Pagi itu aku bangun kesiangan. otomatis aku terburu-buru berangkat ke kantor. Dengan memakan roti. Ku ayunkan kaki ku secepat mungkin. Berharap aku tak terlambat mengingat lima belas menit lagi aku harus menemani Pak Armand bosku meeting dengan klien.
Mengingat bos ku orang disiplin dan sangat perfeksionis dalam pekerjaan. Rasanya aku ingin memperlambat waktu saja.
Aku berusaha keras agar tak terlambat. Jika sampai itu terjadi siap-siap saja kena semburan maut pria bertubuh kekar, berwajah rupawan na dingin itu.
Aku menarik nafas panjang ketika telah sampai di depan gedung perkantoran tinggi nan megah. Aku melirik arloji tersisa waktu lima menit saja.
Beruntung tempat kos ku dengan kantor hanya berjarak beberapa ratus meter saja.
Jadi ngga ada tuh drama harus nunggu kendaraan yang tak kunjung datang.
Tapi tetap saja perjuangan ku pagi ini belum selesai.
Aku masih harus menuju lantai teratas karena klien akan meeting di ruangan bos ku.
Oh My God... saat aku tiba di loby semua mata tertuju padaku.
Bagaimana tidak penampilan ku jauh kata 'rapi'.
masuk dengan rambut lepek berantakan. Bahkan ada yang menempel di leherku. Sepatu ku jinjing. jangan lupakan peluhku yang sebesar biji jagung.
Tak kepedulikan tatapan aneh mereka. aku segera menuju lift.
dan sialnya lagi di depan aku mendapati tulisan
'maaf lift sedang dalam perbaikan'.
' oh God... apalagi ini.. sungguh hari tersialku' batinku kesal.
entah tanpa sadar ekor mataku melirik lift disamping nya. lift khusus eksekutif.
aku melirik ke kiri ke kanan. sepi yess..
segera ku tekan dan tak menunggu lama pintu lift terbuka. segera saja aku masuk.
namun saat sampai di pintu lift kerah belakang bajuku seperti ada yang menarik.
Ku tolehkan perlahan kepalaku. dan...
damn it.. aku ketahuan bos...
" b..bossss..." ku suguhkan cengiran ku.
dan dia hanya melotot ke arah ku..
" masuk.." katanya dengan dingin.
tak lama kemudian tubuhku di dorong olehnya.
al hasil di sinilah aku berada. di dalam lift yang sama de gan bos ku.
aku menghela nafas kasar. Sungguh ini sungguh tak nyaman satu ruangan bersana pria ini.
Siap-siap Renita kau akan kena sembur.
" pakai sepatumu. Rapikan penampilan mu.."
Eh.. langsung saja mataku beralih ke tanganku. ternyata oh ternyata.. bos melihat aku nyeker dengan menenteng sepatuku. malu sungguh malu sumpah.. rasanya aku ingin sembunyi saja. seandai ya ada lobang disini..
Tanpa banyak kata aku langsung memakai sepatuku. meraih cermin di tas ku dan mulai memperbaiki riasanku.
untung saja aku memakai make up water proof. jadi cukup menyeka keringatku dengan tisu tanpa harus menghilangkan riasanku.
aku meneliti sekali lagi di depan cermin kecilku.
" perfect.." aku memajukan bibirku layaknya akan mencium orang.
" kau Sudah terlambat. datang dengan penampilan amburadul. masih sempet-sempetnya narsis depan cermin".
Sungguh kata-kata mu seperti mercon yang siap meledak. Andai ada korek disini sudah ku ledakkan tu mulut.
" elah bos.. gini-gini juga kan gegara bos saya datang terlambat. kqn bos nyuruh saya biar maraton laporan itu. mana mendadak lagi. coba kalo bos nyuruhnya jauh-jauh hari ya nggak bakalantelat saya.. "
Sungguh jika ada sekretaris yang gak sopan terhadap atasannya. Ya aku ini.
tapi mau bagaimana lagi. namanya juga lagi kesel. ya keluar deh mulut nyablak ini.
Ku lihat bos melotot ke arahku.
" disini bosnya saya apa kamu.. "
" ya situlah.. kalo saya jadi bos nggak mungkin saya datang ke kantor dalam kondisi nyeker kek tadi".
" kamu.. "
TING..
'emang enak belum sempat ngomong baru melotot doang udah kepotong sama lift.' batinku terkikik.
" malam ini kamu lembur titik."
kata-kata itu lamgsung membuat aku melongo.
