Malam ini aku melangkah dengan hati dongkol bin kesal setengah mati.
ribuan umpatan sudah dalam hatiku. Lama-lama aku kena darah tinggi. Siapa lagi biangnya jika bukan Armand setiawan si bos durjana itu.
Sudah dua malam aku di suruh lembur olehnya.
Dan parahnya hari ini adalah hari yang paling sial dari hari kemarin.
Sumpah jika bukan bos dan tak takut gajiku plus bonus ku melayang. Sudah ku ketok kepalanya pake heels ku.
gimana gak sial. Seharian tadi
semua kerjaan dia dilimpahkan ke aku. boro-boro dikit. Lah seabreg gitu. sedangkan dia enak-enak telepon. pake pasang muka sok cemas gitu sehabis telpon.
Biar apa coba. Biar gue luluh gitu??
Mana pas mau pulang. Mata udah panas gegara mantengin layar lipat seharian. Malah di suruh lembur lagi.
'' dasar bos durjana.. bos lucnut bos sinting..."
sepanjang jalan hanya itu yang ku ucapkan demi menghilangkan dongkol di hati ini.
Untung jalanan malam ini sepi. coba kalo rame mungkin udah dikira orang gila kali.
aku tersenyum miris dengan asumsi ku sendiri.
" lama-lama gue gila punya bos kek pak Armand sinting itu."
BUGH..
BUGH..
BUGH...
" ARRRGGGHHH....."
ku hentikan langkahku. ku pertajam pendengaran ku. seperti suara orang gebukin sesuatu. Dan erangan itu seperti erangan kesakitan.
Aku membela lak kan mataku. Berarti ada yang berantem disisni.
Aku ikuti suara itu dan suara erangan itu makin lama makin jelas.
Dari balik rerimbunan semak aku bisa melihat dua orang berbadan kekar. Dari postur tubuhnya sudah jelas jika itu preman. Dan yang di hajar itu aku seperti mengenalnya. tapi siapa??
aku melebarkan mataku saat melihat salah satu preman itu. Memegang sebuah balok besar hendak di pukul kan ke arah kepala orang itu.
Secara spontan aku berteriak
" TOLONG... TOLONGG... ADA ORANG DI GEBUKIN... PAK TOLONG PAK..."
"HEI SIAPA ITU..." teriak salah satu preman itu.
tampaknya dia mencari asal suaraku. Aku semakn merapatkan tubuhku di balik semak tempatku bersembunyi.
Beruntung otak cerdas ku masih bisa bekerja di situasi genting ini.
Ku raih handphone ku. ku buka om Google dan ku cari suara sirine polisi.
Yapp ketemu.. segera ku bunyikan suara itu.
Dan benar saja kedua preman itu langsung lari mendengar suara yang ku putar dari hapeku.
Setelah memastikan kedua preman itu benar-benar jauh. Ku langkahkan perlahan kakiku mendekati orang yang tak sadarkan diri itu.
Ku balikkan badannya karna dia pingsan dalam posisi tengkurap. Setelah lamat-lamat ku amati wajahnya.
" bb...bboo..bosss..." sungguh sungguh aku tak bisamenyembunyikan keterkejutan ku. aku membekap mulutku. Melihat wajah rupawan itu. saat ini berubah menjadi tidak rupawan lagi.
karena lebam hampir di keseluruhan wajahnya.
" mungkinkah ini karma mu bos.. karena sudah mendzalimi saya bawahan mu.."
Dasar ini mulut ada orang tertimpa musibah di bilang karma.
Sesaat kemudian aku menggaruk pelipisku bingung. Gimana cara nolong ni orang. Mana sepi banget lagi.
Ini lagi punya badan segede gini. Apa kuat aku ngangkat ni orang.
Mau teriak sampek suara habis pun kagak bakalan ngaruh kan tadi aku udah teriak. Tapi buktinya gak ada orang yang datang kesini.
Akhirnya kuputuskan memapah tubuh bosku. Dan ku bawa ke tempat kosku.
nanti tinggal ijin ke ibu kos. masa gak di ijinin sih orang gak sadar gini.
Mau dibawa ke Klinik jauh dari sini. Bisa gempor nih badan bawa tubuh besar kek beruang ini.
secara badan gue kecil pendek gini. suruh bawa badan tinggi besar berat lagi.
kebanyakan dosa ni si bos sama gue.
Eh ini sebenarnya gue ikhlas gak sih nolong ni orang. Perasaan dari tadi ngedumel mulu.
