Ting Tong Ting Tong
Aku memencet bell sebuah rumah, setelah beberapa menit seorang membuka gerbang rumah tersebut.
"Permisi.. Pesanan ayam untuk Mba Yuni, apa benar ini alamatnya?" Tanyaku, orang itu mengangguk kemudian memberikanku beberapa lembar uang.
"Terima kasih, selamat menikmati" Aku tersenyum kemudian segera mengendarai motorku pergi dari situ.
Namaku Meira Anindita, gadis berusia 25 tahun yang sedang mencari pekerjaan, aku melamar pekerjaan di posisi desain arsitektur. Aku mengirim lamaran di berbagai perusahaan tapi sampai sekarang tak ada satupun pemberitahuan dari perusahaan yang mengatakan bahwa aku lulus. Begitu sulit..
Sambil menunggu panggilan wawancara, aku bekerja sebagai pengantar makanan di sebuah warung ayam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku.
Sejak kecil aku dibesarkan oleh Nenek karena orang tuaku pergi meninggalkanku dan tak ingin mengurusku, hanya Nenek yang setia berada di sampingku. Tapi beberapa bulan lalu Nenek meninggalkanku sebelum aku sempat membahagiakannya, sekarang aku harus bisa menghidupi diriku sendiri dan harus belajar mandiri.
Sekarang sudah jam 10 malam, semua pesanan sudah kukirim ke alamat masing-masing.
Aku bersiap untuk kembali ke warung dan pulang.
Saat melewati sebuah jalan yang sepi, aku melihat ke sebuah jurang yang berada di sisi kanan. Aku sangat terkejut ketika melihat sebuah mobil jatuh ke sisi jurang itu dan mobil itu menabrak pohon besar.
Aku melirik ke arah kanan maupun kiri, tak ada motor maupun mobil yang lewat, hanya aku dan mobil yang jatuh ke jurang itu.
Karena merasa tak tega, aku berjalan pelan turun menuju jurang untuk memeriksa keadaan pengemudi.
"Permisi! pak! anda bisa mendengar saya? Pak buka pintunya!!" Aku berteriak di samping pintu pengemudi, bisa terlihat kepala pria pengemudi itu sepertinya terbentur keras karena mengeluarkan banyak darah. Aku mencoba beberapa kali membuka pintu sambil memanggil pengemudi siapa tahu ia tersadar.
Aku mengambil ponsel kemudian menelpon 119 untuk meminta bantuan dari rumah sakit.
"Hallo pak, ada kecelakaan tunggal di sini, sebuah mobil jatuh ke jurang, bisa kirimkan ambulans segera? Sepertinya kepala pengemudi itu terbentur karena sekarang ia mengeluarkan banyak darah"
Setelah meminta bantuan, aku mencari batu besar lalu berusaha memecahkan kaca mobil.
Setelah kaca pecah, aku membuka pintu mobil kemudian melepaskan sabuk pengaman pria itu dan membawanya keluar mobil.
"Pak..Pak? anda bisa mendengar saya?"
Aku mencoba menyadarkan pria itu tapi ia masih terbaring lemah, sekarang aku hanya berharap ambulans segera datang.
Beberapa menit kemudian sebuah ambulans datang dan membawa pria itu ke rumah sakit, aku mengikuti di belakang ambulans dengan motorku.
Sesampai di rumah sakit, pria itu langsung dibawa ke UGD kemudian diberi pertolongan dan diobati.
"Permisi, apa anda wali korban?" Tanya seorang suster padaku,
"Aku yang membantunya Suster..." Jawabku
"Kalau begitu bisa coba hubungi walinya untuk mengisi administrasi?" Tanya suster itu lagi, aku bingung harus menjawab apa, karena aku sama sekali tak mengenal pria itu dan pria itu juga belum siuman sampai sekarang.
"Kalau saya yang membayar biayanya gimana suster? Bisa?" Tanyaku, suster itu tersenyum dan mengangguk mengiyakan, ia membawaku menuju ruang administrasi dan mengisi dokumen serta membayar biayanya.
Setelah selesai aku berjalan menuju pria itu dan duduk di sampingnya, aku memperhatikan setiap inci wajahnya, ia masih terlihat muda mungkin seumuranku, dan pakaiannya seperti pakaian kantoran sepertinya ia seorang pegawai.
