Pandemi melanda, seluruh dunia diserang oleh virus, dalam kekacauan di sebuah kota, tidak ada yang menyadari jika daun pohon yang berada di pot bunga di sebuah sudut mulai membesar dengan cepat... hewan mulai bermutasi, dan kiamat akan segera tiba...
Mungkinkah? Novel ini?!
Aku berjalan di tengah kerumunan manusia sesak ini. Sembari terus memegangi kepalaku yang masih terasa sakit. Bukan tanpa sebab, alasan mengapa aku sangat pusing hari ini karena seorang gadis aneh tiba-tiba datang dalam mimpiku dan memperingatkanku akan sebuah kejadian mengerikan.
Awalnya, aku hanya menganggap hal itu sebagai gurauan belaka. Tidak, hingga aku memastikan satu hal.
Ternyata, aku berpindah ke tubuh seorang tokoh dalam novel favoritku!
Aku ingat betul, kemarin malam aku tengah membaca novel zombie yang dipinjamkan oleh kakakku. 'Selamat pagi, Kiamat' judulnya.
Kakakku terus memaksaku untuk membaca novel ini karena dia bilang ini seru. Walau sempat menolak beberapa kali, tapi pada akhirnya aku menerima permintaannya.
Setelah ku baca beberapa kata, ternyata novel ini memang seru!
Waktu berlalu perlahan-lahan, tanpa sadar aku semakin terlarut dalam barisan kata yang menjelentrehkan tentang situasi dunia yang dilanda oleh kiamat zombie ini. Sampai saat di mana, mataku tak lagi larat untuk tetap terbuka.
Aku terlelap dan kembali bangun.
Di dunia antah berantah ini! Aku terbangun di sebuah halte bus yang bahkan aku tidak tahu lokasinya.
Sebelumnya, namaku Haneul, tidak, apakah aku harus menyebut diriku sebagai Chaerin sekarang? Yah, kurasa begitu.
Tidak! Itu tidak penting sekarang!
Yang harus kulakukan saat ini adalah bergegas menuju sekolah. Karena siluet gadis aneh yang ada pada mimpiku itu memberi tahu sebuah petunjuk.
"Jika kau ingin keluar dari dunia ini, maka kau harus berhasil menciptakan akhir cerita yang bahagia."
Aku rasa, hal itu berkaitan dengan novel ini. Apa penulisnya memilih sad ending sebagai akhir cerita?
Aku belum baca sampai akhir, sih. Jadi, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada Chaerin dan teman-temannya.
Yap! Aku harus cepat!
Aku melajukan langkah kakiku secepat mungkin. Seiringan dengan deru napas yang semakin meningkat.
10:27
Sesampainya di sekolah, aku mengatur napas lebih dulu beberapa saat. Untuk menemukan sekolah di wilayah ini, ternyata memerlukan waktu yang amat sangat lama. Karena novel ini tidak menjelaskan secara detail tentang lokasi sekolah Chaerin.
"Sialan!" umpatku kesal seraya memukul gerbang sekolah dengan tangan yang mengepal. "Aku harus cepat," ucapku sembari melirik jam tanganku yang telah menunjuk waktu mengerikan.
Dan, di saat aku hendak berjalan masuk. Seseorang datang sambil menepuk bahuku. "Hei, Kamu!" tegurnya.
Didengar dari suaranya, kurasa dia adalah salah satu guru pria di sini?
Aku menengok demi memastikan kebenarannya. Tebakanku meleset! Ternyata, seorang wanita?!
Tertulis sebuah nama pada dadanya 'Eun-byul'.
Oh! Aku ingat karakter ini!
Dia... ah, dia adalah karakter guru yang nantinya akan mengkhianati Chaerin dan teman-temannya. Sesuai penjelasan dalam novel, dialah Bu Eun-byul–wali kelasku.
"Ternyata benar, haduh ... Chaerin, apa yang kau lakukan pada jam pelajaran seperti ini? Dan ... apa-apaan dengan baju olahraga yang kau kenakan?!" pekiknya meneriakiku. Wanita itu, ternyata wajahnya tak seelok perilakunya.
