Februari, 2018
Awal musim hujan di kota Kebumen...
"Seeeesh!"
"Gludug, gludug, gludug!"
"Tes, tes, tes!"
Gerimis bermusik dentuman petir menghempas di kaca jendela.
***
Di balik keburaman kaca akibat percikan air hujan...
Terlihat seorang pria berumur 24 tahun lebih 1 bulan sedang duduk termenung di atas sebuah kursi beroda dua.
Berambut coklat menutupi alis dan berkulit putih begitulah sosok pria tersebut. Jika dari buramnya kaca, ia terlihat lumayan tampan meskipun faktanya ia tidak merasa demikian.
Ia sedang menikmati gerimis yang baru bisa dilihatnya setelah setahun bangkit dari tempat tidurnya.
"Wahyu," Namanya tiba-tiba diucapkan oleh seorang gadis di belakangnya.
Tak menjawab panggilan dari gadis itu, Wahyu hanya melirikan matanya ke belakang. Namun berhenti begitu gadis itu mendekat di matanya.
"Wahyu, aku bawa sesuatu!"
"Iya."
Meskipun gadis itu tersenyum saat berbicara dengannya, Wahyu terlihat begitu acuh.
Wahyu kembali melihat ke jendela yang masih buram. Sedangkan gadis di sebelahnya masih berusaha mempertahankan senyumnya seraya kembali berdiri.
"Gesk, gesk, gesk!" Wahyu mencoba mendekati jendela menggunakan kaki kirinya.
"Kebiasaan, ada aku juga kamu berusaha memajukan kursi roda sendiri," ucap gadis itu seraya membantu Wahyu.
"Nita," Wahyu menyebut nama gadis itu.
"Iya, ada apa?" tanya Nita.
"Aku ...." Wahyu belum selesai bicara.
"Syuut, tes!" Embun di jendela mengalir dan jatuh di atas rumput.
Hujan pun kini menengok mereka berdua yang sedang memperhatikannya. Namun hujan hanya berbicara dalam bunyi tetesan airnya.
Wahyu yang sedang duduk di kursi roda terlihat mengenakan baju putih berlengan panjang. Sedang Nita, ia mengenakan pakaian muslim dengan hijabnya yang berwarna merah muda.
"Seeessh!" Hujan semakin deras.
"Apa kamu masih ingat?" tanya Wahyu seraya menunjukkan hujan dengan gerakan kepalanya yang sedikit diangkat.
"Hujan, ya," ujar Nita.
***
Keduanya mengingat kenangan di masa lalu...
"Claaak, claaak, claaak!"
"Sayang, menepi sebentar!"
"Oke."
"Breeem!"
Wahyu mempercepat laju motornya yang berwarna merah. Ia kemudian berbelok dan menepi di salah satu bangunan ruko yang ada di pinggir jalan. Mereka sedang pulang menuju rumah.
Sore itu...
Wahyu dan Nita terpaksa harus meneduh di teras ruko yang ada di pinggir jalan. Keduanya adalah sepasang kekasih.
"Claap, claap, claaap!" Kilat menyambar.
"Duuum, duuum, duuum!" Dentuman petir muncul di langit yang jauh.
"Kreep!" Nita memeluk Wahyu karena ketakutan.
"Sudah, Sayang. Petir sudah pergi. Ia tidak mau mengusik kita." Wahyu melepaskan tangan Nita yang sedang menutupi telinga.
"Tes, tes, tes!" Air hujan menerpa kanopi di atas mereka.
"Wuuus!" Tiba-tiba angin dingin berhembus mengenai keduanya.
***
Kedinginan...
Itulah yang sedang dirasakan oleh Nita saat Wahyu melihatnya.
Melepas jaketnya sendiri, Wahyu kemudian memakaikannya pada Nita. "Masih dingin?" tanya Wahyu seraya melipat tangannya sendiri di dada. Ia kedinginan.
"Yang dingin itu kamu, Sayang." Jawab Nita seraya memeluk Wahyu.
"Emmuach!" Wahyu mencium kening Nita.
"Seeesh!" Hujan semakin deras.
Sama derasnya dengan hujan di masa lalu mereka, di depan jendela pun begitu.
