Brugh.
Brak!
Duagh!
Aku sedang berusaha memejamkan mata saat mendengar keributan dari ruangan sebelah. Entah apa yang sedang dilakukan penghuni baru itu.
Tapi ayolah, ini sudah jam 2 pagi. Tidak bisakah dia sedikit lebih tenang?
Dengan langkah berat aku pun turun dari atas ranjang. Lalu keluar dengan pakaian seadanya. Masa bodoh dengan pakaian, aku benar-benar butuh ketenangan.
Saat baru setengah badanku keluar dari pintu, kulihat penghuni sebelah juga baru kelar. Ah, kebetulan sekali, jadi aku tidak perlu menyakiti jemariku dengan memenceti bel ruangannya.
"He--"
Suaraku tertahan saat kulihat dia sedang menyeret sebuah karung besar. Mataku membola sempurna saat tak sengaja melihat karung itu bergerak-gerak. Memang penerangan hanya memancar seadanya, namun mataku masih jeli untuk menangkap gerakan pada karung itu.
Dengan didorong rasa penasaran aku pun mengikuti penghuni baru itu dari belakang dengan tetap menjaga jarak aman. Ketika ia turun menggunakan lift, aku turun dengan tangga darurat.
Hati kecilku mengatakan ada seseorang yang nyawanya sedang terancam.
Dengan terengah-engah aku menuruni tangga, untung saja apartemenku hanya berada di lantai 3. Kalau lantai 20 mending aku balik saja ke kamar. Kebetulan lift yang beres hanya yang sedang dipakai penghuni baru itu tadi, dan yang lainnya sedang dalam perbaikan.
Tepat disaat aku menyelesaikan tangga terakhirku, orang itu baru saja keluar menuju parkiran. Aku mengendap-endap saat melihatnya memasukkan karung itu di kursi penumpang mobilnya.
Nahkan, ada yang tidak beres. Kalau buntelan itu barang mati, kenapa tidak ditaruh di bagasi saja?
Aku menendang keras mobil yang sedang kugunakan untuk bersembunyi sehingga menimbulkan suara sirene.
Orang itu menoleh lalu mendekatiku. Umm.. Lebih tepatnya mobil di dekatku. Yes, target terpancing. Kali ini aku harus bersyukur karena memiliki tubuh yang mungil. Karena aku bisa melesat di belakang mobil dengan menunduk tanpa ketahun.
Ku dekati mobilnya yang masih terbuka, dan kembali terkejut saat mendengar suara samar seseorang.
"Tolong."
Aku yakin itu bukan suara hantu. Tapi suara dari dalam karung itu. Segera aku membuka tali di atasnya dan... Woila, seonggok rambut lengkap dengan kepalanya menyembul keluar dari dalam karung.
Jantungku hampir saja melompat dari tempatnya saat matanya dan mataku saling bertemu.
"Tolong."
Rintihan itu membuatku tersadar lalu masuk ke dalam mobil untuk mengeluarkannya dari karung goni biadab itu.
Segera kulepas tali yang mengikat tangan dan kakinya. Lalu kubimbing keluar dari mobil sambil melirik ke arah penghuni baru itu.
Oh tidak, dia melihat kami! Dan kini dia sudah berlari mendekat. Bagaimana ini?
"Hey! "
Penghuni baru itu meneriakiku dan pria dalam karung tadi. Kami sudah ketahuan. Aku pun hanya bisa pasrah.
"Pergilah, akan aku tahan dia," ujarnya yang membuatku melongo.
"T-tapi.. " aku khawatir dengannya.
"Pergi! "
Aku pun kembali menyelinap diantara mobil-mobil yang terparkir dengan rapi. Sekali lagi, aku harus berterimakasih dengan tubuh mungilku. Kalau pria tadi menyelinap seperti ini, dengan sangat mudahnya penghuni baru itu akan menemukan kami.
Sejak kejadian itu penghuni baru itu tidak pernah lagi pulang ke apartemennya. Baguslah aku sudah ketakutan setengah mati jika harus memiliki tetangga seorang psikopat.
Dan sejak itu pula aku harus mengganti tempat kerjaku. Aku dipecat karena datang terlambat. Sangat ironis. Aku menyelamatkan orang lain tapi hidupku jadi taruhannya. Meski aku tak yakin pria itu bisa selamat. Tapi itu bukan urusanku, yang aku pikiran sekarang adalah bagaimana aku bisa makan jika tidak bekerja?
