"Hahaha! Seharusnya dengan begini aku bisa memiliki sihir kuno ini!"
Di sebuah kastil tua yang terletak di tengah hutan dan dengan aura kegelapan yang mengerikan di sekitar kastil itu. Terlihat seorang penyihir pria tua sedang sangat sibuk dengan sebuah buku kuno yang ia baca. Ia merapal beberapa rapalan yang tercatat di dalam buku sihir kuno itu. Ketika ia merapalkan semua mantra yang tercatat, sebuah lingkaran sihir berwarna ungu bercampur hitam muncul di hadapannya.
Matanya langsung membulat dengan tatapan kagum ketika lingkaran sihir itu muncul. Ia tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil membangkitkan sihir kuno yang telah tersegel ratusan tahun yang lalu.
"Akhirnya!"
Sesuatu terlihat muncul dari lingkaran sihir yang muncul, dan sebuah pohon berwarna hitam tanpa adanya daun di rantingnya menjalar keluar dari lingkaran sihir itu. Sesosok makhluk tak berbentuk pun keluar dari balik pohon berwarna hitam itu. Makhluk itu tak bisa dijelaskan wujudnya, dia hadir hanya berwujud sebagai bayangan hitam yang besar dan mengerikan. Aura jahat memenuhi sekitar makhluk itu ketika muncul.
"Selamat datang kembali, kekuatan yang maha besar dari sang Dewa!" Penyihir tua itu terlihat sangat menyambut kehadiran makhluk yang telah ia panggil. Dengan mengangkat kedua tangannya, ia menyeringai puas.
Namun makhluk bayangan itu tampaknya tidak senang. Dia bermutasi menjadi sebuah serangga raksasa berwarna hitam namun dengan bentuk yang masih abstrak berwarna hitam. Serangga itu langsung menyerang sang penyihir dengan sebuah kekuatan yang sulit untuk dijelaskan. Sebuah cahaya berwarna hitam bercampur ungu menghantam si penyihir, bahkan cahaya itu sampai menghancurkan kastil itu.
DUARR !!!
Ledakan terjadi setelah cahaya itu menghantam segala yang menghalanginya, termasuk tubuh penyihir yang merapal mantra kuno. Akar-akar pohon itu menjalar menyelimuti kastil yang kini hancur lebur itu.
Wujud dari serangga itu kembali bermutasi menjadi lebih sempurna dari sebelumnya. Muncul dua buah tanduk berwarna hitam di kepalanya, dan kaki berjumlah enam pun muncul. Kemudian dia melengking sangat keras, dan membuat hewan serta kehidupan di sekitarnya seperti tumbuhan mati seketika.
Serangga itu kemudian membelah dirinya dan bermutasi menjadi ribuan serangga, dan kemudian menyerang desa-desa sekitar. Ribuan serangga itu melengking ketika menyerang desa-desa, dan membuat para penduduk desa kejang-kejang akibat mendengar suaranya.
Hal itu terus terjadi dan terjadi. Ribuan serangga itu terus mewabah ke desa-desa lain, dan membuat warga desa di dalamnya kejang mendengar lengkingan suara yang dihasilkan serangga-serangga itu.
***
200 tahun kemudian.
Kerajaan Favonius, 1455 SM, Bumi Tengah.
"Bagaimana dengan rencana perluasan wilayah yurisdiksi kita, yang mulia?" tanya seorang wanita yang sangat cantik dan rupanya ia adalah Ratu dari kerajaan tersebut.
"Aku sedang melakukannya, aku sudah mengirimkan regu untuk menyelidik wilayah di perbatasan barat." Raja yang memiliki rambut berwarna perak itu menjawab pertanyaan tersebut dengan santainya saat duduk di singgasananya.
"Lalu bagaimana dengan putra mahkota kita yang harus segera memiliki calon putri mahkota untuknya?" tanya Ratu itu kembali yang duduk di singgasananya tepat di samping Raja.
"Terkadang dia sangat bandel sekali, bahkan sering menyelinap keluar kastil dengan seenaknya tanpa seizin dan sepengatahuan para penjaga." Ratu tampak menyampaikan keluh kesahnya tentang si Putra Mahkota.
Raja terlihat tertawa kecil mendengar keluhan tersebut, dirinya menoleh dan menjawab, "biarkan seperti itu saja dahulu, dia pasti merasa boring dengan tugasnya dan tentunya memerlukan waktu untuk melepas penatnya."
"Lalu untuk masalah putri mahkota, untuk sementara kita tidak perlu menyelenggarakan pemilihan. Biarkan saja putra mahkota memilih putri mahkotanya sendiri, dan jika dia belum memiliki pilihan ... kita yang akan bertindak. Namun jika dia sudah memiliki pilihan, maka kita akan uji dan pilihannya apakah cocok untuk menjadi pendampingnya."
