"Sarah, bangun!, sudah jam berapa ini, nanti kamu terlambat ke sekolah", Bunda Rima membangunkan Sarah secara perlahan, anak semata wayangnya ini memang ratunya molor. Bunda Rima memang sudah mengerti dengan kebiasaan anaknya ini, maklumlah, semenjak Ayahnya meninggal dunia setahun yang lalu, Sarah lah yang menjadi tulang punggung keluarga ini.
Malam hari, Sarah harus bekerja di rumah makan masakan Padang yang terkenal di kota itu.
Secara perlahan Sarah bangun dari tidurnya, mencium pipi bundanya, mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Tanpa sebab yang pasti ia keluar kamar mandi dan berkata pada Bundanya," Bunda?, bolehkah Sarah hari ini tidak ke sekolah? perasaan Sarah tidak enak". Bunda Rima juga merasakan perasaan yang sama, ia juga rasanya berat sekali membiarkan Sarah pergi ke sekolah.
Tapi perasaan itu di tepisnya, sambil mengelus kepala Sarah, ia berkata ," Bunda tidak apa-apa, katanya Sarah mau mengikuti jejak Ayah, sebagai ahli kimia?". Sarah kembali bersemangat, ia teringat bagaimana masa kecilnya dihabiskan untuk sekedar mencari tahu apa yang Ayahnya kerjakan, sayangnya Ayahnya meninggal dunia begitu cepat. Tapi sebagian besar ilmu kimia sudah terekam dengan baik di dalam otaknya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian sekolah yang rapi, ia pamit kepada Bundanya dan berangkat ke sekolah. Di sekolah Sarah bertemu dengan sahabatnya Rose.
Hari itu ada praktikum kimia. Di lab kimia, semua tenang mendengarkan arahan guru, mereka hari ini belajar mengenai cara membuat larutan khusus untuk mendeteksi adakah senyawa kimia yang berbahaya terdapat dalam sebuah makanan yang di jual di pinggir jalan.
Setelah selesai larutan yang gagal dibuang, sedangkan larutan yang berhasil disimpan dalam suhu ruang tertentu. Daniel, biang onar di sekolah secara tidak sengaja membuang larutan gagal itu ke dalam pot bunga yang ada tanamannya yang terletak dekat dengan kursinya. Ia malas sekali kalau harus ke wastafel untuk membuang larutan sekaligus mencuci tabung yang telah terpakai.
Selanjutnya urusan cuci mencuci ia serahkan kepada teman satu kelompoknya. Daniel tidak menyadari ternyata larutan gagal itu bereaksi dengan tumbuhan yang terdapat didalam pot.
Tanaman itu mulai berubah, daunnya yang semula hijau berubah menjadi berwarna merah dan pertumbuhannya tiba-tiba menjadi cepat. Meta yang pertama kali melihat tanaman itu menjadi heran, lalu ia mendekatinya dan ia menyentuh daun yang berwarna merah itu. "Ouch", teriaknya. Teman-teman termasuk Sarah mendekati Meta dan bertanya apa yang terjadi, Meta hanya terdiam.
Di kelas keanehan terjadi pada Meta, wajahnya berubah pucat, badannya menggigil, Mia yang melihat teman sebangkunya kelihatan sakit, membawa Meta ke UKS. Di UKS, Mia menyuruh Meta beristirahat, Mia akan pergi ke kantin untuk memesan teh manis hangat. Mata meta yang bagian putihnya berubah berwarna merah, bagaikan orang yang lupa ingatan ia berjalan keluar ruang UKS, di lorong sekolah ia menemukan Pak Anwar sedang menyapu lorong sekolah, Meta merasakan haus yang menyiksa, ia lalu mendekati Pak Anwar dan langsung menggigit tangannya, seperti halnya menemukan makanan yang enak, Meta terus menggigit dan memakan tangan Pak Anwar. Pak Anwar memberontak, tapi percuma saja , tenaga Meta lebih kuat.
Mia yang membawa teh panas dari kantin terkejut melihat pemandangan mengerikan di depannya, ia secara tidak sengaja melepaskan minuman yang ada di tangannya, mendengar suara itu Meta melihat ke arah Mia dan mulai mendekatinya, sementara Pak Anwar nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Mia melihat itu berlari menuju ke ruang kelasnya, ia lalu menceritakan apa yang terjadi dengan Meta kepada teman-temannya, Daniel mengejek Mia dan mengatainya mengarang cerita bohong. Ketika ia berada di depan pintu kelas, Meta menggigit Daniel, seluruh anak murid yang ada di kelas itu menghambur keluar kelas, mereka panik. Dari jauh terlihat Pak Anwar menggigit salah satu guru yang baru datang.
