Rida kembali menepuk pipinya. Dia benar-benar tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Laki-laki sudah lama menghilang dalam kehidupannya kini berdiri tepat di depannya.
“Ternyata benar kamu kerja di sini,” tutur Rey. ”Kukira Dini bakal berbohong padaku.”
“Di ... dini?”
“Iya. Dini. Teman baik SMA-mu,” jelas Rey. ”Apa habis ini kamu ada waktu? Aku ingin ngobrol sebentar denganmu.”
Rida mengatupkan kedua bola matanya membayangkan pertemuannya dengan Rey sore tadi. Tak menyangka dirinya akan semudah itu mengiyakan permintaan pria itu. Dia meletakkan dadanya lalu bertanya-tanya apakah dirinya memang masih memendam perasaan untuknya.
Pandangannya perlahan terbuka. Menatap langit-langit kamarnya yang kosong. Pikirannya melayang ke masa-masa dirinya waktu SMA. Masa-masa ketika dirinya dimabuk asmara bersama dengan Rey. Masa yang penuh gairah dan menyenangkan. Hanya saja semuanya terpaksa berakhir ketika Rey memutuskan untuk pindah ke luar negeri bersama keluarganya.
“Kita masih bisa kontak lewat telepon atau bertukar surat seperti drama-drama yang kamu tonton itu,” terang Rey.
“Ini bukan drama Rey!” teriak Rida menghentikan Rey yang berusaha membujuknya. ”Aku nggak bisa ....”
BRAK!
Suara gebrakan pintu kamar mengagetkan Rida. Di sana tampak suaminya yang baru saja pulang. Aroma alkohol perlahan menyeruak memenuhi ruang kamar. Rida segera bangkit dari kasur dan mendekati suaminya yang setengah mabuk.
“Ayo kubantu,” tutur Rida berusaha memapah suaminya.
“Tidak usah! Pergi sana!” suami Rida mendorong Rida hingga terjatuh.
Pria itu berjalan sempoyong menuju kasur lalu menggelepar di sana seperti seekor paus. Rida mendengus kesal lalu berjalan mendekati suaminya. Dia membantu suaminya membukakan sepatu dan kaos.
“Kalau saja aku tak menikahimu, pasti aku bisa lebih bahagia sekarang!”ceracau suaminya seperti malam-malam sebelumnya. ”Kau tahu kan? Gara-gara keluargamu, aku harus kerja seperti anjing gila setiap hari! Kalian pikir aku ini apa?! Sapi perah?!”
Meski sudah terbiasa mendengar ceracauan itu, hati Rida tetap terasa pilu tiap kali mendengarnya. Padahal, itu adalah kata-kata yang sama. Perkataan yang selalu dilontarkan setiap saat oleh suaminya kepadanya saat sedang mabuk. Namun, rasa sakitnya tetap sama seperti saat dia pertama kali mendengarnya.
Rida berjalan keluar kamar usai mengurus suaminya. Dia termangu di ruang tamu sendirian. Bayangan Rey sore tadi terlintas di kepalanya.
“Aku masih mencintaimu, Da. Kuharap kita bisa bersama lagi,” aku Rey saat mereka berbincang di kafe seberang kantornya.
Sebuah pengakuan mengejutkan yang tak pernah Rida sangka akan keluar dari mulut Rey. Setelah beberapa tahun berlalu. Seseorang yang sudah dia lupakan kini muncul lagi. Tepat di saat dirinya membutuhkan tempat untuk berteduh.
“Ikutlah denganku ke luar negeri. Aku janji akan membahagiakanmu di sana,” lanjut Rey menambah kegundahan hati Rida.
Ponsel Rida bergetar. Sebuah pesan dari Dini muncul di layar ponselnya.
Dini: Da, emang aku yang kasih tau alamat kantormu ke Rey.
Kalau alamat rumah, takutnya bikin rusuh sama suamimu.
Cm aku gak tau kalo Rey punya niat buat ngajak kamu balikan lagi.
Sebenernya itu juga terserah kamu sih. Tapi, kan kamu juga masih punya suami.
Rida terus mengulang membaca pesan dari Dini. Tanpa dia sadari, suara adzan subuh sayup-sayup terdengar. Membuatnya sadar bahwa dirinya sudah begadang semalaman.