" tap.. tapikan.." mulutku udah mangap-mangap kayak ikan yang kelamaan keluar dari air.
" biasanya juga potong gaji. ini kenapa berubah jadi lembur bos".
perkataanku sukses menghentikan langkah nya. Dan berbalik ke arahku.
" karna itu tidak membuatmu jera. sudah jangan banyak tanya persiapkan yang buat meeting sebentar lagi klien sampai". setelah itu dia langsung menghilang di balik pintu.
" dasar boss durjana". umpatku kesal.
" SAYA DENGAR RENITA. SEKALI LAGI KAMU MENGUMPAT SAYA. SAYA SURUH LEMBUR PLUS POTONG GAJI".
" mateng aku.." aku langsung menutup rapat mulut ku. dan segera ku lakukan perintah si bos yang berkuasa.
------------
Akhirnya meeting yang melelahkan sekaligus menyebalkan usai juga.
kenapa menyebalkan karna sedari tadi aku menahan lapar.
Dan tahukah anda. Sudah tau masuk waktu makan siang. si bosss dan kliennya itu tetap saja melanjutkan meeting.
emang itu perut kagak pada lapar apa.
dengan alasan nanggung katanya.
hadehhh.. nyari duit sih nyari duit bos tapi gak gitu juga kali. urusan perut nomor satu.
Setelah klien undur diri. aku juga ikut undur dir. Tanpa pamit dengan si bos aku langsung keluardari ruangan nya.
" bagus kamu ya nggak ada Sopan-sopannya sama atasan keluar tanpa pamit ".
aku meghentikan tangan ku yang hendak menarik gagang pintu.
Nasib-nasib punya bos ribet amat kayak perawan mau ketemen si do'i.
Aku berbalik dan memaksakan senyumku.
" saya pamit bos.. mau MAKAN SIANG ".
ku perhalus sekaligus ku tekan kata-kata ku.
Bodo amat dia marah kek sebel kek. mau meledak sekalipun aku gak peduli.
Yang penting ini perut terisi.
Tanpa banyak kata lagi aku langsung keluar dan segera menuju kantin kantor buat makan siang yang terlambat ini.
Aku makan dengan tenang di kantin yangsepi ini.
entah kenapa alam tak memberiku ketenangan lebih lama lagi.
Dihadapan ku sudah ada sosok menyebalkan itu.
Siapa lagi jika bukan bos yang berkuasa.
Aku memutar mataku malas dan melanjutkan makanku. Anggap saja dia jin yang lagi numpang makan.
" kamu sendiri Renita".
pertanyaan macam apa itu.
hellow bos ap anda lihat orang lain selain saya disinii.
" ya anda melihat ada orang lain tidak ".
si boss menggaruk kepala belakang nya. entah itu gatal apa ngga. aku hanya mengangkat bahuku.
" boleh saya temani kamu makan".
entah kenapa aku merasa dia seperti salting gitu. bener nggak sih..
jangan kepedean renita.
" silahkan ".
Dan terciptalah makan siang dengan penuh keheningan di antara kami.
-----------
Jam pulang kantor pun tiba. Aku melirik arloji ku.
membereskan pekerjaan ku dan memberikannya pada si boss.
ku ketuk pintu sebelum memasuki ruangan. Dan masuk setelah di persilahkan. ku letakkan laporan di hadapannya.
" pekerjaan saya sudah selesai bos. jadi nggak perlu lembur. saya akan pulang..."
kulihat dia masih fokus pada laptopnya. entah dengar atau tidak yang penting aku sudah laporan.
" permisi.."
ku balikkan badan menuju pintu. dan saat akan membukanya...
" siapa yang menyuruhmu pulang. Saya bilang kamu harus lembur ya lembur. tidak bisa di tawar lagi. Kamu tenang saja juga lembur jadi kamu gak sendiri di kantor".
aku menekan mulutku kesal. jika tidak ingat gaji ya g ku peroleh disini lumayan besar. udah minggat dari dulu aku.
" ini kamu kerjakan ini.."
aku menganga melihat tumpukan map di hadapanku.
kalo bukan atasan sudah ku ajak gelut ni orang.
Aku meraih kasar map-map itu dan kembali kemejaku dengan menghentakkan kaki.
komputer yang sudah kematian kunyalakan kembali.
Tak lupa aku menghubungi OB untuk meminta kopi dan camilan ringan untuk menemani kerja rodi ku.
"awas aja nanti gak dapat bonus.." dumelku kesal.