Sang Raja tampak menanggapi persoalan itu dengan santai. Namun tidak dengan Sang Ratu yang tampaknya sangat ingin sekali putra mahkota segera memiliki calon.
Tap ... Tap ... Tap ...!
Seorang penjaga berlari dan berlutut di hadapan kedua pemimpin negeri itu. Dia membawakan berita, "yang mulia, putra mahkota menghilang lagi dari kastilnya." Berita itu disampaikan oleh penjaga tersebut dengan menundukkan kepalanya di hadapan yang mulia.
Raja menghela napas dan bergumam, "lagi-lagi dia seperti ini," gumamnya seraya menggelengkan kepala.
***
HUP !!!
Seorang pemuda laki-laki terlihat melompati sebuah tembok besar dengan sangat gesit dan lincah ke arah hutan.
"Hufftt ...!!! Aku tidak mau dikurung terus!" teriak pemuda itu ketika berjalan memasuki hutan.
Pemuda laki-laki itu memiliki paras yang tampan, ditambah lagi ia memiliki rambut berwarna perak dan mata yang berwarna biru muda. Dia juga kelihatannya seorang ahli pedang, terlihat dari pedang yang selalu menggantung pada pinggangnya.
Ketika ia berjalan di hutan kerajaan, ia tiba-tiba melihat seorang gadis berambut merah. Rambut yang sangat jarang sekali ia lihat, dan rambut itu terlihat sangat indah sekali. Gadis itu tampak sedang mengambil beberapa tanaman obat di sana.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" tanya pemuda itu menghampiri si gadis.
Gadis itu langsung terkejut, ia berdiri menghadap pemuda yang menghampirinya. "Oh, saya ... saya hanya ... mengambil beberapa tanaman obat saja, yang mulia," jawabnya.
"Meskipun aku tidak memakai atribut, tetapi kau ternyata mengenali ku, ya?" gumam si pemuda menghela napas.
"Semua orang di negeri ini sudah pasti mengetahui siapa putra mahkota, dan itu sudah pasti, yang mulia." Dengan sangat sopan dan ramah, gadis itu berbicara kepada pemuda yang ternyata adalah putra mahkota.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apakah kau baru di sini?" putra mahkota menatap pakaian yang dipakai oleh gadis cantik di hadapannya. Terdapat logo kerajaan pada mantel berwarna coklat itu yang menandakan kalau gadis itu adalah pekerja di kastilnya.
"Maaf karena sebelumnya saya belum memperkenalkan diri dan bertemu dengan anda, yang mulia. Nama saya Rufina Kianna, anda bisa memanggil saya Anna atau Fina, yang mulia." Gadis itu dengan sangat ramahnya ia memperkenalkan diri seraya mengulas senyuman manisnya.
Cara gadis itu memperkenalkan diri sempat membuat putra mahkota tertegun dan terpana dengan keindahan rambut merahnya ketika tertiup angin. Kecantikan gadis itu sangat terpancar meskipun tanpa dandanan yang menghiasi dirinya.
"Apa kau sedang mencari tanaman obat di sekitar sini? Dan apakah kau bekerja di kastil ku?" tanya putra mahkota.
"Iya, yang mulia. Saya sedang mencari tanaman obat di sekitar sini, dan saya adalah seorang peracik di kastil anda, yang mulia," lanjut Fina.
"Lain kali jangan terlalu formal padaku jika aku tidak sedang mengenakan seragam resmi ku. Panggil saja nama ku tidak apa, dan itu juga biasa di lakukan oleh hampir semua pekerja di kastil ku," ucap putra mahkota yang merasa aneh jika gadis itu bersikap terlalu formal padanya, namun dirinya memaklumi hal tersebut.
"Baik, yang mulia Areez," ucap Fina sedikit menundukkan pandangannya. Sedangkan Areez hanya tersenyum memandang sikap formal yang masih saja ia lihat.
Taaangg ... Taaangg ... Taaangg ...!!!
Tiba-tiba suara lonceng penanda dan peringatan darurat kerajaan berdentang berkali-kali menyela pertemuan mereka berdua. Putra mahkota sangat terkejut mendengar lonceng peringatan itu berdentang, lantaran lonceng itu hanya berbunyi jika ada peringatan perang atau peringatan jika kerajaan sedang di serang.
"Apa yang terjadi?" tanya Fina menoleh ke arah menara di mana letak lonceng itu berada.