Dia berjalan kembali ke kamar. Suaminya tampak sangat pulas. Saat berbaring di kasur, dia memandangi suaminya dengan tatapan sendu.
Awalnya dia pikir cinta bisa saja muncul setelah pernikahan terjalin. Nyatanya pernikahan mereka hanyalah sebatas perjanjian hitam di atas putih. Tak ada perasaan seperti saat dirinya bersama dengan Rey. Satu-satunya yang bisa membuatnya bersyukur adalah suaminya masih mau bekerja keras untuk membantu bisnis keluarga Rida kembali berjalan normal setelah kebangkrutan menerpa.
“Maafkan aku, Sayang,” ujar Rida sebelum memejamkan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Waktu kembali berjalan. Sesekali Rida bertemu dengan Rey. Tentunya masih tanpa sepengetahuan suaminya. Terkadang mereka bertukar pesan dan saling menelepon di waktu-waktu senggang.
“Kenapa ketawa sendiri? Lagi baca cerita lucu?” tanya suami Rida. Dia memperhatikan istrinya sibuk bermain hape.
“Oh! Ng-nggak kok. Cuma sms dari Dini,” jawab Rida gugup.
Suaminya beringsut ke kasur. Perlahan menciumi leher Rida. Ciuman demi ciuman masih berlanjut membuat Rida tak bisa fokus dengan ponselnya. Tak ayal ponselnya pun jatuh tergeletak di lantai seperti tubuhnya yang jatuh dalam pelukan suaminya.
Layar ponsel masih menyala. Tampak pesan yang sudah dikirim Rida untuk Rey. Pesan yang menyatakan kesanggupan Rida untuk ikut bersama Rey ke luar negeri bulan depan.
***
Sepulang kerja, Rida menemui Rey. Entah sudah pertemuan yang ke berapa. Dia tak menghitung. Hanya saja, setiap pertemuan dengan Rey, menjadi sebuah pertemuan yang selalu dinantikannya.
“Apa ini?” tanya Rida saat menerima kotak biru pemberian Rey.
“Buka aja,” Rey tersenyum manis seperti biasanya. Rida tertawa kecil lalu membukanya. Ada sebuah cicin berlian di dalamnya. Membuat hati Rida begitu terharu.
“Itu untuk cincin pertunangan kita nanti,” kata Rey.
“Kata siapa aku bakal cerai?” goda Rida.
“Kan kamu sendiri yang mau pergi denganku bulan depan,” rajuk Rey. Dia mulai mengingatkan Rida dengan masa-masa saat mereka masih berpacaran waktu SMA.
Rida tersenyum lebar lalu menggenggam erat jemari Rey. Sore itu menjadi sore yang terasa sangat menyenangkan bagi Rida dan Rey. Dalam hati Rida memantapkan dirinya tak akan kehilangan kesempatan ini lagi untuk yang kedua kalinya.
“Eh, makanannya udah dateng. Ayo makan dulu. Akhir-akhir ini kamu kelihatan pucat.”
Rida mengiyakan ucapan Rey. Mereka pun makan dan berbagi cerita. Akan tetapi, makanan yang dimakan Rida terasa aneh di mulut dan membuatnya pusing. Melihat kondisi Rida, Rey mengajaknya untuk periksa sebentar ke klinik.
“Nggak apa-apa Rey. Mungkin aku nggak cocok aja ama rasa masakannya.”
“Nggak bisa! Gimana kalau kamu alergi atau keracunan. Periksa dulu aja. Kamu kan gampang sakit orangnya,” tegas Rey sambil memapah Rida masuk ke dalam ruang dokter. Di ruang periksa, dokter mengecek kondisi Rida dan Rey menunggui di sampingnya.
“Bagaimana Dok?” tanya Rey usai dokter memeriksa.
“Kondisi Ibu Rida sehat-sehat saja. Sepertinya pusing tadi efek dari si janin,” terang dokter mengagetkan Rey dan Rida,”Selamat ya.”
Rey dan Rida saling berpandangan. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah masing-masing. Bayangan Rida untuk kembali memulai hidup baru bersama Rey tiba-tiba mulai meredup seperti pandangannya yang kembali menggelap.
***
Hai, jika suka cerpenku, kalian bisa baca novelku ya. Judulnya MENAKHKLUKKAN SUAMI BADBOY karya Bonanzalalala 🤗🤗🥰