Tiara adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang hidup sendirian, tak memiliki keluarga dan tak memiliki siapapun di kehidupannya. Karena tumbuh dalam keadaan atau lingkungan seperti itu, Tiara memiliki keahlian dalam bela diri. Mau bagaimanapun juga dunia ini terlalu keras untuk gadis cantik dan baik seperti dirinya, dan dirinya sendirilah harus bisa menjaga kehormatannya.
Namun semua itu berubah pada suatu kejadian yang membuat alur kehidupannya berubah. Dirinya bergabung ke dalam sebuah organisasi yang memiliki kegiatan untuk memerangi perdagangan ilegal dan perbudakan. Dengan segala ketrampilan serta ketangguhannya dalam bela diri, Tiara diterima melalui jalur khusus yang di mana dirinya dipilih langsung oleh pemimpin organisasi. Namun dirinya belum pernah sama sekali melihat siapa pemimpin organisasi tersebut.
Tiara adalah anggota baru di organisasi itu dan belum pernah melihat siapa pemimpin organisasinya. Dirinya juga tidak tahu dan belum diberitahu soal posisinya di dalam organisasi.
Meski begitu dsn Tiara belum pernah melihat siapa bos atau pemimpin organisasi tersebut. Tetapi dirinya sudah bertekat untuk bergabung organisasi, mengingat tujuan dari organisasi itu hampir sama seperti ambisinya. Dirinya sangat membenci perbudakan dan perdagangan ilegal, karena masa lalu yang pernah terjadi padanya. Dan dirinya memiliki dendam tersendiri dengan dua hal itu.
***
"Tiara, kau siap untuk ini, 'kan?" tanya seorang wanita yang sepertinya adalah rekannya. Di balik dari sebuah tirai berwarna merah, Tiara berbicara kepada rekannya.
Penampilan Tiara sangatlah cantik bak seorang putri mahkota dengan gaun berwarna merah mudanya dan pernak-pernik perhiasan yang menghias dirinya. Tak hanya Tiara saja, tetapi rekannya juga terlihat cantik dengan gaun berwarna putih dan dandanan seperti akan menghadiri sebuah pesta yang sangat penting. Mereka berdua berpenampilan sangat cantik sekali dan terlihat bersiap jika tirai di hadapannya dibuka.
Di suatu malam, Tiara mendapatkan tugas khusus bersama rekan wanitanya itu. Dirinya akan menghadiri sebuah acara pelelangan yang diadakan oleh suatu sindikat di sebuah gedung. Dan tugasnya adalah ikut serta pada pelelangan itu, atau lebih tepatnya menjadi barang yang akan ditawar oleh para pria hidung belang yang tampak duduk di kursi penonton.
"Ini pertama kalinya bagiku," gumam Tiara tampak gugup.
"Tenang saja, aku kan penanggung jawabmu, dan akan ku pastikan ini akan berjalan sesuai rencana kita." partnernya tampak memberikan dukungan dan menenangkan rasa gugup yang kini melanda.
"Beruntungnya diriku menjalankan misi ini bersamamu, Naya. Aku bisa sedikit lebih tenang karena ada yang menemani," ucap Tiara merasa sedikit lebih tenang.
"Kau sangat cantik, Tiara. Kau pasti bisa memancing banyak pria b*ngs*t di luar sana, dan kau akan menjadi perhatian bos organisasi," ujar Naya lalu tersenyum dan melirik Tiara seraya menggodanya.
"Apaan, sih? Aku saja belum pernah bertemu dengan petinggi setelah dipilih olehnya beberapa bulan yang lalu," sahut Tiara. Sedangkan Naya hanya tertawa kecil seraya terus menggoda temannya itu.
