AYAHKU SEEKOR ANJING
#Atas_Nama_Cinta
By : Kadariah Burhan
Aku menitipkan rinduku yang getir pada sang angin, namun sepiku tak jua hilang. Terus mencari apa yang seharusnya tidak kucari, membuatku menelan jarum yang menusuk tenggorokanku.
*******
Dulu sekali belum ada sosmed, sehingga kisah hidupku tidak menjadi viral.
Terlahir sendirian, tanpa orang tua, karena aku menganggap mereka set** tidak berwujud, karena tega membuangku bahkan saat aku masih bergumul dengan tali pusar yang belum pupus.
Aku terlahir dan hanya terlahir begitu saja, dibuang di tempat sampah, di halaman sebuah panti di pinggiran kota, ditemukan seekor anjing yang sungguh lebih mulia dari orang yang melahirkanku, karena dia mengangkat bayi mungil tak berdosa dengan mulutnya. Membawanya ke teras panti. Bahkan sampai menginjak usia 5 tahun, dia setia menemaniku.Dan belakangan kuanggap dia adalah ayahku. Satu-satunya keberuntunganku adalah saat itu belum ada kamera dan netizen alay yang memviralkan.
Hidup di sebuah panti asuhan di pinggiran kota, tidak menjadikan aku kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Walaupun miskin kasih sayang dan sungguh teramat kesepian, aku tetap menjadi satu-satunya juara abadi di sekolah. Beasiswa prestasi tidak pernah terlepas dari genggaman, bahkan aku menyelesaikan MBA di Harvard University dengan beasiswa penuh.
Binatang kesayanganku adalah anjing, aku bahkan memiliki anjing keturunan dari anjing yang menyelamatkan hidupku, dan dia kuanggap seperti saudara sendiri, tapi beberapa tahun lalu dia sudah mati karena tua, dan aku menguburkannya dengan sangat layak.
Aku termenung saat melihat kehdiran keluarga kaya dengan dua anak mereka yang sungguh jelita dan rupawan, mataku menyipit mencoba mengingat, dan terlintas di pikiranku bahwa keluarga ini donatur abadi di panti, otomatis mereka sangat berjasa buatku. Karena panti asuhan kecil ini sangat bergantung kepada uluran tangan para donatur yang datang mengulurkan bantuan.
Kutemui mereka, sembari mengulas senyum terbaik yang kumiliki, ku ulurkan tangan sambil mengucap terima kasih saat mereka hendak masuk ke mobil, untuk kembali pulang.
Aku melirik sejenak pada gadis di samping sang Ibu, wajahnya sangat cantik, senyumnya mengesankan keramahan, dia menatapku lekat. Seketika hatiku bergetar. Belum pernah sepanjang hidupku merasakan getar indah yang menjalar ke dasar sanubari terdalam.
Namun gadis itu pun tampaknya merasakan hal yang sama denganku, terlihat dari sorot indah di bening mata itu. Aku menangkap pendar terpesona ke arah ku.
Selama hidup ini, tak pernah punya rasa percaya diri untuk jatuh cinta, aku pun tak pernah merespon ketika lawan jenis mengirimkan signal menyukai ku. Namun kali ini aku merasa yakin gadis itu terpesona padaku, wajah ini memang tak kupungkiri teramat tampan, kulit yang putih bersih, body ala lelaki yang hoby nge gym, tinggi yang ideal dengan berat badan.
Kesempurnaan tampilan adalah milikku. Sudah banyak wanita tergila-gila padaku, lelaki usia 25 tahun, mapan, cerdas. Tidak terlihat sedikit pun aku anak terbuang yang ditemukan seekor anjing di tempat sampah. Seandainya orang tuaku melihat diriku, apakah mereka akan sangat menyesal telah membuang anaknya? Entahlah, kutepis pikiran bodoh itu.
Pertemuan itu bukan satu-satunya yang terjadi. Saat kesekian kali aku berkunjung ke panti, kuparkir Mercedes Benz C-class yang selama beberapa bulan ini setia menemaniku, tepat di samping nissan juke milik pendonatur setia itu.
Kudekati gadis cantik berleher jenjang yang sedang duduk di bangku taman di samping panti.
