Pada tahun 2099 Bumi sudah menjadi neraka bagi umat manusia. Sejauh mata memandang hampir di seluruh penjuru belahan Bumi hanya dijumpai padang tandus tak bertuan. Semua itu terjadi akibat dampak dari perang nuklir 50 tahun lalu. Namun tak semua manusia musnah pada perang nuklir bebeapa dekade itu. Orang-orang yang masih selamat mulai beradaptasi dan mulai membangun kembali peradaban baru. Dan disitu munculah sebuah organisasi para penyintas yang berjuang untuk kebangkitan peradaban umat manusia bernama “Reclaimer.”
Di hamparan padang tandus berbatu terlihat seorang anggota Reclaimer berlari menuju suatu tempat. Prajurit tersebut bernama “Block” salah satu agen mata-mata elit yang mencoba menyusup ke markas organisasi musuh. Setelah melalui jalanan berbatu dan panas Agen Block akhirnya tiba di depan gua kecil, gua itu diduga adalah pintu masuk markas rahasia musuh. Dengan teropongnya Block melihat sekeliling gua kecil tersebut dan dia mendapati ada tiga orang penjaga berjaket dengan logo lebah merah.
Organisasi berlogo lebah atau biasa disebut “Stinger” adalah sebuah organisasi radikal yang ingin mengubah seluruh tatanan kehidupan umat manusia. Tujuan mereka adalah ingin memusnahkan semua manusia selain anggota Stinger demi menciptakan kedamaian sejati di dunia. Stinger, dipimpin oleh “Stray’er” sosok penuh karisma yang terbilang tidak memiliki belas kasih terhadap musuh-musuhnya. Selama ini dia merencanakan untuk meretas semua satelit peluncur rudal nuklir demi mewujudkan kedamaian sejati. Setelah beberapa tahun akhirnya dia akan mendapatkan kendali penuh atas salah satu satelit peluncur nuklir.
Sebuah anak panah melayang di udara lalu mendarat tepat di kepala penjaga markas Stinger. Dua penjaga yang melihat itu langsung bersiaga dan bergegas mengambil alat komunikasi. Tak sempat mengucapkan sepatah kata pun si penjaga tersebut sudah dihujam panah tepat di lehernya hingga tumbang di tempat. Kini tinggal seorang penjaga yang panik ketakutan setelah kedua temannya itu tewas hanya selang beberapa detik saja. Dengan perasaan panik si penjaga melakukan tembakan tak tentu arah alih-alih memanggil bantuan dengan alat kominikasi temannya itu. Tembakan sia-sianya ternyata membuahkan hasil yakni berupa anak panah yang menancap di keningnya. Setelah semua penjaga tewas, Agen Block yang tak lain adalah si pemanah tersebut keluar dengan tenang dan siaga dari balik batu.
Agen Block mulai menuju pintu masuk markas dan mengambil senapan penjaga. “Apakah kalian mau menunggu lebih lama lagi?” seru Agen Block kearah bebatuan dengan nada menyindir. “Apa maksudmu kami disini sudah lebih dari duabelas jam” jawab seseorang sambil berjalan keluar dari sebuah batu. Ternyata orang-orang tersebut adalah tim pengintai dari Reclaimer yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Flora. “Hei apakah kamu ingin kami yang menyusup ke dalam markas?” Tanya Flora kepada Agen Block. Dengan penuh keyakinan Block menjawab “Tidak, sebaiknya serahkan saja tugas itu kepadaku sendiri, aku akan memberikan sinyal bila keadaan sudah memungkinkan.”
Agen Block mulai menyusup kedalam markas Stinger lewat lubang ventilasi di dekat pintu masuk markas. Dengan penuh kewaspadaan Agen Block mulai menyusuri saluran ventilasi, sesekali dia mendengar dan melihat para pasukan Stinger mondar-mandir. Namun dia hanya menghiraukan mereka karena tujuannya adalah menyabotase ruang pusat komunikasi. Setelah dia berhasil menemukan pusat komunikasi dia mulai menunjukan dirinya keluar dari ventilasi. Hanya saja dia harus melumpuhkan satu orang didepan pintu masuk ruang komunikasi.
“Kling!” suara koin jatuh terdengar dari dalam ruang komuniksai. Suara tersebut memancing rasa penasaran penjaga ruangan. Dengan penasaran si penjaga tersebut mendatangi asal suara tersebut. Si penjaga agak sedikit terkejut lantaran bukan koin yang ditemukanya melainkan sebuah selongsong peluru. Begitu si penjaga hendak berbalik arah dengan sekejap dia disekap dari belakang oleh Agen Block. Penjaga yang meronta ingin melepaskan diri harus menerima kenyataan kalau riwayatnya berakhir dengan leher patah ditangan musuh organisasi.