Yah, sebuah karakter.
Aku menatap matanya dengan sorot mata tajam. Tanpa perlu menjawab pertanyaannya, aku langsung berpaling dan segera masuk ke kelas.
"Hei, Baek Chaerin!"
Maaf, Bu. Aku tak memiliki waktu untuk karakter sampah sepertimu!
10:29
Dengan amat sangat terburu-buru, aku berlari menuju ruang kelasku. Lagi-lagi, aku kebingungan dengan denah sekolah ini.
Kelas satu dan tiga dalam satu deret yang sama, apa kau serius?
Walau bingung, akhirnya aku berhasil menemukannya. Kelas yang berada di tengah-tengah sekolah.
Kelas 3-C
Brak!
Aku mendobrak pintu kelas sekuat tenaga. Mengakibatkan seluruh mata dalam ruangan ini menatapku secara bersamaan.
"Baek Chaerin?" Guru pria yang tengah menjelaskan pelajaran pun seketika berhenti saat menatapku.
Dia? Aku tidak tau siapa dia!
Apakah dia Pak Jiwook? Pak Kim?
Tidak penting!
Tak mempedulikan apa yang dipikirkan oleh teman-teman sekelasku, aku berjalan cepat menuju bagian depan kelas. Berdiri di samping guru pria itu, sembari menatap para murid kelas ini.
Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan supaya dapat menyampaikan segalanya dengan baik. "Teman-teman, mungkin kalian akan berpikir bahwa aku bodoh karena tiba-tiba masuk tanpa sekadar izin terlebih dahulu," ucapku mengawali dengan tujuan memperoleh atensi kuat dari mereka, "akan tetapi, hal itu tidak lagi penting sekarang ini. Karena, sebentar lagi, kita semua akan menghadapi hari kiamat!"
Aku berhasil mengutarakan kebenarannya, tetapi... sunyi, tidak terdengar respons apapun dari mereka. Hanya tatapan aneh yang kudapat sekarang.
Tidak heran juga, aku sudah menduga semua ini.
"Hei, Chaerin! Kau udah gila, ya? Lagi-lagi bahas zombie, bosen tau!" tegas seorang siswa yang duduk pada bangku paling belakang.
"Iya, nih. Kamu pasti ngayal tentang zombie lagi, dasar Cewek Aneh!"
Berbanding terbalik dengan apa yang kuharapkan akan terjadi, mereka justru melontarkan makian yang membuatku terdiam sesaat.
Yah, tokoh Baek Chaerin di sini memang digambarkan sebagai seorang gadis yang suka mengkhayal tentang zombie dan sejenisnya. Membuat teman-temannya muak dengan tingkah lakunya yang dianggap kekanak-kanakan.
Namun, hari ini berbeda... andai kalian tahu, aku mengatakan yang sebenarnya!
"Permisi ...." Di tengah-tengah keramaian kelas yang semakin menggunjingku, seorang gadis terlihat sedang mengangkat tangannya. "Maaf, Pak Kim. Apa saya boleh berbicara dengan Baek Chaerin sebentar?" lanjutnya bertanya.
Cewek ini... aku pernah melihatnya.
Oh! Dia adalah Han Rumi!
Rumi, satu-satunya tokoh dalam novel yang dekat dengan Chaerin. Yap, dia adalah sahabat dekat Chaerin.
Lalu, bagaimana aku bisa mengenalinya? Karena, wajah Rumi terpampang jelas di bagian sampul buku. Tapi, bedanya, Rumi versi sampul buku terlihat dipenuhi oleh bercak darah.
Aku juga tidak tahu, dia akhirnya mati atau tidak. Mungkin?
"Ah, iya boleh." Guru pria yang ternyata Pak Kim itu mengizinkan Rumi.
Setelah mendapat pengakuan atas permintaannya, Rumi pun berjalan menghampiriku. "Chaerin, ayo kita keluar sebentar ...!" bisiknya, "kurasa, kondisi di kelas sedang tidak kondusif."