***
Nita tersenyum...
"Apa kamu kedinginan, Wahyu?"
"Tidak, tubuhku memang lebih dingin dari hujan."
Wahyu berpura-pura kuat, padahal Nita melihatnya jelas di kedua lengan kaosnya yang hampa itu bergetar.
Untuk sejenak, tak ada suara dari Nita. Ia sedang menyiapkan sesuatu.
"Syuuut!" Nita memakaikan sebuah jaket pada Wahyu.
"Apa yang kamu lakukan, Nita?" Wahyu sedikit kesal.
"Aku tahu, aku tahu kamu sedang kedinginan. Jadi, terimalah jaket ini sebagai pengganti pelukanku," ucap Nita seraya meneteskan air matanya.
"Lain kali jangan repot-repot begini. Kamu datang saja aku sudah cukup senang, Nita," ucap Wahyu seraya menerima Nita memakaikan jaketnya.
"Begini 'kan lebih terlihat baik, coba aku lihat dari depan!" Nita melangkah ke depan Wahyu.
***
Wahyu keheranan saat Nita tersenyum padanya lagi...
"Masih sama seperti dulu, jaket ini bahkan lebih cocok untukmu. Mantan pacarku memang tampan," ujar Nita seraya semakin tersenyum pada Mantan pacarnya.
Wahyu hanya melihatnya dengan mata yang berkaca. "Sejujurnya, aku tak ingin begini. Aku ingin bersamamu setelah Al-Qur'an yang aku berikan dapat merubahmu sebaik ini," ucap Wahyu dalam hati.
Sementara Nita masih tersenyum, Wahyu melanjutkan kata hatinya.
"Kini kamu begitu sempurna setelah hijrah ke jalan Illahi. Tentu saja, jika sanggup berdiri aku akan mengecup keningmu seperti dahulu. Aku sangat menyayangimu. Namun, semua isi hatiku tak bisa aku katakan dengan suara yang lainnya. Hanya suara hati yang bisa ku ucapkan untukmu,"
Wahyu benar-benar menatap haru wajah Mantan pacarnya yang seringkali berkunjung untuk menengok perkembangannya selama ini setelah mengalami kecelakaan hebat.
Nita membuka mata, ia pun berkaca-kaca. "Wahyu, kenapa sedih? Jangan menangis!" bujuk Nita.
"Apapun alasanku menangis, aku takkan mengatakannya. Aku hanya ingin tersenyum begini," Wahyu tersenyum. "Cepat atau lambat, meskipun amat sangat aku sayangi, aku akan tetap kehilanganmu," lanjut Wahyu dalam hati. Kemudian ia menutup mata untuk menahan tangisannya.
***
Hujan mulai mereda...
"Nita, hujan akan reda. Berkemaslah untuk segera pulang," ucap Wahyu.
"Iya, gampang." Jawab Nita. Ia masih memperhatikan pacarnya yang sudah tak bertangan lagi. Matanya berkaca-kaca.
Sesekali Wahyu melihatnya dengan kata hatinya. "Jangan menangis, untukku. Aku bisa menahan semua perasaanku. Senangku, sedihku, cintaku, sayangku, piluku. Akan aku satukan dalam senyuman untukmu ini," Wahyu kembali memberi senyumnya pada Nita.
***
Begitulah...
Setiap Nita mengunjunginya, Wahyu selalu banyak berucap di hatinya. Ia menyadari kondisi fisiknya kini tak lagi mampu untuk mengejar cintanya yang ada dalam diri mantan pacarnya. Apa lagi untuk mimpinya yang ingin hidup bersandingan dengan Nita, ia sungguh tak sanggup.
Yang ia bisa hanyalah berdo'a agar mantan pacarnya hidup bahagia tanpa harus ada dalam mimpinya.
"Semoga hidupmu diridhoi Allah S.W.T."
Begitulah yang Wahyu katakan dalam hatinya untuk terakhir kali setelah Nita berpamitan pulang dan meninggalkan Jaket hitam kebiru-biruan untuk Wahyu, mantan pacarnya yang masih duduk dan melihat lambaian tangan dari balik jendela....
*Tamat tanpa ending yang jelas*