"Apa ia memiliki masalah di kantornya sampai mabuk seperti ini? Hmm irinya punya pekerjaan, aku juga ingin stres karena bekerja lembur bukan stres karena mencari pekerjaan."
Aku bisa mencium keras bau alkohol dari tubuhnya, sepertinya ia minum sebelum berkendara sehingga terjadi kecelakaan tunggal seperti ini.
Aku tertidur di samping pria itu menunggu ia siuman, dengan samar bisa kurasakan seseorang mengelus rambutku, dengan perlahan aku membuka kedua mataku dan melihat pria itu terbangun dan sedang menatapku.
"Ahh.. apa anda sudah bangun? Bagaimana perasaan anda?" Aku langsung berdiri ketika melihatnya siuman. Ia tak menjawab pertanyaanku dan hanya menatapku bingung.
"Anda tak amnesia kan?" Tanyaku khawatir karena pria itu hanya terdiam sambil melihat sekeliling.
"Aku di mana?" Tanyanya masih melihat sekeliling
"Anda di UGD, anda mengalami kecelakaan tunggal, mobil anda jatuh ke jurang" Jelasku, ia hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti dengan situasinya.
"Maaf jika saya lancang, jika boleh saya katakan, lain kali kalau anda sedang mabuk berat, lebih baik mencari supir untuk mengantar anda pulang, karena sangat bahaya untuk keselamatan anda jika menyetir dalam keadaan mabuk" Ucapku sopan menasehati sambil tersenyum ramah ke arahnya, ia hanya menatapku kemudian mengalihkan pandangan.
"Terima kasih karena menolongku" Ucapnya berterima kasih, aku hanya tersenyum.
"Namaku Meira, Meira Anindita, kalau boleh tahu nama anda siapa? Siapa tahu saya bisa menghubungi keluarga anda untuk menjemput anda ke sini" Tanyaku,
Ia menggeleng,
"Tak perlu, kamu bisa pergi sekarang. Saya bisa pulang sendiri, sekali lagi terima kasih." Ucapnya kemudian bangkit dari tidurnya.
"Anda belum boleh bangkit.. tolong istirahat sebentar saja, bagaimana kalau anda pulang besok saja? Sekarang sudah larut malam" Bujukku, ia terdiam menatapku lagi, kenapa dari tadi ia tak pernah menjawab perkataanku dan hanya menatapku?
"Lalu bagaimana denganmu? Ini sudah malam, lebih baik pulang besok saja" Ucapnya, aku menggeleng menolak, bagaimana bisa aku diam di sini setelah mendapat ratusan panggilan dari warung karena belum mengembalikan motor.
"Aku harus pulang karena ada urusan, jadi mohon istirahat di sini sebentar, anda bisa pulang besok. Dan soal biaya rumah sakit tak perlu dipikirkan, aku sudah membayarnya"
"Dan sepertinya pekerjaan anda terlihat cukup berat, semoga anda bisa mengatasi pekerjaan anda dan perasaan anda bisa kembali seperti semula" Aku tersenyum kemudian berjalan pergi meninggalkannya.
**
Beberapa hari setelah malam itu, aku berjalan bersiap mengantar pesanan ayam lagi setelah pulang dari mengantar berkas untuk melamar pekerjaan, kali ini pesanan cukup banyak, sepertinya aku harus pulang larut malam lagi, lelahnya..
Yah walau begitu, lebih baik seperti ini daripada hanya menganggur.
Aku pergi ke rumah satu menuju rumah yang lain, tiba-tiba ponselku berdering tanda pesan masuk, aku menepi dan mencoba membuka pesan, siapa tahu itu pemberitahuan panggilan wawancara di perusahaan besar, siapa tahu kan?
Aku membuka pesan dan seketika aku kaget, benar-benar kaget! Bagaimana tidak, aku benar-benar mendapatkan pesan panggilan wawancara setelah sekian lama! Dan lagi panggilan yang ku dapat adalah dari perusahaan besar! Sangat besar!!
Seketika raut wajahku yang tadinya lesu beralih menjadi wajah sumringah, aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku, aku senyum-senyum sendiri di perjalanan, mungkin orang yang melihatku akan menganggapku gila!