Dengan mayat si penjaga di dalam ruang komunikasi, Agen Block mencoba mematikan seluruh jaringan komunikasi di area markas. Tak butuh waktu lama markas Stinger sekarang kehilangan kemampuan koordinasinya. “Baiklah sekarang kau boleh mengacau sesukamu aku sudah mematikan komunikasi mereka” lewat jaringan komunikasi khusus Agen Block mengirimkan pesan kepada Flora yang sejak dari tadi siaga menunggu perintah. “Siap laksanakan perintah” “Sekarang dengarkan aku!, seluruh jaringan komunikasi di markas musuh sudah mati sekarang saatnya kita melakukan sisanya, habisi semua yang bergerak di dalam sana!” seru Flora kepada regu pengintai dengan lantang.
Suara sunyi di dataran tandus seketika berubah menjadi seruan serbuan peluru pertanda regu pengintai mulai melancarkan aksinya. Tim yang dipimpin Flora itu tanpa ragu maju ke garis musuh. Satu persatu para prajurit Stinger mulai berguguran diberondong para anggota Reclaimer. suara jeritan berpadu letusan senjata bersahutan. Tak Cuma pasukan Stinger yang gugur beberapa prajurit Reclaimer juga ada yang kehilangan nyawa mereka. namun itu bukan menjadi beban bagi tim pengintai, justru hal itu menjadi cambuk bagi mereka untuk maju lebih keras lagi.
Keadaan markas yang kacau balau dimanfaatkan oleh Agen Block untuk menyusuri lorong-lorong demi mencari ruangan Stray’er si pemimpin. Lorong demi lorong dilalui, musuh demi musuh dihabisi, Agen Block seperti singa kelaparan yang sedang mengintai kerbau. Sampai pada akhirnya Agen Block tiba di ruang bawah tanah. Dia menjumpai sebuah lorong dengan diujungnya terdapat pintu besi besar berbentuk bundar. Dengan hati-hati agen Block mendekat dan seketika itu dia tersadar bahwa pintu tersebut terbuka lebar seakan menyambutnya. Hal ini membuatnya makin meningkatkan kewaspadaan mengantisipasi jebakan musuh.
Secara perlahan agen Block memasuki ruangan tersebut. sesampainya di dalam ruangan dia melihat adanya layout komputer besar terpampang hampir memenuhi ruangan. Di belakang komputer tersebut terdapat sebuah kursi dengan seseorang duduk bersandar diatasnya. Tak salah lagi sosok tersebut adalah Stray’er si pemimpin organisai Stinger. “Mengesankan kau sudah sampai sejauh ini, penghianat” suara menggema terucap dari Stray’er. Seketika pintu besi bundar tadi menutup mengunci agen Block bersama pemimpin Stinger tersebut. “Sudah cukup main-mainnya aku tidak punya waktu untuk omong kosong ini!” ucap Agen Block dengan kesal. “Hmph jadi kau benar-benar ingin mati ya” dengan senyum sinis Stray’er bertanya.
Stray’er bangkit dari singgasananya sambil berkata “Sayang sekali walau aku ingin menyiksamu dengan keji aku harus menahan kesenangan itu.” “Kau beruntung aku masih membutuhkan otakmu untuk menyelesaikan misiku.” “Aku sungguh sangat menyesal telah memasukan memori kode peretasan di dalam babi busuk sepertimu.” “Andai saja aku tidak memilih otakmu sebagai wadah bagi pikiranku supaya abadi mungkin aku tidak akan mengalami ironi memuakan ini.” “Hah, namun sekarang aku tidak akan melepaskanmu dari sini Block karena meski aku tidak memiliki kode akses ke seluruh satelit rongsokan itu” dengan menggeram Stray’er melanjutkan kalimatnya “Sebentar lagi satu satelit akan aku kuasai dan aku akan mengarahkannya ke markas Reclaimer.”
“Kau memang keparat Stray’er sudah kuduga hal ini akan kau lakukan, namun aku tidak akan datang kesini tanpa persiapan!” kata-kata penuh keyakinan keluar dari agen Block. Dengan tenang namun sinis Stray’er menjawab “Ooh biar kutebak pasti mainan kecil ciptaan Reclaimer untuk menghentikan proses peluncuran? Sesuatu yang cukup pintar untuk babi busuk sepertimu.” “Tidak apa meski kamu memiliki benda itu aku hanya perlu memastikan kau kehilangan nafasmu, walau itu artinya aku juga akan kehilangan otakmu tapi kurasa itu sepadan dengan musnahnya organisasi Reclaimer.”
