Sehari saja, rasakan sehari saja tidak memiliki apa-apa, dan jadilah orang yang paling menyedihkan sampai untuk kasihan padamu saja pun orang perlu berpikir!.
Ini sudah yang kesekian kalinya, kakak laki-laki ku. Sraz Ballmouthe menghamburkan banyak uang untuk wanita-wanita jalang itu!. Kau pikir aku bukan wanita? Hentikan kelakuan kekanakan mu itu dan jadilah pria sejati!. Usiamu sudah 23 tahun dan sekarang waktunya untuk kau memikirkan jodoh mu sendiri!. Sudahi ini Sraz, aku yang lebih muda darimu saja sekarang sudah dewasa. Adik perempuan yang selalu kau buat kotor di dorong hingga terjatuh di kubangan lumpur di kandang kuda waktu itu dan menangis kencang hingga di marahi nenek kau masih tidak perduli?.
Kekesalan ku kian meluap hingga tak dapat terbendung lagi. Kubiarkan pagi ini menu sarapan dari makanan yang ku suguhkan sendiri untuk nya.
Salad dengan tuna yang di masak setengah matang dan jamur yang di rendam dalam kuah sup seledri.
Makanan kesukaan nya yah tetapi tanpa dia sadari dia menemukan makanan yang ia benci di dalam nya.
Aku menikmati sarapan pagi ku dengan tenang sembari membaca laporan kenaikan saham perusahaan. Dan kudapati dia datang dengan tergesa-gesa tanpa memakai jas dan peralatan canggih nya anting dengan teknologi canggih yang dapat mengurusi segala keperluan nya dari jarak jauh hanya dengan berbicara.
"Apa ini?"
Aku mendongak menatap potongan tomat yang dia benci dan melemparnya ke sembarang arah.
Saking tidak suka nya memakan tomat, dia beranjak pergi meneruskan sarapan nya pagi ini. Dan ini reaksi ku.
"Tuan Muda! Mau kemana! Heeii!! Bahkan kau belum memakan sarapan mu!"
Aku terus mengejarnya yang berjalan lebih cepat dari biasanya dengan ekspresi wajah puas tentunya membiarkan dia pergi dengan luapan emosi nya. Dia bahkan juga tidak menoleh dan tidak berhenti maupun menjawab semua pertanyaan yang ku lontarkan sambil mengejarnya. Pintu di buka kasar, dan dia pergi menuju gerbang, aku berhenti dengan napas ter engah-engah di teras rumah dan berpura-pura sedih ketika beberapa pelayan menghampiri ku dengan panik.
"Tuan muda..." Ujar ku pelan, membuat para pelayan kelabakan dengan ulah tuan muda.
***
Sraza Ballmouth, wanita licik hari ini yang membuat ku semakin kesal di buat nya. Dengan tega memasukan potongan tomat kedalam makanan kesukaan ku.
Dan akan ku buktikan, dia pasti akan merasa sangat bersalah dan berusaha untuk mencari ku menyuruh untuk pulang, tapi tidak akan ku turuti dengan semudah itu bahkan dengan menangis sekalipun!.
Adikku sudah semakin menakutkan sejak usianya menginjak 20 tahun, dia sudah seperti eksekutif muda yang haus akan segala hal. Dan dia adalah wanita yang sangat sibuk hingga melupakan kewajiban nya untuk segera menikah.
Ah, aku baru sadar. Siapa yang akan mau dan bersedia menikah dengan nya kalau kelakuan nya saja seperti Ratu neraka?.
Aku melihat mobil taman yang di kendarai kepala pelayan. Pak Ralle yang berhenti tepat di depan ku. Pak Ralle menurunkan jendela mobil dengan tersenyum ramah.
"Apakah anda yakin cukup sampai disini?. Saya bisa mengantarkan tuan langsung ke dalam taman jika tuan mau"
"Tidak perlu. Disini saja"
Aku turun dari mobil setelah menumpang keluar rumah dan berhenti tepat di taman kota. Tempat yang bisa membuat meditasi ku agak lebih tenang dari pada taman di rumah sendiri.