Setelah mendapat pesan itu, aku buru-buru mengantar pesanan dan pulang mempersiapkan baju apa yang harus kupakai, bagaimanapun aku harus tampil sempurna agar dipertimbangkan untuk diterima karena ini wawancaraku setelah sekian lama.
Keesokan harinya aku berjalan dengan sopan masuk menuju perusahaan itu, gedungnya benar-benar luas, perusahaan ini mengeluarkan banyak desain yang sangat populer dan sangat sempurna, perusahaan ini benar-benar impian tempatku bekerja, entah nasib baik apa yang menimpaku sehingga wawancara di perusahaan ini, intinya aku benar-benar bersyukur.
Aku mencoba melihat-lihat ruangan mana yang harus aku tuju karena luasnya gedung dan banyaknya ruangan. Seketika pandanganku tertuju ke seorang pria yang tak asing bagiku, pria itu tengah membeli coffe.
Aku berjalan mendekati pria itu kemudian merangkulnya, tentu saja aku harus akrab, bagaimanapun ia berhutang budi padaku karena membayar biaya rumah sakit yang cukup mahal.
Orang-orang yang berjalan memasuki perusahaan menatapku dengan tatapan aneh, tapi aku tak memperdulikannya.
"Ternyata kamu bekerja di sini? Syukurlah ada orang yang ku kenal" Ucapku tersenyum menatapnya, pria itu melirik ke arahku.
"Apa kau ingin coffe?" Tanyanya, aku tersenyum,
"Iya, coffe yang manis" Pintaku, ia hanya mengangguk dan memesankanku coffe.
Aku duduk di sofa ruang tunggu karena memang waktu wawancara masih lama, aku yang tak sabar sehingga datang kepagian.
Pria itu berjalan mendekatiku dan memberikanku coffe pesananku.
"Terima kasih" Ucapku tersenyum, ia duduk di depanku.
"Apa kau bekerja di sini?" Tanyanya,
"Akan bekerja di sini, hehehe hari ini aku mendapat panggilan wawancara, do'akan semoga aku diterima di sini ya, sehingga kita bisa bekerja bersama" Ucapku, ia tersenyum mendengar ucapanku. Kemudian aku teringat bahwa aku belum mengetahui namanya.
"Siapa namamu? Kemarin kamu tak memberitahuku" Ucapku, ia melirik ke arahku
"Nanti kamu juga tahu, bukannya kamu akan bekerja bersamaku di sini?" Ucapnya sambil tersenyum, benar juga aku akan bekerja di sini dan aku harus mengenal semua karyawan di sini.
Pria itu menemaniku menunggu waktu wawancara, kami mengobrol banyak hal dari apa yang kulakukan akhir-akhir ini dan bagaimana keadaannya setelah kecelakaan.
Setelah waktu berlalu, aku berjalan menuju ruang wawancara, aku berdiri gemetar di depan ruangan yang akan kumasuki, ini gemetar ketakutan bukan tanpa alasan.
Sebelumnya seorang karyawan memberitahuku bahwa ruang wawancaraku berubah, ia mengatakan bahwa aku akan di wawancara oleh CEO perusahaan ini langsung, bagaimana bisa aku tak gemetar?! Bagaimana jika aku mengatakan sesuatu yang salah? Bukannya nanti aku tak bisa keluar dari sini hidup-hidup?!
Aku mengetuk pintu sampai suara seorang pria di dalam ruangan menyuruhku masuk, aku membuka pintu perlahan dan melihat seorang pria duduk di kursinya sambil membelakangiku.
"S-selamat siang.. saya karyawan yang akan wawancara hari ini.." Ucapku sopan,
"Kamu diterima di perusahaanku" Ucapnya, aku kaget mendengar ucapannya, langsung diterima? tanpa wawancara? yang membuatku sedikit kaget adalah suaranya tak asing bagiku.
Pria itu berbalik dan sekarang menatapku, aku melotot tak percaya, pria yang kutolong malam itu, pria yang kubayar tagihan rumah sakitnya dan pria yang kurangkul akrab tadi pagi sekarang berdiri di depanku, bukan sebagai pria yang kubantu, tapi sebagai CEO perusahaan tempatku melamar hari ini!.
"Perkenalkan, namaku Ethan Davies, CEO dari perusahaan DV" Ucapnya memperkenalkan diri.
