Cintya tersenyum bahagia melihat Justin duduk bersanding bersamanya di pelaminan. Lelaki yang di pacarinya selama 1 tahun itu, kini menjadi suami yang akan memimpin bahtera rumah tangganya.
Begitu pula Justin, ia merasa bahagia menikahi gadis yang ia cintai dengan penuh perjuangan. Melamar Cintya bukanlah hal yang mudah di usinya yang baru beranjak 20 tahun, dengan Cintya yang baru menginjak 19tahun.
Ya, mereka menikah di usia muda. bukan karena Cintya hamil duluan melainkan mereka tidak ingin kehilangan satu sama lainya.
"Om.. tante, saya ke sini dengan itikad baik, berencana akan membawa ibu bapak saya minggu depan, untuk melamar Tya.
Penyataan itu tentu saja membuat terkejut kedua orangtua Cintya. Pasalnya mereka selama ini hanya tahu Cintya tidak pernah pacaran apa lagi membawa pacarnya kerumah.
Murka tentu saja, ayah Cintya memandang Justin dari atas hingga ujung kepala. Pemuda yang terlihat terawat itu, jauh dari kata kerja kasar. Lalu bagaimana dia akan menghidupi putrinya. Begitu lah pikiran sang ayah. Detik itu juga Justin di usir oleh orang tua kekasihnya.
Seminggu kemudian, sesuai ucapan Justin, pemuda itu membawa kedua orang tuanya untuk melamar Cintya. Limosin hitam tampak menarik perhatian tetangga sekitaran rumah Cintya. Mereka pun celingak celinguk mencari tahu siapa tamu kaya yang datang kerumah ketua RT mereka.
Ayah Cintya terduduk dengan pasrah. Sebentar-sebentar ia melirik pasangan kakek nenek itu yang disebut sebagai orang tua dari Justin.
"Maaf pak, kedatangan kami tentu mengejutkan bapak. Namun, begitu mendengar Justin memiliki kekasih dan ingin menikah, kami terlalu senang hingga menyetujui untuk melakukan lamaran secepatnya"
Pria tua itu tersenyum lebar yang terlihat sekali ia sangat bahagia.
"Hm..., maaf bu pak. Bukannya saya tidak setuju, tapi mereka masih terlalu muda untuk menikah. Dan dengan penampilannya yang seperti itu, bagaimana dia bisa menghidupi putri kesayangan saya?"
Wajar saja jika sang ayah berpikir Justin tidak mampu menghidupi putrinya. Dengan paras tampan, kulit putih halus dan terlihat lembut serta tubuh yang tampak jarang sekali memakai tenaga, tentu saja memberi nilai minus pada justin dimata ayah Cintya.
"Kami ini sudah tua, memiliki anak Justin di usia menjelang 50 tahun. Jadi selama masih hidup, kami ingin melihat Justin menikah dan memiliki anak. Soal menghidupi bapak jangan khawatir, Justin penerus perusahan saya satu-satunya. Dan dia cukup handal dalam bekerja di usia mudanya"
Tentu saja, Justin adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar yang bergelut di bidang transportasi. Dia merupakan direktur utama perusahaan milik ayahnya. Sedari kecil Justin telah dididik ekstra untuk sanggup duduk di kursi kepemimpinan. Itu lah sebabnya pemuda itu tidak perlu bekerja keras karena selama ini ia selalu di layani.
Sapu tangan tampak lembab ditangan ayah Cintya. Bagaimana tidak, keringat dingin terus keluar dari lubang pori-porinya setelah mengetahui siapa calon mantunya.
*****
Malam pengantin pun tiba, ayah Cintya tampak gusar di dalam kamarnya. Ia terus melangkah bolak-balik memikirkan keadaan putrinya di dalam kamarnya.
"Buruan dong bang, ntar ngantuk akunya. Lagian udah malem gini pasti susah liahnya"
Cintya ngedumel, ia tidak sabar menunggu Justin untuk segera melakukannya.
"Sabar sayang... ini juga lagi persiapan"
"Tapi kamu bisa kan bang.., jangan sampai salah lubang loh ya. Aku nggak mau sakit pokoknya..."
"Agak susah yaang, nggak kelihatan. Soalnya serabutan banget"
"Menurut pengalaman ibu, basahi dulu yang ntar gampang masuknya.."
"Masa sih, aku coba ya..."
"Pelan-pelan....Aww sakiiit. Kok menggangnya nggak bener sih bang, kan sakit aku nya..."
Cintya mulai sewot karena kesakitan.
"Mana... ya ampun maaf sayang, kamu sampai berdarah gitu..."
Justin tampak merasa bersalah.
"Kamu sih... ke gedean batangnya dari lubangnya. Sini aku coba masukin sendiri!"
"Tok.... tok... tok..."
"Siapa yang ngetuk?"
"Makanya jangan keras-keras suaranya yaang, ayah mungkin dengar"
"Cintya... kamu nggak apa-apa nak? Justin awas kalau Cintya besok sampai tidak sanggup bangun!"
Terdengar suara sang ayah dari balik pintu kamar mereka.
"Ngomong apa sih ayah?"
Cintya pun beranjak lalu membuka pintu kamarnya.
"Kenapa yah?"
Tanyanya pada sang ayah yang memperhatikan dirinya dengan seksama.
"Sakit ya nak?"
"Ayah ngomong apa sih? Cintya sama abang lagi mau jahit kancing baju, buat besok mau dipakai. Nih gara-gara abang jari Cintya sampe berdarah"
"Lah terus, serabutan batang besar lubang kecil itu apa?"
"Allahu akbar ayah... itu ini yah, jarumnya gede tapi lubang nya nggak sesuai. Jadi benang nya serabutan"
"Astagfirullah..."
Sang ayah langsung kabur kembali masuk kekamarnya.
"Loh...."
Cintya akhirnya melengos tidak mengerti dengan sikap ayahnya.
End.