Ia menarik tanganku, memintaku untuk menuruti perkataannya. Tapi, aku menolak. Aku mencengkram tangannya sembari memberikan senyuman tipis yang ingin meyakinkannya.
"Aku baik-baik saja," lirihku, lalu melanjutkan, "pukul sepuluh lewat empat puluh tujuh menit."
"Chaerin?"
Aku melirik jam tanganku.
10:47
Sudah waktunya.
"Sebentar lagi, akan terdengar alarm peringatan darurat yang akan memenuhi pendengaran."
Wuoooooonnggg! Wuoonggg!
"HAH?!"
Tepat pada saat aku menyinggung tentang hal itu, alarm peringatan darurat berbunyi keras. Inilah awal mulai dari kiamat yang tertulis dalam novel.
Merasa bahwa jalan cerita telah berada pada tanganku, aku mendongak. "Lalu, akan terdengar beberapa suara benturan keras dari arah kelas 2-F."
Draak! Brukk!
Tepat.
Terdengar suara benda yang menabrak benda lain.
Semua semakin bingung saat aku berhasil menjelaskan segalanya.
"Dan ... yang terakhir. Salah satu dari kita, akan mulai bertindak aneh dan memucat," jelasku seraya menatap mereka semua.
Kedua netraku fokus mencari-cari seorang gadis yang dituliskan oleh cerita.
"Go Gaeul." Aku menyebut namanya.
Nama gadis yang menjadi kunci awal cerita zombie ini dimulai.
Pada saat itu juga, seorang gadis yang duduk di bangku nomor dua dari depan, tiba-tiba jatuh dari kursinya.
"Gaeul!" teriak seorang gadis spontan ingin membantu gadis yang jatuh itu untuk kembali bangun.
Namun, kurasa niatnya telah berubah. Saat mengetahui kebenarannya...
"Ga-Gaeul?!"
Grrhhh... hraaarhghh...
'Gaeul tiba-tiba mengerang di tengah-tengah jam pelajaran. Semua langsung bingung dan panik.'
Aku ingat bagian itu.
Gaeul telah berubah menjadi zombie sepenuhnya sekarang. Ini semua terjadi karena ia dan adiknya memutuskan untuk berangkat ke sekolah dengan menggunakan bus umum.
Dalam novel tertulis, bahwa dia dan adiknya terlibat dalam insiden singkat dalam bus yang membuat mereka berdua terkena luka gores oleh sebuah benda tajam.
Tidak dijelaskan siapa yang membuat mereka menjadi seperti ini. Tapi, aku yakin, ia adalah tokoh antagonis yang akan muncul saat pertengahan cerita nanti.
"Jangan sentuh dia!" peringatku seraya menarik tangan gadis yang hendak menyentuh Gaeul. "Jika kita tergigit, maka kita akan menjadi sepertinya," ujarku.
"Omong kosong! Teman kita lagi kesakitan dan kau malah mengibaratkannya dengan zombie, hah?!" Murid laki-laki yang tadi menentangku di awal, kembali mengutarakan rasa tidak percayanya.
Aku hanya diam. Karena, memperingatkan saat ini juga tidak ada gunanya.
Posisi Baek Chaerin yang dikenal sebagai tukang halu mungkin akan mempersulitku.
Sialan!
"Masa bodoh dengan apapun itu! Yang terpenting saat ini adalah, ayo kita bawa Gaeul lebih dulu. Karen–Aargghhhh!" Belum selesai ia mengucap, Gaeul yang telah menjelma menjadi zombie malah menggigit tangannya.
Pada saat itu juga, aku tak bisa menahan lagi. Dengan pisau yang kubawa dari rumah, aku mulai bergerak.
Sraat!
Aku berhasil menancapkan ujung pisauku pada Gaeul yang tengah beringas itu. Seketika, semuanya berheti.
Gaeul terkapar tak berdaya di atas lantai putih. Dan di sinilah aku, mendapat semua tatapan mata yang memekak ini.
Apa saat ini aku terlihat sebagai seorang penjahat?