Mati aku! tadi aku merangkulnya dengan tak sopan, aku pasti langsung dipecat! Pantas saja orang-orang menatapku dengan tatapan aneh!
"P-pak.. s-soal di depan perusahaan tadi.." Aku berbicara gagap, tentu saja! aku merasa malu sekarang, aku begitu membanggakan membayarkannya biaya rumah sakit bahkan menganggapnya berhutang budi, padahal baginya uang biaya segitu sedikit tak bernilai sama sekali!
"Kamu tak perlu takut, Meira" Ia berjalan mendekatiku,
"Aku justru merasa bersyukur, jika bukan karenamu, aku mungkin tak berdiri di sini karena mati kehabisan darah, terima kasih karena menemukanku malam itu" Ia berterima kasih kembali, aku tersenyum kegirangan, memang rasanya beda mendapatkan kata terima kasih dari orang yang kita bantu dengan orang besar sepertinya berbeda.
"Kamu bisa mulai bekerja hari ini, selamat bekerja" Ucapnya tersenyum, aku membalas senyumannya.
Seorang karyawan berjalan masuk memanggilku, ia berniat mengantarku menuju ruang kerjaku.
Aku pamit pada pak Ethan kemudian berjalan meninggalkan ruangan dan mengikuti karyawan itu.
Aku melongo dari perjalanan menuju ruang kerjaku, perusahaan ini begitu luas dan desainnya benar-benar indah dan mewah, pantas saja jadi perusahaan desain arsitektur pertama.
Saat sampai di ruang kerja, banyak karyawan menungguku dan menyambutku ramah, mereka memperkenalkan diri mereka satu-persatu dan mempersilahkanku jika ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan.
Awalnya memang mereka mengatakan itu, tapi nyatanya sekarang aku diberikan perintah untuk memfotocopy berkas yang seharusnya mereka lakukan sendiri, ada yang memintaku membuatkannya coffe, ada yang memberikanku tugas membuat desain cafe bahkan mereka menyuruhku untuk membelikan mereka makan malam di luar perusahaan. Apa mereka pikir aku pembantu? Ahh sungguh melelahkan tapi aku tahu ini derita karyawan baru.
"Bisakah kalian mengerjakan pekerjaan kalian sendiri? Mengapa menyuruh karyawan baru yang belum tahu apa-apa" Ucap salah seorang karyawan, Neil. Ia adalah karyawan tertampan di sini, bahkan aku baru masuk saja tatapanku tertuju padanya, tapi ini hanya rasa kagum bukan suka ya!.
"Biar aku yang melanjutkannya, kamu bisa istirahat makan malam dulu" Ucap Neil menghampiriku.
"Terima kasih" Aku tersenyum manis menatapnya, Neil pun membalas senyumanku.
Aku melirik ke lantai atas, ternyata pak Ethan sedang menatapku, ia memberikanku isyarat untuk naik, aku berjalan naik menuju kantornya.
Saat sampai sana ia sudah menyiapkan banyak makanan di mejanya, aku menatapnya bingung.
"Makanlah bersamaku, aku memesan banyak makanan, aku tak bisa menghabiskannya sendiri" Ucapnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, apa ia salah tingkah? aku tertawa kecil menatapnya kemudian duduk bersamanya.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini? apa ada masalah?" Tanyanya, aku hanya menggeleng sambil menyuapi makananku dengan rakus, aku sangat lapar hari ini karena sejak pagi aku belum sarapan dan hanya makan roti mengganjal perutku.
"Syukurlah, kupikir karena hari pertama kamu mendapatkan masalah" Ia tersenyum kemudian melanjutkan makannya.
"Apa aku tak masalah makan di kantormu seperti ini? Kupikir karyawan lain akan menganggap kita ada hubungan spesial" Ucapku hati-hati, ia menatapku kemudian melanjutkan makannya.
"Kalau benar ada hubungan spesial bagaimana?" Sahutnya, aku terkejut mendengar ucapannya.
Ia menatapku,
"Kenapa? apa kamu memiliki hubungan dengan orang lain?" Tanyanya lagi,
Aku menggeleng,
"Tidak, kenapa? apa Pak Ethan menyukaiku saat pertemuan pertama kita?" Tanyaku dengan nada candaan, aku bertanya berniat bercanda saja.
