Pagi ini begitu cerah, karena matahari bersinar dengan sangat indah. Kulangkahkan kakiku masuk ke sebuah perusahaan.
Bahagianya aku, karena bisa bekerja di perusahaan yang menjadi impianku sejak dulu.
A.I grup, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur, rasanya sungguh tidak percaya bisa menginjakkan kaki di perusahaan ini.
Mataku berbinar senang, melihat banyak pegawai yang lalu lalang, untuk bekerja.
Gedung ini begitu bagus, akhirnya aku bisa bekerja disini! batinku berucap senang.
Sesekali aku melihat ke atas, ke kiri, kanan, aku berbuat seakan-akan gedung ini adalah tempat wisata yang memanjakan mata, namun itulah aku, katakanlah aku lebai, karena terus bertingkah seperti ini. Hingga tubuhku terasa menabrak sesuatu.
Bruk
"Oh, gaswat! kenapa bisa jatuh?" gerutuku, namun aku merasa heran, kenapa rasanya tidak sakit sama sekali? apa aku sudah di surga?oh, ibu apa aku sudah menyusulmu?batinku berucap, mataku masih tertutup. Sampai sebuah suara membuatku kaget.
"Apa Kau akan terus berada di atas tubuhku?"
Deg
Suara bariton itu membuatku segera membuka mata.
"Kyaaaa......!" teriakku, sambil bangkit berdiri dari posisiku yang tadinya menindih seorang pria.
"Berisik!" bentuknya padaku, membuat aku seketika menghentikan teriakanku.
Mataku membulat sempurna,melihat wajah pria yang kutabrak dan ku tindih tadi.
Mata pria itu menatap nyalang padaku.
Oh, Tuhan, selamatkan aku! jangan sampai pria itu mengenaliku,batinku berdo'a, karena pria dihadapanku adalah pria yang kuselamatkan waktu itu, namun kemudian aku juga yang membuat pria itu terkena sial.
"Kau pegawai baru di sini?" tanyanya dengan datar, oh sungguh sejak pertama bertemu dengannya, aku ingin mengucek wajahnya itu agar tidak selalu datar.
"Iya, aku pegawai baru di sini," jawabku santai,tapi aku merasa sepertinya jawabanku mengundang ketidaksukaan dari pegawai lain, terlihat mereka terdiam.
"Hei? kenapa kalian diam? seperti di kuburan saja? apa ada yang salah?" tanyaku pada mereka, bisa kulihat wajah mereka malah semakin tegang.
Kenapa mereka? padahal perkataanku barusan supaya mereka tidak tegang, tapi mengapa malah semakin tegang.
"Kau berniat bekerja, atau tidak?" tanya pria itu lagi, membuatku heran, kenapa orang ini begitu kepo? apa dia suka padaku? oh tidak semudah itu, aku tidak mudah tergoda, tapiii.. ah, dia memang ganteng, ah! apa yang kau pikirkan Arshana?
"Jawab!" bentaknya, membuatku tersentak, namun detik berikutnya aku merasa sangat kesal. Bisa-bisanya dia membentakku, apalagi di depan umum.
"Hei! Tuan! Anda tidak bisa membentak saya seperti itu!?" ucapku dengan nada sewot, bisa kurasakan, suasana malah semakin sepi ada apa dengan mereka.
"Anda tau! saya ke sini memang berniat untuk bekerja! asal Anda tau! direktur di sini, adalah keluarga saya! jadi, Anda jangan berbuat macam-macam dengan saya!" bohongku,kulakukan itu supaya dia tidak berani menindasku, karena aku tidak suka ditindas.
Kulihat dia menaikkan sebelah alisnya, kemudian tersenyum sinis, kenapa dengan dia?
"Arsa!katakan siapa direkturnya?" ucap pria itu yang kukira pada seorang pria yang berdiri persis dibelakangnya.
"Direkturnya Anda, Tuan Arhan!" jawab pria yang sepertinya bernama Arsa, mendengar jawaban Arsa, dahiku mengernyit, masa iya pria yang berdiri dihadapanku adalah seorang direktur?
"Jangan berbohong pada saya Tuan! Anda tidak bisa menipu saya! direktur di sini, adalah kerabat jauh saya!" bohongku lagi.
"Nona, beliau memang direktur di perusahaan ini! saya mohon, agar Anda bisa bersikap lebih sopan padanya!"ucap Arsa padaku dengan nada memelas, kenapa dia pikirku? sembelit kah? atau susah BAB?
Aku rasanya masih belum percaya jika pria dingin itu adalah bosku! lagi, pula mau ditaruh dimana mukaku jika nanti ketahuan kalau aku mengaku-ngaku sebagai keluarga direktur.
