Orang yang ku selamatkan ternyata bosku, aku tau saat aku melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Awal aku tak mengira, lowongan pekerjaan untuk sekertaris yang membuatku sedikit tertarik.
"May, kamu mau gak liat mumpung ada tawaran. Nganggur juga kan?" tanya Diana padaku.
Jurusan menejemen tapi masih menganggur, membuat beban pikiran bagiku sendiri.
"Boleh, tapi sekertaris. Aku bahkan tak memiliki pengalaman apapun," jawabku masih ragu dengan keputusan itu.
"Ngapain ragu ish, coba aja dulu siapa tau masuk itu bonus," bujuk Diana untuk menyakinkan ku.
Dalam sebuah surat lamaran, aku tulis semua yang aku bisa. Nilai, bahkan pengalaman yang belum aku punya. Melihat beberapa orang sudah yakin jika mereka di terima, raut wajah dengan penampilan seperti mereka semua memiliki pengalaman yang sama.
Beberapa hari telah berlalu tapi tak ada Email masuk di akun ku. Sudah aku pasrah tentang ini, bahkan jika di tolak ini bukan yang pertama kali. "Ya, sedih tapi.... "
Aku pulang melenggang kan kaki, dengan sedikit lambat juga menatap sekitar. melihat orang-orang yang berjejer rapi di gedung tinggi, dengan make-up tebal juga rambut yang di urai panjang. 'Kapan aku bisa ke sana?' tanyaku pada diri sendiri.
"Ack-! Si-Sial!!" teriakkan seseorang membuatku langsung memalingkan wajah.
Bagaimana tidak, aku melihat seorang laki-laki dengan luka yang sudah melebar. Sebagian baju nya juga sudah bewarna merah, menandakan jika itu luka yang besar.
"Tuan! Apa Anda tidak apa-apa?" tanyaku langsung masuk ke gang sempit itu.
Dia hanya menatapku, gak menjawab apapun. Sesekali meringis kesakitan menahan luka.
"Kemarilah, Apartemenku dekat dari sini aku akan mengobati mu di sana-!" kataku berusaha untuk memapahnya.
"PERGILAH!"
BRAK!
Suara benturan antara kepalaku dan tembok gang. Aku mengusap kepalaku perlahan, saat hal ni masih sangat cepat terjadi. Melihat ke arah laki-laki itu, awalnya aku hanya ingin membantu, malah di tolak mentah-mentah dan di dorong ke dinding.
"Aku tak berniat untuk melukaimu, aku hanya ingin membantumu. Saat kamu juga tak mau di bantu, itu bukan masalah bagiku," kataku langsung pergi meninggalkan nya.
perjalanan pulang, aku selalu terpikir kejadian barusan. Jika orang itu meninggal, maka aku sudah membiarkan satu nyawa begitu saja. Sebrang jalan ada sebuah apotek yang masih buka, terlihat beberapa orang di sana dan aku mulai masuk untuk melihatnya.
Membeli perban juga beberapa obat luka, tak lupa aku pergi ke toko untuk membeli kue juga minuman. "Dia siapa, kenapa aku sangat peduli?!" gerutu ku pada diri sendiri.
Bergegas aku berlari melihat setiap gang yang aku. lewati. Hingga aku melihat, sebuah surat pos tua dimana ada laki-laki yang bersender lemah di sana.
"Kamu tak apa? Aku membawa perban dan beberapa makanan," tanyaku dengan menundukkan badan.
Tak ada jawaban dari laki-laki itu, hanya tutupan mata dan nafas yang mulai pelan. "Hai! Jangan mati di sini! Kamu tau aku su-"
"Kenapa kamu masih di sini?" ucapanku terhenti, b saat laki-laki itu tiba-tiba membuka mata dengan menahan tanganku yang akan mengusap rambutnya.
"Aku membawakan makanan, juga beberapa obat," jawabku dengan kantong plastik yang aku bawa. "Makanlah, ini,"
"Darimana aku tau jika kamu tak menaruh racun di dalamnya?"
"Kenapa kamu tak percaya?" helaan napas mulai aku lakukan.
Dengan cepat aku membuka bungkusnya, memakan sebagian dan memberikan pada laki-laki yang ada di depanku ini. "Jika ada racun, aku jamin aku akan meninggal juga," jawabku dengan tatapan keyakinan.
Meski ragu dia menerimanya, lantas aku langsung membuka kantong plastik berisi perban yang tadi aku beli. "Kenapa kamu melakukan ini? Kita bahkan tak saling mengenal."
"Karena orang tuaku juga meninggal karena di tikam seseorang," jawabku dengan wajah serius membersihkan lukanya.
"Kamu tak terlihat seperti orang yang masih perjaka, jadi sepertinya sudah menikah. Jangan meninggal untuk sekarang, atau anakmu akan mendapatkan hidup yang keras nantinya," jelasku mulai membalut lukanya. "Butuh seseorang untuk dihubungi?" lanjut dengan memberikan milik ponselku.
Beberapa saat orang datang menjemput laki-laki bernama Dave itu. Sepertinya dia adalah orang kaya, pasti pesaing bisnis yang melakukan hal itu. Helaan napas kembali aku lakukan, saat melihat blouse milik ku sudah terkena noda darah.
Setelah kejadian itu, Dave tak pernah menghubungiku. Aku tak terkejut dengan hal itu, melihat status sosial kami yang berbeda jauh.
Tak aku sangka, e-mail masuk dari perusahaan tempat aku melamar pekerjaan.
Keesokan harinya aku pergi ke kantor, dengan membawa berkas yang di perlukan. Beberapa orang menatapku dengan tatapan tak suka, beberapa lainya berbisik dengan salah satu rekannya.
Namun, hal aneh mulai terjadi. Saat gadis kecil berlari, lalu mulai memelukku di bagian kaki. "Mama!"