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba terdapat seorang gadis cantik lain yang berjalan masuk melalui tirai di hadapan mereka dengan gaun berwarna putih. Gadis itu terlihat menahan tangis dan kesedihannya setelah berada di atas panggung sana. Terlihat kepasrahan di wajahnya, meskipun juga dirinya terlihat tidak rela setelah apa yang terjadi padanya di atas panggung itu. Gadis itu lewat begitu saja melewati Tiara dan Naya seraya menyeka air matanya yang mengalir membasahi pipi.
Tiara melihat gadis itu, "dia cantik sekali, aku jadi kasihan dan tidak tega jika gadis secantik dia berakhir di tangan pria-pria b*ngs*t itu. Aku tidak akan membiarkannya!" batin Tiara terlihat mengepalkan tangannya dan amarahnya yang mulai tersulut.
Naya tiba-tiba menggenggam tangannya yang terkepal itu seraya berkata, "tenanglah! Kita akan menyelesaikan tempat ini, dan membebaskan mereka," ucap Naya sembari melirik ke belakangnya, dan di sana ia dapat melihat banyak gadis yang bernasib sama dengan gadis yang baru saja lewat.
Tirai pun terbuka, dan Naya yang berjalan keluar terlebih dahulu melalui tirai tersebut. Keanggunan dan kecantikannya sangat terpancar saat berjalan melalui tirai menuju ke atas panggung. Sedangkan Tiara hanya tinggal menunggu gilirannya tiba.
"50 juta untuknya!"
"60!"
"70!"
"Dia cantik ... memiliki tubuh yang bagus dan ideal, rasanya aku ingin sekali membawanya pulang. 100 juta untuknya!"
Pria-pria yang duduk di bangku penonton mulai memberikan tawaran mereka terhadap Naya. Banyak sekali tatapan-tatapan mesum ke arahnya. Namun Naya sangat profesional dengan tugasnya.
"Aku ... bukan barang jualan, dasar para pria bangsat!" dalam hati Naya terlihat sangat emosional sekali. Namun dirinya tetap profesional dalam menjalankan tugas.
Tawar-menawar pun selesai. Naya kembali berjalan ke arah tirai dan sudah ada Tiara yang menunggunya di sana dengan ekspresi tegang. Naya hanya tersenyum melihat ekspresi itu seraya bergumam, "aku mengandalkan mu, Tiara," dalam hatinya.
"Dia mata-mata!"
Tiba-tiba saja seorang pria bertopeng hitam berteriak dari bangku paling belakang penonton seraya menunjuk ke arah Naya. Naya sempat berbalik badan kembali karena terkejut.
DOR ...!!!
Di saat yang bersamaan, suara tembakan terdengar sekali, dan satu peluru melesat ke arah Naya yang masih berada di atas panggung. Tiara langsung syok ketika melihat Naya terjatuh dan tergeletak di atas sana.
"Naya!"
Tiara langsung berlari ke arah Naya yang tergeletak di sana. Ia dapat melihat luka tembak yang didapat Naya pada perut bagian kanan. Darah terus keluar dari luka itu. Gaun cantik berwarna putih itu langsung berubah menjadi merah darah.
"Naya, bertahanlah! Hei, lihat aku!"
Situasi menjadi sangat kacau, dan suara tembakan pun kini terdengar berkali-kali. Baku tembak antara dua pihak langsung terjadi di lokasi saat itu juga, dan Tiara berada di antara baku tembak yang sedang terjadi.
"Per ... gilah! kau ... bisa tertembak ... di sini," dengan sangat lemah, Naya berbicara kepada Tiara rekannya yang terlihat menangis histeris.
"Tidak, tidak! Aku tidak akan pergi! Organisasi sudah di sini, jadi bertahanlah! Aku akan menemanimu di sini!"
Terlihat Tiara mencoba untuk memberikan pertolongan pertama pada luka tembak yang dialami Naya. Dengan pengetahuan yang ia miliki, ia berusaha untuk menahan pendarahan yang terjadi agar Naya tidak kehabisan darah.
