Zia tak menyangka, Ozan yang selama ini selalu menempel padanya ternyata adalah lelaki tulen. Lelaki dengan gaya kemayu itu ternyata sudah lama menyukai dirinya.
Enam bulan yang lalu, saat pertama kali Zia menjadi mahasiswi di salah satu Universitas di Surabaya. Gadis itu mencari kaca matanya yang terjatuh di jalan karena gagangnya patah sebelah.
Zia yang tidak dapat melihat jelas ketika mengucapkan rasa terima kasihnya pada seorang pemuda yang mengambilkan kaca mata itu untuknya. Dengan senyum lebar, Zia tersenyum pada pemuda itu.
"Makasih..."
Pemuda itu tidak menjawab dan hanya berlalu begitu saja.
Zia mencoba memasang kaca mata patah itu di wajahnya untuk melihat wajah pemuda yang telah membantunya. Namun sayang, Zia bingung dia yang mana. Karena banyak sekali orang yang lalu lalang dan sekilas mirip dengannya walau Zia tidak yakin.
Lalu ke esokan harinya, seorang pemuda mendatangi Zia yang duduk sendiri sambil membaca buku yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan.
"Hai, gue boleh duduk disini nggak?"
Tadinya Zia sempat jatuh hati pada pandangan pertama melihat ketampanan lelaki itu. Namun perasaannya langsung ambyar ketika lelaki itu mengulurkan tangannya dengan gaya kemayu.
"Kenalin, gue Ozan?"
"Hik...,hik...."
Zia tiba-tiba menjadi cegukan.
"Aku Zia..."
Jawab Zia sambil meraih uluran tangan Ozan.
"Gue duduk sini ya, nggak apa-apa kan?"
"Iya, duduk aja. Nggak apa-apa"
Sejak saat itu Zia dan Ozan mulai berteman. Zia yang tidak memiliki banyak teman merasa senang ada Ozan yang mau berteman dengannya meski dia lelaki kemayu.
"Cucok nggak sih, yang satu gemoy yang satu lagi kutu buku"
"Hahaha bisa aja kamu Nad"
Zia yang mendapat julukan kutu buku sudah biasa mendengar ejekan seperti itu. Bahkan Ozan pun tidak merespon ucapan mereka. Mereka berdua semakin akrab dari hari ke hari.
Tak jarang Ozan merangkul Zia, atau memeluk lengan Zia, bahkan memeluk Zia dari belakang. Namun semua itu telah terbiasa bagi Zia yang tidak menganggap Ozan laki-laki.
Lalu suatu malam, tanpa sengaja Zia bertemu dengan tetangga kamar kostnya. Lelaki misterius yang selalu memakai masker serta topi itu membuat penghuni kost menjadi penasaran. Tubuhnya yang macho serta sikapnya yang dingin membuat para gadis di kostan itu begitu terpesona padanya.
Ada yang ganjil saat Zia melihat punggung lelaki itu. Ia langsung teringat Ozan karena perawakan lelaki itu mirip sekali dengan si gemoy Ozan. Lalu tanpa sengaja Zia melihat sesuatu hingga ia menutup mulutnya tak percaya.
Siku kiri pemuda itu, ada tompel yang sama dengan milik Ozan. Ozan yang pernah menggulung lengan bajunya tanpa sengaja memperlihatkan tompel di siku lengan kirinya pada Zia.
Apa dia Ozan? Lelaki yang kelihatan tangguh ini benarkah dia Ozan? Oh tidak...! (batin Zia)
Jika benar dia Ozan, Zia merasa telah di bohongi selama ini. Apalagi Ozan kerap kali merangkul dan memeluk dirinya. Seketika pipi Zia merona, jantung berdegub dengan kencang. Ada perasaan senang ada juga perasaan kesal dan kecewa yang meliputi dirinya.
Hari ke hari Zia mengamati Ozan tanpa pemuda itu sadari kedoknya telah ketahuan. Lalu suatu ketika, ada seorang gadis yang mencoba berteman dengan Ozan. Zia sadar gadis itu terpikat dengan wajah rupawan Ozan. Namun saat gadis itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan, Zia langsung melepaskan rangkulan tangan Ozan di bahunya dan meninggalkan Ozan begitu saja.
Ozan yang baru pertama kali melihat sikap Zia seperti itu tampak bingung. Ia tidak merespon gadis yang mengajaknya kenalan dan langsung berlari mengejar Zia.
Zia yang berjalan amat cepat tiba-tiba di hentikan oleh seorang pemuda yang membawa bunga dan coklat. Ozan yang melihat dari kejauhan dengan sekuat tenaga berlari mencegah pemuda yang akan mengungkapkan perasaannya pada Zia.
"Awas, dia milik gue!"
Ozan langsung menarik Zia ke dalam pelukannya. Gaya kemayunya lenyap begitu saja hingga membuat Zia terdiam.
"Jadi bener kamu tulen?"
"Zi, maafin gue ya? Bukannya gue mau bohongin lu. Tapi dengan begini rasanya gue bebas jalan sama lu"
"Haaah?"
Zia bingung, gadis itu masih belum paham arah pembicaraan Ozan.
"Zi, nggak ada cewek yang mau sama cowok yang Kemayu. Lu lihat sendirikan wajah gue gimana? Kalau gue jadi diri sendiri, emang lu mampu makan hati setiap hari? Baru ngajak kenalan aja lu cemburu apalagi lagi ada yang nembak"
"Emangnya kita pacaran?"
"Lah...,lu nggak baca surat cinta gue pertama kali kita kenalan?"
Zia menggeleng, rasanya ia tidak pernah melihat surat cinta yang di maksud Ozan.
"Ada Zi, gue masukin ke amplop yang kayak kondangan gitu?!"
"Haaah?"
Zia baru ingat, ada sebuah amplop putih polos yang terselip di sebuah bukunya. Amplop itu telah ia berikan pada pada ibu kost saat sang ibu memerlukan amplop untuk mengisi uang sumbangan.
Wajah Zia yang tampak bersalah dan bingung sudah memberikan jawaban bagi Ozan bahwa suratnya tidak pernah dibaca oleh Zia.
"Haaah, sudahlah. Intinya sekarang lu pacar gue"
Zia merona. Ozan sang rupawan ternyata menyukai dirinya yang hanya seorang cupu kutu buku.
"Sejak kapan kamu suka sama aku?"
Zia mencoba mencari tahu karena dirinya begitu penasaran dengan seorang Ozan yang tampan bisa menyukai dirinya.
"Sejak pertama kita bertemu"
"Di kelas?"
Tanya Zia, karena seingatnya dia baru pertama kali bertemu Ozan disana.
Ozan menggeleng sambil tersenyum.
"Apa ku nggak ingat orang yang memungut kaca matamu saat jatuh?"
"Kamu?!"
Ozan mengangguk dan kembali tersenyum.
"Udah, intinya sekarang kita pacaran ya?!"
Zia tidak menggeleng tidak juga menganggukan kepala. Pipinya yang merona cukup memberikan jawaban pada Ozan bahwa ia menerima pemuda itu.
End.