“Jadi pada akhirnya pilihan kita berdua hanya harus saling membunuh satu sama lain, itu lebih mudah dilakukan” kata-kata terlontar dari Agen Block. “Beruntung aku pernah menjadi pasukan Stinger jadi aku tahu seberapa level kemampuanmu, Stray’er.” Merasa terhina Stray’er berujar “Kau tak perlu sombong kau pikir siapa dirimu, kau hanyalah seekor kecoa di bak sampah yang siap diinjak hingga tak tersisa!” setelah perbincangan singkat itu mereka akhirnya berdiri berhadap-hadapan seperti dua koboi yang akan berduel.
Kaki menapak dengan kokoh, mata melotot tajam satu sama lain, tangan siaga diatas senapan masing-masing. Suara gemuruh secara mistik berubah menjadi hening seolah mengantarkan takdir mereka. Detik demi detik berlalu namun terasa sangat lama seolah waktu mulai melambat. Sepersekian detik tangan mereka sudah menggenggam pistol masing-masing. Dengan kilat pistol ditodongkan kearah satu sama lain dan seketika letusan peluru terdengar. Dor dor, dua peluru berhasil dimuntahkan dari pistol Agen Block dan mengenai dada tengah serta leher Stray’er. Dor dor dor, pada saat bersamaan tiga peluru meluncur dari ujung pistol Stray’er. Stray’er berhasil menembak agen block sebanyak tiga kali, satu peluru mengenai dada kanan, satu mengenai lengan kanan dan satu lagi mengenai perut agen Block. Stray’er dan Agen Block tumbang tak sadarkan diri setelah baku tembak tersebut. Dan nampaknya sudah tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk melanjutkan hidup mereka.
Di tengah ketidakpastian nasib nyawa mereka tiba-tiba terdengar erangan. Suara itu keluar dari mulut Agen Block yang berusaha bangkit. Sambil menahan rasa sakit akibat luka tembakan dari Stray’er, Agen Block mulai berjalan terhuyung-huyung menuju komputer peretas. Sesekali langkah Agen Block terhenti lantaran dia mengalami batuk berdarah, namun dia tetap melangkah maju demi menyelesaikan misinya.
Tubuh Stray’er yang tergeletak dilewati Agen Block dengan mudahnya diduga dia sudah tak bernyawa. Perlahan namun pasti, agen Block sampai di depan komputer peretas dan menancapkan chip pembatalan kode peluncuran. Dalam kesunyian mulai terdengar suara lirih “Kau akan menyesal jika melakukan itu” yang terucap dari Stray’er. Rupanya Stray’er belum benar-benar mati dia masih memiliki sedikit tenaga meski hanya cukup untuk berkata-kata saja. “Cita-cita mengembalikan peradaban manusia itu bodoh, bila sudah waktunya nanti mereka akan kembali saling menghancurkan satu sama lain” ucapan itu keluar dari Stray’er dengan berat dan lemah.
Namun agen Block tidak peduli, tanganya yang sudah bergetar masih terlihat sibuk memproses kode dari alat pembatalan tadi. Sesaat Agen Block membalikan pandangannya ke arah Stray’er. Seperti yang ia duga Stray’er sekarang sudah benar-benar kehilangan nyawanya dikarenakan tubuhnya telah berubah pucat dan matanya memutih. Agen Block kembali mengalihkan pandangannya ke komputer peretas. Layar komputer kemudian berubah menjadi merah dengan ditengahnya tertulis “Peretasan dibatalkan.” Untuk sesaat agen Block merasa lega perjuanganya terbayar lunas namun dia sadar kalau waktunya juga sudah tidak banyak.
Rasa sakit yang diderita Agen Block mulai menjadi-jadi dan batuk berdarahnya semakin memburuk. Sambil menahan luka tembak, Agen Block mulai kehilangan keseimbanganya. Tak lama tubuhnya tumbang kesamping dan tanganya bersandar pada kursi miliki Stray’er seolah tekadnya belum padam. Memang keinginan untuk hidupnya masih menyala namun tubuh Agen Block sudah tak sanggup lagi. Pandangan Agen Block perlahan mulai kabur dan rasa dingin mulai menyelimuti tubuhnya. “Jadi seperti ini aku akan berakhir” terlintas di dalam pikiran Agen Block. Dibarengi dengan hilangnya kesadarannya, tubuh Agen Block mulai berubah pucat pertanda dia berjumpa dengan kematian.