"Hei, Dasar Cewek Aneh! Kau gila, ya?!" Seorang gadis yang tadi berada di sampingku sekarang malah mengeratkan tangannya di leherku. Ia mencekik sekuat tenaga.
Sampai membuatku kesulitan bernapas.
"Kepar*t ini!"
Aku melepaskan cengkraman tangannya. Dan beralih fokus kepada laki-laki yang telah tergigit itu. Tanpa perlu waktu lama, aku langsung melakukan hal yang sama yang kulakukan kepada Gaeul.
Mem-bu-nuh-nya.
"Arghh ...." Walau tahu dia belum menjadi zombie sepenuhnya, tapi aku harus mengantisipasi. Orang yang telah tergigit memiliki potensi besar yang dapat menjadi penularan besar.
"Kiamat. Bukankah aku sudah bilang, kita tengah menghadapi kiamat?" ujarku seraya menatap jasad siswa laki-laki yang ternyata adalah Jung-sik.
"Nun jauh di luaran sana, para zombie mulai berkeliaran. Seperti mereka berdua, awalnya terlihat baik-baik saja. Tapi, setelah tiga jam, mereka akan berubah menjadi sesosok zombie mengerikan."
Aku memandangi seluruh manusia yang masih hidup di ruangan ini dengan tatapan sendu. "Jadi, kumohon, tolong percaya padaku. Kita hanya perlu bersama-sama supaya bisa keluar dari badai virus zombie ini!"
"Demi menyelamatkan hidup kita dan orang lain."
Aku memperjelas perkataanku. Membuat satu per satu dari mereka mulai menaruh simpati kepadaku dan membuka hatinya.
Tiga hari berlalu...
Aku bertindak seperti yang tertulis pada novel. Aku, Rumi, Pak Kim serta yang lainnya juga bekerja sama demi bertahan hidup.
Kami menyusun beberapa tim yang nantinya akan menyelesaikan tugas masing-masing.
Kelompok 1 (Mencari makanan) : Song Chaeram, Woo Bomi, Yoon Jaehun, Nam ji
Kelompok 2 (Mengecek lantai atas dan bawah) : Baek Chaerin, Kang Sua, Han Rumi, Lee Gyeoul
Kelompok 3 (Berjaga di kelas) : Sisanya
Sepakat dengan keputusan ini, kami pun segera menjalankan rencananya. Aku, Sua, Rumi, dan Gyeoul berjalan bersamaan keluar dari kelas.
Kami sempat menghadapi beberapa zombie yang ternyata memang telah menanti kita di sana.
Selang beberapa menit, akhirnya kita berhasil membereskan para mayat hidup yang menguasai lantai tengah. Kami hendak naik ke lantai bawah, akan tetapi Rumi tiba-tiba berhenti.
"Anu, bukankah lebih baik jika kita berpencar saja?" Rumi memberi saran. "Sua dan Gyeoul mengecek lantai bawah, sedangkan aku dan Chaerin mengecek lantai atas."
Ia mengusulkan sebuah keputusan lagi. Aku yang merasa keberatan pun memutuskan untuk bertanya. "Ada apa memangnya, Rumi?"
Rumi sedikit gemetar saat aku bertanya padanya. "Ah, ti-tidak. Aku hanya ingin agar kita dapat menyelesaikan tugas ini lebih cepat."
Hum?
Dia takut padaku, hah? Apa... dia masih takut karena aku melenyapkan Gaeul dan Jung-sik?
"Oh, tapi ... apa Gyeoul dan Sua baik-baik saja?" Aku menatap dua gadis di depanku.
"Hei, apa kau meremehkan kami, huh?!" Gyeoul memekik kesal. "Tenanglah, kami baik-baik saja. Aku dan Sua telah mempelajari taekwondo selama tiga tahun, jadi ... we can do this!"
"Apa sih~hahaha! Ya udah, kalian berdua harus hati-hati, ya!" Aku tersenyum. "Kalau ada apa-apa, segera hubungi teman-teman di kelas."
"Baik, Nona!" seru Sua dan Gyeoul bersamaan. Mereka berdua pun berjalan bersamaan menuju lantai bawah.
