Hari ini adalah hari ke-tigaku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan terbesar di kotaku. Saat aku baru saja keluar dari dalam rumah hendak menunggu taksi di pinggir jalan, tiba-tiba saja aku melihat sebuah mobil yang tengah melaju dengan oleng.
BRAK!!! Mobil itu menabrak sebuah pohon besar yang tidak jauh dari depan rumahku.
"Astaga!" Dengan cepat aku berlari berniat untuk menolong orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut.
Sebelum aku sampai, seorang laki-laki keluar dari dalam mobilnya sambil terbatuk-batuk meminta pertolongan. Pria berusia kira-kira 30 tahunan lebih itu menjatuhkan dirinya ke tanah. Darah segar terlihat mulai mengalir di pelipisnya.
"To-long. To-long saya ...." Dia berusaha berteriak, namun sayangnya suaranya terdengar sangat lirih.
"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanyaku pada pria tersebut.
Dengan gerakan cepat aku langsung memapah pria itu menjauh dari mobilnya. Saat ini asap putih sudah mengepul di bagian depan mobilnya. Sepertinya mobil itu sebentar lagi akan terbakar atau mungkin akan meledak.
Setelah berada di jarak yang cukup aman, aku pun akhirnya menghentikan langkahku. Pria asing yang aku tolong ini sepertinya sudah tidak kuat lagi dan sepertinya akan kehilangan kesadarannya.
"Tahan, Pak. Saya akan memanggil taksi untuk mengantar Anda ke rumah sakit. Sepertinya Anda terluka cukup parah."
.
Sesampainya di rumah sakit.
Setelah memastikan bahwa pria asing itu sudah ditangani oleh dokter dan perawat yang sedang berjaga, aku pun memutuskan untuk segera berangkat ke kantor. Telat sedikit saja aku pasti akan mendapatkan peringatan dari atasanku. Apalagi aku ini masih termasuk karyawan baru, tidak boleh membuat masalah diminggu pertama aku bekerja.
*
*
*
1 Minggu kemudian semenjak kejadian itu.
Pagi ini saat aku tengah fokus pada pekerjaanku, tiba-tiba saja salah seorang teman kerjaku memberitahukan padaku bahwa aku dipanggil ke ruangan CEO. Aku yang mendengar hal itu seketika merasa terkejut.
"Ada apa bos memanggilku?" tanyaku pada teman kerjaku tersebut. Tapi yang ditanya malah mencebikkan bahunya pertanda tidak tahu menahu juga.
Dengan jantung yang sudah berdebar tidak karuan, aku mulai berjalan menuju lift. Dalam hatiku bertanya-tanya, apakah aku sudah membuat kesalahan? Perasaan, aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh yang melanggar peraturan perusahaan. Tapi ... kenapa bos memanggilku ke ruangannya. Apa dia akan memecatku di minggu kedua aku bekerja?
Begitu banyak pertanyaan yang menghinggapi kepalaku, hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah pintu berwarna cokelat tua mengkilat. Ya, ruangan di depanku adalah ruangan atasanku, bos besar di perusahaan tempat aku bekerja.
Ini pertama kalinya aku akan bertemu dengan bos yang selama ini hanya aku ketahui namanya saja. Selama bekerja di sini, aku belum pernah melihatnya sama sekali. Tapi mendengar dari cerita teman-teman kerjaku sesama perempuan, bos kami orangnya sangat tampan. Tidak sedikit karyawan wanita yang begitu sangat memuja dan mendambakan sosoknya.
Baru saja aku mengangkat tanganku hendak mengetuk pintu, tiba-tiba saja suara seorang pria dari arah belakang mengejutkanku.
"Nona Fiana Yulita?" tanyanya, dan aku langsung menoleh melihat ke arah sumber suara.
"Ya, saya sendiri," jawabku, sambil menunduk sopan pada sesosok pria berkacamata yang saat ini tengah berdiri di hadapanku.
Pria yang berdiri di hadapanku saat ini ku ketahui bernama pak Arya. Dia adalah asisten pribadi pak Alfian Surya Pratama, bosku di perusahaan ini.
"Mari ikut saya ke dalam, Nona. Pak Alfian sedang menunggu Anda," ucap Aasisten Arya seraya berjalan mendahuluiku memasuki ruangan CEO tersebut.
Glek. Aku menelan ludahku dengan kasar. Sepertinya aku akan segera dipecat dari pekerjaanku. Tapi ... dosa apa yang sudah aku perbuat? Kenapa aku harus cepat sekali meninggalkan perusahaan ini? Padahal, aku sudah merasa sangat nyaman dan cocok bekerja di perusahaan ini.
Dengan perasaan takut dan sedikit gemetar, aku mulai melangkan kakiku memasuki ruangan tersebut.
"Tuan Muda, Nona Fia sudah ada di sini," ucap asisten Arya pada pak Alfian.
Apa? Tadi asisten Arya menyebutku apa? Nona Fia? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa sedari tadi dia begitu sopan sekali padaku. Dia sampai menambahkan kata 'Nona' saat menyebut namaku dan saat berbicara denganku. Memangnya aku siapa? Aku ini bukan siapa-siapa selain hanya karyawan biasa di perusahaan ini.
Ku lihat kursi pak Alfian perlahan mulai berputar ke arah kami. Aku yang masih belum siap menerima kenyataan bahwa mungkin aku akan segera dipecat lebih memilih untuk menundukkan kepalaku.
Siap tidak siap, mau atau tidak mau, terpaksa aku harus menerima keputusan pak Alfian jika sekiranya nanti dia menyuruhku untuk segera angkat kaki dari perusahaan ini.
