Aku duduk termenung di sebuah cafe, masih terngiang ditelingaku kata-kata perpisahan yang dilontarkan oleh Awan kekasihku yang sekarang sudah menjadi mantan kekasih.
Tak lama akupun tersadar dari lamunanku saat mendengar suara gaduh disamping tempat dudukku, aku melihat seorang pria yang sedang menunduk mengumpulkan berkas yang berserakan dilantai sambil mengumpat.
Aku menghela nafasku pelan kemudian ikut menuduk sambil mengambil berkas yang ada di dekat kakiku, aku terkejut melihat logo perusahaan tempatku bekerja diberkas tersebut. Akupun berdiri dan menyerahkan berkas itu kepada pria depanku.
“Terimakasih nona” sahut pria itu tersenyum sambil mengambil berkas yang ku berikan.
“Sama-sama tuan. Apakah tuan bekerja di MH Company ?” Aku memberanikan diri untuk bertanya
Kening pria itu berkerut saat mendengar pertanyaanku
“Maaf tadi saya tidak sengaja melihat logo perusahaan itu diberkas anda,tuan” lanjutku lagi karena takut pria itu salah paham.
“Oh .. iya saya bekerja di MH Company. Apakah nona juga bekerja di sana?”
“Iya, saya bekerja di bagian keuangan”
Aku menjawab sambil tersenyum, pria itu membalas senyumanku dan mengulurkan tangannya “Nama saya Erlangga, nama nona siapa”
“Bunga. Tidak usah memanggilku dengan kata ‘nona’ cukup Bunga saja” jawabku sambil menerima uluran tangannya
“Baiklah Bunga kalau begitu panggil saya Erlangga tidak usah pakai ‘tuan’” ucapnya lagi
Drrrtt… drrrtt….
“Maaf saya angkat telepon dulu”
“Oh iya silahkan, saya juga sudah mau pulang, saya permisi” ucapku sambil kembali ke tempat dudukku dan bersiap untuk pulang.
Saat aku beranjak untuk pulang, pria itu menatapku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Akupun membalas lambaian tangannya sambil berjalan keluar dari tempat itu.
.
.
“Ka Bunga!! ayo sudah telat ini!” adikku Arga terus mengetuk pintu kamarku sambil berteriak.
“Tak bisakah kau mengetuknya hanya sekali Arga? Dan jangan berteriak padaku! Kepalaku sedang sakit!” Jawabku ketus sambil membuka pintu kamarku.
Gara-gara menangis semalaman mataku sampai bengkak dan kepalaku pun pusing karena kurang tidur hingga membuat emosiku memuncak saat mendengar suara teriakkan sang adik di pagi hari.
“Lihat jam ka! Aku sudah hampir telat untuk kuliah pagi!” Ucap Arga kesal sambil berjalan terburu-buru dan naik ke motornya yang sudah siap dihalaman.
“Lagian untuk apa kakak menangisi pria brengsek itu, dia tidak pantas untuk kau tangisi” ucap Arga
Setelah pulang dari cafe malam itu, Arga sangat khawatir karena aku tidak keluar untuk makan malam. Arga masuk kekamarku dan melihatku menangis, Arga memelukku sambil bertanya apa yang terjadi padaku. Aku menceritakan semua yang terjadi dan membuat Arga sangat emosi lantaran pria yang dia anggap baik itu ternyata sudah selingkuh dibelakang kakakknya bahkan pria itu akan menikahi selingkuhannya.
Aku sangat bersyukur memiliki adik seperti Arga yang sangat peduli padaku apalagi di saatku terpuruk seperti ini adikku itu selalu memberiku semangat.
“Aku berpacaran dengannya tidak sebentar Arga, wajar jika aku menangis karena banyak kenangan indah yang kami lalui selama 3 tahun ini” Jawabku sambil naik ke motor.
Sesampainya dikantor aku langsung naik ke lantai 3 tempat ruanganku berada. Aku berjalan memasuki ruanganku dan melihat Bella melambai ke arahku, akupun berjalan mendekati Bella.
Bella melihatku dan keningnya berkerut saat melihat mataku yang bengkak.
“Matamu bengkak disengat tawon atau kerena menangis?” Bella sangat terkejut melihat mataku yang bengkak.
“Aku putus dengan pacarku dan dia akan menikah dengan wanita lain” jawabku datar sambil duduk di kursi kerja yang berada di samping Bella.
“Apa!! Oh Bunga malang sekali nasibmu sayang.Lupakan saja pria itu. Ingat ungkapan Mati Satu Tumbuh Seribu” ucap Bella menatapku sendu sambil mengusap punggungku. Aku tersenyum dengan perlakuan Bella setidaknya di saatku bersedih ada orang-orang yang memberiku semangat.