"Naya, pertahankan kesadaran mu! Lihatlah aku! Kita akan kembali bersama, ya?"
Naya hanya diam saja dengan tatapan dan kondisi yang terus melemah. Namun Tiara tak tinggal diam, ia terus berusaha dengan pertolongan pertama yang ia berikan dan terus saja mengajak bicara rekannya itu.
"Cepat bawa dia segera ke rumah sakit!" tiba-tiba terdengar suara tegas dan dingin dari seorang pria di belakang Tiara.
Orang-orang yang tampak sangat patuh dengan pria itu langsung melaksanakan perintah tersebut. Naya pun segera dibawa pergi dengan cepat untuk mendapatkan pertolongan di rumah sakit oleh mereka.
"Tenanglah, Naya akan baik-baik saja," ucap pria itu seraya mendekati Tiara. Ia tampak meraih kedua tangan Tiara dan berniat membersihkan tangan cantik itu dari noda darah.
Tiara yang sedari tadi terbawa amarah pun menepia niat itu, dan mencoba untuk melupakan amarahnya pada pria yang mendekatinya. Ia memukul dada kekar lelaki itu dengan kedua tangannya sembari menangis dan berkata, "mengapa kalian terlambat? Mengapa?! Apa kalian ingin membiarkan Naya ditembak begitu saja?!"
"Tentu saja tidak, buktinya kita segera menyelamatkannya," jawab singkat pria itu.
Tiara menatap marah dengan kedua matanya yang berkaca-kaca dan penuh air mata itu. Ia menatap asing pria di hadapannya karena dirinya sama sekali belum pernah melihat wajah tampan itu.
Di tengah keduanya beradu pandang, tiba-tiba saja tembakan susulan terdengar. Sontak itu memecah Tiara dan pria itu. Ketika mereka melihat ke luar gedung. Mereka berdua melihat beberapa anggota organisasi yang tewas di sana.
"Ah, sepertinya ada tamu yang mengacaukan bisnis ku," ucap seorang pria mantel berwarna abu-abu.
"Tak ku sangka kita akan bertemu di sini, Xavier!" ucap lelaki yang bersama Tiara.
"Lalu bagaimana dengan Naya?" tanya Tiara setelah mengetahui situasi di luar gedung.
"Dia baik-baik saja dan sudah pergi dari sini," jawab lelaki yang bersamanya.
"Dan sepertinya ... kau menemuiku dengan membawa hadiah menarik," ucap Xavier sembari menatap tajam ke arah Tiara yang berdiri di belakang lelaki yang bersamanya.
"Sayang sekali, dia bukanlah hadiah, dia adalah gadis pilihan ku yang berarti dia milik ku." Perkataan dari lelaki yang bersamanya itu sontak membuat Tiara terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Tiara.
"Aku akan menjelaskannya nanti, setelah urusan di sini selesai, dan kau tetaplah berlindung karena sepertinya akan ada sedikit perselisihan di sini," jawab lelaki itu.
"Menyuruhku berlindung? Haha," Tiara justru merasa tertantang. "Kita akan buktikan siapa yang seharusnya berlindung," lanjutnya seraya menatap tajam Xavier yang akan menjadi lawannya.
"Baiklah jika seperti itu, tenang saja aku akan melindungi mu," sahut lelaki itu.
"Sebelumnya, bolehkah aku tahu nama mu?" tanya Tiara melirik kepada pria yang ada di sampingnya.
"Oi! Sudah selesai berbincang nya?!" teriak Xavier menyela pembicaraan mereka berdua.
"Bos, apa yang harus kami lakukan?" tanya salah satu anggota organisasi berjalan tertatih menghampiri Tiara dan pria yang bersamanya. Ia terlihat memegangi satu lengannya yang terluka dan berdarah.
"Kalian bebaskan saja para gadis yang masih menjadi tawanan di dalam, aku akan mengatasi yang di sini," jawab lelaki tersebut.