"Fina, kembalilah ke kastil!" pinta Areez kepada Fina lalu ia segera pergi dari sana untuk melihat langsung apa yang terjadi.
"Yang mulai, ke mana anda akan pergi?" tanya Fina kebingungan kepada Areez yang bukannya kembali ke kastil, dia malah berlari menjauh dan mendekat ke arah gerbang utama kerajaan.
"Aku hanya ingin melihat situasi, kau kembalilah ke kastil!" sahut Areez seraya terus berlari ke arah gerbang utama.
***
"Apa yang terjadi?!" tanya Raja kepada salah satu penjaga kerajaan yang tampak berlutut di hadapannya dan ingin melaporkan.
"Di saat kami menyelidiki hutan di perbatasan barat, kami diserang oleh makhluk seperti serangga yang besar dan mengerikan, dan entah apa yang terjadi beberapa pasukan mengalami kejang ketika makhluk itu melengking."
"Lalu makhluk itu bermutasi menjadi serangga-serangga kecil, dan serangga-serangga itu mengarah ke kerajaan, yang mulia."
Mendengar kerajaannya dalam bahaya akibat serangga-serangga itu. Rasa langsung memberikan perintah kepada seluruh tentaranya untuk melakukan evakuasi rakyat dan pertahanan. Setelah mendengar penjelasan itu, dirinya tampak tidak meremehkan meski makhluk itu hanyalah serangga.
"Evakuasi semua warga menuju ke benteng dalam istana sekarang!"
"Baik, yang mulia!"
Sedangkan Ratu tampak sangat khawatir, ditambah lagi belum ada kabar dari putra mahkotanya yang menghilang. "Di mana Areez? Di mana dia sekarang?!"
"Saya memohon maaf, saya belum mengetahuinya, yang mulia," jawab penjaga itu.
Di saat yang bersamaan, terdapat penjaga lain yang masuk dan membawa kabar, "putra mahkota terlihat di atas gerbang utama kerajaan, yang mulia!"
***
Areez tampak berdiri di atas gerbang dengan pedangnya di salah satu tangannya. Ia melihat sesuatu yang sangat tidak menyenangkan yang datang dari kejauhan. Sekelompok serangga terlihat berbondong-bondong datang ke arahnya, dan di belakang serangga itu terdapat awan gelap berwarna hitam. Di mata orang lain para serangga itu hanyalah serangga biasa, seperti serangga-serangga yang akan mencari tempat huni baru. Namun di mata Areez serangga-serangga itu bukanlah serangga biasa.
Dengan mata birunya, Arezz dapat melihat aura kejahatan dan kegelapan yang sangat dalam dari serangga-serangga yang akan datang. Ditambah lagi pedangnya terlihat menyala-nyala berwarna emas yang menandakan adanya energi sihir yang jahat dan sangat berbahaya.
"Yang mulia, mengapa anda di sini? Anda tak seharusnya di sini, yang mulia! Ini terlalu berbahaya!" teriak salah satu penjaga di sana.
"Kalianlah yang berada di posisi ini, sebaiknya kalian jangan menatap mata serangga-serangga itu." Arezz berbicara dengan sangat dingin dan melirik tajam kepada satu penjaga yang mencoba untuk memperingatkannya.
Jika sama dan sesuai dengan pengetahuan yang ia miliki selama di dalam kastil dan membaca semua buku di perpustakaan istana. Serangga-serangga itu adalah serangga panggilan, yang hanya datang atau muncul karena sihir pemanggil. Para serangga itu akan menyerang orang-orang yang tidak memiliki potensi sihir dalam dirinya, lalu melemahkannya dan menjadikannya sumber kekuatan.
Sihir tidak dimiliki oleh semua orang, dan potensi sihir adalah satu faktor penting bagi orang yang memiliki energi sihir. Energi sihir adalah unsur terpenting bagi seseorang yang bisa menggunakan sihir, dan sifatnya cukup rentan karena jika seseorang itu kehabisan energi sihir dalam pengendalian sihirnya, bisa saja nyawanya yang akan menjadi gantinya untuk bisa mengendalikan sihir yang digunakan. Dan tidak sembarang orang bisa memiliki energi sihir itu, kebanyakan dari mereka adalah yang terlahir di keluarga bangsawan, atau mereka orang-orang yang terpilih dewa untuk memiliki energi sihir itu.
"Kalian, bawa semua warga sipil menuju benteng dalam istana, dan sekarang pergilah ke sana untuk mempertahankan benteng!" Areez berteriak tegas kepada para penjaga yang ada di sana. Namun para penjaga itu tampak tak ingin pergi jika putra mahkota masih berada di area bahaya itu.
