Pada suatu sore, tampak seorang lelaki duduk diatas pasir putih dengan pandangan mendongak menatap senja yang begitu indah. Angin sore menyelinap masuk melalui serat kain dan menusuk kulit, tetapi tak mampu membuat dia bergeming.
Pria itu merogoh ponsel dari dalam saku celana, mencoba menghubungi seseorang.
Ia menempelkan ponselnya di telinga dan mulai berbicara.
Saat mendengar suara di seberang sana ia terdiam tidak berani berbicara, mengumpulkan keberanian untuk mulai menyusun kata.
"Irfan!" panggil seseorang di seberang sana.
"Kau kah itu?"
"I ... iya," ucapnya terbata.
"Halo, Marisa. kamu yang aku impikan akan menjadi masa depanku tapi kamu sudah menjauh. Bagaimana kabarmu?"
"Ah, kamu bisa saja. Aku baik Ir. Kamu sendiri gimana kabar?"
Irfan menghela nafas panjang.
"Sebenernya aku tidak baik-baik saja."
"Lho kenapa, kamu sakit?"
"Iya aku sakit dan hancur berkeping-keping setelah kamu tinggalkan."
"Maaf jika membuatmu terluka Ir." Suaranya terdengar lirih.
"Tak perlu minta maaf. Mungkin salahku tak membuatmu nyaman. Semoga kamu bahagia ya, bersama dia."
"Iya Ir. Semoga kamu dapat pengganti aku ya."
Irfan tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia mengakhiri panggilan dan memejamkan mata. Tak terasa air bening membasahi kelopak mata. Dia mencoba menutup matanya beberapa kali agar air kesedihan tidak menetes membasahi pipi.
Suara yang sama yang pernah hadir memberi cinta dan kebahagiaan dan kini suara itu begitu menyakitkan, membuka tabir kenangan yang indah dan berakhir memilukan.
Irfan memeluk lututnya dan membenamkan wajah di antaranya. Meratapi nasib dan kebodohan di masa lalu. Kemudian dia menatap langit yang sama, ketika di hari ini dia memadu kasih dengan Marisa.
"Terlambat aku sesali semua yang terjadi dan kini aku masih berharap engkau hadir menemani sisa hidupku. Meski itu tak mungkin," gumam Irfan dengan menatap langit yang mulai menggelap.
Senja sudah pergi dan begitulah engkau Marisa. Indah namun sesaat, engkau pergi tinggalah gelap.