"Bagaimana jika iya? apa kamu juga tak merasakan perasaan itu saat melihatku tertidur dengan wajah tampan di rumah sakit?" Ia tersenyum jahil, aku melihat ekspresinya dan tertawa kecil, tentu saja aku menyukainya!
Dengan wajah setampan itu, bahkan tertidurpun ia masih terlihat tampan, itu pertama kalinya aku melihat seseorang dengan ketampanan bak pangeran.
Kami menyelesaikan makan malam, aku pamit untuk kembali bekerja. Saat kembali aku melihat Direktur berdiri di depan meja kerjaku dengan wajah kesal.
Aku berjalan menghampirinya, ia melempar kertas tepat ke wajahku, aku memungut kertas itu, dan itu adalah desain cafe yang kubuat tadi.
"Apa kau bercanda? Apa kau betul karyawan desain arsitek? Memang gambarmu bagus, tetapi apa-apaan ini?!" Bentaknya, aku hanya terdiam untuk mendengar di mana letak kesalahanku.
"Mengapa desain cafenya seperti ini? Desainnya jauh dari keinginan pelanggan!" Lanjutnya, aku menghela nafas pelan sebelum menjawab.
"Maaf bu Direktur karena saya menjawab dengan lancang, sebelum mendesain cafe tersebut, saya sudah menanyakannya pada Direktur desain seperti apa yang diinginkan pelanggan, tapi Direktur menjawab saya dengan menyuruh saya menggambar sesuai imajinasi saya,"
"Jika Direktur memberitahu saya di mana letak lingkungan cafe, serta desain nuansa seperti apa yang diinginkan pelanggan, mungkin ada gambaran yang bisa saya desain dengan petunjuk itu" Jawabku dengan sopan.
"Jadi kamu menyalahkanku hah?! Berani-beraninya karyawan baru sepertimu menyalahkanku! Siapa yang merekrutmu?! Dia benar-benar tak becus karena menerima karyawan sepertimu!" Bentaknya lagi.
"Aku yang merekrutnya, kenapa?" Tiba-tiba pak Ethan datang dan berdiri di sampingku, seketika wajah Direktur terlihat pucat.
"P-pak Ethan.." Ucapnya gugup..
"Ahh maaf pak Ethan karena saya bicara lancang, saya hanya merasa kecewa dengan karyawan yang pak Ethan terima, ia tak bisa memuaskan pelanggan" Ucap Direktur sambil melirikku, apa sekarang ia mengadukanku?
Pak Ethan mengulurkan tangannya ingin melihat desain cafeku, aku memberikannya, ia memperhatikan desainku kemudian melirik ke arah Direktur.
"Menurutku desainnya bagus, apa permasalahannya?" Tanya pak Ethan.
"I-itu.. desainnya memang bagus, tapi itu jauh dari keinginan pelanggan.." Jawab Direktur,
"Bagaimana keinginan pelanggan?" Tanya pak Ethan lagi.
"Karena lokasi cafe adalah di dekat pantai, jadi pelanggan ingin cafenya bernuansa pantai, sedangkan yang di gambar Meira adalah cafe di perkotaan" Jawab Direktur kembali
"Ini bukan sepertimu yang kukenal, biasanya saat kamu menyuruh karyawan mendesain bangunan, kamu akan memberikan catatan rinci tentang keinginan pelanggan, tapi kudengar kamu sama sekali tak menjelaskan apapun padanya,"
"Jadi dalam hal ini, menurutmu siapa yang salah?" Tanya pak Ethan menatap Direktur.
"Tapi, seharusnya sebagai karyawan desain arsitek, dia tahu keinginan pelanggan.." Jawab Direktur membela diri.
"Bahkan jika kamu menyuruhku yang sudah bertahun-tahun dibidang ini tak bisa mengeluarkan imajinasi tanpa petunjuk keinginan pelanggan, bukankah Meira yang baru setengah hari sebagai karyawan langsung bisa mendesain sesuai imajinasinya? Kamu bisa menggunakan desain ini untuk pelanggan yang ingin mendirikan cafe di perkotaan" Ucap pak Ethan kemudian ia melirik ke arahku
"Meira, buat desain sesuai kata bu Direktur tadi, lokasi di dekat pantai dengan nuansa pantai" Perintah pak Ethan, aku langsung mengangguk mengiyakan dan berjalan menuju mejaku segera mendesain
"Bahkan jika memang desain cafe Meira salah, kamu bisa menyuruhnya lagi mendesain sesuai keinginan pelanggan bukan malah mempermalukannya, sekarang lihat siapa yang malu?" Ucap pak Ethan kemudian pergi menuju ruangannya, Direktur terdiam dan mengepal erat kedua tangannya, sepertinya ia sangat marah, aku harus berhati-hati.