Areez menghela napas panjang dan memejamkan matanya mendapati para penjaga tidak ingin meninggalkannya. Ia menghunuskan pedangnya yang menyala berwarna emas itu ke arah para tentaranya dan berkata, "kalian tahu apa yang kalian lakukan itu termasuk membantah perintah, dan itu termasuk ke dalam pembangkangan, bukan?" Tatapannya tajam seolah dirinya akan membunuh semua penjaga yang ada di hadapannya. Pusaran angin terlihat berputar kuat menyelimuti pedangnya.
Semua penjaga yang melihatnya langsung ketakutan dan lalu mematuhi apa yang Areez minta. Mereka langsung pergi dengan berat hati meninggalkan Areez di sana. Sedangkan Arezz tampak bersiap dengan pedang miliknya menghadap ke ribuan serangga yang sudah cukup dekat ke arah gerbang kerajaannya.
Areez menghela napas, memejamkan matanya, dan mengangkat serta menegangkan pedangnya dengan kedua tangannya di hadapan mataya seraya berkata, "mohon bantuannya, Aira."
Tiba-tiba saja sesosok roh berwujud peri kecil tak bersayap muncul di sampingnya dan berkata, "aku akan selalu membantumu, Tuanku yang berharga."
"Sudah lama sekali aku tidak menggunakan kekuatan, apakah kau memanggilku untuk melakukannya?" tanya peri bernama Aira itu yang beterbangan di sekitar Areez dengan sangat ceria.
"Ya, aku memerlukan mu, kau bisa membuat penghalang angin, bukan?" sahut Areez.
Aira tertawa dan menjawab, "tentu saja! Akan ku lakukan sesuai keinginan mu."
Aira pun terbang dari ujung ke ujung dinding benteng paling luar dan lalu kembali lagi pada Areez. Lalu dalam sekejap, sebuah penghalang transparan pun muncul di hadapan Areez.
"Tetapi, Tuan. Aku melihat ada yang aneh dari ribuan serangga itu, jadi tolong berhati-hatilah!" Aira tampak mengkhawatirkan Areez ketika melihat gerombolan serangga itu. Sebagai roh, Aira dapat merasakan adanya sihir jahat yang mengendalikan ribuan serangga itu.
"Aku tidak ingin membiarkan mereka menyerang warga ku," gumam Areez.
"Tuan Areez, tetap ingatlah! Pemakaian energi sihir untuk roh amatlah besar, dan tidak bisa dipakai berkali-kali karena itu akan membuat anda kehabisan energi sihir anda. Jadi tolong tetap ketahui kapasitas anda!" Aira tampak mengingatkan hal tersebut kepada Areez dengan cemas dan khawatir. Tentu ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada tuannya.
"Tenanglah, aku tahu hal itu," sahut Areez.
"Aira, apakah kau mengetahui tentang serangga-serangga itu?" tanyanya kemudian.
"200 tahun yang lalu terjadi sebuah kejadian yang cukup mengerikan, dan orang-orang dahulu menyebutnya dengan sebutan 'Kiamat'. Seorang penyihir dengan sengaja membangkitkan pohon kuno, dan pohon itulah asal dari serangga-serangga itu."
"Jadi sejarah itu, benar?" tanya Areez.
"Iya, dan seharusnya ada satu induk di antara ribuan serangga itu, tetapi aku tidak bisa melihatnya meskipun aku sudah memakai penglihatan elemen," jawab Aira.
"Meski begitu, aku tidak akan membiarkan sejarah tentang wabah serangga itu terjadi di kerajaan ku!" Areez menggenggam erat pedangnya dan seolah siap membunuh semua serangga yang datang.
Ribuan serangga itu pun tiba di gerbang utama kerajaan. Areez memakai pengendalian sihirnya untuk menyerang semua serangga itu. Ambisinya sungguh membara untuk melindungi negerinya dari ribuan serangga yang menyerang. Serangga-serangga itu menghasilkan suara melengking yang sangat keras, beruntungnya Aira berbagi kekuatan roh dengan Areez dan membuat Areez kebal dari suara tersebut.
Penghalang angin yang dibuat oleh Aira pecah saking tidak kuatnya menahan ribuan serangga yang mendesak, ditambah lagi mereka bukanlah serangga biasa. Mengetahui hal tersebut Areez pun mundur ke benteng terdalam yang berada di istana. Di sana dirinya ternyata sudah mendapati banyak orang yang tergelatak dan kejang akibat serangga itu.
"Dari mana?" Areez terkejut ketika masuk ke dalam benteng.
"Mereka melalui saluran air bawa tanah kerajaan, yang mulia," jawab salah satu penjaga.
