Jam 8 Malam...
"Sayang aku pulang" Teriak niel seraya melangkah menuju sofa lalu ia menghempaskan diri kesofa karna merasa sangat lelah, sudah hampir seminggu ini ia disibukan dengan pekerjaan kantor.
"Sayang" Teriaknya lagi karna tidak merasakan kehadiran istri tercintanya.
"Kemana dia, apa dia dikamar" Gumanya lalu mengambil tas kerjanya yang ia letakan diatas meja dan melangkah menuju dikamar.
(Kamar)
Saat Niel masuk ia tersenyum melihat wanita cantik yang tertidur pulas diatas kasur dengan perut buncit hasil karyanya. Lalu ia melangkah pelan mendekati natalia karna takut istrinya akan terganggu dengan kehadirannya. dipandanglah wajah wanita yang sudah 1 tahun dinikahinya itu.
"Dia menagis lagi?" Gumanya saat menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya dan terlihat mata yang sebam.
Niel tidak akan bertanya lagi kenapa wanita yang ia cintai itu menagis karna ia sudah tau akan jawabanya.
"Kau seharusnya tidak perlu menagis sayang, air matamu itu terlalu berharga untuk kau jatuhkan" Gumanya pelan lalu mengkecup lembut kening lia dan perutnya sebelum melangkah kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Skip Jam 5 Pagi
Lia terbangun dari tidur karna sedari tadi ada sesuatu yang menganggunya, gerakan halus diperutnya yang buncit. Karna kehamilan yang sudah memasuki ke 7 bulan, rasa ngantuk yang membuatnya malas untuk membuka mata atau pun mengeserkan tubuhnya.
Karna hal yang menganggunya tak kunjung berhenti ia pun menyerah dan membuka mata, terlihat niel yang ternyata sedari tadi menganggu tidurnya dengan mengelus-elus perutnya.
"Niel?" Ucapnya yang membuat niel terkejut dari lamunanya.
"Eh sayang kau sudah bangun, apa aku menganggumu, maaf tadi aku menyentu perutmu dan dedek menendang tanganku, ku pikir dia terkejut jadi aku mengelusnya sedari tadi" Ucap niel yang masih mengelus perut lia.
"Iya tidak papa sayang, dia memang selalu seperti itu setiap pagi, mungkin ia terbangun" Balas lia tersenyum lalu mengengam tangan niel yang sedang mengelus perutnya.
"Benar tidak apa-apa? atau perlu kita kerumah sakit?" Tanya niel yang terlihat cemas melihat perut lia yang kembali bergerak.
"Tidak apa-apa, sudah seminggu ini memang seperti ini. Kata dokter itu adalah hal yang wajar" jawab lia yang membuat niel lega. Niel mendekatkan wajahnya keperut lia.
"Hai anak ayah" ucapnya lembut terasa tendangan pelan menyentuh telapak tangan niel.
"Sayang apa kau bangun?" Gerakan pelan itu terasa kembali.
"Ayah minta maaf karna selama seminggu ini sibuk dengan pekerjaan, tapi ayah janji mulai hari ini dan seterusnya ayah akan selalu berbicara denganmu. Sehat-sehat lah disana, ayah dan ibu akan menunggumu disini" Ucap niel lembut lalu mencium perut lia dan kembali keposisi semula.
Skip Pagi Jam 8
Lia sedang menata makanan diatas meja dan tiba-tiba ia terkejut sebuah lengan kekar melingkar dipinggangnya. Tidak perlu ditanyakan siapa karna hanya ada 1 orang yang biasa melakukan itu padanya dipagi hari.
"Jika aku punya penyakit jantung, mungkin aku sudah tiada sekarang " Sindirnya sambil menata makanan. Niel yang mendengar sindiran istri tercintanya itu hanya terkekeh tanpa melepaskan pelukannya.
"Tapi untungnya kau tidak memiliki penyakit jantung sayang" Ucapnya dengan tersenyum memperlihatkan jejeran gigi putihnya
"Aku akan memilikinya jika kau terus membuat ku terkejut seperti ini" Balas lia kesal.
"Iyaa sayang maaf" ucap niel terkekeh melihat istrinya kesal.