Aku segera mencari pekerjaan lain dan pilihanku jatuh pada perusahaan Adnan Corp. Aku bersyukur dengan pengalamanku di kantor sebelumnya yang membuatku langsung diterima disini.
Namun bukan karyawan training jika tidak banyak cobaan. Masalahku sekarang adalah leader tim yang selalu saja memarahiku. Mengkomplain setiap apa yang aku kerjakan. Mengomentari setiap hasil kerjaku dengan kata-kata pedas, sepedas Boncabe level 100.
"Kamu karyawan baru?" aku menoleh ke arah suara itu.
"Iya Pak," jawabku sambil mendongak.
Aku pun langsung berdiri. Mata kami beradu. Dan kami sama-sama terkejut. Aku pernah bertemu dengan pria di hadapanku itu. Dia orang yang aku selamatkan dari tetanggaku si psikopat gila itu. Atau malah aku yang diselamatkan olehnya.
"K-kamu? " gumamku.
"Hey, bersikap hormatlah pada Pak Rendra. Beliau CEO di sini."
Mataku semakin terbelalak saat mendengar perkataan leader tim ku.
Aku segera menunduk mengetahui kesalahanku.
"Ke ruangan saya, " titah Pak Rendra cuek.
Dengan pasrah aku mengekorinya. Apakah aku akan dipecat di hari pertamaku bekerja? Oh, sialnya aku.
"Duduk."
Aku duduk di kursi depan meja Pak Rendra.
Bruk.
Setumpuk dokumen tiba-tiba saja dijatuhkan di hadapanku.
"A-apa ini, Pak?"
"Tolong bantu saya menandatangani kontrak dan mengarsip beberapa dokumen, " jelasnya yang membuatku bingung.
"Apakah saya tidak jadi dipecat?" tanyaku hati-hati.
Pak Rendra yang sudah duduk di depanku terkekeh pelan. Memangnya ada yang lucu dengan pertanyaanku?
"Mulai sekarang kamu akan menjadi sekertaris pribadi saya. "
Lagi-lagi pria itu membuatku syok. Apakah hobinya memang membuat jantungku bekerja lebih keras? Aku tak peduli, yang terpenting dia tidak memecatku.
Aku beranjak sambil membawa setumpuk kertas itu, namun Pak Rendra menahanku.
"Kerjakan di sini saja, " ujarnya sambil mengendikkan kepala ke arah mejanya.
"Hah?! "
Lagi-lagi dia membuatku syok. Apa dia serius menyuruhku bekerja di depan matanya?
Tuk.. Tuk.. Tuk
Pak Rendra mengetukkan jari telunjuknya di meja. Itu tandanya ia tak mau ada penolakan. Sebenarnya aku sangat risih bekerja sambil terus diamati olehnya. Tapi apa boleh buat. Ini demi kelangsungan hidupku.
"Ah.. " aku merentangkan tanganku ke atas saat pekerjaanku telah selesai.
Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku harus lembur di hari pertamaku kerja di sini. Benar-benar masa training yang melelahkan.
"Mari saya antar pulang. "
Aku menoleh ke asal suara. Pak Rendra? Dia belum pulang? Malah sekarang ia sudah ada di depan kantor dengan mobilnya. Apakah dia menungguku?
Aku melihat sorot menuntut pada matanya. Lagi-lagi aku harus menurut. Tapi aku juga bangga, kapan lagi coba karyawan baru bisa diantar pulang sama bosnya sendiri? Hehe.
"Terimakasih, " ucapnya memecah keheningan yang terasa canggung diantara kita.
"S-sama-sama, " balasku meliriknya sekilas.
Ternyata dia masih ingat insiden di parkiran itu. Bahkan dia masih ingat dimana apartemenku. Jadi aku tidak usah repot-repot menunjukkan jalan padanya.
"Terimakasih, Pak, " ujarku.
Grep.
Pak Rendra menahan tanganku saat hendak keluar dari mobil.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyaku sambil berbalik.
"Ada."
"Apa itu?"
"Jadilah kekasihku."
Deg.
Karena ulahnya sekarang jantungku tidak berkerja dengan keras lagi. Bahkan sepertinya ia berhenti berdetak.
Oh my..