Aku menghembuskan napas pelan, membuat gumpalan asap dihadapanku. Bahkan didalam cafe udara dingin tetap menusuk kulitku, ini menyakitkan. Aku kembali menatap arloji cokelat yang bertengger manis dilengan kiriku, aku tersenyum menatap arloji itu. Ini adalah hadiah ulang tahun untukku dua bulan lalu, hadiah yang diberikan seseorang yang begitu istimewa bagiku. Dan kini, setengah jam berlalu, aku menunggunya. Aku kembali menyeruput Cappucino panas didepanku, seolah kopi itu menghangatkan tubuhku.
Kring!
Suara lonceng nyaring depan café mencuri perhatianku. Aku tersenyum melihat seorang pria berperawakan tinggi dan rambut cokelat gelap kini berjalan kearahku.
“Sudah menunggu lama?”
“Ah, tidak juga.”
Aku tersenyum lembut menatapnya. Sebenarnya ini adalah hari pertama salju turun dan dengan bodohnya aku hanya memakai mantel tipis, aku tidak melihat ramalan cuaca hari ini, kupikir lusa depan salju baru turun. Aku menatapnya yang masih sibuk memilih menu. Aku tersenyum.
Dia Kevin Turner, pria yang sudah menjalin hubungan denganku lima tahun belakangan ini. Dan aku sangat mencintainya. Aku menatapnya dan ia terlihat begitu gugup. Ada apa dengannya? Untuk pertama kalinya aku melihatnya begitu gugup. Pria itu mengangkat tangannya dan seorang pelayan wanita menghampiri meja kami.
“Apa yang ingin kau pesan?” Aku tersadar dari lamunanku, menatapnya yang begitu gugup membuatku sedikit tidak fokus.
“Cappucino cukup untukku.” Aku tersenyum memandangnya, namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dariku, membuatku menatapnya heran.
“Baiklah aku juga pesan satu hot cappucino. Itu saja dulu.” Pelayan wanita itu mengangguk dan menjauh tanpa mengucapkan apapun, seolah mengerti ada suasana cukup canggung antara kami.
“Kau baik-baik saja Kevin?”
“Aku, baik. Hanya saja, ada hal penting yang harus kubicarakan padamu.”
Aku tersenyum tipis menatapnya yang terlihat semakin gugup. Apa Kevin akan melamarku? Menjalin hubungan lima tahun bukan hal yang sebentar, dan aku sebenarnya juga memikirkan ke jenjang yang lebih serius. Tapi aku berharap jika Kevin yang membicarakannya terlebih dahulu. Wanita cukup malu untuk memulai pernikahan.
“Ada apa?”
Aku dapat melihat Kevin merogoh sesuatu disaku celananya. Diam-diam aku tersenyum tipis, namun senyuman ku luntur kala ia mengeluarkan sesuatu diluar dugaanku. Aku hanya terdiam menatap benda yang diletakkan Kevin diatas meja.
“Aku akan menikah, Kate.” Aku terdiam, dan menatap kosong undangan itu. Undangan berwarna gold dan cokelat gelap, nampak begitu elegan.
“Aku minta maaf.” Kevin kembali bersuara dengan pelan.
Aku hanya tersenyum lirih, terlalu bingung harus bereaksi seperti apa. Dihadapanku terdapat seorang pria yang sudah menjalin hubungan denganku lima tahun belakangan ini. Tapi disini, ia memberiku sebuah undangan, undangan pernikahan. Dan itu semua diluar dugaanku.
Dengan tangan gemeteran aku mengambil undangan itu, dan betapa terkejutnya saat melihat nama yang tertera disana. Tidak pernah menyangka ini semua akan terjadi, nama Kevin dengan sahabatku kini bersanding disana, sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudaraku. Iya, saudaraku.
Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya, aku tertawa kecil, ini pasti mimpi, aku pasti sedang bermimpi buruk. Aku menatap Kevin yang masih menatapku dengan pandangan bersalah. Ayolah Kate, bangun dari mimpi burukmu, ayo bangun. Aku mencubit ketas pahaku, namun nihil, aku merasakan sakit.
“Sekali lagi aku minta maaf.”
Aku meremas undangan itu dan melempar dengan kuat kearah tubuhnya, Kevin hanya terdiam. Ia mungkin paham, seharusnya aku melakukan lebih dari itu, seperti menamparnya sekuat tenaga. Aku yakin, ia sudah siap menerima semua itu dariku.
“Kau menjijikan, kau tahu itu?”
“Aku tahu, aku minta maaf.”
Aku kembali menarik napas dalam. Bahkan setetes air mata tidak dapatku keluarkan. Padahal sedari tadi hatiku bergetar, lima tahun bukan waktu sebentar dalam menjalin hubungan. Tapi aku mendapatkan pengkhianatan, pengkhianatan yang tidak pernah aku bayangkan.
“Sejak kapan kalian berhubungan?”
“Setahun belakangan ini.”