"Yasudah duduklah makan sarapanmu, kau terlambat nanti kekantor" Meletakan sarapan niel.
"Terima kasih sayang" Mencium pipi lia sekilas lalu duduk dikursi dan menyatap sarapanya.
"Ohiya niel hari ini aku akan keluar bersama alica, dia memintaku untuk menemaninya memilih gaun pengantin, Apakah boleh?"
"Boleh, tapi aku yang antar" Jawabnya seraya menyendokan makanan masuk kedalam mulutnya.
"Tidak perlu niel, Alice akan datang menjemputku" Mendengar ucapan lia, niel terdiam seperti menimbang.
"Baiklah tapi nanti aku akan menjemputmu saat makan siang, kita makan siang bersama"
"Siap pak boss" Ucap lia tersenyum manis.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, hati-hati jika kau keluar, kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya" Mengkecup lembut kening lia.
(Kantor)
Siang Jam 12:30..
Niel baru saja menyelsaikan pekerjaanya, lalu ia melirik jam yang menempel dipergelangan tangan kanannya.
"Hemm...sudah jam makan siang ternyata" melihat jam tangannya. ia beranjak dari kursi dan bersiap-siap untuk menjemput lia, Namun langkahnya terhenti Saat Suara dering telfonnya berbunyi dari saku celanannya.
"Arya??" Melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, ia lalu mengakat telfon dari sahabatnya itu.
"Iyaa halo, ada apa?" Ucapnya dalam panggilan. Niel terpaku mendengar jawaban dari sebrang sana.
"Aku akan segera kesana" Ucapnya tergesa-tergesa lalu mematikan telfon dan berlari keluar ruangannya.
(Rumah Sakit)
"Arya bagaimana keadaan lia?" Ucap niel penuh kahwatir.
"Lia masih ditangani oleh dokter" Jawab arya yang sudah berada dirumah sakit.
"Lalu dimana alica? apa dia baik-baik saja?"
"Aku disini" Jawab alice yang ternyata berada dibelakang niel.
"Alica bagaimana ini bisa terjadi?" Ucap niel panik
Alica pun menceritakan bagaimana kornologi kecelakaan yang dialami oleh lia. Niel yang mendengarnya pun langsung berlutut dilantai, kakinya tak kuat untuk menopang tubuhnya lagi.
1 jam telah berlalu dokter yang menangani lia pun keluar dari ruangan operasi.
"Dok Bagaimana keadaan Istri dan anak saya Mereka baik-baik saja kan dok?" Tanya niel yang penuh kahwatir dengan mata berkaca-kaca.
"Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi tabrakan yang dialami ibu lia itu terlalu parah dan menyebabkan bayinya tidak bisa diselamatkan lagi dan untuk ibu lia dia masih dalam keadaan koma" Mendengar perkataan dokter niel merasa seperti tertusuk beribu pedang didadanya, dia sangat hancur dia tidak tau apa yang dialaminya sekarang pikirannya kosong dia tidak bisa menerima semuanya sehingga ia terjatuh tak sadarkan diri.
3 Bulan telah berlalu...
Niel masih setia duduk sambil menatap wajah pucat istrinya yang masih setia untuk memejamkan mata dengan berbagai macam alat medis yang terpasang ditubuhnya.
"Sayang bagunlah aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" Ucap niel sendu
Tiba-tiba tubuh lia mengalami kejang-kejang, membuat niel panik. ia lalu menekan tombol hijau yang terletak disamping kasur untuk memanggil dokter.
"Sayang kau kenapa? ada apa denganmu, jangan seperti ini kau membuat ku kahwatir" Ucapnya panik. Sela beberapa detik dokter beserta perawat pun datang memasuki ruang lia.
"Dok tolong istrinya" Ucap niel panik
"Lebih baik anda tunggu diluar pak, biar dokter yang menangani istri anda" ucap salah satu perawat yang masuk. niel yang terasa berat untuk meninggalkan istrinya pun mau tidak harus mengikuti protokol rumah sakit.
"Ada apa niel? apa yang terjadi pada lia? Ucap alica kahwatir melihat dokter dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan lia.