Aku berjalan menyusuri taman yang menurutku cukup sepi bahkan hampir tidak ada aktivitas disana. Maklum saja, ini baru pukul 9 pagi dan aku juga terlalu lebay menanggapi nya. Kaki ku terus saja melangkah hingga mata ku melihat ada seorang pemuda yang seumuran seperti ku memakai setelan casual duduk di kursi taman dengan wajah lelah sedangkan dari pojok sana ada anak kecil yang mungkin usianya sekitar 11-12 tahun tengah merangkak-rangkak di tanah seperti mencari sesuatu di balik semak-semak.
Aku penasaran sehingga mendatangi mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan?"
Pemuda yang duduk tadi mendongak menatap ku dengan pandangan sedikit kaget. Tak mungkin aku tidak dikenali.
"Oi, kau pasti Ballmouthe itu ya?. Apa kau tengah mengisi acara di taman ini?"
Ah, pertanyaan yang membuat ku cukup kesal. Mengenalku, tapi sebagai orang penting di negara ini.
"Aku hanya jalan-jalan"
"Waah tuan Ballmouthe! Itu benar anda?"
Kemudian aku menoleh pada anak tadi yang ternyata bocah laki-laki menggenggam tali untuk hewan peliharaan.
"Sedang apa kau?"
Tiba-tiba dari raut nya yang berubah kaget dan kagum melihatku, seketika kembali menjadi sedih dan sepertinya hampir menangis ketika mendengar pertanyaan dari ku. Jadi, hewan peliharaan nya terlepas dari pengawasan.
"Dia, anjing kesayangan ku. Dia tiba-tiba saja lari dan tali nya lepas, aku sudah mencari nya berkeliling taman ini tapi tidak ketemu"
Dia menjelaskan dengan sedikit merengek, rengekan khas anak-anak. Aku menghela napas dan kemudian memilih acuh saja dengan nya.
"Mungkin kau mau membantu nya?"
Pria ini lagi-lagi mengangguku, aku melirik nya kesal dan berbalik.
"Aku sedang ada urusan, aku tidak bisa membantu"
"Kau menyakiti nya dengan pertanyaan mu sekarang kau memilih pergi?"
Aku terdiam menatap kosong jalan di depan. Dan menjadi sedikit kesal dengan kata-kata pria itu.
Dan ketika aku ingin menanyakan identitas nya pada GUEST, aku tidak memakai nya. Seketika tubuh ku mematung dengan mata membulat teringat semua barang milikku tertinggal di mansion dan hanya menyisakan diri ku tanpa memegang apa-apa. Bodoh sekali kau Sraz, ah bukan lebih tepat nya pelupa sekali aku ini.
"Apakah kau mau membantu ku, tuan Ballmouthe?"
Anak itu bertanya menawarkan permintaan bantuan padaku dengan wajah penuh harap. Aku kembali melirik pria yang masih disana menatap ku tajam, tetapi dia seperti mengeluarkan sebuah benda dari saku jaket nya.
'POLISI'
"Namaku Keta Fujira. Aku sebenarnya sedang dalam libur tugas, tetapi anak ini terus merengek padaku jadi aku tidak tega tidak membantu nya hehe"
Keta Fujira. Tinggi sekitar 180 cm rambut cokelat acak-acakan dan wajah yang selalu kelelahan. Mungkin jika dia terlihat segar, dia adalah pria yang lumayan tampan.
"Ayolah tuan Ballmouthe... Mau kah kau?-"
Aku harus berbuat apa?. Akhirnya aku tidak bisa menolak dan anak itu sepertinya kegirangan.
"Ya! Pertama-tama, kita harus mencari nya"
"Kita pulang saja"
Kedua makhluk itu menoleh padaku dengan wajah kaget.