Tiara merasa mendengar sesuatu yang aneh dan membingungkan baginya. Bos? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan?
DOR ...!!
Namun lamunan untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu terpecah ketika lelaki tersebut menubruk Tiara. Beruntung peluru yang melesat ke arahnya itu tidak mengetani dirinya.
"Apa yang ...?"
"Jangan lengah!"
Lelaki itu kembali berdiri dan kemudian berkata, "kau bisa panggil aku Kaivan." Lalu ia berlari maju untuk melawan pria di sana. Dengan tangan kosong ia tampak sangat berani, sedangkan mengetahui lawannya menggunakan senjata api.
Tiara ikut berdiri dan menyusul Kaivan di sana. Namun langkahnya terhambat oleh beberapa anak buah Xavier. Kaivan yang sedang menghadapi Xavier sempat melihat ke arah Tiara di sana, namun dirinya yakin Tiara bisa mengatasinya.
"Ada apa? Kau khawatir dengannya? Jangan khawatir, kami akan bermain lembut terhadap gadis istimewa sepertinya," celetuk Xavier seraya membuang senjata apinya ke belakang.
Apa yang dikatakan Xavier cukup menyulut api amarah Kaivan, "kata-kata itu tidak pantas diucapkan oleh pria seperti mu! Aku akan membuatmu menarik kata-kata mu itu!" Ia langsung bergerak maju hanya dengan tangan kosong dan menyerang Xavier.
Xavier menangkis serangan-serangan tersebut, dan memberikan balasan hanya dengan tangan kosong juga. Keduanya pun saling beradu dan baku hantam di sana secara adil. Sedangkan Tiara sepertinya harus menjalani pertarungan yang tidak adil.
"Apakah begini cara pria bertarung?" tanya Tiara dengan nada sangat menyindir. Ia menyerang beberapa pria yang menghalanginya, dan secara terpaksa dirinya harus sedikit merobek gaun bagian bawahnya.
Beberapa pria yang melawannya tampak tidak fokus setelah Tiara merobek gaun bagian bawahnya sehingga memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus itu. Menyadari dirinya diuntungkan, Tiara langsung menendang dan memukul mereka semua. Pergerakannya sangat gesit dan lincah.
"Hahahaha! Mata pria sangat mudah untuk dikecoh." Tiara tertawa terbahak-bahak setelah semua lawannya tumbang di hadapannya.
DRAP ...!!!
Secara tiba-tiba dan tanpa disadari oleh Tiara. Ada pria lain dibelakangnya dan langsung membungkam dirinya. "Lepaskan! Lepaskan!" Tiara berteriak dan mencoba untuk memberontak.
Teriakan itu sampai didenga oleh Kaivan di sana. Ia terkejut dengan situasi tersebut. Sedangkan Xavier hanya menyeringai menyaksikan Kaivan kebingungan.
"Menyerahlah, atau gadis itu akan habis di tangan kami!" ancaman itu ditujukan kepada Kaivan dari Xavier.
"Lepaskan dia!" Kaivan meninggalkan Xavier berjalan menghampiri Tiara yang masih berada di tangan pria itu seraya menodongkan sebuah pistol yang ia ambil dari sakunya.
"Wah, sepertinya aku diancam, ya?" gumam pria itu lalu mengambil sebilah pisau dan mengancam akan memotong leher milik Tiara.
Tiara yang awalnya memberontak langsung terdiam dan ketakutan saat mengetahui ada pisau di bawah lehernya. Pisau itu sangat tajam dan membuat dirinya gemetar ketakutan. Kaivan dapat melihat ketakutan itu, dirinya harus melakukan sesuatu namun bingung apa yang harus ia lakukan.
"Apa yang kalian minta?!" tanya Kaivan menurunkan pistolnya dan membuangnya.
