"Mar, Mar pulang!" teriak Lisna dari jauh.
"kenapa?" tanya Marlina juga dengan berteriak, Lisna semakin mempercepat langkahnya untuk menghampiri Marlina.
"dirumah kamu lagi rame," ucap Lisna dengan nafas tersengal.
"ih, atur napas dulu."
"huft...huft...Mar itu dirumahmu lagi rame, jurangan Deni marah-marah sama bapakmu."
"hah?" Marlina membuang aritnya kesembarang arah dan segera berlari ke rumah, kekhawatiran menguasai pikirannya.
"Pak, Bapak!" Marlina histeris saat melihat rumah reyot milik orang tuanya sudah porak poranda, perabot yang hanya tikar usang dan lemari tua sudah berada diluar, bersama panci-panci milik mereka.
"kenapa ini, Pak?" Marlina menangis memeluk tubuh ringkih Bapaknya.
"oh, ini anakmu yang kata orang secantik rembulan?" juragan Deni melangkah mendekati Marlina, untuk mengamati wajah gadis itu lebih dekat. Marlina segera membuang mukanya.
"Kenapa, cantik?" juragan Deni mencolek Pipi Marlina dengan penuh hasrat, melihat kecantikan sang kembang desa seketika menutup akal sehatnya yang memang tinggal tebuka setengah. Juragan Deni terhipnotis dengan para cantik, kulit putih bersih dan sepasang bola mata coklat Marlina. Gadis yang memiliki kecantikan diatas rata-rata para gadis desa. Juragan Deni menatap kedua anak buahnya dan memberi isyarat untuk membawa Marlina pergi bersamanya, gadis itu akan menjadi santapan malam mewah untuk juragan Deni yang terkenal belang diseantero desa.
"Pak! Bapak tolong Marlina." Marlina terus memberontak saat kedua tangannya berada dalam genggaman erat kedua anak buah juragan Deni.
"tolong jangan bawa anak saya, Juragan." Pak Iman memohon bersimpah di kaki Deni, tanpa belas kasih lelaki itu menendang tubuh Pak Iman hingga terpental, Marlina naik darah dan menendang-nendangkan kakinya sehingga dia terlihat seperti bergelantungan.
"kurang ajar, biadab kau Deni," bentak Marlina. Warga desa yang tiba setelah mendengar keributan hanya bisa menonton aksi brutal Deni, tanpa menunggu malam tiba, Deni menyeret tubuh Marlina kedalam gubuk yang sudah mereka rusak, Pak Iman dengan tubuh tuanya mendapat tendangan yang kuat membuatnya tak berdaya di tanah.
"mau kau apakan anakku, Juragan?" Pak Iman hanya bisa menangis, hutang yang tak kunjung terbayar membuatnya berada dalam posisi ini.
"Bapak!" suara Marlina terus terdengar berteriak dari dalam rumah, Deni memulai aksi menggagahi gadis perawan sang kembang desa. Pak Iman mengumpulkan segenap tenaga dan berjalan perlahan ke arah rumahnya dengan sebilah pisau dapur ditangannya. Sayang seribu sayang, anak buah Deno dengan cepat merampas dan menusukkan pisau itu ke perut Pak Iman, sehingga lelaki tua itu terkapar bersimbah darah.
Para warga yang menyaksikan seketika langsung masuk ke dalam rumah masing-masing, sedangkan beberapa orang lainnya mengevakuasi tubuh Pak Iman yang tak lagi bernyawa.
"Mampus tuh, si Marlina. kecentilan sih," ujar seorang perempuan paru baya, dan disetujui oleh perempuan-perempuan lainnya. Sedangkan Lisna menangis sendiri dalam kamarnya, setelah orang tuanya mengunci Lisna disana agar tak ikut campur masalah Marlina, sahabatnya.
Didalam rumah, noda darah mengenai ujung baju Marlina yang dijadikan Deni sebagai alas. Setelah melepaskan nafsu bejatnya, Deni merengsek keluar dengan bangga dan senang. Seumur-umur baru kali ini, dia berhasil menggagahi seorang perawan. Deni dan anak buahnya pun kembali ke rumah Deni.
