"Jadi bagaimana?.... Apakah hubungan kita ini harus di akhiri atau tidak?...."
"........." Tidak ada jawaban.
"JAWAB AKU!!!!!"
"AKU TIDAK JUGA TAHU!!!!" Sahut sang wanita penuh penekanan.
Sepasang kekasih tengah bertengkar di sebuah cafe coffee shop dan ada seseorang wanita yang tengah memesan sembari memandangi mereka berdua dengan tatapan getir.
Wanita itu menghela nafas, "Heh! Dasar sepasang kekasih bodoh.... Mereka bertengkar di tempat ramai. Apakah mereka berdua tidak malu..... Ada-ada saja..." Cibirnya. Wanita itu pun kembali fokus kepada pesanannya.
Sang pria menatap tegas kepada wanitanya, "Kau berselingkuh di belakang ku. Tapi kau tidak mau untuk memutuskan hubungan ini? Yang benar saja?" Ia pun tertawa getir.
Dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang tengah duduk di depannya itu.
Sang kekasih yang seharusnya merasa bersalah karena berselingkuh di belakang sang pria, ia malah tersenyum mengejek melihat pria tersebut sembari bersedekap dada, "Tentu saja jelas aku tidak bisa memutuskan hubungan ini. Karena kedua belah pihak keluarga kita yang membuat kita berdua menjadi sepasang kekasih bukan? Apakah kau lupa?" Wanita itu tersenyum mengejek.
"Dan hubungan ini tidak bisa di akhiri. Kita berdua juga sudah di jodohkan sendari kecil. Bukankan nya begitu?"
Mendengar penuturan wanita tersebut sang pria mengengam gelas kaca yang berada di atas meja dengan kuat karena tengah menahan emosinya.
Tanpa ia sadari dan ia duga, gelas yang ia remas pecah dan mengakibatkan tangannya terluka. Namun... Dirinya tidak perduli dengan semua itu. Ia terus menatap sengit kearah wanita didepannya yang tengah tersenyum menyungging, "Dasar wanita ular..." Geramnya.
"Seterah kau mau mengatai ku apa. Tapi yang jelas... Aku akan menjadi istri mu nanti dan kau tidak bisa mengelak hal itu." Tiba-tiba saja seorang pria yang menjadi selingkuhan wanita itu pun muncul dan berdiri di samping wanitanya.
Wanita tersebut berdiri kemudian menggandeng tangan kekasihnya. Sebelum ia meninggalkan pria malang tersebut, dirinya mengambil sebuah gelas yang berisi air putih dan langsung menyiratkan nya ke kepala pria malang tersebut. Dan setelah itu ia berlalu pergi dari cafe coffee shop.
Pria malang itu hanya bisa menahan emosinya saja di perlakukan seperti tadi oleh nyilampir yang menjelma menjadi seorang wanita cantik namun berdesik.
Ia terus memandangi lukanya. Ada sedikit rasa penyesalan karena ia terlalu terbawa emosi yang menyebabkan seperti ini.
Ada beberapa pecahan kaca gelap yang menempel di lukanya. Di saat ia memutuskan untuk membiarkan luka tersebut ketika ia akan mengepalkan tangan.
Ada sebuah tangan wanita yang menghalangi niatnya itu. Wanita tersebut wanita yang tengah memesan kopi tadi sembari menyibirinya.
"Jika kau membiarkan luka mu seperti ini, mungkin tangan mu ini akan segera di amputasi jika kau tidak segera mengobatinya."
Pria itu hanya diam dan tak bergeming ketika wanita itu menatapnya.
Wanita itu pun duduk di kursi dan menaruh kota p3k yang ia minta kepada pelayanan di cafe tersebut.
Wanita itu mulai mengobati luka sang pria dengan hati-hati dan sangat teliti takut akan menambah rasa sakit.
Ketika luka tersebut di obat merah setelah sepihak kaca gelas sudah di bersihkan dari tangan, pria itu meringis kesakitan dan hal itu sepontan membuat wanita tersebut khwartir.
"Apakah sakit?" Tanyanya begitu khwartir dan pria itu hanya mengaguk polos.