Waktunya pulang kerja, aku merenggangkan tubuhku karena lelah duduk dari tadi, sudah pukul 10 malam, aku membereskan meja kerjaku kemudian berniat untuk pulang.
Aku melirik ke arah kantor pak Ethan, lampu ruangannya masih menyala, sepertinya ia lembur hari ini.
Aku berniat untuk berjalan keluar untuk pulang, tapi tiba-tiba pak Ethan memanggilku, aku mendongak dan mendapatinya memperhatikanku dari jendela.
Ia turun dari ruangannya dan menghampiriku,
"Aku akan mengantarmu pulang" Ucapnya sambil berjalan mendahuluiku, aku tak menolak dan hanya mengikuti langkahnya.
Pak Ethan mengambil mobilnya dan aku menunggunya di depan perusahaan, ia datang dan aku langsung memasuki mobilnya.
"Kamu gapapa?" Tanyanya tiba-tiba, aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Rasanya itu lebih baik daripada berkeliling mencari pekerjaan hehehe" Aku menjawab jujur, memang jika dipikirkan lagi rasanya ketika dimarahi Direktur tadi aku menjadi tahu bahwa aku benar-benar sedang bekerja, itu bukan mimpi tapi kenyataan.
"Setelah perempatan belok kanan" Ucapku memberitahu arah rumahku, tapi bukannya mendengarkanku ia malah belok kiri ke arah sebuah taman.
Ia menghentikan mobilnya di sebuah taman yang lumayan sepi karena memang saat ini sudah tengah malam sehingga warga mungkin kebanyakan sudah berada di alam mimpi.
Pak Ethan turun dari mobil kemudian berjalan membukakanku pintu.
"Kita ke mana?" Tanyaku,
"Hanya duduk-duduk saja di taman" Jawabnya dengan senyuman, aku hanya mengikuti arahnya berjalan dan perjalanan kami terhenti di sebuah kursi panjang taman.
Pak Ethan mengajakku duduk di sana, ia menghela nafas kemudian menatap ke arah langit, aku mengikuti arah tatapannya, langit hari ini benar-benar indah denga dihiasi dengan bulan dikelilingi oleh banyak bintang.
Ini pertama kalinya aku menatap langit malam, setelah sekian lama menyibukkan diri mencari pekerjaan dan mencari uang sampai aku lupa bahwa ada langit seindah ini.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya pak Ethan tiba-tiba, kupikir ia sedang menanyakan tentang langit malam ini.
"Sangat indah, aku menyukainya" Jawabku, pak Ethan melirikku.
"Kamu menyukaiku?" Tanyanya, aku terkejut dan balik menatapnya.
"Aku menyukai langitnya, bukankah pak Ethan menanyakannya?" Tanyaku balik, pak Ethan mengalihkan pandangan sambil mengangguk-anggukkan kepala mengerti.
"Kalau aku?" Tanyanya lagi, sebenarnya apa yang ingin ia katakan?
"Dari pandanganmu tentang aku, bagaimana menurutmu?"
"pak Ethan orang baik, tentu saja. Dan juga tampan" Jawabmu tertawa kecil.
"Apa kau tahu..." Pak Ethan menggantungkan ucapannya.
"Saat kecelakaan malam itu, aku juga menatap langit seperti ini, di sini. Tapi saat itu aku duduk sendirian."
"Langit saat itu sangat indah, berbeda dengan perasaanku yang sakit, saat itu aku kehilangan Mamaku, keluargaku satu-satunya..." Aku melirik ke arah pak Ethan, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis, aku terdiam menyimak ucapan pak Ethan, saat ini ia membutuhkan seorang pendengar.
"Hari itu hatiku kacau, pikiran kotor memenuhiku, aku tak peduli lagi soal dunia ini, dan rasanya ingin mati saja hahaa.." Pak Ethan tertawa, padahal tak ada yang lucu dari ucapannya.