"Apa yang kau katakan? Jelas-jelas dia lari ke arah sana!"
Anak itu kembali ribut menunjuk semak-semak di pojok taman. Membuat ku kembali kesal.
"Dia hanya menipumu, kemungkinan dia akan berlari menuju rumah mu karena dia tidak dengan pengawasan mu"
Anak itu seperti menerima saran ku dan kemudian dia mengangguk dengan semangat dan tiba-tiba berlari keluar dari area taman.
"Oi! Heh... Apa kau benar tentang itu?"
Aku tersenyum sinis pada Keta yang dibalas oleh tatapan kesal darinya.
Sementara itu di mansion keluarga Ballmouthe.
"Tuan muda meninggalkan rumah? Zasa... Kau selalu bersikap usil pada kakakmu"
Nenek mengomeli ku dengan wajah tenang nya. Tapi tidak memperlihatkan sikap khawatir sedikitpun.
"Nenek, biarkan saja dia merasakan satu hari menjadi orang tanpa barang berharga. Nanti jika dia lapar, dia akan pulang kok"
Aku berucap santai memantau perkembangan kakak tercinta buaya darat ku itu di layar pemantau milik keluarga Ballmouthe dengan bantuan alat-alat canggih. Karena perusahaan Ballmouthe merupakan perusahaan yang bergerak di bidang peralatan modern yang canggih.
Dan itu membuat mereka di kenal di seluruh perusahaan seluruh dunia. Dan selalu memegang peringkat satu pasar saham dunia tanpa bisa tergeser. Alat-alat canggih mereka berguna untuk segala hal, contoh nya saja sangat berguna di bidang kedokteran dan medis. Dan sangat diperlukan di bidang jasa. Juga lain hal nya.
Pemimpin perusahaan merupakan Sraza Ballmouthe dan Sraz Ballmouthe mengendalikan perusahaan milik nya sendiri di London.
"Hero?. Dia hilang?"
Ibunya juga tidak mengetahui anjing kesayangan anak nya menghilang. Karena dia tidak pulang kerumah dan ketika di cek sekeliling, memang tidak ada. Anak itu sedikit terisak, karena dia baru membeli anjing itu dari peternakan Sugar Pets milik keluarga Leyla dan menyangka anjing nya belum tau arah pulang dan tersesat di suatu tempat.
"Tetapi sekarang sudah sore, tak apa sayang. Besok kita akan cari Hero kembali"
Kemudian Keta berpamtian pada orang tua anak itu. Kami pun berjalan pergi ber iringan, hari sudah semakin sore, sebentar lagi akan berganti malam. Aku tidak akan pulang segera, tapi aku akan kelaparan jika tidak pulang. Dan tubuh ku juga bau keringat karena seharian menemani anak itu mencari anjingnya.
"Hei, aku akan melapor di unit darurat di pos sana. Apa kau mau ikut?"
Aku menoleh pada Keta yang mengajukan pertanyaan padaku. Apa boleh buat, aku mengangguk saja mengikuti nya mengekor dari belakang seperti anak yang kehilangan arah.
Padahal memang anak yang kehilangan arah.
Aku menunggunya hingga dia selesai menyatakan laporan hewan hilang pada opsir di dalam pos. Dari tadi tak hentinya perutku berbunyi karena lapar yang tak tertahankan tapi aku harus berusaha tetap cool dan jaga image agar tidak membuat malu marga Ballmouthe.
"Oi, kau lapar? Mau makan dulu?"
Baru saja hatiku berujar untuk menjaga image keluarga, seketika runtuh oleh pertanyaan menyebalkan dari Keta. Bisakah dia tidak banyak bertanya dan pulang saja?. Ah benar, aku sedang ngambek dan tetap tidak akan pulang jadi aku tidak bisa membentak Keta seperti itu.
