Malam itu, aku pulang kerja pada tengah malam. Seperti biasa, aku naik motor bututku yang melaju pelan dijalanan sepi. Sebenarnya aku pulang berbarengan dengan beberapa teman kerja lain namun dibeberapa gang mereka belok ke rumah masing-masing. Kebetulan rumahku letaknya paling jauh sendiri.
Tak ada perasaan takut karena memang tekadku adalah bekerja mencari rizki. Dan semua orang sekitar sudah mengenalku sebagai Zee si gadis tomboy yang sombong dan galak. Tak ada satupun laki-laki yang berani mendekatiku apalagi menggodaku. Aku bisa langsung memberinya bogem mentah di wajahnya.
Dikejauhan, samar-samar aku melihat sebuah perkelahian yang tidak seimbang. Kelihatannya seseorang sedang dikeroyok oleh beberapa orang, bahkan ada yang membawa belati. Kilau belatinya yang terkena sorot lampu sempat membuat mataku silau.
Meski ada perkelahian didepanku, aku sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan mereka. Aku pura-pura tidak melihat ketika melewati tempat perkelahian itu. Namun, kuhentikan laju motorku ketika sebuah suara parau terdengar olehku.
"Toloooong aku...."
Aku menoleh kearah sumber suara itu. Terlihat seseorang terhuyung-huyung mencoba mengejarmu dan akhirnya dia jatuh bersimbah darah. Aku akhirnya turun dan hendak membawa orang itu pergi. Tapi beberapa orang itu berteriak padaku dengan keras.
"Nona, pergilah. Jangan ikut campur urusan kami," teriak salah satu perampok itu. Yach... mereka memang mirip perampok jalanan.
Tapi aku tidak memperdulikan teriakan mereka. Aku tetap hendak menolong orang itu. Karena mereka kesal dengan sikapku, salah satu dari mereka hendak menarik rambutku saat aku jongkok sambil melihat keadaan orang itu.
Dengan cepat aku menendang kakinya hingga dia jatuh. Merasa ditantang, mereka maju satu persatu untuk menghajarku. Aku tidak akan pernah takut dengan mereka. Basicku cukup untuk memberi mereka pelajaran berharga. Bukan sombong, ini hanya untuk menjaga diri dari orang-orang seperti mereka. Saatnya membuktikan diri hasil dari latihan ku sejak kecil.
Dengan mudah kubuat mereka babak belur dan merekapun kabur meninggalkan aku yang jika diteruskan aku bisa ambruk karena kelelahan sehabis bekerja.
Orang itu masih sadarkan diri dan masih bisa berbicara meski dibagikan samping kiri perutnya darah terus keluar. Aku bergegas membantu dia naik kemotor bututku dan kubawa dia ke rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit, aku berteriak memanggil dokter dan perawat untuk segera menangani orang itu.
Aku jadi khawatir jika terjadi sesuatu dengan dia, namun setelah dokter selesai mengobatinya dan berkata lukanya tidak terlalu dalam dan dia baik-baik saja, aku merasa senang.
Aku sebenarnya ingin kembali pulang setelah tahu dia baik-baik saja, akan tetapi dokter memintaku mengurus administrasi rumah sakit dan mengurus biaya rawat inap pasien. ATM ku tinggal seuprit hanya cukup untuk rawat inap selama 3 hari. Tapi tak apalah, yang penting bisa menolong dia.
Sejak, itu setiap hari, aku datang menjenguknya dan dia berjanji akan mengembalikan uangku yang seuprit itu. Kami mulai menjalin pertemanan yang berujung cinta. Namanya Sagara Denava. Aku tidak tahu entah sejak kapan, aku mulai menyukai dia dan dia juga kelihatannya juga suka padaku. Boleh gr lah aku, karena selama ini aku belum pernah jatuh cinta.
Suatu hari, dia berkata padaku dengan nada halus.
"Zee, bolehkah aku mencintaimu?!"
Aku seperti mendengar suara geledek disiang hari mendengar ucapannya. Sebenarnya aku senang dan memang itu yang aku harapkan. Tapi, apa yang menarik dari aku yang bisa membuat dia jatuh cinta? Akhirnya aku beranikan diri bertanya padanya.
"Saga, apa yang membuat kamu mencintai aku?!"
"Kamu gadis yang sangat baik. Dan karena itu kamu. Semua yang ada padamu, aku menyukainya."
"Maksudmu?"