Sarah dan Rose, pergi ke ruang lab, mereka teringat bahwa salah satu penyebab kejadian ini ada di ruang lab. Alangkah terkejutnya mereka melihat bahwa tumbuhan yang membuat Meta terluka menjadi hidup. Bunganya menjadi besar dan mempunyai mulut dengan gigi yang runcing.
Diluar lab, suara teriakan semakin ramai. Sarah dan Rose mengunci lab dari dalam, mereka mengambil zat kimia yang bisa menyebabkan kebakaran. Dengan perlahan mereka berdua mengendap-endap sambil sedikit membungkuk menuangkan zat tersebut ke tumbuhan tersebut. Dan melemparkan korek api yang menyala ke arah tumbuhan itu.
Api dengan cepat membakar tumbuhan itu. Diluar Teman-teman mereka sudah berubah menjadi Zombie. Sarah dan Rose memikirkan bagaimana caranya mereka keluar dari sekolah dalam keadaan selamat. Di dalam lab, mereka mencari senjata yang dapat digunakan sebagai alat perlindungan diri. Sarah menemukan tongkat dari besi dan Rose mengambil pisau yang biasa dipakai untuk mengiris hewan percobaan.
Secara perlahan mereka membuka pintu lab, lalu mereka menuju ke gerbang sekolah, di sepanjang lorong sekolah mereka hanya menemukan dua atau tiga Zombie, dengan bekal senjata yang mereka bawa, mereka berhasil mengatasi zombie itu. Begitu mereka keluar gerbang sekolah, kota sudah dipenuhi oleh Zombie.
Sarah dan Rose dengan membungkukkan badan melihat ke arah parkiran mobil milik para guru, keberuntungan berpihak pada mereka berdua, pada salah satu mobil, kuncinya masih tergantung pada tempatnya, mereka dengan cepat menghidupkan mesin mobil dan berlalu dari tempat itu. Zombie yang menghalangi jalan mereka, mereka tabrak. Tujuan mereka cuma satu yaitu rumah masing-masing.
Karena rumah Sarah lebih dekat, Rose menghantarkan Sarah dahulu, baru ia melaju ke rumahnya. Di depan rumahnya, Sarah melihat bahwa bundanya telah menjadi santapan para zombie, tubuh bundanya sudah tidak berbentuk lagi. Dengan berlinang air mata, ia menusuk kepala zombie yang masih memakan tubuh bundanya. dengan tubuh penuh darah ia lalu membawa tubuh bundanya masuk ke dalam rumah. Mengunci semua pintu dan menutup semua jendela, ia bersyukur tidak ada satupun zombie yang masuk ke dalam rumahnya.
Tubuh Bundanya yang sudah tidak terbentuk ia letakkan di atas seprai putih, dengan tangan gemetar dan sambil menahan tangis ia membungkus Bundanya dengan hati-hati. Setelah selesai, ia berdoa dan membawa jasad Bundanya ke halaman belakang yang dipagari oleh tembok yang tinggi. Disana lah ia menguburkan Bundanya.
Kemudian Sarah membersihkan diri dan mengganti baju sekolahnya dengan celana panjang berbahan dasar jeans serta atasan berupa kaos tangan panjang. Ia melihat keluar dari sela-sela jendela rumahnya. Mobil-mobil banyak yang terbakar dan ledakan ada di mana-mana, di jalan, zombie bergerak secara perlahan.
Suara telepon berdering di rumah Sarah, Zombie yang berada di depan rumahnya menoleh semua ke rumah Sarah. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah Sarah, memecahkan kaca jendelanya dan mencoba untuk masuk. Sarah dengan cepat mengambil air minum, makanan dan obat-obatan dengan sigap ia menaiki kursi untuk membuka ventilasi yang terletak di plafon kamar mandinya, ia tidak lupa mengunci pintu kamar mandi. Setelah sampai di plafon ia lalu menutup ventilasi itu kembali dan duduk dengan tenang.
Terdengar suara zombie yang sudah mulai memasuki rumahnya. Suara telepon kembali berbunyi, Zombie-zombie itu mengerubungi telepon itu. Lima jam kemudian terdengar suara tembakan, dan suara helikopter. Terdengar suara yang mengatakan bagi warga yang selamat diharapkan untuk memberi tanda. Sarah lalu membuka baju kaosnya dan mengibarkan bajunya itu dari atas atap. Sarah masih memakai kaos tanpa lengan sebagai dalamannya. Sarah lalu dibawa ke tempat yang aman. Tak berapa lama kota tempat tinggal sarah di bumi hanguskan, tanpa ada satupun yang tersisa.
Disebuah kota yang tidak jauh dari kota tempat tinggal Sarah, seorang anak kecil sedang bermain mobil-mobilan di depan rumahnya. Tidak ada yang tahu bahwa mata anak itu bagian putihnya sudah berubah menjadi merah.
Tamat