Mahasiswa Universitas mengikuti demo menolak penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan 3 periode. Calista Adelia (Nama samaran) pun ikut turun jalan, ia mengikuti penuntutan itu, namun ada hal yang ganjal saat dirinya berada di tempat tersebut, perasaannya tidak menentu tidak tahu rasa apa yang sedang ia rasakan saat itu.
Calista Adelia merasa tidak bisa melanjutkan demo tersebut, diapun ikut karena memang di ajak oleh temannya yang sama ikut demo.
"vin!! sepertinya aku tidak jadi ikut demo pagi ini? " Ucap Calista sangat tidak enak hati.
"Maksud mu apa!! mana ada Queen di kelas kami jadi loyo seperti ini? bukannya kau dari kemarin kau sangat aktif ingin menggerebek istana? "
"Entahlah perasaanku tidak enak, sepertinya aku akan sakit, aku minta maaf aku harus pulang".
Jawab Calista lalu pergi.
Calista memang terkenal dengan sikap savage dan keberaniannya, maka dari itu temannya yang bernama vin merasa aneh dengan sikapnya, vin pun tidak jadi ikut turun, ia lebih baik mengikuti Calista pergi.
" Calista tunggu!! " Teriak vin sambil berlari mengejar Calista.
"Aku merasa aneh padamu, kenapa kau jadi kalem seperti ini, apa kau benar-benar sakit? " Tanya vin merasa khawatir karena sikapnya yang kini membuat vin bingung.
"Sepertinya iya" Jawaban Calista sangat jauh dari biasanya, vin merasa dia bukanlah Calista asli, Calista yang asli dia sangat savage dalam berbicara dan bisa membuat hati seseorang patah seketika, ketika mendengar kata-kata pedas yang ia rangkai.
bukan itu saja kalista tidak sekalem itu jika di tanya, matanya selalu menyipit kecil dan hanya menyerongkan bola matanya tidak sampai dengan kepalanya ikut bergerak.
kali ini dia menjawab semua pertanyaan vin sangat sopan dan juga menatap vin dengan lembut dan matanya membulat cantik. benar-benar bukan Calista yang vin kenal.
karena vin merasa khawatir dengan sahabatnya itu ia rela tidak ikut demo dan lebih memilih mengantar pulang Calista yang aneh itu.
"Vin kamu kenapa malah ikut aku? kamu ikut demo aja" Ucap Calista melirik dan tersenyum, suaranya sangat lembut dan bikin adem.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan mu pulang sendiri, sepertinya kau benar-benar sakit, aku akan mengantarmu sampai rumah" Ucap vi dan Calista hanya membalas dengan senyuman kecil.
...
Skip
#Sampai sudah di rumah Calista#
Calista berterima kasih dan segera masuk pergi ke kamarnya, Ibunya Calista merasa bingung juga tidak biasanya dia langsung pergi ke kamar jika pulang dari mana-mana, dia lebih sering duduk di sofa sambil ngemil dan nonton TV.
"Vin!! Caca kenapa?" Tanya ibunya.
"Aku juga bingung tante, dari tadi dia seperti itu, aku merasa bingung juga padanya, coba tante tanya pada Calista? "
"Hmm" Jawaban ibunya lalu ingin beranjak ke kamar Calista namun Calista sudah berada di belakang mereka dan sudah rapi juga ingin pergi lagi.
"Ehh, Calista!! kamu mau kemana lagi? " Tanya ibunya sedikit kaget.
"Aku ada urusan sebentar mah, aku pamit dulu, Assalamu'alaikum" Ucap Calista sambil mencium tangan ibunya, Vin dan ibunya terkejut.
Calista kan Kristen tapi kenapa dia mengucapkan salam.
Ibunya hanya diam tidak percaya dan membiarkan Calista pergi sangking kagetnya dengan apa yang dia ucapkan.
Calista menarik vin dengan santai dan pandangannya lurus terus kedepan, seperti ada yang mengontrol dirinya dan dia hanya mengikuti arahan dari si pengendali dirinya.
"Ca, kita mau kemana? " Ucap panik vin, Calista dengan datar dan santai menjawab pertanyaan Vin seperti ini.
"Temani aku" Dengan datarnya berkata itu dan terus menggenggam tangan vin. vin makin merasa panik dan sedikit takut, Calista bisa saja kerasukan seseorang sehingga dia seperti itu, vin terus bertanya dan mencoba untuk menyadarkan Calista, namun dia tetap kalem dan tidak seperti orang kerasukan.
Hingga Sampai ke tempat pembangunan yang sedang di renovasi, di sana banyak orang yang bekerja dari yang memasang besi, plapon, hingga manor yang terus memberi saran.
