Terik matahari yang sangat menyilaukan, membuat mata sakit jika melihat matahari.
Terlihat dari jauh seorang gadis keluar dari rumahnya menuju kedai.Dan tersandung.
Bruk. "sshh,"rintihan kesakitan dari anak perempuan itu,Lidya.
"Kau baik baik saja,Lili?"uluran tangan dari seseorang yang membuatku tercengang.Ya,dia ken cinta pertamaku serta teman masa kecilku.
Apa kau buta tidak bisa melihatku terjatuh dan masi bertanya kau baik baik saja?!,jengkelku.
"Kapan kau akan mendaftar pekerjaan?ada lowongan pekerjaan di cafe yang ku dirikan."Ucap Ken setelah membantuku berdiri.
Ya,Ken termasuk anak yang gila kerja padahal dia memiliki kedai cafe,gumamku.
"Hari ini aku akan memulai kerja!"Ucapku lantang.Dia tersenyum dan mengelus kepalaku membuat hatiku terjungkal-jungkal.
Memang hari ini adalah hari yang menggembirakan.Hari dimana aku kerja bersama cinta pertamaku,dia bukan karyawan melainkan bosku sendiri.
Sudah lima bulan kerja disini,aku tak pernah melihat Ken lagi.
"Hei,mau sampai kapan kau melamun?"Celetuk edward,dia juga karyawan disini.
"Siapa yang melamun,"Ucapku sambil mencubit ke dua pipi edward,pria ini walaupun hanya karyawan disini tetapi bentuk wajahnya persis dengan presdir di perusahaan.
"Mikirin bos lagi?"Dia menatapku dengan tatapan seperti anak anjing.
"Emang masalah buat loh hah,"Pergi meninggalkan edward sendirian di dapur.
"Aduhh,Lidya orngnya gak pekaan ya,"Ucap mbak tanti.Karyawan juga disini.
"Apasi mbak gak jelas,"Ucapku.
"Iya-iya Lidya yang paling jelas disini."
Kangen ken,gumamku.
"Selamat siang,"Suara itu,aku berlari sebelum langkah kaki ku berhenti.Ken.
"Hi,semuanya."Sapa wanita di samping Ken.Maudy.
"Selamat siang,pak."Sambut para karyawan.
"Kenalkan dia Maudy,"
"Calon istri pak Ken."Sambung wanita itu.Deg.
Jadi,sampai disini,hatiku sakit.
Greb,edward menarikku masuk ke dapur.
"Sudah tidak apa-apa kalo mau nangis,"Ucapnya sambil memelukku.Dia mencium keningku.
"Terima kasih,"melepas pelukan edward.
"Kau jelek kalo menangis,"Tawanya membuatku tambah menangis.
"Hei,aku hanya bergurau sudah gausa nangis okey."Ucapnya bingung.Tangisku tidak berhenti-henti.
"Kalau masi menangis ku cium?",Ucapnya serius membuatku ingin tertawa.Wajahnya yang serius membuatku ingin tertawa,tetapi aku ingin mempermainkannya.
Cupp,bibir kami bertemu.Diam.
"Maaf,abisnya kau tidak berhenti menangis."Ucapnya,pipinya memerah.Dia tersipu.
"Kalian sedang apa? toko sudah mau tutup Lo."Ucap Ken,mata kami saling bertemu.
"Lidya kau menangis?"Ken memegang wajahku.
"Aku menangis bahagia,"Tangannya ku tepis sebelum mengotori pipiku.Edward hanya diam di tempat.
"Edward,yuk pulang."Aku menarik edward pergi.
Di jalan.
Sesekali aku menatap edward.Dia masi tersipu.
"Kenapa?"Ucapku,langkahku terhenti diikuti Edward.Dia bingung.
"KENAPA HARUS MENGAMBIL CIUMAN PERTAMAKU!"bentakku.
"M-maaf."Dia menunduk,membuatku merasa bersalah.
"Tidak apa-apa,"Senyumku.
"Aku menyukaimu,"Ucapnya.Spontan membuatku tersedak.
"AKU MENYUKAIMU,"Ucapnya lagi.
"Tapi,aku tid-,"
"Bercanda hahaha,"potongnya.
Setelah kejadian itu,edward tidak masuk kerja.
"Apa ini normal mbak,"ucapku.
"Normal apanya?"Terlihat wajah mbak tanti kebingungan sama pertanyaanku.
Aku kepikiran Edward terus,padahal dia bilang bercanda.
Sudah hampir dua minggu,dia gak pernah masuk kerja.
"Ken,dimana edward kok anak itu gapernah masuk kerja?"Tanyaku.Wajahnya Ken seperti tidak suka.
"Dia udah keluar kerja."Jawabnya cuek.
"Apa kok bisa,kamu pecat ya?"Ucapku fitnah.
"Heh,ngapain aku pecat karyawanku."Cemoohnya.
Perasaanku ke Ken dah gaada perasaan.
"Lili,kau suka Edward?"Pertanyaannya membuatku spontan tersenyum.
"Tidak,"Dia orang baik yang selalu ada buatku.Ken hanya terdiam dan memberikan secarik kertas tertulis alamat rumah.Eh?.
"Alamat rumah edward."Dia tersenyum,tetapi terlihat senyum pahit.
Aku menyukaimu Lidya,samar suara Ken terdengar saat aku keluar dari cafee.
Aku berlari,menaiki taxi menuju tempat tinggal Edward.
"Edward,"pintunya gak terkunci.Terdengar suara rintihan.Aku menerobos masuk dan melihat wajah pucat edward.
"Edward."Aku mengangkat Edward tidur di sofa.
"Lidyaa,aku mencintaimu."Dia demam.
"Sangat-sangat mencintaimu."Ucapnya lagi.
Dan tiba-tiba Edward menusuk leherku dengan taring giginya.?.
"Aku sangat mencintaimu,"Ucapnya lagi sambil meminum darahku.kaget.
"Lidyaa,m-maaf."Dia sadar tetapi kesadaranku turun.Gelap.
"Lidya m-maaf,hiks."Suara tangisan?.Aku membuka mataku dan melihat wajah Edward penuh dengan air mata.
"Edward,kenapa menangis?"Ucapku sambil mengusap air matanya.
"Lidyaa,"Dia menangis.
"Aku juga mencintaimu walaupun terlambat,"mataku tertutup aku tidak merasakan apapun lagi.
"Lidyaaa bangun lidyaa,"Edward terus memelukku sampai aku tidak bisa bernafas.
"Kau ingin aku mati?"bentakku.
"Lidyaa,"Dia menatapku dengan penuh berlinang air mata.
"Kau vampir yang cengeng."Ucapku mengusap air matanya dan memeluknya.Dia kaget.
"Bagaimana kau tau aku vampir?"Tanya nya.
"Saat kau meminum kantong darah di ruang istirahat?"Ucapku.Dia tersenyum.
"Aku sangat mencintaimu,Lidyaa."
"Aku juga sangat mencintaimu,Edward."
Asmara kami berjalan setahun sampai akhirnya kami menikah.Dan yang tidak terbayangkan lagi ternyata dugaanku benar Edward adalah seorang Presdir perusahaan ternama.Dia kerja di cafee hanya untuk mendapatkan hatiku.
Penutupan cerita ini selesai dengan adegan ciuman mereka.
TAMAT~