"Aku...aku tidak tau tiba-tiba tubuhnya kejang-kejang dan sekarang ia masih ditangani oleh dokter" Ucap niel yang terlihat tidak tenang.
"Tenanglah lia akan baik-baik saja" ucap arya berusaha menenagkan niel.
Sela beberapa menit dokter pun keluar dari ruangan lia.
"Dok bagaimana keadaan istri saya dok? dia baik-baik saja kan?" Tanya niel yang berharap jawaban yang akan dia dapat sesuai dengan keinginannya.
"Kondisi istri anda menurun drastis, kami sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Saya tau ini sangat berat bagi anda tapi akan lebih baik ikhlaskan dia pergi, dia sudah cukup tersiksa dengan keadaannya yang sekarang" Mendengar ucapan dokter itu membuat niel kesal lalu menarik kera baju yang dipakai oleh dokter itu.
"BERANI SEKALI ANDA BERBICARA SEPERTI ITU!, ISTRI SAYA AKAN BAIK-BAIK SAJA DIA AKAN SEMBUH" Bentak niel sambil menarik kuat kera baju dokter itu.
"Hei niel apa yang kau lakukan, lepaskan" ucap arya yang Berusaha melepaskan cengkraman niel pada kera baju dokter itu.
"Saya tau ini sangat berat untuk anda, Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kondisinya sekarang ini, itu sangat membuat dia menderita" Ucap dokter itu yang berusaha menjelaskan.
"Tidak!!! dia tidak akan pernah meninggalkanku!!" Ucap niel yang lalu melepaskan cengkramannya dan pergi entah kemana.
Jam 1 Malam niel kembali kerumah sakit dimana tempat lia dirawat. niel datang dengan gaya berantakan ia baru saja bergulat dengan pikiran dan hatinya.
"Niel..lia" Ucap alica menangis tersedu-sedu. Niel menguatkan diri untuk melangkah masuk keruangan lia istrinya walaupun kini tubuh mulai bergetar merasa tidak kuat.
Niel Melangkah mendekati kasur istrinya lalu ia duduk disampingnya sambil mengenggam tangannya. Matanya berkaca-kaca melihat orang yang dicintai masih setia untuk memejamkan mata dan kini beberapa alat telah dilepas dan hanya meninggalkan 2 alat saja yaitu infus dan pendeteksi jantung.
"Hai sayang apa kau masih ingat dulu saat aku memintau kau untuk menjadi pacarku? kau masih ragu akan jawabanmu tapi kau mau menerimaku, dan aku sangat senang pada waktu itu karna aku mencintaimu" Ucap niel lembut.
"Dan apa kau ingat saat kau memberitahuku bahwa aku akan menjadi seorang ayah? pada hari itu aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling beruntung karna telah memilikimu" Beberapa butiran bening mulai mengalir satu persatu membasahi pipinya.
Niel mendekatkan wajah ketelinga istrinya lalu berbisik.
"Kau tau sayang setiap aku berdoa yang ku pinta hanya kesembuhanmu, tapi aku tidak tau makna kesembuhan dari tuhan seperti apa" ucapnya lirih.
"Cicin yang kau lingkarkan dijari manisku tidak akan terlepas, bibir yang selalu menciummu ini tidak akan merasakan bibir siapapun lagi, dan hati ini akan selalu ada namamu" Air mata niel terus mengalir mengikuti setiap kata yang ia ungkapkan.
"Jika kau ingin pergi, maka pergilah..aku Daniel Alexander suamimu akan melepaskanmu dari rasa sakit didunia ini. Aku ikhlas sayang" Ucapnya lirih dengan bibir yang bergetar menahan air mata.
Setela mengatakan kalimat terakhir itu terdengar suara monitor alat jantung lia berbunyi menandakan bahwa ia telah pergi.
"Aku mencintaimu sangat mencintaimu, walaupun didunia ini kita tidak bisa bersama aku harap dikehidupan selanjutnya kau harus menjadi istri cantiku sekaligus ibu dari anak-anakku lagi.
Jadi Selamat Tinggal Permataku, Aku akan pasti merindukanmu" Niel pun memeluk lia untuk terakhir kalinya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
SELESAI......