Disebuah damparan laut yang begitu luas. Seorang gadis berdiri di depan lautan itu. Dengan wajah yang panik serta di selimuti rasa takut. Bingung. Kenapa tiba-tiba dirinya bisa berada di sebuah pulau yang sudah di kelilingi banyak lautan. Padahal seingatnya tadi dirinya masih berada di rumah. Aneh.
Gadis itu mulai berjalan menelusuri pulau itu. Lambat-laun tubuhnya mulai bergetar akibat ketakutan, gadis itu memberanikan diri berteriak meminta pertolongan.
“Tolong! Apa di sini ada orang? Tolongin gue plis!!!” teriak itu dengan suara merintih.
Tanpa di sengaja Langkah kaki nya tersandung sebuah kayu besar. Ia terduduk melihat kakinya yang sempat tersandung itu. “Aw,ihh sial banget sih!” umpat nya sambil memegangi tumit kakinya yang terasa terkilir.
Tiba-tiba terdengar sesuatu. “SREKKK!” bunyi daun yang terinjak pun semakin membuat gadis itu yakin bahwa ada orang yang akan membantunya untuk pulang. Dengan sigap gadis itu terus menjelajahi sekitar.
“Lo siapa?” ucap seseorang cowok dengan suara acuh tak acuh dari arah belakang. Awalnya gadis itu ragu untuk menoleh, ia takut kalo orang itu ada niat buruk olehnya. Tapi gadis itu tak punya pilihan lagi.
“To-tol...tolongin gue,” ucap gadis itu dengan terbata-bata.
“Lo siapa kok bisa di sini?” tanya cowok itu. Setelah mendapatkan respon yang baik, alhasil gadis itu juga sudah tidak merasa takut lagi. Ia menunduk bersedih sambil berbicara mencerikan apa yang sebenarnya terjdi.
“Iya gue juga gak tau, tadi tuh padahal lagi di rumah terus gue tidur dan gue tiba-tiba...udah ada di sini. Lo tau gak sih masa gue tiba-tiba nyasar di pulau kecil kaya gini. Kan gak masuk akal banget!” ucapnya yang tak ada jeda sedikit pun.
“Aneh kan? Kalo menurut lo gima...” ucapan gadis itu menggantung setelah melihat cowok itu sudah tidak ada di depannya. Melainkan sedang fokus mencari kayu di sekitarnya.
“Lah berarti gue daritadi ngomong sendiri dong? Ihh ngeselin banget sih!” gerutu gadis itu dengan kesal.
Dengan malas gadis itu menghampiri cowok itu. “Oh iya btw, nama lo siapa?”
“Bukan urusan lo!” ketus cowok itu tanpa melirik sedikit pun ke arahnya.
“Ih dingin banget sih lo! Gue kan cuma nanya. Yaudah deh gue duluan aja.” Gadis itu dengan percaya diri mengangkat tangannya sambil tersenyum. “Kenalin gue Clara!” Lagi-lagi cowok itu mengabaikan ucapannya, pergi lagi tanpa sepatah kata pun.
“CK, sabar Ra sabar. Gue cuma butuh bantuannya doank setelah itu beres!” celetus Clara seraya mengibas-ibas rambutnya yang terasa panas akibat pancingan emosi yang ia tahan sejak tadi.
***
Setelah berhasil membuntuti cowok mnyebalkan itu. Akhirnya ia bisa berjalan sejajar olehnya. Clara terus menatap cowok itu dari samping sambil senyum yang mengembang. Tapi padahal semua itu fake, karena kita tau apa tujuan dari gadis itu.
Ganteng, tapi sayang ngeselin.
Itu lah kalimat yang sempat ia lontarkan untuk cowok itu. Tapi ungkapan itu sirna begitu saja setelah melihat tingkah acuh cowok itu.“Eh iya, ini gak ada orang lagi apa selain kita?”
Pandangan Clara terus menjelajahi sekitar, memperici setiap sudut. Jujur gadis itu takut, apalagi di hutan sepi seperti ini. Belum lagi banyak binatang buas yang siap melahap tubuh mungilnya akibat kelaparan.
Kemudian tanpa terasa mereka berdua sudah keluar dari hutan. Clara pun sempat terkejut, ternyata masih ada orang lain lagi. Terdapat rumah-rumah kecil yang terbuat dari gubuk lusuh yang sudah tidak layak di pakai. Kalo di bandingkan oleh rumah Clara jauh tidak ada apa-apanya.
“Eh den Alwi, dari mana?” tanya seorang wanita paruh baya yang menyapa nya di tengah perjalanan. Untuk pertama kalinya cowok itu memamerkan senyumannya di depan Clara.
“Iya nek, nih abis cari kayu bakar,” jawab nya dengan ramah.
“Oh ternyata nama lo Alwi hihi,” ledek Clara seraya tertawa kecil.
Setelah sampai, Clara sedikit melongo melihat tempat tinggal Alwi. Tapi it’s okey, karena Clara juga sempat merasa hidup susah waktu kecil.
