Jika cinderella di ceritakan bahwasa nya dia adalah gadis yang beruntung menerima cinta pangeran karena tragedi sepatu kaca, maka lain nya dengan kisah Vanessa, cerita mereka yang hampir mirip tapi sangat di tegaskan oleh wanita itu bahwasan nya.
"Aku bukan cinderella yang membuat boss kejam itu satu malam jatuh cinta dan mencari keberadaan ku, tapi kenapa dia malah terus mengikat ku dengan hubungan aneh ini! Padahal aku bukan gadis seberuntung cinderella apa ini hanya halusinasi ku saja?"
Vanessa adalah gadis yatim piatu. Dia tidak mempunyai ayah dan ibu. Kini, dia tinggal bersama ibu tiri dan kedua saudara tirinya.
Vanessa selalu disuruh bekerja siang dan malam. Sementara itu, saudara tirinya hanya akan bermalas-malasan. Meskipun demikian, Vanessa tidak pernah mengeluh.
Suatu hari, di sebuah hotel akan mengadakan pesta dansa. Semua orang di undang ke pesta itu, bagi mereka yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan William company.
Saudara tiri Vanessa langsung bersiap untuk datang ke pesta. Sebenarnya Vanessa juga ingin datang, tapi ibu tirinya melarang dan malah menyuruh melakukan pekerjaan rumah.
"Vanes, jangan berpikir untuk pergi ke acara ulang tahun perusahaan itu,"ujar salah satu kakak Vanessa.
"Ya kakak pertama benar, kau kan cuman karyawan magang Vanes, sebenarnya aku sedikit heran kenapa kau di terima di william company padahal kau lulusan SMA saja,"ujar wanita itu.
"Aku sampai mengira dia menyogok manajer dengan tubuh nya haha,"tawa kakak pertama Vanessa.
Gadis berusia 20 tahun itu hanya menduduk sambil memegang pel dan pakaian yang kumuh, apa salah nya dia yang karyawan magang datang, dia juga ingin merasakan makanan perusahaan yang enak itu.
"Baiklah kak, jangan lupa bawakan aku makanan enak yah,"senyum tulus Vanessa.
"Dalam mimpi haha,"tawa mereka serentak pergi dari sana meninggalkan Vanessa yang memasang wajah sendu.
Vanessa sangat sedih. Ketika sedang melamun di depan jendela, sebuah panggilan masuk dari notif ponsel nya yang butut belum pernah dia ganti, Vanessa mengangkat telpon itu perlahan sambil melihat kanan dan kiri lalu memastikan ibu tiri nya sudah tertidur.
"Halo Gebi, ada apa?"tanya Vanessa dengan suara lembut nya.
“Vanessa jangan bilang kau tidak ikut, ini acara perdana perusahaan mu kan, ayo ikut!” ucap Gebi dengan tegas.
“Tapi aku takut mama akan memarahi pagi nya Geb, lagi pula kakak juga pergi ke sana, bagaimana jika ketemu, dan aku tidak memiliki dress,” ucap Vanessa sedih.
“Tidak usah khawatir, aku akan menyiapkan segala perlengkapanmu, aku di depan rumah mu, mobil ku yang biasa, soal mama mu kau bisa pulang sebelum kakak mu bukan?”tawar Gebi kepada sahabat nya itu.
Vanessa pun memikirkan tawaran Gebi, lalu dia memutuskan untuk ikut dengan sahabat nya itu, Gebi mendadani Vanessa semaksimal mungkin dan membuat nya cantik jelita.
"Lihat lah teman ku sangat cantik, bagaimana presdir bisa tertarik juga kayak nya haha,"tawa Gebi melihat maha karya.
"Aku belum pernah melihat nya tapi yasudah jangan terlalu bermimpi, akhirnya aku bebas hehe,"senyum Vanessa senang.