Deni adalah seorang juragan kaya raya di desa itu, para warga takut kepadanya, karena Denilah satu-satunya pembeli hasil pertanian mereka, Deni bukan tidak pernah dilaporkan ke polisi, tapi lelaki itu kebal hukum, dia selalu lepas dari jerat, keesokannya justru pelapornya lah yang ditemukan tewas. Hal itu membuat ketakutan para warga untuk melawan Deni.
Marlina masih berada dalam rumahnya, menangisi nasib yang seolah tak pernah berpihak padanya. Marlina beranjak memakai pakaiannya kembali.
"Bapak? Bapak, hiks...hiks..hiks.." Marlina mendapati darah ditanah, membuatnya histeris memanggil-manggil bapaknya.
"Marlina, mari ikut ke rumah," seorang wanita tua mengajaknya untuk ke rumahnya. Di dalam rumah itu, sudah terbaring jasad tanpa jiwa.
"Bapak!" Marlina berhambur memeluk bapaknya, yang sudah kaku.
"jangan tinggalin Marlina, Pak!" gadis itu sangat histeris, kehilangan kedua kali yang menyiksa batinnya. Dua tahun yang lalu, sang ibu juga berpulang dengan keadaan yang tak menguntungkan. Ibu Marlina ditemukan tewas dengan tubuh tanpa satu helai benangpun di pinggiran sawah, beberapa tetangga bergosip ibunya dibunuh oleh selingkuhan, padahal itu fitnah keji yang dibuat oleh Deni, agar kebejatannya tidak terendus, Marlina memperoleh warisan kecantikan dari ibunya.
"sabar, Nak. Ikhlaskan Bapakmu, semoga Allah menerimanya," ujar Nenek Tua itu menenangkan Marlina. Menjelang ashar, pemakaman dilangsungkan, Marlina yang tidak memiliki apapun, memutuskan untuk tidak mengadakan tahlilan, cukuplah baginya mengirim doa untuk kedua orang tuanya, yang tersisa bagi Marlina hanya kebencian.
"Mar, ini Nenek buatkan satu baki untuk dibaca, kita kirim tahlil untuk bapakmu, Nenek juga sudah panggil Rahmat."
"makasih banyak, Nek." Marlina terharu, dan sangat berterimakasih. Tahlilan sudah dilaksankan, walau dengan sangat seadanya, karena Marlina maupun Nek Yam, sama-sama orang tak punya.
Seminggu sudah Marlina berada di rumah Nek Yam, gadis itu enggan bertemu warga, dia malu karena kehilangan keperawanan, selain itu kebencian juga merasuk dalam hatinya.
"Nek, Marlina mau merantau," ujar Marlina saat menikmati beberapa potong singkong rebus untuk sarapan.
"kemana, Mar? kamu mau kerja apa?" kemiskinan membelenggu Marlina dan keluarganya, hingga dia tak bisa mengenyam pendidikan, banyak anak-anak desa yang tinggal dikecamatan untuk bersekolah, tapi Marlina menerima nasibnya yang harus membantu ibu dan bapaknya bekerja sebagai buruh tani di kebun tetangga.
"kemana saja, Nek. Marlina gak kuat kalau disini terus." mata cantik gadis itu mulai berkaca-kaca. Nek Yam tidak bisa menahan, toh Marlina sudah cukup dewasa untuk memilih yang terbaik bagi hidupnya.
Keesokkan harinya, Marlina sudah bersiap dengan sebuah buntalan kain berisi beberapa helai pakaiannya. Entah kemana dia akan pergi, yang Marlina tahu dia harus segera meninggalkan desa sebelum Deni itu kembali mencarinya.
Bertahun-tahun Marlina bekerja sebagai pembantu dikota, dia berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah, dengan kecantikan dan sedikit ajian pemikat, Marlina berhasil menjerat para calon korban untuk mendapatkan harta, Marlina bersukutu dengan setan, setan yang paling ganas, HAWA NAFSU.
hari itu Marlina memutuskan untuk pulang ke desa, demi membalas dendam atas semua yang menimpahnya dimasa lalu, Marlina lupa, bahwa segala yang terjadi berada dibawah kehendak Tuhan.