"Fiana Yulita," ucapnya menyebut namaku, membuatku semakin menunduk dalam. Kedua tanganku sudah saling mere*mas satu sama lain untuk mengurangi kegugupan dan ketakutan yang aku rasakan saat ini.
"I-iya, Pak," jawabku. Aku benar-benar tidak berani menatap wajah atasanku meski pun sebenarnya aku sangat penasaran ingin melihat seperti apa wajah aslinya yang kata teman-temanku sangatlah tampan. Apalagi jika dilihat dari jarak yang cukup dekat seperti saat ini.
"Mulai sekarang, kemasi barang-barangmu," ucap pak Alfian.
Aku memejamkan mataku kuat-kuat mendengar ucapannya itu. Sepertinya aku akan benar-benar dipecat tanpa tahu kesalahan apa yang pernah aku perbuat.
"Segera pindahkan semua barang-barangmu ke ruangan ini. Mulai sekarang, kamu yang akan menggantikan posisi sekretaris lama yang sudah mengundurkan diri," lanjutnya lagi.
Pernyataannya itu membuatku sangat terkejut. Sontak saja aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah depan. Aku lebih terkejut lagi saat aku melihat sosok bosku untuk pertama kalinya.
"Ka-kamu," ucapku sedikit terbata.
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Apa sekarang aku sedang bermimpi? Apa benar aku tidak salah lihat? Ternyata orang yang pernah aku selamatkan minggu lalu rupanya dia adalah bosku, pak Alfian Surya Pratama.
*
*
*
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tidak terasa sekarang sudah setengah tahun lamanya aku menjabat sebagai sekretaris pak Alfian. Aku kerapkali dimarahi olehnya karena kerjaku yang terkadang kurang becus sebagai seorang sekretaris.
"Sekretaris Fia, sepertinya saya memang sudah salah dalam mengambil keputusan 6 bulan lalu," ucapnya.
Sekarang ini aku sedang berdiri sambil menundukkan kepalaku dalam-dalam di depan pak Alfian. Saat ini aku merasa sangat ketakutan dan dipenuhi rasa bersalah. Bagaimana tidak, hingga hari ini dan untuk yang kesekian kalinya, aku kembali melakukan kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Aku juga tidak tahu kenapa bisa terjadi lagi, lagi, dan lagi. Padahal aku sudah melakukan semua pekerjaanku dengan benar. Tapi sepertinya memang ada yang tidak suka jika aku menjadi sekretarisnya pak Alfian, maka dari itu ada seseorang yang selalu mengacaukan hasil pekerjaanku saat aku tinggal sebentar ke toilet. Dan sepertinya orang itu memang sangat menginginkan aku keluar dari perusahaan ini secepatnya.
Jika pak Alfian ingin memecatku hari ini tidak apa-apa, aku sudah pasrah. Aku juga sudah lelah dihukum hampir setiap hari olehnya. Masih mending kalau hukumannya aku disuruh untuk membersihkan dan memasak di apartemennya sepulang jam kantor. Kalau hukumannya lebih berat lagi dari itu, mungkin aku sudah tidak akan sanggup lagi.
Saat ini pak Alfian sedang berjalan mengitariku sambil terus mengomeliku karena kesalahan yang sebenarnya bukan aku yang melakukannya. Tapi seseorang yang tidak aku ketahui entah siapa.
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya Pak. Saya tahu saya salah. Kalau Anda ingin memecat saya tidak apa-apa, saya akan menerimanya dengan lapang dada," ucapku sambil terus menunduk.
"Bagus. Bagus kalau kamu memang sadar diri. Saya memang ingin memecat kamu sekarang juga."
Mendengar perkataannya aku semakin menundukkan kepalaku. Seketika dadaku terasa sesak, hatiku terasa sangat nyeri, dan rasanya aku ingin segera menangis, tapi coba aku tahan. Meski pun bibirku berkata aku akan menerimanya dengan lapang dada, tapi sepertinya hatiku tidak demikian.
"Kamu itu sebenarnya tidak cocok jadi sekretaris saya, kamu lebih cocok jadi ... istri saya," ucapnya kemudian.
Sontak saja aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arahnya. Dia tersenyum dan menatapku dengan lekat. Ada merasa tidak percaya mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya secara langsung. Ah, apa jangan-jangan, aku hanya sedang bermimpi? Atau mungkin, aku tadi hanya salah dengar.
Saat ini aku melihat pak Alfian berjalan ke arahku, lalu kemudian berjongkok dengan sebelah lututnya yang bertumpu di lantai. Sebelah tangannya menggenggam jemariku dan sebelahnya lagi mengambil sesuatu di dalam saku jasnya. Sebuah cincin berlian.
Aku menutup mulutku menggunakan sebelah tanganku. Sungguh, aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Rasanya seperti sedang berada di alam mimpi. Bos yang selama ini aku sukai secara diam-diam ternyata juga menyukaiku dan sekarang dia hendak melamarku.
"Fiana Yulita, will you marry me?" Dia bertanya sambil menatapku penuh harap. Sementara aku yang masih menganggap semua ini hanya mimpi hanya bisa meneteskan air mata bahagiaku dan masih belum mampu berkata sepatah kata pun.
"Jangan pernah berani menolakku karena aku akan tetap memaksamu sampai kamu mau menikah denganku." Ucapan yang penuh tekanan dan ancaman itu seketika mampu membuatku tertawa. Dasar pemaksa.
Setelah aku menerima lamarannya, 2 bulan kemudian, kami akhirnya menikah dan hidup bersama dengan bahagia.
The End~