Saat itu Raina baru saja pulang dari kerja lemburnya. Karna kantor tempat kerjanya hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya, ia selalu memilih untuk pulang dengan jalan kaki, selain menyehatkan bagi tubuh hal ini juga menyehatkan bagi dompetnya yang selalu taat menjaga dietnya. :)
Saat sedang menatap sekitar sambil menendang-nendang batu kerikil yang selalu ada di setiap langkahnya, Raina kaget setengah mati kala melihat ada seseorang yang sedang tergeletak di pinggir jalan setelah mobil putih yang tadinya parkir tepat di belakang orang itu melenggang pergi.
Raina langsung berlari mendekat. Dan lagi, Raina dibuat kaget setengah mati saat melihat siapa yang sedang terbaring di atas tanah itu. Dia adalah...
"Presdir Alex?!!" Raina langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Kebetulan apa ini?!
Dia, orang yang sedang terkapar di pinggir jalan itu adalah bossnya? Dia adalah Presdir dari perusahaan besar yang merekrutnya sebagai karyawan!
"Pak, pak. Halo? Pak, pak." Raina menepuk-nepuk pipi sang bos. Memastikan pria itu masih sadar atau tidak.
"Kayaknya udah mati deh." Raina berkacak pinggang sambil memperhatikan seluk beluk wajah dan luka-luka yang berada di wajah sang boss. Kasian, wajah tampan bak CEO idaman di Drama Korea jadi jelek karna luka-luka lebam dan luka-luka lecet lainnya.
Melupakan malasah wajah, kini Raina mulai berpikir bagaimana cara untuk menolong pria itu. Disini sepi, barang sebiji motorpun tak ada yang lewat. Bagaimana caranya ia bisa menolong pria itu?
Memang sih, rumahnya sudah dekat dari sini, tapi membopong pria yang tingginya seperti tiang listrik itu tidak mudah bagi Raina yang mungil.
Dan, oh ya! Bisa gawat kalau bossnya tau dia adalah salah satu karyawan di perusahaannya. Bukan takut apa-apa, namun dari yang Raina dengar, berurusan dengan presdir Alex sangatlah ribet, rumit, dan menjengkelkan. Katanya, manusia dihadapannya ini adalah orang yang sangat angkuh, namun ada sisi aneh dalam sikap bijaknya. Dia di cap sebagai boss sengklek dikalangan karyawan yang sudah dongkol dengan kelakuannya. Dan Raina, tak mau menjadi salah satu dari mereka. Jangan sampai karna menolong bossnya ini, kehidupan Ngantor nya akan jadi rumit.
Memang tak ada sejarahnya menolong orang malah akan menyusahkan diri sendiri. Tapi antisipasi itu perlu, Raina sudah cukup menjalani kesehariannya. Ia tak mau bebannya bertambah lagi.
"Jadiii gimanaa yaaaa!" Raina bergumam frustasi. Ia bingung sendiri dengan pemikirannya, di sisi lain ia takut akan sesuatu, di sisi lain ia ingin menolong pria itu dengan cara apapun.
"Oh ya, akukan cuma karyawan biasa? Nggak mungkin donk presdir, CEO, and boss kayak dia bisa tau aku, yakan? Ketemu aja blom pernah. Okedeh, aku tolong aja."
Keputusan akhir, Raina akan menolong bossnya itu. Walaupun sedikit takut, tapi ia yakin hal yang baik akan selalu membuahkan hal yang baik. Siapa tau saja boss nya itu akan memberikannya uang karna sudah menolongnya.
Siapa tau.
Iyaaaa, Raina tau kalau nolong nggak boleh pamrih. Gosah diingetin.
Tapi kalau sama orang kaya boleh kan. Hehe :)
Saat sudah berhasil mendirikan tubuh yang rohnya sedang entah kemana itu, Raina mulai berusaha membopong badan yang layaknya tiang listrik itu ke rumahnya. Setidaknya, ia akan minta ganti rugi untuk memanggil tukang urut karna pinggang dan bahunya serasa akan patah kala ia sudah sampai dirumah dan membaringkan boss di lantai ruang tengah. Bukannya semena-mena menaruh bossnya di lantai, tapi Raina memang sudah kehabisan tenaga untuk mengangkat tubuh jangkung itu lagi. Ia tak sanggup.
"Assa... MBAK DIA SIAPA?!!"
Raina yang sedang menuangkan air panas ke baskom untuk mengompres luka-luka sang boss terkejut saat mendengar teriakan adiknya dari luar. Ia segera mendatanginya.
"Ssuutttttt, dek jangan ribut."
"Tapi dia siapa mbak?!! Pacar mbak?"
Raina melotot. "Heh, bukanlah, sembarangan kamu!"
"Tapi aminin aja, hehe." lanjut Raina. Dalam hati.
"Terus dia siapa mbaaaa?" adik Raina semakin frustasi karna penasaran.
"Dia boss mbak dek, Tadi dia lagi kena musibah. Tuh, liat aja mukanya, dari ganteng jadi jelek gara-gara dipukulin orang." tukas Raina. "Oh iya, kamu tadi dianter sama bibi?"