Seseorang berlari padaku, dan aku mengenalnya, orang itu adalah orang yang sama yang mewawancaraiku tempo hari.
"Kau harus sopan padanya! dia memang direktur di sini, Arshana! jangan membuat masalah!" bisiknya tepat ditelingaku, membuat aku seketika membeku, lututku terasa lemas, benarkah dia bosku? kyaa... mau ditaruh dimana muka ini? malu, udah ngaku-ngaku keluarga direktur.
"Tuan, maafkan kelancangannya, dia masih pegawai baru!" ucap Mbak Melan pada pria itu, dengan membungkukan tubuhnya.
Pria itu melihatku dengan pandangan mencibir, oh aku hanya bisa nyengir kuda, sambil menggaruk tengkukku.
"Bawa wanita itu keruanganku!"perintah si bos, mampus dah! aku pasti kena hukuman, mana hari pertama kerja lagi. batinku.
Ku lihat semua orang menatap diriku, ada yang prihatin, ada juga yang mencibir.
"Apa kau memang berniat bekerja di sini? Nona Arshana?" tanya si bos padaku, yang tengah berdiri di hadapannya.
"Yah, pastilah pak!" jawabku watados, kulihat si bos malah berdecak.
"Kau bilang bekerja? bekerja dengan masuk ke perusahaan pukul sembilan lewat tiga puluh menit?" bentaknya.
Wah, sudah sembilan tiga puluh? perasaan aku berangkat pukul enam tiga puluh pagi dari rumah,tapi kenapa bisa sampai di sini pukul 09.30? ah, iyah! aku baru ingat, kalau tadi aku malah menolong kucing tersesat setelah itu membawanya ke tempat penampungan.
Lagi, aku nyengir kuda.
"Pak, Bos! maaf yah! Pak bos kan baik, ganteng lagi! jangan dihukum, yah!" ucapku dengan mengedipkan sebelah mataku.
Tapi, itu tidak mempan, aku mendapatkan hukuman. Dan semenjak hari itu, hari-hariku di perusahaan menjadi begitu buruk. Dia selalu saja menggangguku,mencari kesalahan dariku. Sungguh menyesal sudah aku bekerja diperusahaan impianku itu.
Apa si bos, selalu mengerjaiku karena kesal masih kesal denganku? waktu itu aku menyelamatkan si boss yang hampir tertabrak, tapi aku malah membuatnya jatuh keselokan, juga harus dikejar emak-emak di daerah sekitar rumahku, padahal kan si bos nggak perlu marah padaku, karena itu salahnya sendiri, punya muka kok ganteng amat.
"Kyaaa.... Ibuuuu.... Aku ingin menyusulmu.....!" teriakku, kini aku tengah berdiri di puncak tertinggi gedung perusahaan ini,
Grep
Weh? aku merasa sepertinya ada yang memelukku, tapi siapa?
"Jangan begini?" bisiknya padaku.
Aku sangat mengenal suara ini, suara si bos datar Arhan. Kenapa dia bilang jangan begini? memang apa yang mau kulakukan?
"Jangan mengakhiri nyawamu, karena jika kau tiada, maka aku juga akan tiada," bisiknya lagi.
What? apa katanya? bunuh diri? gila saja! aku tidak senekat, itu. Masih ingin hidup, makan,cari uang yang banyak biar bisa beli skin care, sama minyak yang mahalnya kebangetan amat.
Aku merasakan dia membalikkan tubuhku, matanya melihat mataku sayu, kenapa dia? batinku, mau nangiskah? kalau mau nangis kenapa nggak pergi pada mamamu? pikirku.
"Jangan meninggalkanku!" ucapnya lagi.
"Siapa yang ingin meninggalkan siapa, hah?"
Mendengar ucapanku, kulihat dia membulatkan matanya.
"Kenapa? bapak pikir saya mau bunuh diri? gila saja! saya mau ngambil merpati ini!" ucapku lagi.
Ku lihat dia menajamkan matanya, sepertinya dia kesal.
"Apa?" tanyaku.
"Arshaaanaaa.....!" teriaknya sambil mengangkat tubuhku tinggi-tinggi sambil berputar.
"Kyaaa....!" teriakku kaget.
"Kau mengerjaiku?" teriaknya Pak bos datar.
Aku tidak menjawabnya, karena jujur saja aku memang tidak berniat mengerjainya, atau pun mau bunuh diri sungguh! kalo pun tadi aku berteriak, yah suka-sukaku lah, aku pengen teriak aja biar plong.
Si pak bos menurunkanku,
Cup
Dia mengecup keningku, membuatku membeku.
"Aku mencintaimu, Arshana!" ucapnya padaku dan seketika aku terkejut dan tidak ingat apapun selain suara teriakan yang ku dengar.
"Arshaaanaaa....!"