“Iya kau benar, bahkan aku baru tahu ada pria yang sangat tampan bekerja di perusahaan ini” Aku memutar kursiku ke arah tempat Bella duduk.
“Benarkah? Kau tahu dari mana? Dia bekerja di divisi apa ?” Tanya Bella menggebu sambil menatapku dengan mata yang berbinar.
“Entahlah aku hanya tahu namanya Erlangga. Kami tidak sengaja bertemu dicafe kemarin dan aku membantunya membereskan berkas yang terjatuh dan tidak sengaja -…” belum selesai aku bicara Bella sudah tergelak mendengar ceritaku.
“Apakah saat mengambil berkas, tangan kalian bersentuhan dan saling padang seperti di adegan film romantis?” Bella terus tertawa sambil membayangkan adengan yang dia sebutkan.
“Bella kau terlalu banyak menonton film. Sudah ayo mulai kerja jangan sampai kita ditegur bos karena terlalu banyak menggosip” Aku menepuk pundak Bella dan berbalik ke mejaku dan mulai bekerja.
Tak terasa waktu sudah siang. Aku dan Bella pergi ke kantin untuk makan siang, saat keluar dari lift aku tanpa sengaja melihat pria yang ku kenal di cafe kemarin. Aku berjalan mendekat dan menepuk pundak pria itu “Erlangga..” sahutku dengan suara yang kencang.
Pria itu menoleh dan tersenyum saat melihat siapa yang menepuk pundaknya. Semua mata terarah padaku saat aku menepuk pundak Erlangga bahkan pria disampingnya terlihat sangat terkejut dengan perbuatanku.
Bella yang berada disampingku terlihat diam membeku dan akupun bisa melihat beberapa orang disekitarku menatapku dengan tatapan terkejut sebagian lagi terlihat ketakukan.
“Ada apa Bella? Ini pria yang aku ceritakan tadi pagi” kataku pada Bella yang masih terdiam. Aku berpikir Bella terdiam karena terpesona dengan ketampanan Erlangga tapi nyatakan aku salah.
“Ma- maafkan te-teman saya pak, dia baru bekerja dua bulan jadi masih belum mengenal siapa bapak” Bella tergagap dan menunduk meminta maaf berkali -kali.
Aku sangat bingung melihat Bella dan kemudian aku menatap Erlangga seolah minta penjelasan padanya. Erlangga tersenyum padaku dan menarik tanganku.
“Ayo kita makan siang bersama Bunga” Erlangga menarik tanganku tapi aku tidak bergeming karena pria itu tidak menjawab kebingunganku.
Erlangga berhenti karena merasa aku tak ikut bergerak mengikutinya. Dia mengusap wajahnya kasar dan menatap pada pria di sebelahnya sambil menyisyaratkan untuk memberitahukan jati dirinya.
“Nona Bunga, perkenalkan pria ini adalah Tuan Satya Erlangga Mahesa” ucap pria itu sambil menatapku yang terlihat terkejut saat mendengar nama lengkap dari pria yang ku panggil Erlangga tersebut.
“Ka-kau tuan Satya Mahesa? Oh maaf tuan eh pak eh .. “ aku sangat gugup saat tahu siapa pria yang ku panggil Erlangga itu. Tenyata oh tenyata pria yang kutolong kemarin di cafe itu adalah bos ditempatku bekerja.
“Bunga kau lupa apa yang ku katakan kemarin? Panggil aku dengan nama saja” ucap Erlangga tegas
“Hah. Tapi ini di kantor pak. Tidak mungkin saya memanggil anda dengan nama saja” aku menjawab Erlangga dengan cepat.
“Tapi sekarang jam istirahat. Jadi panggil namaku saja atau aku akan marah padamu Bunga” Erlangga menatapku tajam dan membuat nyaliku sedikit menciut.
“Baiklah, ELang. Lebih mudah bagiku menyebutnya seperti Itu daripada Erlangga.” jawabku karena takut pria itu marah jika aku mengganti namanya.
Erlangga tersenyum, sambil menggandeng tanganku, dia berkata “Baiklah aku anggap itu panggilan sayangmu untukku dan hanya kau yang boleh memanggilku Elang”
Mataku membulat saat Erlangga mengatakan hal itu dan dengan santainya pria itu menggandeng tanganku ke arah kantin dan meninggalkan Bella dan asistennya yang masih melongo mendengar ucapan bosnya tersebut.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa merutuki kebodohanku yang bisa-bisanya tidak mengenali wajah pemilik perusahaan tempatku bekerja dan bedoa semoga saja aku tidak dibully oleh fans garis keras bos tampanku ini dikantor.