"Enggak, tadi sama bang Alvi."
"Owwh gitu. Okedeh."
"Yaudah mbak mau ambil kompresan dulu, mau obatin lukanya bos mbak. Kamu ganti baju gih, udah makankan? Langsung tidur ya, besok sekolah."
"Udah makan kok mbak. Yodah adek mau tidur, dah mbak." adik Raina yang bernama Rafi langsung ngacir ke kamarnya. Raina juga langsung kembali ke dapur, mengambil air kompresan dan air gula untuk sang boss. Dulu, kalau Raina sedang tidak enak badan kebiasaan ibunya adalah selalu membuatkannya air gula, kebiasaan itu menurun pada Raina.
Raina duduk tepat di sebelah bossnya, kemudian menuntun kepala bossnya itu kepangkuannya dan mulai membersihkannya dengan anduk kecik yang sudah direndam di air hangat. Raina tak punya alkohol, jalan lain ya hanya menggunakan ini.
Saat wajah penuh luka tadi sudah bersih walaupun masih ditutupi lebam-lebam Raina sempat terkesima. Ia akui memang bossnya ini sangat tampan. Apalagi saat tidak sadar begini, Tak ada kata angkuh dalam rautnya. Air muka pria itu seperti anak kecil yang sangat menikmati alam mimpinya. Tangan Raina jadi gatal ingin mencubit pipi bossnya itu.
"Hngghhh.."
Mata Raina membulat sempurna saat terdengar lenguhan dari mulut si boss. Raina segera menjauhkan kepala pria itu dari pangkuannya.
Brak.
"Akhhh..." teriak pria itu kala kepalanya mencium lantai dengan keras.
"Upss.." Raina lagi-lagi menutup mulutnya. Ia tak berniat menjatuhkan kepala sang boss sekeras itu. Sungguh!
Semoga bossnya tidak geger otak.
"Baik-baik aja boss? Eh pak, eh... Om aja deh."
"Om, om, om. Enak aja! Saya masih muda."
"Loh, bapak sudah tua. Saya yang masih muda."
"Apaan?! Enak aja kamu! Saya masih muda, kamunya kelambatan lahir."
"Yaudah, oke-oke. Kesimpulannya, Bapak masih muda bagi orang yang udah tua bangat, tapi bapak sudah tua bagi saya yang masih muda banget. Gimana, pintarkan saya."
Pria itu tertawa hambar. Menyetujui Pernyataan Raina, namun seperdetik kemudian ia langsung tersadar sesuatu. "Eh, Kamu teh SAHA?"
Raina mengerjap, tak akan menyangka akan melihat sang boss berteriak kaget seperti ini. "Kalem bang, kalem. Eh, pak mangsudnya.
"Jadi gini, perkenalkan nama saya Raina. Bisa dipanggil Rai, Nana, atau Ina. Saya tinggal disini-"
"Saya nggak perduli tentang itu. Kenapa saya bisa disini? Kamu ngehipnotis saya? Dan mana barang-barang saya? Mobil saya juga mana."
"Loh. Kok bapak nanya saia sie? Sayakan gatau. Barang-barang bapak kok bukan barang saya. Dan ya, kalau ngehipnotis, saya ogah kalik. Gini-gini saya lebih suka yang halal dari yang instan."
"Kalau bapak, suka sawo mateng apa bening-bening?"
Alex melongo. "Ini bukan waktunya bercanda. Saya serius,"
"What, tapi saya belum siap diseriusin pak!"
Tangan Alex benar-benar gatal ingin menggeplak kepala gadis itu. Ini bukan waktu yang pas untuk bercanda.
"Mana handphone kamu. Saya mau menelfone orang saya."
"Oh, hape. Ntaran pak, saya ambilin."
Raina ke kamarnya, untuk mengambil handphonenya. Saat ingin memberikannya pada Alex, ia baru tersadar sesuatu. Tidak! Handphonenya terlalu banyak memiliki hal yang berbau perusahaan sang boss.
Susah payah ia berakting jadi so asik untuk menutupi nerves nya kalau akhirnya akan ketahuan juga.
"Mana?"
Raina menggeleng saat Alex menengadahkan tangannya. Ia tak akan meminjamkan handphone miliknya. Terlalu beresiko.
"Nggak punya hape saya om."
"Trus tadi kenapa kamu sok-sok an mau ngambil hape ke dalam kamar?"
"Anu tadi, tadi... engghhh." otak Raina mati kutu.
"Bohong kamu. Cepet siniin. Atau kamu ada nyembunyiin sesuatu dari saya? Kamu beneran ngehipnotis saya?"
"Masyaallah tabarakallah pakk! Asal bapak tau nih yah, saya itu udah nolongin bapak. Coba bapak liat luka-luka di muka bapak, itu bapak tadi abis dipukulin. Untung saya ngeliat bapak lagi rebahan di pinggir jalan, jadi saya tolong. Lah coba kalau orang lain, pasti badan baoak tinggal daging doang, mata, jantung, hati, ginjal, and otak bapak udah ilang pasti noh."