"Tahan lah, ini mungkin akan terasa sakit namun ini bisa menyembuhkan." Setelah itu ia kembali memberikan obat merah kepada luka pria tersebut.
Setelah acara mengobati selesai, wanita itu pun berdiri untuk beranjak pergi. Namun sebelum ia pergi, dirinya melempar senyum manisnya kepada pria tersebut terlebih dahulu.
"Belajarlah melawan, kau sebenarnya orang yang sangat baik." Setelah mengatakan hal itu, wanita itu pun pergi sembari membawa kotak p3k.
Sebelum hal itu benar-benar terjadi, pria tersebut langsung berdiri dan menahan tangannya, "Siapa namamu?"
Dan wanita itu hanya bisa menatap pria tersebut bingung.
*What's this?*
Setelah pergi tuk membeli coffee shop di sebuah cafe barusan, wanita tadi kembali ke kantornya yang di mana ia berprofesi sebagai disain interior majalah di perusahaan interior yang baru berkembang, dengan ingatan yang masih berputar memikirkan pria aneh tadi sembari berjalan melangkah masuk.
Wanita itu menatap ke depan namun blur sembari memicingkan kepalanya, "Kenapa pria tadi bertanya nama ku? Issss aneh." Gumamnya.
Dirinya melanjutkan langkah kaki. Sesampainya ia sekarang dan tengah berada di depan komputernya.
Dirinya kembali mengerjakan disain yang kliennya inginkan yang tadi sempat tertunda.
"Nita, tolong serahkan disain ini kepada Presdir. Dia sudah pulang dari liburannya selama 3 bulan. Dan kau juga belum sempat menemui bos kan semenjak kau baru di terima di perusahaan?"
Rekan kerjanya tiba-tiba saja menghampiri dan langsung menyuruhnya untuk menyerahkan sebuah tugas yang di mana itu bukan tugasnya! Yang benar saja?
"T-tapi.... Pekerjaan ku menumpuk, apa tidak bisa kau saja yang menyerahkan nya langsung?..."
"Aku juga banyak sekali pekerjaan, dan ini bukan tugas ku juga melainkan tugas direktur sialan itu yang menyuruh ku." Ujarnya kesal.
"Tapi..."
"Ayolah... Kumohon... Tolong bantu Aku kali ini saja ya?.... Kumohon..." Shit kenapa dia harus memelas seperti itu.
"Ah baiklah-baiklah... Akan aku serahkan segera nanti."
"Benarkah?" Tiba-tiba saja matanya berubah berbinar.
"Em benar." Wanita yang bernama Nita itu mengaguk.
"Kalau begitu.... Aku pergi dulu ya? Dadah Terima kasih banyak loh..." Dan ia pun berlalu pergi dengan cepat.
Nita hanya bisa menghela nafas sembari memandangi tumpukan berkas disain tersebut.
Tapi untungnya ia tidak harus mengerjakan tugas tersebut tapi melainkan hanya sekedar menyerahkannya saja kepada sang Presdir yang tidak pernah ia lihat batang hidupnya selama ia bekerja 3 bulan di perusahaan yang ia singgahi ini.
Nita berada di depan pintu ruangan sang Presdir. Ia sedikit gugup karena belum pernah sama sekali dirinya melihat Presdir perusahaan kecilnya ini.
Nita perlahan membuka pintu dan...., "kau?!" Cicitnya begitu terkejut.
Ketika pintu itu sudah di buka lebar, ia hanya bisa terdiam di tengah-tengah jalan keluar dan jalan masuk ruang tersebut.
Ternyata Presdir nya adalah.... Pria malang nan aneh tadi.
Pria tersebut tersenyum sembari melangkah mendekat ke arah Nita kemudian ia mencondongkan tubuhnya tuk melihat wajah terkejut wanita tersebut dengan jarak dekat.
"Hai." Gila pria itu malah menyapanya sembari terkekeh kecil dan Nita hanya bisa terdiam tidak percaya.
THE AND
*What's this*
So bagaimana ceritanya? Silahkan komentar.