Akhirnya aku sampai didepan gerbang kos ku. beruntung masih ada pak satpam yang berjaga.
" pak.. pak.. tolong pak..." kataku dan membuat pak satpam yang bernama tag ' Suparman ' itu mendekat dengan wajah terkejutnya.
" ya Allah mbak Reni ini siapa.. ?? mbak Reni habis gebukin orang ya.. ??"
pak satpam langsung mengambil alih memapah tubuh bos ku.
Aku mendengus kesal mendengar ucapan pak Parman itu.
" hellow.. pak Suparman yang gagal jadi Superman. emang muka saya ini tampang-tampang tukang pukul". sewot ku.
pak parman hanya meringis mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kecilku ini.
" lha trus ini kenapa??".
pak Parman meletakkan bosku di pos satpam dengan tubuh di sandarkan ke tembok.
" di gebukin preman tadi. aku mau lapor dulu ke ibu kos pak bentar lagi balik kesini.."
Aku langsung ngacir dan tak lama kemudian aku kembali bersama ibu kos beserta suaminya.
" ya ampun kasian banget.. mana ganteng lagi harus babak belur gitu". ibu kos tampak mengoleskan mintak angin ke hidung si bos. supaya dia cepat sadar.
" Renita ini kenapa kok malah kamu bawa kesini. nggak ke klinik atau rumah sakit gitu.."
" Ya ampun ibu.. ibu gak lihat dia badan sgitu dan badan saya segini. bisa gempor saya buk. mana jalan sepi gak ada kendaraan sama sekali"
" klinik juga jauh bukk..." lanjut ku setengah ngegas.
" terus ini mau gimana..??"
"ya bawa aja kekamar saya buk.. nanti kalo udah sadar saya bawa ke klinik".
' lagian dia juga bos saya bu.."
ibu kos tampak memicing ke arahku.
" jangan cari kesempatan ya kamu."
" elah buk... kesempatan apa'an. orang dia aja tepar gak sadar gitu.."
" terus kalo gak boleh emang ibu mau nganterin ke rumah sakit? ".
" ya nggak sih.... soalnya mobilnya di bawa si kakak keluar kota. mobilnya kan cuma atu".
"udahlah bu ijinin aja.. gak mungkin ngapa-ngapain juga mereka. lihat kondisi pria itu kasian bu.."
giliran pak kos yang bersuara setelah sekian lama menjadi pendengar setia perdebatan kami.
Dan akhirnya ibu kos setuju si bos di bawa masuk ke kamarku. dengan catatan pintu gak boleh terkunci dan gorden tak boleh di tutup.
Tubuh si bos di papah pak kos dan pak satpam. aku membyka pintu kamarku.
Di letakkan nya tubuh si bos di atas kasur ku yang hanya muat untuk satu orang.
" makasih ya bapak-bapak.."
" inget ya Reni dia ada di kamarmu berarti jadi tanggung jawab kamu. yang merawat dia juga kamu. dan Inget pesan ibu tadi."
" iya buk..."
-------------
Segar banget rasanya habis bersih-bersih setelah seharian bergelut dengan keringat di tubuhku.
aku memasuki kamarku dengan kaos putih polos pres bodi dengan celana jeans selutut.
" sejak kapan bos bangun ". kulihat si bos bersandar di dinding kamar dengan mata terpejam.
Sejak tadi saat kamu debat kamu debat sama ibu kos mu"
" lha trus kenapa bos kok diem aja kek orang pingsan ".
" kamu kira kepala saya gak pusing tubuh saya nggak lemes gitu.. "
ini si bos sakit aja mulutnya masih nyebelin aja.
malas meladeni si bos nyebelin itu. aku meraih air es yang ku persiapkan di wadah tadi. ku ambil handuk kecilku. dan mulai ke kompres lebam-lebam di wajahnya.
" ssshhh.. pelan-pelan Renita..." desisnya.
" ya sabar ngapa bos. gini aja udah kesakitan gitu.."
padahal sedari tadi aku udah hati-hati. tapi tetap aja mulut bawel nya itu selalu bilang kesakitan.
karena kesal ku tekan sekalian itu handuk di lebam samping bibir nya.
" Awwww RENITA.. " Teriaknya dengan mata melotot ke arah ku.
aku mah bodo amat.
" apa.. apa mau ngancem motong gaji saya.. mau buat saya lembur lagi.. basi boss..."
jujur aku benar-benar ksel sama si bos satu ini.
udah di tolong bukannya Terima kasih malah ngomel-ngomel persis emak-emak.