"Malina?" tanya seorang wanita sepantaran usianya, ketika Marlina turun dari Pajero hitam peninggalan suami-suaminya yang telah menjadi tumbal.
"Lisna?" Marlina dan Lisna saling merangkul karena akhirnya mereka bertemu. Lisna mengajak Marlina kerumahnya.
"Bapak dan Ibuku sakit, Mar, ujar Lisna dengan sedih.
"sakit apa, Lis?" tanya Marlina, berpura-pura menunjukkan simpati.
"gak tahu, Bapak dan Ibu jadi lumpuh tiba-tiba tapi kata Bu Bidan gak ada masalah, mau ke dokter kami gak ada biaya."
"aku turut prihatin, ya Lis. Ini aku sedikit untuk Ibu dan Bapak, semoga bisa membantu." Marlina memberi segepok uang merah kepada Lisna.
"terimakasih Mar, kamu sudah sangat sukses sekarang." Lisna sangat senang karena uang yang diberi oleh Marlina.
"udah, gak seberapa. Oh ya, aku ke rumah Nek Yam dulu, ya, Lis." Marlian segera keluar dari rumah Lisna setelah memastikan kedua orang calon tumbalnya sudah tak berdaya, tanpa memberi kecurigaan kepada Lisna, sahabatnya sendiri.
Marlina beranjak ke rumah Nek Yam, ternyata wanita tua itu sudah tidak tinggal di rumah lama, tetapi memilih untuk berdiam diri di pondok sawahnya yang hanya sepetak.
"Nek Yam?" teriak Marlina, saat dari jauh melihat Nek Yam, membersihkan sawah dari rumput-rumput liar.
"Mar? Ya Allah, Mar." Nek Yam dan Marlina berpelukan dengan haru, sosok Marlina yang sudah berubah membuat Nek Yam merasa sangat bahagia.
"Ayo masuk, Mar." mereka duduk di dalam pondok yang tidak luas.
"Nek, kenapa tinggalnya disini?" tanya Marlina yang merasa prihatin.
"lebih baik disini, Mar. Disana Nenek sedih melihat tingkah warga yang tidak terkendali, banyak yang meninggal akhir-akhir ini, belum lagi juragan Deni, makin jelek saja kelakuannya."
"Marlina akan buatkan rumah untuk Nek Yam, Marlina akan berdiam disini dulu beberapa bulan," ujar Marlina. Hal itu membuat Nek Yam bahagia.
"bagus kalau gitu, Mar. Tapi, Mar apa yang kamu kerjakan di kota?" kekayaan tiba-tiba yang dibawa Marlina sedikit mengulik keheranan dihati Nek Yam.
"Marlina pembantu, Nek. terus nikah sama majikan. Tapi, beberapa bulan yang lalu, suami Mar meninggal." Marlina menunduk, sedikit menyesali perbuatannya.
"Ya Allah, yang sabar, ya, Mar." Setelah berbincang, Marlina mengjak Nek Yam untuk membeli bahan bangunan untuk merenovasi rumah, juga menyerahkan segala sesuatunya kepada tukang yang bekerja merenovasi rumah Nek Yam.
satu minggu sudah Marlina berada di desa, perempuan itu dengan ajiat pemikat, semakin menjerat para lelaki untuk lama-lama menatapnya. Hal itu semakin memperparah rasa dengki dihati wanita-wanita di desanya.
"Marlina, janda bolong, keluar kamu!" teriak Inem, perempuan yang sejak dulu sangat membenci Marlina, karena suaminya sangat tergila-gila dengan gadis itu.
"kenapa, Nem? haahahahaha." Marlina tertawa terbahak-bahak setelah melihat wajah Inem yang dipenuhi bintik merah, apalagi kalau bukan karena sihir yang dikirimkan Marlina melalui suami Inem setelah mereka berhubungan semalam.