"Jadi bagaimana?.... Apakah hubungan kita ini harus di akhiri atau tidak?...."
"........." Tidak ada jawaban.
"JAWAB AKU!!!!!"
"AKU TIDAK JUGA TAHU!!!!" Sahut sang wanita penuh penekanan.
Sepasang kekasih tengah bertengkar di sebuah cafe coffee shop dan ada seseorang wanita yang tengah memesan sembari memandangi mereka berdua dengan tatapan getir.
Wanita itu menghela nafas, "Heh! Dasar sepasang kekasih bodoh.... Mereka bertengkar di tempat ramai. Apakah mereka berdua tidak malu..... Ada-ada saja..." Cibirnya. Wanita itu pun kembali fokus kepada pesanannya.
Sang pria menatap tegas kepada wanitanya, "Kau berselingkuh di belakang ku. Tapi kau tidak mau untuk memutuskan hubungan ini? Yang benar saja?" Ia pun tertawa getir.
Dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang tengah duduk di depannya itu.
Sang kekasih yang seharusnya merasa bersalah karena berselingkuh di belakang sang pria, ia malah tersenyum mengejek melihat pria tersebut sembari bersedekap dada, "Tentu saja jelas aku tidak bisa memutuskan hubungan ini. Karena kedua belah pihak keluarga kita yang membuat kita berdua menjadi sepasang kekasih bukan? Apakah kau lupa?" Wanita itu tersenyum mengejek.
"Dan hubungan ini tidak bisa di akhiri. Kita berdua juga sudah di jodohkan sendari kecil. Bukankan nya begitu?"
Mendengar penuturan wanita tersebut sang pria mengengam gelas kaca yang berada di atas meja dengan kuat karena tengah menahan emosinya.
Tanpa ia sadari dan ia duga, gelas yang ia remas pecah dan mengakibatkan tangannya terluka. Namun... Dirinya tidak perduli dengan semua itu. Ia terus menatap sengit kearah wanita didepannya yang tengah tersenyum menyungging, "Dasar wanita ular..." Geramnya.
"Seterah kau mau mengatai ku apa. Tapi yang jelas... Aku akan menjadi istri mu nanti dan kau tidak bisa mengelak hal itu." Tiba-tiba saja seorang pria yang menjadi selingkuhan wanita itu pun muncul dan berdiri di samping wanitanya.
Wanita tersebut berdiri kemudian menggandeng tangan kekasihnya. Sebelum ia meninggalkan pria malang tersebut, dirinya mengambil sebuah gelas yang berisi air putih dan langsung menyiratkan nya ke kepala pria malang tersebut. Dan setelah itu ia berlalu pergi dari cafe coffee shop.
Pria malang itu hanya bisa menahan emosinya saja di perlakukan seperti tadi oleh nyilampir yang menjelma menjadi seorang wanita cantik namun berdesik.
Ia terus memandangi lukanya. Ada sedikit rasa penyesalan karena ia terlalu terbawa emosi yang menyebabkan seperti ini.
Ada beberapa pecahan kaca gelap yang menempel di lukanya. Di saat ia memutuskan untuk membiarkan luka tersebut ketika ia akan mengepalkan tangan.
Ada sebuah tangan wanita yang menghalangi niatnya itu. Wanita tersebut wanita yang tengah memesan kopi tadi sembari menyibirinya.
"Jika kau membiarkan luka mu seperti ini, mungkin tangan mu ini akan segera di amputasi jika kau tidak segera mengobatinya."
Pria itu hanya diam dan tak bergeming ketika wanita itu menatapnya.
Wanita itu pun duduk di kursi dan menaruh kota p3k yang ia minta kepada pelayanan di cafe tersebut.
Wanita itu mulai mengobati luka sang pria dengan hati-hati dan sangat teliti takut akan menambah rasa sakit.
Ketika luka tersebut di obat merah setelah sepihak kaca gelas sudah di bersihkan dari tangan, pria itu meringis kesakitan dan hal itu sepontan membuat wanita tersebut khwartir.
"Apakah sakit?" Tanyanya begitu khwartir dan pria itu hanya mengaguk polos.