---------
Malan ini aku melangkah dengan hati dongkol bin kesal setengah mati.
ribuan umpatan ada dalam hatiku. Lama-lama aku kena darah tinggi. Siapa lagi biangnya jika bukan Armand setiawan si bos durjana itu.
Sudah dua malam aku di suruh lembur olehnya.
Dan parahnya hari ini adalah hari yang paling sial dari hari kemarin.
Sumpah jika bukan bos dan tak takut gajiku plus bonus ku melayang. Sudah ku ketok kepalanya pake heels ku.
gimana gak sial. Seharian tadi
semua kerjaan dia dilimpahkan ke aku. boro-boro dikit. Lah seabreg gitu. sedangkan dia enak-enak telepon. pake pasang muka sok cemas gitu sehabis telpon.
Biar apa coba. Biar gue luluh gitu??
Mana pas mau pulang. Mata udah panas gegara mantengin layar lipat seharian. Malah di suruh lembur lagi.
'' dasar bos durjana.. bos lucnut bos sinting..."
sepanjang jalan hanya itu yang ku ucapkan demi menghilangkan dongkol di hati ini.
Untung jalanan malam ini sepi. coba kalo rame mungkin udah dikira orang gila kali.
aku tersenyum miris dengan asumsi ku sendiri.
" lama-lama gue gila punya bos kek pak Armand sinting itu."
BUGH..
BUGH..
BUGH...
" ARRRGGGHHH....."
ku hentikan langkahku. ku pertajam pendengaran ku. seperti suara orang gebukin sesuatu. Dan erangan itu seperti erangan kesakitan.
Aku membelalak kan mataku. Berarti ada yang berantem disini
Aku ikuti suara itu dan erangan itu makin lama makin jelas.
Dari balik rerimbunan semak aku bisa melihat dua orang berbadan kekar. Dari postur tubuhnya sudah jelas jika itu preman. Dan yang di hajar itu aku seperti mengenalnya. tapi siapa??
aku melebarkan mataku saat melihat salah satu preman itu. Memegang sebuah balok besar hendak di pukul kan ke arah kepala orang itu.
Secara spontan aku berteriak
" TOLONG... TOLONGG... ADA ORANG DI GEBUKIN... PAK TOLONG PAK..."
"HEI SIAPA ITU..." teriak salah satu preman itu.
tampaknya dia mencari asal suaraku. Aku semakn merapatkan tubuhku di balik semak tempatku bersembunyi.
Beruntung otak cerdas ku masih bisa bekerja di situasi genting ini.
Ku raih handphone ku. ku buka om Google dan ku cari suara sirine polisi. Yapp ketemu.. segera ku bunyikan suara itu.
Dan benar saja kedua preman itu langsung lari mendengar suara yang ku putar dari handphone ku.
Setelah memastikan kedua preman itu benar-benar jauh. Ku langkahkan perlahan kakiku mendekati orang yang tak sadarkan diri itu.
Ku balikkan badannya karna dia pingsan dalam posisi tengkurap. Setelah lamat-lamat ku amati wajahnya.
" bb...bboo..bosss..." sungguh sungguh aku tak bisamenyembunyikan keterkejutan ku. aku membekap mulutku. Melihat wajah rupawan itu. saat ini berubah menjadi tidak rupawan lagi.
karena lebam hampir di keseluruhan wajahnya.
" mungkinkah ini karma mu bos.. karena sudah mendzalimi saya bawahan mu.."
Dasar ini mulut ada orang tertimpa musibah di bilang karma.
Sesaat kemudian aku menggaruk pelipisku bingung. Gimana cara nolong ni orang. Mana sepi banget lagi.
Ini lagi punya badan segede gini. Apa kuat aku ngangkat ni orang.Mau teriak sampek suara habis pun kagak bakalan ngaruh kan tadi aku udah teriak. Tapi buktinya gak ada orang yang datang.
Akhirnya kuputuskan memapah tubuh bosku. Dan ku bawa ke tempat kosku.
nanti tinggal ijin ke ibu kos. masa gak di ijinin sih orang gak sadar gini.
Mau dibawa ke Klinik jauh dari sini. Bisa gempor nih badan bawa tubuh besar kek beruang ini.
secara badan gue kecil pendek gini. suruh bawa badan tinggi besar berat lagi.
kebanyakan dosa ni si bos sama gue.
Eh ini sebenarnya gue ikhlas gak sih nolong ni orang. Perasaan dari tadi ngedumel mulu.