"diam kau, kau berbuat apa semalam dengan suamiku, Ha?" Inem semakin naik darah, dan berteriak-teriak mengundang perhatian warga yang bekerja disawah.
"jangan kau asal ,ya, Nem. semalam aku disini, gak kemana-mana," bantah Marlina. memang, Marlina tidak kemana-mana tetapi nyi pelet kesepianlah yang menggunakan wujud Marlina untuk meraup belaian dari para pria hidung belang.
"udah, jangan bohon kamu, suamiku sendiri yang ngomong."
"eh, kenapa ini, Nem? teriak-teriak gak enak di dengar orang." Nek Yam datang menengahi.
"jangan bela perempuan gatal itu, Nek. Dia tidur dengan suamiku semalam."
"jangan asal kamu, Nem. Marlina di rumah gak keluar-keluar sejak kemarin." perbantahan terus terjadi, dan berhenti ketika juragan Deni tiba. Lelaki yang dulu merampas kewanitaan Marlina kini ada didepan mata.
"heh, berani buat gaduh, kusita sawahmu," ancam Deni kepada Inem, wanita itu takut dan segera pergi.
"Marlina," lirih Deni, darahnya berdesir menatap wanita yang semakin cantik dan mempesona.
"Nek, tunggu disini, Mar ada urusan sedikit." Marlina segera bergegas menghampiri Deni, lelaki itu mengajak Marlina kerumahnya dengan mengendarai sepeda motor.
"Marlina, kami semakin cantik." Deni menatap Marlina dari atas sampai bawah, membuat darahnya berdesir.
"pelan-pelan, Mar tau, Mas rindu, tapi jangan buru-buru," lirih Marlina dengan sengaja mendayu-dayukan suaranya, sambil mencoba melepas pelukan Deni ditubuhnya.
"ambil dia, Nyi. hukum dia pelan-pelan sampai tak berdaya," ucap Marlina dalam hati. Deni yang sudah tak tahan dengan segera mengambil ancang-ancang kemudian memulai aksi menjamah tubuh Marlina yang bukan lagi sosok aslinya. Melaikan sekutu perempuan itu. Kembali Deni yang tak pernah puas akan tubuh wanita, terbuai oleh nafsu duniawi, hingga tak bisa lagi dia melihat jelas siapa sosok yang dise*****hinya.
hari demi hari Marlina lewati dikampung itu, tak terhitung berapa banyak lelaki yang menjadi korban ketamakannya yang juga tenggelam dalam dendam, bukan hanya para lelaki yang menggaulinya, tetapi juga istri-istri bahkan orang tua mereka yang suka bergosip tentangnya. Nasib Deni tak kalah mengerikan, tubuhnya semakin loyo dengan barang yang terus me****gang, semua itu adalah perbuatan Marlina yang ingin menuntut balas. Deni sudah ditinggalkan oleh istri-istri dan anak buahnya, tinggal seorang diri digubuk reyot karena hartanya habis dikuras oleh Marlina, yang meminta dinikahi dan mendapat seluruh harta Deni.
Rumah Nek Yam yang direnovasi juga sudah dapat ditempati, Marlina mengundang beberapa orang disekitar rumah untuk mengadakan acara selamatan.
"Eh, maaf." ucap seorang lelaki muda yang tampan. Mengenakan peci putih senada dengan baju koko dan dipadukan dengan sarung berwarna cokelat.
"iya tidak apa-apa." Marlina tersenyum manis kepada lelaki, yang belakangan diketahui namanya Haris. Imam masjid baru sekaligus guru honorer didesanya yang dulu merantau sebagai pelajar di kota.
sejenak saling memandang, namun Marlina bergegas memalingkan muka, setelah ruh Nyi Pelet yang melekat ditubuhnya merasa tak nyaman. Marlinapun segera kembali ke dapur.
"bagaiman, Nak?" tanya Nek Yam kepada Haris.
"sepertinya benar, Nek. Kita harus menyelamatkan dia." jawab Haris dengan setengah berbisik.
berasmbung....😁 kalau ada banyak yang minat ingin kubuat Novel🙈🙈