"Tahan lah, ini mungkin akan terasa sakit namun ini bisa menyembuhkan." Setelah itu ia kembali memberikan obat merah kepada luka pria tersebut.
Setelah acara mengobati selesai, wanita itu pun berdiri untuk beranjak pergi. Namun sebelum ia pergi, dirinya melempar senyum manisnya kepada pria tersebut terlebih dahulu.
"Belajarlah melawan, kau sebenarnya orang yang sangat baik." Setelah mengatakan hal itu, wanita itu pun pergi sembari membawa kotak p3k.
Sebelum hal itu benar-benar terjadi, pria tersebut langsung berdiri dan menahan tangannya, "Siapa namamu?"
Dan wanita itu hanya bisa menatap pria tersebut bingung.
*What's this?*
Setelah pergi tuk membeli coffee shop di sebuah cafe barusan, wanita tadi kembali ke kantornya yang di mana ia berprofesi sebagai disain interior majalah di perusahaan interior yang baru berkembang, dengan ingatan yang masih berputar memikirkan pria aneh tadi sembari berjalan melangkah masuk.
Wanita itu menatap ke depan namun blur sembari memicingkan kepalanya, "Kenapa pria tadi bertanya nama ku? Issss aneh." Gumamnya.
Dirinya melanjutkan langkah kaki. Sesampainya ia sekarang dan tengah berada di depan komputernya.
Dirinya kembali mengerjakan disain yang kliennya inginkan yang tadi sempat tertunda.
"Nita, tolong serahkan disain ini kepada Presdir. Dia sudah pulang dari liburannya selama 3 bulan. Dan kau juga belum sempat menemui bos kan semenjak kau baru di terima di perusahaan?"
Rekan kerjanya tiba-tiba saja menghampiri dan langsung menyuruhnya untuk menyerahkan sebuah tugas yang di mana itu bukan tugasnya! Yang benar saja?
"T-tapi.... Pekerjaan ku menumpuk, apa tidak bisa kau saja yang menyerahkan nya langsung?..."
"Aku juga banyak sekali pekerjaan, dan ini bukan tugas ku juga melainkan tugas meneger sialan itu yang menyuruh ku." Ujarnya kesal.
"Tapi..."
"Ayolah... Kumohon... Tolong bantu Aku kali ini saja ya?.... Kumohon..." Shit kenapa dia harus memelas seperti itu.
"Ah baiklah-baiklah... Akan aku serahkan segera nanti."
"Benarkah?" Tiba-tiba saja matanya berubah berbinar.
"Em benar." Wanita yang bernama Nita itu mengaguk.
"Kalau begitu.... Aku pergi dulu ya? Dadah Terima kasih banyak loh..." Dan ia pun berlalu pergi dengan cepat.
Nita hanya bisa menghela nafas sembari memandangi tumpukan berkas disain tersebut.
Tapi untungnya ia tidak harus mengerjakan tugas tersebut tapi melainkan hanya sekedar menyerahkannya saja kepada sang Presdir yang tidak pernah ia lihat batang hidupnya selama ia bekerja 3 bulan di perusahaan yang ia singgahi ini.
Nita berada di depan pintu ruangan sang Presdir. Ia sedikit gugup karena belum pernah sama sekali dirinya melihat Presdir perusahaan kecilnya ini.
Nita perlahan membuka pintu dan...., "kau?!" Cicitnya begitu terkejut.
Ketika pintu itu sudah di buka lebar, ia hanya bisa terdiam di tengah-tengah jalan keluar dan jalan masuk ruang tersebut.
Ternyata Presdir nya adalah.... Pria malang nan aneh tadi.
Pria tersebut tersenyum sembari melangkah mendekat ke arah Nita kemudian ia mencondongkan tubuhnya tuk melihat wajah terkejut wanita tersebut dengan jarak dekat.
"Hai." Gila pria itu malah menyapanya sembari terkekeh kecil dan Nita hanya bisa terdiam tidak percaya.
THE AND
*What's this*
So bagaimana ceritanya? Silahkan komentar.