"Ca!! kita ngapain kesini? " Tanya Vin sanagt bingung, ia kenapa bisa pergi ketempat seperti ini, untuk apa.
Calista melepaskan tangan Vin dan berjalan menghampiri mandor bangunan tersebut, Vin kaget ia kenapa? dia mau apa menghampiri mandor?
Otak Vin penuh dengan pertanyaan, dan dia hanya bisa terdiam dan tidak bisa menghentikan Calista, lalu tiba-tiba seseorang datang dari sudut bangunan itu, menghampiri mandor.
Dia sepertinya seseorang pemilik bangunan tersebut, tubuhnya sangat cantik dan tinggi, pakaiannya sangat rapi dan berwibawa, sepertinya dia pengusaha besar.
Kita panggil saja dia Devano, karena dia masih muda dan sepertinya baru pemula dalam membangun perusahaan nya.
Karena jarak pak Devano lumayan jauh dengan mandor ia berjalan menuju mandor, tanpa ia sadari bahwa pekerja yang memasang besi di bagian lantai tiga sedang beroperasi, dan tidak sengaja pekerja tersebut kehilangan keseimbangan saat menarik besi tersebut untuk penyanga, dan letak pak Devano tepat di bawahnya.
Besi tersebut melesat lumayan cepat terjatuh dan tepat akan kena sasaran kepalanya pak Devano, Calista sudah merasakan firasat tersebut.
Calista berlari dan berteriak memberi tahu.
"Bapak awas!!! " Teriaknya sambil berlari, Pak Devano terkejut dan melirik-lirik sekitar, lalu pekerja yang di atas berteriak juga untuk menghindar, pak Devano segera melirik ke atas dan terkejut.
badannya tiba-tiba membeku dan tidak bisa berjalan.
Trangg.. pchh.
Semua orang terkejut dan Vin pun sangat terkejut tidak main, mandor yang tadinya santi sangat melonggo.
"Allhamdulilah!! " Ucap pak mandor, Vin pun ikut membuang nafasnya lega, untung saja Calista dengan sigap dan cepat membantu Pak Devano menghindar dari serangan besi bangunan.
Namun mereka tanpa menyadarinya Pak Devano jatuh dan di timpa Calista, mereka malah terbeku berdua saling menatap bingung, dan Calista masih masih dengan mata kosongnya.
Vin dan yang lainnya menghampiri dan seketika Calista melintang kan bibirnya dan mungkin hanya beberapa detik dan Calista langsung tidak sadarkan diri (pingsan), dengan posisi yang masih sama.
"Ca!! " Ucap Vin terkejut dan sangat khawatir lalu membungkuk dan segera mengambil alih Calista, Pak Devano masih merasa bingung dan kaget, pak Devano bangun dan melirik Calista yang tiba-tiba pingsan itu.
"Bawa saja dulu dia ke ruangan saya" Ucap pak Devano, lalu Vin mencoba mengangkat Calista namun dia perempuan dan tidak kuat, pak mandor ikut membantu menggendong Calista dan mengistirahatkannya.
"Pak bagaimana ini!! dari tadi dia aneh dan tidak tahu kenapa dia bisa ke sini, lalu sekarang dia tiba-tiba pingsan, ini sangat aneh pak, saya khawatir padanya" Ucap Vin tidak malu berterus terang pada pak Devano, lalu pak Devano di datangi sesosok wanita yang tidak jauh seperti Calista umurnya.
"Rara!! " Gumam Pak Devano terkejut melihat Rara sosok yang sudah tiada dan dia juga sempat menjadi pekerja di rumahnya, namun tidak lama karena Rara sakit, Pak Devano juga kehilangan kontaknya karena HP nya mati terlindas saat berkendara dan tidak terasa jatuh.
Sosok Rara ini sangat baik dan sopan, ia benar-benar berbakti pada Pak Devano, serta ibu dan ayahnya, sampai Rara ingin di sekolahkan kuliah tapi Rara nya tidak mau.
Dan baru beberapa minggu dari kepergiannya Rara, pak Devano baru tahu satu minggu yang lalu bahwa Rara sudah meninggal, dan dia datang kembali hanya ingin memberikan tanda bahwa dirinya sudah tenang di alam sana dan tidak perlu mencarinya lagi.
karena Pak Devano sempat mencari tahu keberadaan Rara, namun tidak ketemu, dan tidak ada yang tahu pada Rara.
...
Sekecil apapun kebaikan itu, akan terlihat besar bagi seseorang yang menerimanya, begitupun dengan Rara meski kata pak Devano kebaikan yang ia berikan hanyalah hal biasa, namun bagi Rara sangat lah berarti dan luar biasa.
Terima Kasih, Semoga menghibur.
Jangan lupa dukung aku ya dengan cara..
#Like
#Comment
#Dan Follow