mengetuk pintu yang bertuliskan R.Direktur
Beberapa saat kemudian Amir pun kembali keluar dan menyuruhku masuk setelahnya ia pun keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan aku bersama seorang pria yang belum aku ketahui seperti apa wajahnya.
Perlahan kulangkahkan kakiku masuk kedalam ruangan dan memberanikan diri menyapa.
"Bapak memanggil saya ?" ucapku sedikit terbata.
Alena Reeza Safitri,panggil pria dibalik kursi kebesaran yang seorang direktur dengan menyebutkan nama lengkapku.
"saya pak,cukup Alena saja pak " jawabku keberatan jika harus dipanggil dengan nama sepanjang itu.
Kursi direktur di depanku lalu berputar dan menampilkan seorang pria tampan yang sedari tadi aku coba mengingat ingat dimana aku pernah bertemu dengannya.
"Terima kasih untuk pertolonganmu semalam" ucapnya seketika membuatku teringat pada sosok pria yang semalam aku tolong.
"sama sama pak,darimana bapak tau kalau saya yang menolong bapak tadi malam,dan maaf kalau boleh tau kenapa dua orang tadi malam mengejar bapak ?" tanyaku memberondong.
"pertama,saat aku sudah berada di kamar tamu,sebelum kamu pergi kamu lebih dulu memeriksa keadaanku,saat itu aku sudah sadar dan sempat melihat kamu,kedua pagi² sekali aku sudah bangun dan aku bertemu dengan aku yakin itu mamamu dan berterima kasih padanya lalu aku pamit pulang. blabla blabla .........." ucapnya panjang lebar menjelaskan padaku secara detail.
"Orang yang kuselamatkan ternyata bossku" batinku bicara disela ucapan terima kasihnya padaku. Dan tentang mengapa sampai ia dikejar kejar orang ternyata hanya karena salah faham,dan masalah itu sudah diselesaikan.
Aku pun kembali bekerja setelah dipersilakan meninggalkan ruang kerjanya.
3 bulan sudah sejak pria itu menjadi direktur aku mendapat kenaikan jabatan tanpa dipromosikan dulu. Saat aku bertanya alasannya,jawabannya sebagai balas budi waktu itu.
"tidak perlu sampai begitu pak" tolakku dengan sopan,tapi dia tetap pada pendiriannya. Akupun akhirnya menyetujui setelah mengetahui
karyawan lain tidak merasa keberatan dengan keputusan direktur kami.
Dan begitulah karirku di kantor yang semakin membaik setelah pertolongan yang kuberikan pada orang asing malam itu,padahal selama hampir 2 tahun aku bekerja disana aku sama sekali tidak mendapat promosi jabatan.
"Terima kasih Tuhan,atas segala rezeki dan anugerah yang telah Engkau berikan padaku" kalimatku berucap syukur mendapat segala nikmat dalam hidupku.