"Di mana yang mulia raja dan ratu? Apakah mereka aman?" tanya Areez.
"mereka sudah berada di tempat yang aman, yang mulia, tinggal anda saja," jawab penjaga itu kembali.
"Aku tidak perlu ke tempat mereka, aku akan menyelesaikan segala kekacauan yang ada di sini dengan cara ku sendiri. Jika kalian menghalangi, maka akan ku binasakan." Mata berwarna biru milik Areez menyala ketika melihat banyak sekali rakyatnya menderita di dalam benteng tersebut. Para orang tua, dan anak-anak banyak yang merintih kesakitan akibat suara yang dihasilkan oleh serangga-serangga itu. Hatinya merasa sangat sakit ketika melihat semua penderitaan itu.
"Apakah ... wabah di sejarah itu ... akan kembali terjadi?" Aira menatap para warga yang kejang dan pingsan dengan tatapan trauma.
"Mereka menerobos --- Arghh!!!" seorang penjaga yang ingin memberikan laporannya tiba-tiba saja menutup telinganya dan terlihat kesakitan. Begitu pula dengan warga sipil yang berlindung di dalam benteng itu.
Areez menatap bingung dengan situasi ini, karena dirinya bingung harus melakukan apa. Tidak biasa baginya untuk menghadapi situasi seperti ini, ini bukanlah situasi perang.
"Aira, apakah kau bisa membuatkan penghalang angin kepada mereka semua?!" tanya Areez.
"Bisa saja, Tuan. Tetapi itu akan memakan banyak energi untuk membagi penghalang kepada para warga yang jumlahnya tak hanya puluhan," jawab Aira.
"Lakukan saja! Aku akan menangani serangga-serangga br*ngs*k ini!" pinta Areez kemudian berlari ke arah pintu masuk benteng.
"Tunggu!" terdengar suara seorang gadis yang berlari menghampirinya. Gadis itu ternyata adalah Fina. Ia tampak baik-baik saja di antara semua warga. Namun meski begitu ia terlihat sangat kelelahan dan berkeringat.
"Bawalah ini! Mungkin saja racikan ini bisa membantu untuk menjaga energi sihirmu." Fina memberikan sebuah kantung berisikan racikan yang khusus ia buat untuk Areez. Areez dapat merasakan adanya energi sihir dari dalam kantung yang diberikan, dan dirinya terkejut melihat Fina baik-baik saja di antara para warga setelah mendengar lengkingan serangga itu.
"Apa kau bisa menggunakan sihir?" pertanyaan yang langsung spontan tercetus oleh Areez.
"Bi-bisa, yang mulia. Namun hanya sihir penyembuhan," jawab Fina sedikit tertunduk.
"Baiklah, aku mengandalkan mu di sini, dan Aira, kau bantu Fina di sini dan lindungilah benteng beserta orang-orang di dalamnya!" setelah berkata dan meminta hal seperti itu, Areez pergi begitu saja dengan pedangnya.
"Aku tidak akan membiarkan wabah melanda kerajaanku," batin Areez. Mata birunya tiba-tiba menyala terang, dan pedangnya menyala berwarna emas serta sedikit terlihat adanya efek kilat yang menyambar.
"Tuan, jangan sampai kehabisan energi sihirmu!" batin Aira tampak mengkhawatirkan tuannya. Begitu pula dengan Fina yang juga tampak khawatir. Matanya bisa melihat banyak sekali energi sihir yang digunakan Areez ketika membawa pedang itu sampai pedang itu bisa mengeluarkan kilatan yang menyambar.
Wabah serangga adalah salah satu wabah yang mengerikan, apalagi serangga yang mewabah adalah serangga panggilan yang muncul dari sihir pemanggilan. Areez sangat tidak ingin negerinya terkena musibah seperti itu. Sebagai putra mahkota negeri itu, dirinya akan berbuat apapun demi menghentikan serangan ribuan serangga yang kini menyerang. Meski dalam hatinya khawatir dan bertanya-tanya, "apakah ini akhir dari Kerajaan Favonius?" Tetapi dirinya tetap optimis dan maju untuk melindungi negerinya dari serangan para serangga itu.
Arezz mengayunkan pedangnya dan membuat sebuah ledakan beserta sambaran petir berwarna emas yang cukup hebat nan dahsyat. Mata birunya terlihat menyala dan membuat semua serangga yang ia tatap terbujur kaku sehingga tidak bisa mengeluarkan suara yang melengking lagi. Rambutnya yang berwarna perak harus ternodai oleh darah berwarna hijau ketika ia memenggal setiap serangga yang ia lihat.
-***-
Selesai.