Di malam yang terang penuh dengan bintang. Ku duduk sendirian di taman samping rumahku. Sambil menunduk dan menangis. Isak tangisku ternyata mengundang salah seorang pria yang baru saja datang bertamu kerumah ku menyusul kedua orang tuanya yang bermain kerumah kami. Ia berjalan pelan mendekatiku. "Kamu kenapa?" Pertanyaannya yang membuat ku terkejut, lalu dengan tergesa-gesa ku usap air mata yang keluar dari mataku. Aku berbalik menjawab perkataannya dengan cepat.
"Tidak, aku hanya ingin melihat bintang" Jawabku tersenyum lalu menunduk. Berusaha menutupi mataku yang bengkak karena menangis tadi.
"Kau menangis?" Pertanyaannya membuatku mengangkat wajahku hingga menatap kedua matanya. "Tidak, untuk apa aku menangis" Jawabku mengelak lalu memalingkan wajahku lagi. Ia segera menarikku kedalam pelukan nya, mungkin untuk menenangkan ku.
"Aku tau kau menangis, ada apa?" Ucapanya membuatku tak kuasa menahan air mataku lagi. Perlahan air mataku kembali menetes dan membasahi hoodie yang dia pakai.
"Jangan menangis disini, aku akan membawamu pergi. Agar kau bisa meluapkan semua kesedihanmu tanpa takut mereka tau" Ucapnya sambil membelai pelan punggung ku. Aku mengangguk pelan menyetujui ucapannya.
"Kita izin dulu ya, hapus air matamu dulu" Ucapnya lagi sambil melepaskan pelukannya dan mengusap pelan air mataku. Aku kembali mengangguk. Ku berjalan menuju belakang rumah dan ia berjalan menuju depan rumah dimana pintu utama berada.
Aku menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku untuk mengurangi bengkak pada bagian mataku. Setelah itu aku berjalan menuju ruang tamu memanggil Ibuku. Aku meminta izin untuk keluar sebentar bersama Alfen. Ya.. orang yang memeluk dan memergoki aku ketika menangis tadi adalah Alfen.
"Ma, Fella izin jalan sebentar sama Alfen boleh?" Tanyaku kepada Ibu dan tetap menunduk, agar ibuku tidak melihat bengkak di wajahku.
"Mau kemana?" Tanya Ibuku sedikit tegas.
"Hanya jalan nenangin diri kok, boleh ya sebentar aja" Jawabku memohon sambil menoleh sebentar.
"Ya sudah, tapi jangan malam-malam ya pulang nya" Ucap Ibuku lembut.
"Iya Ma, Terimakasih ya. Nanti bilangin sama papa ya Ma, takut kalau Papa marah" Ucapku senang sambil mencium punggung tangan Ibuku. aku berpamitan.
Mungkin Ibuku sadar jika aku tidak baik-baik saja dan masih belum mau menceritakan masalah ku. Dan mungkin juga ini adalah salah satu cara untuk membuat ku lebih baik. Lagi pula Alfen bukanlah orang lain, dia juga sudah di anggap anak sendiri oleh kedua orang tuaku. Jadi mereka percaya bahwa Alfen tidak akan berani macam-macam dengan ku.
Setelah berpamitan aku langsung menuju halaman depan lewat samping rumahku. Aku melihat bahwa Alfen sudah menunggu ku di depan sambil duduk di kursi. Setelah melihat aku berjalan mendekatinya ia segera berdiri dan berjalan bersama menuju motornya yang terparkir di halaman rumah.
Kemudian ia segera melajukan motornya memecah keramaian jalanan kota malam ini. Karena sedikit dingin dan lajuan motornya lumayan kencang, aku memegangi hoodie nya. Namun siapa sangka jika ia malah menarik tanganku dan menyuruh ku memeluk nya.
30 menit berlalu, akhirnya kita sampai di sebuah taman kota. Suasananya sangat ramai pada malam hari ini. Karena taman ini memang ramai saat malam hari dari pada siang, karena hiasan-hiasan lampu yang terpajang di sepanjang jalan sangatlah indah dan menambah kesan romantis. Kami duduk di salah satu bangku yang lumayan jauh dari keramaian, Alfen menggandeng tanganku dengan lembut. Akupun merasa nyaman berada di dekatnya.
"Jadi, apa yang membuatmu menangis Fella?" Tanya Alfen lembut sambil menatap mataku. Akupun mulai menunduk dan tak menjawab pertanyaannya. "Hahh" Helaan nafas Alfen terdengar sangat berat.
"Fella, aku tau kau menyukai adikku." Sambung Alfen yang membuat ku terkejut. Aku mulai menitikkan air mata lagi. "Aku benar kan Fella?" Sambungnya bertanya sambil menangkup wajahku dan menatap dalam mataku.
"A-ku, dia sudah memiliki Al" Jawabku pelan.
"Maaf Fell aku tidak bisa membantu mu, Karena Varo sangat mencintai kekasihnya dan berniat untuk menikah dengannya" Ucap Alfen yang membuat ku semakin kuat menangis. Air mataku deras mengalir membasahi kedua pipiku. Sakit?.... tentu saja, mana mungkin aku tidak merasakan sakit hati jika seseorang yang kita cintai ternyata malah berniat menikah dengan orang lain.
"Kamu yang sabar Fell, masih banyak kok orang di dunia ini dan banyak juga yang mencintaimu. Contohnya---" Ucapan Alfen mengantung membuat ku penasaran.
"Contohnya?" Tanya ku pelan sambil sesenggukan.
"Contohnya yang berada di depanmu ini" Jawab Alfen sambil tersenyum lembut padaku. Akupun terkejut karena aku tidak menyangka jika Alfen menyukaiku. Dan dia juga tau jika aku mencintai Varo yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Maaf" Ucapku pelan meminta maaf.
"Untuk apa kamu meminta maaf Fell? kamu tidak memiliki kesalahan kok" Jawab Alfen sambil membelai lembut kepalaku.
"Maaf jika aku menyakiti mu, aku--" Ucapku tak kuasa menahan air mata. Alfen dengan lembut menarikku kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan ku dengan membelai lembut punggung ku.
"Pelan-pelan saja, aku tidak akan memaksa mu" Jawab Alfen pelan. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
"Aku akan belajar Mencintaimu dan berusaha melupakan nya" Ucapku serius sambil menatap kedua mata Alfen. Alfen tersenyum dan dia segera mencium kening ku dengan lembut.
"Aku akan menunggu mu Fellaini, aku akan bersabar" Ucap Alfen sambil memelukku erat.
Aku tersenyum dan membalas pelukannya. Setelah beberapa saat kami memutuskan untuk segera pulang, karena hari sudah sangat malam takut jika orang rumah akan merasa khawatir jika kami berlama-lama lagi. Setelah hari ini kami selalu bersama, aku mencoba membuka hati lagi untuknya. Mencoba membalas perasaannya yang begitu tulus.
..TAMAT..