"Boleh duduk?" tanyaku dengan senyum ramah yang pasti membuatnya terpesona.
Gadis bermata indah dengan alis original yang sangat rapi berderet di atas matanya itu mengangguk dengan senyum yang terukir di bibir merahnya.
"Namaku Hafiz, kamu siapa?" tanyaku lugas.
"Melati mas," sahutnya singkat.
Begitulah perkenalan singkatku dengan gadis cantik bernama Melati, putri pengusaha mebel, yang sejak aku masih kecil sudah jadi donatur di panti ini.
Setelah beberapa waktu berjalan, aku berhasil memacari gadis cantik itu, dengan sedikit perjuangan.
Aku berani mendekati gadis itu karena telah memiliki modal sebagai seorang lelaki. Aku memiliki rumah megah yang kubangun dari usaha yang bergerak di jasa transportasi dan telekomunikasi dan bahkan aku sedang merintis usaha di bidang IT. Rumahku berdiri kokoh di pemukiman elit. Kesuksesanku luar biasa, uang bukan masalah buatku. Hanya saja dendam kesumat pada orang tuaku luar biasa menyiksa.
Beberapa bulan kemudian aku berhasil menikahi Melati, gadis cantik yang lembut dan sangat mencintaiku, kehidupan rumah tanggaku sangat bahagia, dia dan keluarganya tidak pernah bertanya asal usulku, cukup bagi mereka aku anak panti asuhan yang sukses dan mapan.
Setahun berlalu dan istriku telah melahirkan anak kembar, laki dan perempuan, kebahagianku sangat lengkap. Namun dendam kesumatku pada orang tuaku tak jua sirna.
Sampai seorang detektif yang kubayar beberapa tahun terakhir menelponku di pagi hari.
"Pak Hafiz, saya sudah menemukan jejak ibu kandungmu," ucap Detektif itu dengan suara bergetar. Aku langsung bereaksi.
"Kirim alamatnya," sahutku singkat.
Pencarianku berakhir di sebuah rumah sakit jiwa, aku terpana melihat wanita berambut kusut, berwajah tirus, nampak wajahnya lebih tua dari usianya.
"Ayahmu tidak jelas, ibumu diperkosa beramai-ramai oleh preman pasar yang kabur tidak pernah tertangkap, dia jadi gila setelah peristiwa itu," ucap detektif yang berhasil menemukan ibuku.
Sebelum menemui wanita gila itu, aku sudah melakukan tes DNA. Jadi aku sangat yakin dia memang ibu kandungku.
Air mata menetes di pipi, tak terbayangkan di benak ini bahwa ibu kandung yang selama ini ku maki dengan sumpah serapah dan dendam ternyata adalah wanita gila yang selalu mengorek tong sampah kemanapun dia pergi, menurut hasil penyelidikan itu dia berbuat demikian karena mencari bayinya yang telah dia buang di bak sampah. Dalam ingatannya hanya tersisa satu hal itu.
Tanpa merasa risih atau pun jijik, aku memeluknya erat. Entah mengapa aku merasa lebih bersyukur karena dia membuangku bukan karena dia dalam kondisi ingin melarikan diri dari tanggung jawab, wanita dekil berambut kusut itu tertawa geli dan sesekali meronta di dalam pelukanku.
Bagaimanapun ujudnya, dia tidak pantas menerima penolakanku. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dan perawatan dari putranya. Kalau saja dia tidak membuangku, belum tentu aku memiliki kehidupan sempurna ini. seluruh dendam yang ku pikul sepanjang perjalanan hidupku kini telah sirna.
Kupindahkan ibuku dari rumah sakit jiwa ke tempat pemulihan jiwa di sebuah pasantren di pinggiran kota. Hatiku bulat, untuk merawat ibuku dengan layak, karena dari rahimnya lah aku terlahir.
Ketika kuceritakan kisahku pada istri dan mertuaku, mereka bergantian memelukku. Tak tampak sedikit pun mereka merendahkan ku.
Mereka bahkan semakin mengasihiku, melimpahi diri i i dengan kasih sayang yang tulus, terima kasih Tuhan, betapa bahagianya hidupku. Betapa damainya kini setelah dendamku usai.
END
(Jangan lupa bersyukur dan bahagia)
Sampit, 14 Oktober 2020