Akhirnya aku sampai didepan gerbang kos ku. beruntung masih ada pak satpam yang berjaga.
" pak.. pak.. tolong pak..." kataku dan membuat pak satpam yang bernama tag ' Suparman ' itu mendekat dengan wajah terkejutnya.
" ya Allah mbak Reni ini siapa.. ?? mbak Reni habis gebukin orang ya.. ??"
pak satpam langsung mengambil alih memapah tubuh bos ku.
Aku mendengus kesal mendengar ucapan pak Parman itu.
" hellow.. pak Suparman yang gagal jadi Superman. emang muka saya ini tampang-tampang tukang pukul". sewot ku.
pak parman hanya meringis mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kecilku ini.
" lha trus ini kenapa??".
pak Parman meletakkan bosku di pos satpam dengan tubuh di sandarkan ke tembok.
" di gebukin preman tadi. aku mau lapor dulu ke ibu kos pak bentar lagi balik kesini.."
Aku langsung ngacir dan tak lama kemudian aku kembali bersama ibu kos beserta suaminya.
" ya ampun kasian banget.. mana ganteng lagi harus babak belur gitu". ibu kos mengoleskan minyak angin ke hidung si bos. supaya dia cepat sadar.
" Renita ini kenapa kok malah kamu bawa kesini. nggak ke klinik atau rumah sakit gitu.."
" Ya ampun ibu.. ibu gak lihat badan dia sgitu dan badan saya segini. bisa gempor saya buk. mana jalan sepi gak ada kendaraan sama sekali"
" klinik juga jauh bukk..." lanjut ku setengah ngegas.
" terus ini mau gimana..??"
"ya bawa aja kekamar saya buk.. nanti kalo udah sadar saya bawa ke klinik".
' lagian dia juga bos saya bu.."
ibu kos tampak memicing ke arahku.
" jangan cari kesempatan ya kamu."
" elah buk... kesempatan apa'an. orang dia aja tepar gak sadar gitu.."
" terus kalo gak boleh emang ibu mau nganterin ke rumah sakit? ".
" ya nggak sih.... soalnya mobilnya di bawa si kakak keluar kota. mobilnya kan cuma atu".
"udahlah bu ijinin aja.. gak mungkin ngapa-ngapain juga mereka. lihat kondisi pria itu kasian bu.."
giliran pak kos yang bersuara setelah sekian lama menjadi pendengar setia perdebatan kami.
Dan akhirnya ibu kos setuju si bos di bawa masuk ke kamarku. dengan catatan pintu gak boleh terkunci dan gorden tak boleh di tutup.
Tubuh si bos di papah pak kos dan pak satpam. aku membuka pintu kamarku.
Di letakkan nya tubuh si bos di atas kasur ku yang hanya muat untuk satu orang.
" makasih ya bapak-bapak.."
" inget ya Reni dia ada di kamarmu berarti jadi tanggung jawab kamu. yang merawat dia juga kamu. dan Inget pesan ibu tadi."
" iya buk..."
-------------
Segar banget rasanya habis bersih-bersih setelah seharian bergelut dengan keringat di tubuhku.
aku memasuki kamarku dengan kaos putih polos pres bodi dengan celana jeans selutut.
" sejak kapan bos bangun ". kulihat si bos bersandar di dinding kamar dengan mata terpejam.
Sejak tadi saat kamu debat kamu sama ibu kos mu"
" lha trus kenapa bos kok diem aja kek orang pingsan ".
" kamu kira kepala saya gak pusing tubuh saya nggak lemes gitu.. "
si bos sakit aja mulutnya masih nyebelin aja.
malas meladeni si bos nyebelin itu. aku meraih air es yang ku persiapkan di wadah tadi. ku ambil handuk kecilku. dan mulai ke kompres lebam-lebam di wajahnya.
" ssshhh.. pelan-pelan Renita..." desisnya.
" ya sabar ngapa bos. gini aja udah kesakitan"
padahal sedari tadi aku udah hati-hati. tapi tetap aja mulut bawel nya itu selalu bilang kesakitan.
karena kesal ku tekan sekalian itu handuk di lebam samping bibir nya.
" Awwww RENITA.. " Teriaknya dengan mata melotot ke arah ku.
aku mah bodo amat.
" apa.. apa mau ngancem motong gaji saya.. mau buat saya lembur lagi.. basi boss..."
jujur aku benar-benar ksel sama si bos satu ini.
udah di tolong bukannya Terima kasih malah ngomel-ngomel persis emak-emak.