“Bokap nyokap lo mana?” tanya Clara dengan santai.
“Udah gak ada.”
“Eh...sorry g-gue gak bermaksud.”
Alwi menghampiri Clara yang sedang duduk di depan teras rumahnya. Cowok itu pun ikut duduk di sampingnya. Mengangkat kaki gadis itu. “Eh mau ngapain?” tanya Clara yang bingung melihat aksi Alwi.
“Tahan bentar,” ucap Alwi. Cowok itu berusaha memijit dan memnggoyangkan tumit kaki Clara yang tadi terkilir.
“AW!” ringis gadis itu.
“Masih sakit gak?” Clara hanya menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.
“Makasih.”
“Lo mau makan apa?”
“Lo nanya gue?” tanya Clara yang tak percaya mendengar ucapan Alwi yang berubah menjadi baik.
“Disini emang ada siapa lagi?”
“Kok tumben lo ngomong.”
“Katanya tadi lo manusia bukan angin lalu. Jadi gak mau makan?”
Senyum Clara terbit dengan sempurna. “Eh iya-iya gue mau makan!” ucapnya dengan nada gembira.“Yaudah lo tunggu sini gue bikin makanan dulu.” sambungnya.
Clara menggaguk paham. Setelah Alwi pergi, terdengar seseorang memanggil namanya. “CLARA!” Clara yang merasa di panggil pun menoleh ke sana-sini.
“Mamah? Kok mamah di sini?” tanya gadis itu bingung.
“CLARA BANGUN!”
“Hah?”
Bugh!
“BANGUN UDAH SIANG, NANTI KAMU TELAT!”
Mata Clara perlahan terbuka, ternyata itu semua hanya mimpi.
“Ah apaan sih mah! Ganggu aja, aku lagi mimpi indah tuh!” gerutu Clara dengan kesal.
“Mimpi mimpi udah bangun Ra udah siang!” Karena tidak mau lebih banyak lagi mendengar ocehan mamahnya lagi, gadis itu pun dengan segera menuju kamar mandi.
***
Pagi ini Clara memasuki kelas nya dengan ceria. Pasalnya kejadian mimpinya tadi pagi masih memenuhi otaknya. Bagi gadis itu, mimpinya itu indah bisa bertemu cowok ganteng sesuai kriteria impiannya.
“Clara!” panggil seseorang gadis dengan senyum ramah kepada Clara. Yap, gadis itu adalah sahabat Clara sejak ia duduk di jenjang SMP. Dia lah satu-satunya sahabat yang bisa diandalkan.
“Pagi Ghina!” sapa Clara dengan ramah sekaligus senyum yang terus memancar sejak tadi.
“Tumben lo ceria, kesambet apaan dah?” Raut wajah Ghina di buat bingung setelah melihat tingkah Clara yang berbeda.
“Ehm...gue mau cerita nih. Tapi lo jangan anggep gue aneh ya,” bisik Clara yang sudah duduk di samping Ghina.
“Cerita apaan nih, yaudah gc cerita gue penasaran!”
“Jadi gini, gue kemarin ketemu cogan di mimpi!”
“WHAT! ARE YOU OKAY?” pekik Ghina.
“Lo gila ya, kirain gue lo beneran ketemu cowok ganteng. Eh Taunya Cuma mimpi kampret!” sambung Ghina dengan kesal.
“Tapi gakpapa, gue suka kok sama dia. Dan gue yakin mimpi gue bakal jadi nyata,” ucap Clara dengan mata yang berbinar.
“Cuma mimpi woi!” tangan Ghina pun menepuk pelan jidat Clara agar sadar dari halusinasinya.
***
Dua hari kemudian...
“Clara pulang!” teriak gadis itu dengan wajah lesunya.
“Eh udah pulang, yuk kita makan.” Ajak mamahnya.
“Gak deh mah nanti aja, Clara mau tidur ngantuk,” tuturnya dengan letih.
“Perasaan kamu kok tidur mulu sih!” ucapan mamahnya itu hanya diabaikan.
Clara merasa lesu,lemas,dan cape karena terus menunngu mimpi nya itu berlanjut. Karena pasalnya dalam dua hari berlalu, ia selalu tidak mendapatkan mimpinya itu lagi. Bahkan gadis itu sudah menyerah untuk menganggap bahwa mimpi itu akan berlanjut.
Clara memilih duduk di meja belajarnya. Karena merasa bosan, alhasil gadis itu mencoba menulis cerita di mimpinya itu di buku kosong nya.
Dan...
“Hah gue balik lagi?” tanya Clara pada dirinya sendiri saat ia sudah berada di tengah hutan.
“CLARA! LO DIMANA?”
Mendengar teriakan itu, Clara langsung tahu pasti bahwa itu Alwi. “ALWI GUE DI SINI!” teriak Clara dengan antusias.
Tak lama Alwi muncul. Terlihat dari raut wajah nya yang mengkhawatirkannya. “Ra lo kemana aja sih?!” bentak cowok itu, tanpa di sadari kini Alwi sudah memeluk Clara.