"Untuk menyamarkan agar tak terlihat bunuh diri, aku meminum banyak alkohol dari yang biasa hingga yang paling keras lalu mengendarai mobil ke tempat yang sepi agar tak ada yang menemukanku.."
"Saat jatuh ke jurang aku menatap langit lagi, bahkan saat kecelakaanpun langit tetap terlihat sangat indah"
"Dan saat itu aku mendengar suaramu memanggilku.. Aku berharap saat itu seharusnya kamu pergi saja jangan memperdulikanku, tapi sekarang aku bersyukur karena malam itu kamu datang menyelamatkanku"
"Mendengar ucapanmu di rumah sakit mengingatkanku pada Mamaku, ia juga pasti akan mengatakan yang sama jika aku mengalami kecelakaan seperti itu.. Ia juga pasti tak menginginkanku untuk pergi mengikutinya.."
"Sekarang malam ini langitnya juga sangat indah, aku menyukainya karena saat ini aku tak sendirian, aku melihatnya bersamamu"
"Meira.. Aku bersyukur malam itu bertemu denganmu.."
"Dan sejak malam itu aku selalu memikirkanmu, aku mencoba mencarimu tetapi aku tak menemukan petunjuk satupun.." Pak Ethan menatapku, aku bisa melihat kejujuran dan kehangatan pada tatapannya.
"Dan aku mengingat namamu lalu melihat berkas lamaranmu, apa aku bisa menganggap ini sebagai takdir?" Pak Ethan tersenyum.
"Kupikir takdir mengirimmu ke kehidupanku untuk menemaniku, bagaimana menurutmu?" Tanya pak Ethan menghentikan ceritanya.
"Aku kurang tahu soal itu.." Jawabku bingung harus menjawab apa.
"Meira, mungkin bagimu ini terlalu cepat, tapi sungguh aku takut seperti malam itu, kupikir malam itu saat membiarkanmu pergi aku bisa menemuimu lagi, tapi pada akhirnya aku tak bisa menemukanmu,"
"Dan sekarang kamu hadir di depanku, aku takut jika aku tak mengatakannya sekarang aku akan kehilanganmu" Ucap pak Ethan menatapku tulus.
"Kamu tak perlu menerimaku sekarang, setidaknya biarkan aku berada di sampingmu ya?" Pintanya, aku tertunduk diam.
"Apa aku pantas?" Gumamku tetapi pak Ethan mendengarnya, ia memegang kedua pipiku dan mengangkat wajahku untuk menatapnya.
"Kenapa kamu menanyakan itu? Tanpamu aku pasti tak berada di depanmu sekarang. Ketika malam itu kamu menyelamatkanku, saat itu aku sudah menjadi milikmu" Ucap pak Ethan tersenyum, aku ikut tersenyum, tentu saja! Melihat sisi pak Ethan seperti ini membuat jantungku berdegup dengan kencang, selama hidup aku tak pernah sekalipun berpikir untuk menjalin hubungan dengan seseorang karena aku terlalu sibuk untuk menjadi dewasa dan hanya mencari uang.
Sekarang aku sudah mendapati lelaki yang ingin menjalin hubungan denganku, kenapa aku harus menolaknya?
"Apa kamu tak masalah dengan wanita yang tak pernah menjalin hubungan ini?" Tanyaku tersenyum.
"Tentu saja, aku senang karena mengetahui aku menjadi lelaki pertama dan terakhir di hidupmu,"
"Bahkan jika sekarang kamu memintaku untuk menikahimu aku akan langsung menggendongmu menuju pelaminan" Ucapnya serius tapi terdengar bercanda, aku tersenyum mendengarnya.
"Jadi.. apa kamu akan menerimaku?" Tanya pak Ethan lagi.
"Apa mungkin aku bisa menolak seseorang setampan pangeran Ethan?" Sahutku dengan tertawa kecil, ia mencubit pelan pipiku gemas.
"Tentu saja kamu tak bisa menolakku, karena Ethan Davies hanya ada satu di dunia ini, dan yang beruntung mendapatkannya adalah kamu" Pak Ethan tersenyum kemudian memelukku, aku membalas pelukannya.
Benar, Ethan Davies hanya satu di dunia ini, dan aku sangat bersyukur bahwa yang berakhir mendapatkannya adalah aku.