"Apapun itu, asalkan itu kamu aku suka. Kenapa kok kamu jadi malu," tanya Saga.
Aku hanya tersenyum malu.
"Aku tanya lagi, tapi kamu harus menjawabnya. Maukah kau jadi pacarku??"
"Kok pertanyaannya di ganti. Boleh tidak jawab?"
"Tidak boleh. Harus dijawab, dan harus ya?"
"Ya..."
" Nah gitu, jawab ya kan? Mulai sekarang kita pacaran." teriak Saga senang.
Aku tadi bukan bermaksud menjawab ya dengan mudah dan dia malah salah paham. Padahal tadi aku ingin bilang 'ya kok gitu'. E... malah dikira aku menerima cintanya. Tapi aku seneng juga sih, sekarang aku memiliki seorang kekasih yang tampan dan baik.
Saga memberiku sebuah ciuman dikening sebagai tanda kami pacaran. Saat itu kedua orangtua Saga datang sehingga membuatku malu. Namun mereka malah tersenyum dan berkata bahwa Saga sudah meminta restu sebelum mengutarakan cinta padaku. Aku jadi terharu bisa diterima oleh mereka meski dengan penampilanku yang tomboy abis.
****
Setelah memiliki pacar, aku menjadi bertambah semangat untuk bekerja. Biasanya aku ogah-ogahan dan banyak melakukan kesalahan dalam bekerja. Tapi pekerjaan ini pilihan orangtuaku dan aku lakukan karena terpaksa. Tujuan orangtuaku adalah agar aku menjadi gadis feminin seperti gadis-gadis lain yang suka dengan model pakaian yang bagus. Aku bekerja sebagai seorang penjahit di sebuah konveksi besar dikotaku.
Hari ini, semua bersiap karena area kerjaku akan kedatangan bos besar. Bos dari kantor pusat yang baru datang hari ini. Uh ...pada sibuk semua. Seperti biasa aku santai saja. Apalagi aku hanya pegawai kecil yang tidak bakalan dilihat.
Saatnya bos besar tiba. Semua atasanku bergerak menyambutnya. Ternyata hanya 2 orang yang datang.
Aku mencoba melirik kearah tamu yang datang. Betapa aku sangat terkejut ketika aku melihat Saga ada diantara 2 orang itu. Dan mereka sangat menghormati Saga. Jadi siapa sebenarnya Saga kekasihku?
Jahitanku jadi amburadul tak karuan karena rasa kagetku berlebihan. Tak di sangka mereka berjalan kearahku. Aku berusaha berpura-pura menjalankan mesin jahitku yang hasilnya sudah tidak karuan.
Pak Jaya mendekatiku dan memarahiku dengan isyarat. Tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Saga mendekatiku dan melihat hasil jahitanku membuat pak Jaya gemetar karena takut kena marah.
"Maafkan dia pak Saga, biasanya dia bagus menjahitnya."
" Hem..." hanya itu jawaban Saga.
"Nanti aku akan memecatnya atau sekarang juga aku akan memecatnya." kata pak Jaya penuh ketakutan.
"Tidak perlu, suruh saja dia kekantor ku. Aku yang akan mengurusnya sendiri," kata Saga penuh wibawa.
Saga bergegas menuju ruang kerjanya diikuti yang lainya ikut pergi.
" Ayo Zee. Ikut aku keruang pak Saga. Jangan salahkan aku ya Zee?!" kata pak jaya sedih.
"Tidak pak Jaya. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
Sagara Denava, pria yang ditolongnya malam itu dari upaya perampokan adalah bos besar tempatnya bekerja. Bahkan sekarang dia sudah menjadi kekasihnya. Pikiran Zee bingung harus menghadapi bos yang juga kekasihnya itu.
Tok tok tok
"Masuk".
Zee masuk sambil berjalan pelan-pelan seolah takut Saga mendengar suara langkah kakinya.
"Selamat siang pak."
"Siang sayang..."
Zee tersenyum geli mendengar jawaban salam dari Saga.
"Mau aku ajari menjahit? Aku sangat pandai lho menjahit apa saja. Apalagi menjahit hati kita menjadi cinta..." kata Saga sambil tersenyum.
Zee hanya diam saja.
"Zee...aku kangen Zee yang galak itu. Mana orangnya?"
Saga mendekati Zee dan memeluknya erat. Zee membalas pelukan bosnya yang sekaligus kekasihnya itu.
Aku jadi penolong bosku dan menjadikannya kekasihku.
End