Clara berpikir sejenak, bingun harus menjawab apa. Tidak mungkin juga kalo ia harus cerita bahwa ini semua hanya mimpi di kehidupan nyatanya. “Sorry Al, gue tadi Cuma liat-liat doank. Eh Taunya gue sampe nyasar,” ucap Clara yang terpaksa berbohong.
“Lain kali gue gak mau ini terulang lagi,” ucap Alwi dengan nada yang masih khawatir.
“Cie lo khawatir ya sama gue,” ledek gadis itu sambil menunjuk wajah Alwi. Cowok itu malah mengabaikannya dan mengganti topik pembicaraan.
***
Hari-hari pun berlalu. Tanpa di sadari kini Clara sudah hamper dua hari di dunia mimpinya. Gadis itu senang bisa bermain di dalam mimpinya yang indah itu. Berharap tidak akan sirna begitu saja, rela tidak akan pernah bangun lagi dari mimpi nya selamanya. Karena di mimpinya lah yang mampu menemani, memahami, dan menyayangi dirinya. Di dunia nyata? Sudah cukup. Tapi tidak secukup mimpinya, karena di dunia nyata Clara lah yang paling tahu dirinya.
Clara terduduk manis di depan pantai yang berdesiran. Menikmati indahnya matahari terbenam. “Ra, lo gak mau balik ke rumah lo?”
“Hah?”
“Iya kan rumah lo jauh di kota, bukan di sini.”
“Oh gue kira apaan...gue lebih suka di sini Al,” ucap Clara yang masih fokus menatap lautan.
“Kenapa?”
“Karena gue di sini selalu senang sama lo,” ucap nya lagi sambil tersenyum.
“Ra?” perlahan Clara menoleh seraya mengankat sebelah alisnya seperti bertanya tanpa mengucap.
“G-gue...suka sama lo Ra,” ucap Alwi dengan pelan.
“Al lo serius?” Alwi mengangguk mantap.
“Gue mau lo janji sama gue.”
“Janji?”
“Janji gak akan pernah balik ke dunia lo yang di sana,” seketika pelupuk mata Clara berkaca-kaca. Mendengar permintaan Alwi malah membuat nya takut dan bersalah. Selama ini gadis itu berbohong, dunia ini lah hanya mimpi baginya. Mustahil jika Clara tidak akan bangun dari mimpi indahnya ini. Tetapi sekhawatir apa pun pikiran Clara, gadis itu tetap akan terus berdoa agar semua ini tidak akan berakhir.
“Ra!” panggilan Alwi mampu membuyarkan lamunan gadis itu.
“Iya Al aku janji.” Setelah mendengarkan ucapan Clara, Alwi langsung menyatukan jari kelingking mereka seperti ikatan saksi dari janji mereka.
“RA! CLARA! KAMU KENAPA?” tiba-tiba saja tubuh Clara memudar, tubuhnya pun perlahan mulai menghilang.
***
Satu bulan kemudian...
Dengan santai Clara terduduk anggun di depan cermin riasnya. Menatap kepahitan yang selama ini ia rasakan,rupanya gadis itu masih belum bisa melupakan mimpinya itu. Melupakan moment yang terindah dalam hidup itu memang sulit. Seperti langit yang tak akan pernah melupakan buminya.
“Clara! Cepat nanti telat lagi loh!” teriak mamahnya dari luar pintu kamar. Dengan malas gadis itu turun, dan beranjak pergi menuju sekolah.
Jam pelajaran pun sudah di mulai saat Clara hamper saja terlambat masuk kelas.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Tina yaitu walas mereka.
“Pagi bu!” jawab mereka serempak.
“Hari ini kita akan kedatangan murid baru,” jelas Bu Tina. “Sini masuk,” sambungnya.
Setelah murid itu masuk suasana kelas menjadi kacau dan riuh karena melihat ketampanan cowok itu. “Gila Ra anak barunya ganteng banget, coba dah liat,” titah Ghina yang membujuk Clara untuk mengangkat wajahnya yang ia sembunyikan di meja sejak tadi.
“Apa sih Ghin!” tanpa di sengaja bola mata Clara bertemu dengan cowok itu. Kaget. Seperti mimpi Kembali. Ternyata ini nyata.
“I-itu...cowok yang...ada di mimpi gue,” ucap Clara pelan.
“Hah? Serius lo?”
“Kenalin nama saya Bima prasgerland.” Ucap nya singkat.
Cowok itu juga sempat tersenyum manis kea rah Clara. Begitu pun Clara dengan senang ia membalas senyuman itu bercampur dengan rasa terharu.
Kini Clara mengerti dari sebuah mimpi menjadi kenyataan. Walapun kenyataan tidaklah indah dari mimpi, tapi kenyataan tetaplah kenyataan. Itu semua hanya bisa di jawab dengan takdir, karena tuhan punya caranya sendiri untuk mempertemukan para pasangan dengan cara apapun. So, jangan lupa bersyukur.
~END~