Sementara aku dan Rumi berjalan menuju lantai atas. Selama perjalanan, tidak terdengar satupun dari kami yang menegur lebih dulu.
Ada apa dengannya?
Uhh...
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa gadis di belakangku ini tidak akan bertindak aneh. Karena daritadi, ia terlihat seperti sedang memicingkan mata padaku.
Lantai atas yang sepi seolah mendukung suasana mengerikan ini.
Tlak.
Hingga tiba saatnya. Saat di mana Rumi berhenti melangkah. "Chaerin," panggilnya dengan suara lirih.
Aku langsung menghentikan jalanku pada saat itu juga. Sembari meneguk ludah, aku memberanikan diri untuk berbalik. Menatap orang yang memanggil namaku.
Deg!
Betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa Rumi berdiri sambil membawa sebuah pisau tajam. Ia juga menatapku dengan tatapan kosong.
Mungkinkah, firasatku benar?
"Hei, hei, Rumi. Ke-Kenapa kau membawa pisau?" tanyaku gemetar ketakutan.
Bukannya menjawab, Rumi justru menyeringai. "Apa lagi? Kau juga sudah tahu, kan?" Ia mendekat. "Aku akan menghabisimu sekarang juga, Dasar Pengkhianat!"
Aku mundur beberapa langkah ke belakang. "A-Apa maksudmu?"
Pengkhianat?
"Tcih, jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semua rencanamu." Rumi semakin mendekat. "Tempo hari, aku melihat wadah cairan hijau di samping bantalmu. Cairan itu, seperti cairan yang kau jelaskan padaku, kan? Dasar, apa kau sebegitunya ingin membunuh kami?"
Aku tidak tahu apa yang dia katakan. "Rumi, coba jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?" ucapku, "lagi pula, aku tidak punya cairan hijau, kok? Apa kau akan mempercayainya begitu saja?"
"Cukup! Apa kau juga akan membunuhku yang adalah sahabatmu? Dasar sialan!" Rumi tak lagi dapat membendung amarahnya. "Kau membunuh Gaeul dan Jung-sik! Dan ... kau! Kau juga tahu segala mekanisme tentang virus Zombie ini. Bukankah itu memperjelas semuanya?!"
Selepas itu, ia maju dan menancapkan pisaunya pada perutku.
Pandanganku pun seketika langsung kabur. Berakhir?
Ini kah akhirnya? Yah, kurasa.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada Chaerin? Dan... semuanya?
"Kau gagal," bisik seorang gadis di telingaku.
Ini... suara yang sama seperti yang kudengar saat itu. Gadis misterius dalam mimpi!
Tunggu...
Dalam pandangan gelap ini, ia berdiri di depanku. Masih dengan wajahnya yang tak terlihat, ia menunjukkan sesuatu padaku.
'Chaerin yang tergila-gila akan zombie akhirnya mulai mengkaji segala hal tentang virus mutan. Setelah beberapa waktu, ia akhirnya bisa menemukan sebuah virus yang benar-benar bisa merubah manusia menjadi makhluk aneh.'
'Pagi itu, Chaerin menaiki bus hendak berangkat ke sekolah. Dengan sebuah pisau yang telah dibaluri oleh cairan virus, ia masuk ke dalam kendaraan umum tersebut.'
'Di dalam sana, ia mulai melancarkan aksinya. Gadis itu mengincar temannya yang kebetulan juga sedang menaiki bus yang sama. Gaeul dan adiknya berhasil digores oleh pisau kejam itu. Membuat mereka semua berakhir dengan luka gores dengan virus mematikan di dalamnya.'
A-Apa ini?
"Ini adalah ending yang ditulis oleh sang penulis asli. Ia berniat menyisipkan sebuah plot twist di akhir dengan membuat Chaerin sebagai antagonis yang sebenarnya," ucapnya, "tapi, ia justru membuat para pembaca muak sebab Chaerin yang harusnya menjadi protagonis, justru menjadi tokoh yang dibenci."
"Ah, aku paham. Jadi, aku gagal, ya?"
~Tamat~
#Kiamat