Aku terdiam, dari pada rasa sakit hati. Keterkejutanku lebih dominan. Satu tahun? Memang aku yang bodoh, atau mereka yang menyembunyikanya dengan sangat rapi? Aku memang pernah, bahkan sering melihat kedekatan mereka. Tapi aku tidak menyangka mereka akan sejauh ini, sejauh ini untuk mengkhianatiku, sampai menjalin hubungan hingga ke pernikahan. Mereka pasti benar-benar gila, atau sekarang aku yang mulai tidak waras?
“Kalian pasti menganggapku seorang wanita bodoh yang-“
“Aku sudah mencintainya saat pertama kali aku melihatnya Kate. Bahkan sebelum aku mengenalmu.”
Aku terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Memang, sahabatku lah yang memperkenalkan aku pada Kevin, tapi.. tapi ini semua benar-benar diluar dugaanku.
“Kau tidak mencintaiku setelah lima tahun ini?”
“Maaf, aku minta maaf. Aku sudah berusaha, tapi aku tidak bisa.”
Kali ini pertahananku runtuh, air mata menggenang dan menetes tanpa dapat kutahan. Mendengar fakta bahwa ia tidak mencintaiku sama sekali, sangat menyakitkan. Aku telah menganggap ia adalah segalanya, segalanya dalam hidupku.
“Kalau kau memang mencintainya dari awal kenapa harus mendekatiku?!”
Aku mulai berteriak, beberapa pengunjung cafe menatap kearah kami. Aku tidak peduli, aku ingin semua dunia tahu kalau ia dan sahabatku telah mengkhianatiku.
“Aku takut ia menolakku, aku sangat takut kehilangannya.”
Aku tertawa kecil, masih dengan air mata yang terus menetes. Kurasa aku akan gila, hatiku mungkin akan mati selama beberapa bulan kedepan. Tidak, mungkin beberapa tahun kedepan. Aku benar-benar jijik melihat pria dihadapanku sekarang.
“Jika kau tidak menikahinya, kau pasti masih akan tetap menyembunyikan hubungan kalian dariku, kan?”
“Tidak.” Senyuman sinisku luntur.
“Aku akan tetap memberitahukannya padamu, karena aku telah mendapatkannya. Aku telah mendapatkan hatinya, aku telah membuat ia jatuh cinta padaku.”
Kevin menatap kearah lain dengan senyuman tipis, seolah ia telah melakukan hal paling membahagiakan seumur hidupnya. Aku terdiam, jadi aku hanya penghubung mereka berdua. Aku sunggu menyesal, menyesal telah mengenal mereka dalam hidupku.
Kring!
Suara pintu cafe terdengar. Tepat didepan pintu seseorang telah berdiri dan terlihat terkejut memandangku. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku. Tepat sekali, sahabatku yang hampir enam tahun telah berada disana dengan penuh keterkejutan, seolah ialah yang terkhianati.
“Kate.”
Aku tetap memandang jendela yang kini turun salju dengan cukup deras. Selain kisah cinta dan persahabatanku yang tidak mendukung, cuaca juga tidak memihakku sekarang. Dengan cepat aku menghapus air mataku yang kembali menetes. Aku sudah terlihat bodoh satu tahun terakhir, setidaknya hari ini aku harus terlihat sedikit kuat.
“Kate, aku bisa jelaskan semuanya. Aku-“
“Kau itu menjijikan, bungkam mulut kotormu!”
“Kate!” Kevin, kekasihku kini membentakku. Ia terlihat begitu tidak terima dengan perkataanku kepada sahabatku itu. Aku memandangnya tidak percaya.
“Aku seharusnya yang marah disini, bukan kau pria gila! Kau sakit! Aku menyesal telah mengenal pria tak tahu malu sepertimu.”
“Aku yang telah membuatnya mengkhianatimu. Jika kau ingin salahkan, biarkan salahkan aku. Aku yang membuatnya seperti ini!”
Dengan cepat aku menyiramnya dengan segelas Cappucino hangat didepanku. Mereka berdua tampak terkejut. Kali ini semua pengunjung benar-benar menatap kami. Aku tidak peduli, biarkan mereka menganggapku wanita gila yang tidak punya hati.
“Kau sudah puas?” Kevin menekan kalimatnya.
“Dengan atau tanpa persetujuanmu kami akan tetap menikah, dengan reaksimu seperti ini sudah kuanggap balasan semuanya. Ayo sayang!”
Kevin menarik tangan sahabatku yang masih tampak terkejut. Mereka keluar cafe, pertahananku benar-benar hancur kali ini. Aku menutup wajahku dan menangis sesegukan. Hatiku sakit, tapi aku mencoba bertahan setengah jam ini. Mencoba untuk tidak mengeluarkan semua emosiku, tapi melihat mereka dihadapanku benar-benar membuatku hancur.
Aku menatap mereka dari jendela kaca cafe. Pria itu bergandengan tangan dengan senyuman hangat. Lima tahun menjalin sebagai sepasang kekasih dan enam tahun persahabatanku dapat hancur dengan tiga puluh menit dan satu undangan itu.
Aku kembali mengambil undangan itu dan membuka lipatan yang sudah aku remas. Benar-benar berusaha memahami setiap detik saja. Memahami setiap tetesan salju yang berjatuhan. Aku telah dikhianati oleh kedua pria itu.
Kevin Turner & Larry Chavez
THE END