Mobil Gebi meleset menuju hotel tempat acara di mulai, gadis itu sangat menikmati acara nya sampai dia lupa harus pulang sebelum kakak tiri nya, gadis itu tanpa pamit langsung pergi keluar hotel, dress selutut nya membuat diri nya sangat dingin di tengah malam itu.
"Jika aku meminta Gebi untuk mengantar pulang aku akan mengacaukan acara nya, aku pulang cari ojek aja dah,"gumam Vanessa menyusuri lorong yang sepi.
Gadis itu terus berjalan mencari ojek celingak celinguk kanan dan kiri hingga akhirnya Vanessa mendengar suara ringisan seseorang di gang sepi, suara rintihan itu sangat keras, membuat Vanesaa yang memang memiliki sifat baik itu langsung mencari sumber suara.
"Anda siapa? Dan anda kenapa tuan,"kaget Vanessa melihat darah yang keluar dari perut pria yang memakai jas itu.
Sangat tampan, pria itu sangat tampan, tapi Vanessa tidak mempedulikan itu, dia lebih memperhatikan raut wajah pria yang kesakitan itu.
"Nona tolong telpon seseorang untuk ku nama nya Kevin, ponsel ku ada di saku celana, suruh dia melacak lokasi ku dan bilang aku tertembak, tolong,"ujar pria itu meringis kesakitan.
"Ba baik, aku akan melakukan nya,"dengan gugup Vanessa mencari ponsel di saku celana pria itu.
Dia langsung menelpon seseorang yang di tuju pria itu, seseorang yang menerima telpon itu berterima kasih kepada Vanessa dan dia meminta Vanessa untuk menjaga tuan nya lebih lama lagi.
"Sst si@l aku kecolongan, black devil bangs@t,"umpatan demi umpatan di keluarkan pria bertato itu.
Sedangkan Vanessa hanya melonga tidak percaya, bisa-bisa nya dia masih mengumpat padahal diri nya sudah sangat parah.
'Wah gila ini cowo, stress kali,' batin Vanessa.
Vanessa merobek ujung dress nya tanpa aba-aba karena terus melihat pria itu mengeluarkan darah, pria itu hanya menatap datar atas tindakan Vanessa tanpa izin Vanessa membuka baju pria itu dan mengikat nya agar tidak terus mengeluarkam darah.
"Lain kali kau harus hati-hati tuan, sayang banget pria tampan mati nya cepat bukan,"gurau gadis itu di saat seperti ini.
Pria itu sama sekali tidak tertawa dan hanya memasang raut wajah datar membuat Vanessa hanya tersenyum canggung hingga akhirnya beberapa puluh orang memakai jas hitam datang mengerubuni mereka.
"Tuan Aiden apa anda baik-baik saja!"teriak pria yang dapat diketahui adalah Kevin yang dia telpon tadi.
"Aku baik-baik saja,"ujar pria itu menjawab datar bawahan nya.
"Nona terim---,"belum sempat Kevin mengucapkan terimakasih seorang gadis yang duduk di samping Aiden tadi sudah menghilang.
'Kemana dia pergi? Aku belum sempat menanyakan nama gadis itu, baru pertama kali aku bertemu dengan gadis yang malah memarahi ku bukan memasang wajah takut,' batin Aiden tersenyum kecil.
Vanessa yang melihat kakak tiri nya lewat pulang menggunakan mobil kaget dan berusaha lari, tapi karena saking kaget dan buru-buru nya dia memilih berlari dan melepaskan high heals nya, tanpa dia sadari satu sepatu nya terjatuh tepat di samping Aiden tadi.
"Tuhan tolong lah aku, semoga mama dan kakak tidak mengetahui ini,"
Pagi hari nya
Seorang gadis cantik memakai pakaian sederhana tampak bekerja keras sebagai karyawan magang itu, sesekali Vanessa tampak di marahi oleh kakak nya sendiri yang menjabat sebagai manajer divisi lain tapi malah menyuruh gadis itu untuk mengerjai bagian nya.
"Lain kali kerja yang becus,"ketus wanita itu melempar semua map di depan wajah Vanessa.