"Sayang sekali jika aku membunuh gadis sepertinya, rasanya aku ingin bermain sebentar dengan tubuhnya," bisik pria itu sangat dekat ke daun telinga milik Tiara dan berhasil membuatnya kegelian.
"Sialan!" Kaivan hanya menatap tajam dan sulit untuk melakukan sesuatu. Ia tampak sangat berpikir sangat keras.
Pria yang menyandera Tiara tersenyum tipis. Pandangannya melihat ke arah Xavier yang dari kejauhan tampak berdiri di belakang Kaivan dan menodongkan pistol ke arahnya.
Tiara yang menyadari hal itu pun mencoba untuk memberitahu Kaivan dengan berteriak, "Kaivan di bel -!" teriakan terhenti karena pria yang menyandera dirinya tiba-tiba saja menutup paksa mulutnya dengan salah satu tangannya.
Kaivan tidak tahu apa yang dimaksud oleh Tiara. Tiara terus memberontak meskipun pisau itu sangat dekat din lehernya. Ia menendang selangkangan pria yang menyanderanya dan menepis pisau yang dibawa. Tanpa sengaja pisau itu terlempar ke belakang dan melukai pipinya. Namun dirinya pun terlepas dari dekapan paksa pria yang menjadikannya tawanan.
Mengetahui hal itu Kaivan berjalan menghampirinya tanpa menyadari bahaya yang sebenarnya. Tiara berlari ke arahnya dan melompat ke arah Kaivan dengan maksud menubrukkan dirinya.
"Kaivan, awas!"
DOR ...!
Craatt ...!
Mereka berdua terjatuh cukup keras dan dengan posisi Tiara berada di atas tubuh Kaivan. Namun, tembakan tersebut malah mengenai bahu milik Tiara yang bermaksud menyelamatkannya. Hal itu membuat Kaivan cukup syok melihat Tiara tidak sadarkan diri.
"Tiara! Tiara, sadarlah! Tiara!"
Kaivan berusaha untuk menyadarkan gadis yang kini berada di pangkuannya. Ia sempat mencari keberadaan Xavier sebagai pelaku di sana. Namun matanya tidak dapat melihat keberadaan musuhnya lagi.
"Tiara, bertahanlah! Kumohon bertahanlah!"
Kondisi Tiara benar-benar sangat lemah, ditambah pendarahan yang terjadi pada lukanya. Meskipun Kaivan berusaha untuk mengentikan pendarahan, tetapi pendarahan itu terus saja terjadi.
"Sialan! Sialan kau, Xavier!!!" teriak Kaivan dengan amarah dan dendam yang membara, namun ia tak bisa melakukan apapun lagi karena Xavier sudah menghilang dari sana. Dirinya harus segera berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Tiara.
***
Kicauan burung tersengar dan sinar mentari menembus masuk melalui sebuah jendela di kamar rawat inap. Tiara membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ketika itu juga dirinya merasakan ada sesuatu yang hangat sedang menggenggam salah satu tangannya. Ternyata terdapat Kaivan yang tampak tertidur di kursi dengan kepala tersandar di tepi ranjang, dan tangan yang menggenggam jari-jemari gadis itu.
Kaivan terlihat tertidur sangat pulas, namun meski begitu genggamannya cukup erat seakan tidak ingin melepaskan tangan gadis itu. Tiara hanya tersenyum tipis dan membiarkannya saja.
"Aduh," dirinya merasa sakit ketika menggerakkan bahu sebelah kirinya yang ternyata dalam keadaan terbalut perban.
Di saat yang bersamaan ada yang mengetuk dan membuka pintu kamarnya. Orang itu ternyata adalah Naya yang tampak didorong di atas kursi rodanya oleh satu pria anggota dari organisasi. Tiara menatap sangat senang dan lega ketika mendapati Naya yang baik-baik saja, meskipun masih terdapat perban yang membalut perut bagian kanan.