"Eh ralat, otak bapak nggak bakal. Soalnya gaguna."
Udahlah. Alex capek. Bisa-bisanya ia dibilang rebahan di pinggir jalan. Dan apa? Raina bilang otaknya tidak berguna? Dia tidak tau saja, otaknya ini sudah membuat kontribusi sebesar apa pada ekonomi di negaranya sendiri.
"Dan catet nih ya pak, seharusnya bapak berterimakasih. Bukan malah nuduh, berdosa banget. Nyesel saya nolong bapak."
"Heh, asal kamu tau. Cewek-cewek ngeliat muka saya aja sudah beruntung. Kamu malah nyesal udah nolong saya, padahal jujur aja dari tadi kamu ngeliatin muka saya teruskan?"
"Ih kok tau?" Dalem ati ini ges :)
"Idih, pedean si om. Kalau ama tante-tante girang sih, kayaknya yes-yes aja. Kalau saya sih najis, nggak minat pak."
Maapkeun Raina pak T_T
"APA--"
"Eh, sssyuuttt syuttt pak. Nggak bole marah-marah, mu ama tetangga. Nanti dikira KDRT mau?"
"KDRT apaan? Kapan kita nikah emangnya."
"Ya kapan-kapan gitu pak." Eh... MAMPUS!! ini kenapa ngomongnya kgk dalem ati.T_T keceplosan huaaa...
"Hah, apa kamu--"
"Udah pak, diem. Saya udah capek ngadelin bapak dari tadi udah banyak ngomong. Sekarang mending bapak tiur nih, bobo cantik-"
"Ganteng." koreksi Alex.
"Hmm, semacam itulah. Bapak tidur disini ya, saya mau tidur juga soalnya. Dan oh ya, ini saya cuma ngewanti aja. Kalau tersinggung ya maap. Saya cuma meng antisipasi."
"Saya tidur dikamar itu dan berhubung pintu saya kagak bisa dikunci,... Saya cuma mau ngasih tau aja kalau, saya itu jago silat, sering menang turnamen tekwondo-"
"Mau nyombong?" Potong Alex, Raina merengut.
"Syut, diem.dengerin saya ngomong. Trus, pak di sebelah ada adek saya, walaupun kerjaan dia cuma makan minum, hidup jadi beban untuk saya, kalau dalam hal berteriak dia nomor satu. Jadi kalau bapak macam-macam yang ngebuat adik saya tereak, satu kampung tetangga bakal dateng dateng pak. Jadi tolong ya pak, kalau mau khilaf mikir sejuta kali dulu."
"Seharusnya kamu bersyukur. Kalau saya khilafkan kamu bisa jadi istri saya, memangnya nggak kami nggak mau punya Suami ganteng kayak saya? Selain itu saya juga kaya kok."
Raina tertawa hambar. Sepertinya Alex terlalu membanggakan diri, walaupun itu memang kenyataannya. "Nggak minat pak, maap."
"Saya juga nggak minat kok sama kamu kalik."
"Oh, bagus deh, jadi saya bisa tenang. Yaudah kalau begitu, saya mo tidur dulu, bhye!"
"Semoga mimpi buruk pak."
on going.
okey, jadi cerita ini memang masih belum selesai. Mungkin memang agak panjang dari cerpen biasanya. But thank you for someone who want read this short story. I hope you have a good day. Tapi, yg nggak ninggalin jejak. Aku doain harimu senin terus hehe :)
see you.
---
Good news!!!
Cerpen ini aku tulis sekitar seminggu yang lalu. Dan hari ini, tanggal 18/04/2022 saya berencana untuk mengadaptasikan cerpen ini menjadi novel. Bisa dibilang ini adalah sepenggal sinopsis dari versi novel.
Judul versi novel adalah, -Nikah Kontrak Katanya!-
And, for last word, ihope ypu excited to stay tuned my new novel and i hope, you're all always support me.
Don't forget, untuk pencet tombol lopee.
Lop yu semwaaa.
see yooooou.
....
Blurb Novel.
"Ini kopi apa? Kok rasanya agak beda?"
"Kopi mix sianida pak."
...
"Raina saya ganteng nggak?"
"Bismillah lamborghini. Iya pak, bapak guannnteng banget!"
"Trus kenapa nolak lamaran saya?"
"Gak ada apapa, cuma pengen."
....
Bermula saat Raina menolong sang boss yang habis dirampok, takdir terus mempertemukan mereka dengan berbagai macam hal menjadi perantaranya.
Sampai pada puncaknya, hitam diatas putih menjadi kunci alasan mereka berada di satu rumah yang sama.
Yah, begitulah. Ntah apa alasan yang jelas untuk mendasari ajakan sang boss yang ingin menikah kontrak dengan dirinya setelah sekian banyak yang terjadi diantara mereka.
Tapi yang jelas, karna kontrak itu, sebuah perasaan yang amat indah mengelilingi mereka. Kebahagiaan menggandrungi setiap kebersamaan.
Sebelum sang penghancur datang, menabur garam dalam lebarnya goresan luka lama.
-Nikah Kontrak Katanya!-