"Maafkan saya buk, saya akan mengulang laporan nya,"ujar Vanessa menduduk dan pergi.
Wanita itu tampak puas atas kesengsaraan adik tiri nya sendiri, tanpa dia sadari perlakuan nya di perhatikan oleh seorang pria yang duduk dengan nama tag besar di atas meja nya Aiden Stevando William, seorang bos di perusahaan william dan ketua mafia yang melibatkan nya dengan banyak aksi berbahaya.
"Berani sekali dia menganggu gadis kecil ku,"gumam Aiden menatap layar cctv itu.
"Nama nya nona Vanessa Albora anak yatim piatu, dan wanita yang tadi membentak nya salah satu manajer divisi pemasaran atau kakak tiri nya,"jelas seorang pria bernama Kevin.
"Kevin bukan kah gadis kecil ku itu sangat polos dan terus menunduk meminta maaf kepada anj1ng betina itu?"tanya Aiden.
"Anda benar, hati nona sangat lembut,"balas Kevin menyetujui perkataan pria itu.
Langkah kaki Aiden menuju sebuah divisi yang berada di lantai lima perusahaan nya, semua tatapan jatuh kepada diri nya, untuk apa seorang ceo langsung mengunjugi mereka kesini, apalagi itu ceo penerus ceo sebelum nya.
"Kyaa itu tuan Aiden,"
"Dia sangat tampan,"
Bisikan demi bisikan terdengar di ruangan itu, begitu pun dengan seorang wanita yang sedang membentak gadis kecil yang terus menunduk menerima cercaan nya, Aiden tampak melihat ke arah itu dan tersenyum smirk.
"Ketemu,"gumam Aiden sambil menenteng paper bag nya.
Pria itu berjalan mendekati Vanessa yang terus menunduk, Aiden menarik dagu Vanessa yang terus menunduk dan memaksa nya menatap diri nya yang tersenyum kecil.
"Pak ceo,"teriak kakak tiri Vanessa kaget.
"Ma maaf pak dia sedang aku marahi karena tidak be--,"
"Kevin pecat dia,"satu kata itu terlontar.
Membuat semua orang kaget di sana, siapa yang di maksud Aiden yang di pecat apakah itu manajer mereka atau anak magang yang rajin itu.
"Nona silahkan keluar anda bukan lagi karyawan,"ucap Kevin berusaha memberikan jalan.
"Tapi kenapa aku, yang tidak becus itu dia!"teriak wanita itu tidak terima.
"Yang tidak becus itu diri mu, yang mengatai karyawan yang bekerja rajin dengan mulut kotor mu,"
"Dan kau sayang berapa umur?"tanya Aiden menatap Vanessa yang gugup.
"Aku 20 tahun tuan, apa anda yang semalam?"tanya Vanessa dengan wajah tidak percaya.
"Hmm begitulah, kau meninggalkan sepatu mu kemarin, aku sudah membawa nya, lalu,"
Pria itu mendekat kepada Vanessa, tanpa malu gosip akan menyebar di berita karena tingkah nya, pria itu mengusap pipi Vanessa pelan wajah tampan nya tersenyum manis untuk gadis itu, dengan tatapan lembut, pria itu mencium bibir Vanessa dengan lembut.
"Manis,"gumam pria itu mengusap bibir Vanesa.
Bruk..
"Apa yang anda lakukan,"teriak Vanessa kaget.
"Mencium calon istri ku, jadi apa kau mau menikah dengan ku, karena kau harus membayar nya nona,"
'Si@l kesialan apa ini? Aku bukan cinderella yang meninggalkan sepatu nya untuk hidup bahagia dan menikah, aku masih waras tidak menerima lamaran mendadak ini, tapi seperti nya itu mustahil' batin Vanesaa.
"Karena sangat mustahil, ayah mu aku mengenal nya, dia memiliki hutang dengan keluarga ku, karena aku Aiden Stevando William, tidak akan menarik kata kata ku,"