"Terima kasih, sekarang tinggalkan kami!" pinta Naya kepada pria yang telah membantunya dengan mendorong kursi roda yang ia pakai.
"Baik," jawab pria itu lalu beranjak pergi dan menutup pintu kamar.
"Syukurlah aku masih dapat melihatmu," cetus Tiara terlihat sangat senang.
Naya tersenyum dan berkata, "ini semua berkat dirimu, Tiara. Pertolongan pertama yang kau lakukan berhasil, sehingga pendarahan pada saat itu jadi sangat lambat. Kau telah menyelamatkan ku, terima kasih, Tiara."
"Aku senang melihatmu kembali," ucap Tiara berkaca-kaca karena tidak bisa membendung kesenangannya lagi. Naya pun mendekatkan kursi rodanya ke repi ranjang, lalu merangkul rekannya itu. Ia juga dapat melihat Kaivan yang tampak masih saja tertidur.
"Ku dengar, kau menyelamatkan Kaivan, ya? Bahkan kau sampai membahayakan dirimu dan membuatmu terluka seperti ini," ujar Naya tersenyum dan menatap Tiara dengan tatapan curiga namun perasaan senang.
Tiara seketika menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba saja merona. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, tubuhku bergerak dan aku melakukannya begitu saja," jawab Tiara lalu ia terdiam dan tertegun seraya mengingat apa yang pernah Kaivan katakan di malam itu.
"Kenapa terdiam dan melamun seperti itu? Oh, apa jangan-jangan kau juga memiliki rasa padanya?" celetuk Naya menatap rekannya dengan tatapan sinis namun seraya mengulas senyum.
"Eh? Ti-tidak, bukan begitu!" sahut Tiara menyangkal pernyataan tersebut dengan wajah yang semakin memerah.
"Hahaha -- aduh," Naya terkekeh melihat sikap canggung dan kikuk itu, sampai-sampai tawanya harus dihentikan karena lukanya yang masih terasa sakit jika tertawa. "Aku sampai lupa tidak boleh tertawa terbahak-bahak dahulu," gumamnya.
"Tetapi, Tiara. Terima kasih banyak, kau telah menyelamatkan sosok penting organisasi," ucap Naya seraya mengulas senyuman lebar.
DEG.
"Sosok penting?"
"Oh iya, aku lupa kau belum mengetahuinya. Kaivan adalah petinggi di organisasi kita, dan semua keputusannya adalah mutlak," jawab Naya.
"Jadi ... dia ... bos kita?" Tiara seraya melihat ke arah Kaivan yang masih saja tertidur meskipun ada yang sedang berbincang di sekitarnya.
Naya tersenyum dan menjawab, "ya, kau benar."
Meskipun Tiara sudah menduganya sebelumnya, tetapi dirinya tetap saja terkejut dan tertegun. Ia teringat dan memikirkan apa maksud dari perkataan, "dia adalah gadis pilihan ku yang berarti dia milik ku," yang dikatakan oleh Kaivan kemarin malam.
"Ada apa?" tanya Naya kebingungan dengan reaksi Tiara.
Tiara pun menanyakan hal tersebut kepada Naya soal mengapa Kaivan berbicara seperti itu kepadanya, dan Naya langsung memberikan jawabannya.
"Tiara, Kaivan memiliki banyak alasan pada saat memilih dirimu, selain dia memilihmu dengan alasan kau memiliki kemampuan, keberanian, ketangguhan, dan kepandaian. Selain semua itu, Kaivan memilihmu karena perasaan, dan dia akan menempatkan mu di posisi asisten pribadinya."
Tiara terkejut, hati dan jantungnya langsung berdebar kencang, dan pandangannya seolah tidak bisa teralihkan dari wajah tampan seorang lelaki yang sampai saat ini masih saja tertidur. Dirinya seketika tersenyum melihat wajah tidur lelaki itu dan bergumam, "asisten pribadi, ya?"
-***-