"Tidak perlu"
Aku menatap ke arah lain untuk menghindari tatapan menelisik dari Keta yang sepertinya mulai curiga kenapa aku masih mengikuti nya sampai sekarang.
"Sebenarnya, aku tidak membawa uang"
Aaaarrgghh! Aku meruntuhkan semua ego ku! Tak kusangka aku akan meruntuhkan ego di depan seorang anggota polisi. Keta menghela napas nya dan sedikit tersenyum, apa itu? Seolah meremehkan ku kah?. Tangan nya merogoh saku dan mengeluarkan dompet yang ia buka kemudian memberikan selebaran uang 100 ribu padaku.
"Ini, untuk ongkos mu naik kereta"
Aku merasa sedikit bersalah, karena jadi merepotkan Keta. Saat aku ingin menyambut uluran kasih nya, aku kembali teringat dengan wajah angkuh dari Sraza yang pasti akan mentertawakan ku. Saat itu juga aku menolak pemberian dari Keta.
"Aku tetap tidak bisa pulang"
"Heeeh?"
-Mansion-
"Aw.. Aw, sekarang dia menolak pemberian inspektur Keta, lantas apakah dia akan tetap bertahan hidup"
"Lagipula dia akan belajar dengan cepat"
Nenek masih setia menonton bersamaku diruang pemantauan, ini semakin menarik. Karena pasti Sraz sedang bimbang ingin tetap pulang apa tidak.
Sementara itu, aku di ajak Keta untuk ke supermarket membeli beberapa bahan makanan. Dia dengan senang hati akan memberiku tempat tinggal sementara dengan menginap dirumahnya selama yang aku minta. Aku tengah mendorong troli belanjaan dan dia di depan sana tengah sibuk memilih bahan, tanpa sadar aku memperhatikannya yang lebih lebay dari ibu-ibu yang berbelanja di seberang sana.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku gelisah, karena dia berjongkok cukup lama memilih sekotak susu full cream.
"Yosh, ayo kita lanjut ke kasir"
Tanpa menjawab pertanyaanku, dia lalu memasukan kotak susu tersebut kedalam troli dan berjalan pergi meninggalkan ku.
Kami sampai di sebuah rumah susun, aku masih terdiam di bawah tanggah sedangkan dia menoleh ke belakang.
"Kau benar tinggal disini?"
"Sudah tidak perlu banyak tanya! Ayo cepat!"
Pintu terbuka dan lampu otomatis menyala. Ternyata seperti ini suasana dalam rumah Keta, kecil dan sempit.
"Apakah kau benar tinggal di tempat ini?"
"Berisik!"
Aku melihat sekeliling, belum pernah menginjakan kaki di rumah kecil seperti ini, mengingat aku tinggal di kastil atau mansion keluarga yang terlewat luas bahkan bisa memakan beberapa hektare. Sedangkan untuk seorang polisi yang merupakan pekerjaan mulia pun, hanya bisa menyewa rumah susun begini.
"Apa yang kau lihat? Maaf ya sedikit berantakan"
Aku menoleh pada Keta yang tersenyum kikuk dan merasa canggung saat mataku sibuk mengitari seisi rumahnya.
"Hey, bagaimana kau membantuku untuk memotong wortel dan kentang? Kita bagi pekerjaan supaya cepat selesai"
Aku menoleh pada tangan nya yang mengenggam kentang mentah, dan aku menyambutnya.
Keta menyuruhku untuk memotong kentang dan wortel sambil duduk di ruang tengah, memotong saja sudah terlalu sulit bagiku karena aku terbiasa melakukan semuanya dengan bantuan orang lain, tiba-tiba karena salah posisi jariku teriris pisau dan berdarah.
Mataku mencari kotak P3K, tapi yang terlihat olehku hanya plester luka yang tergeletak di meja dekat ranjang nya.
-Mansion-
"Keta Fujira, anggota kepolisian divisi pengawalan kejahatan. Kenapa dia bisa membuat keinginan Sraz untuk pulang menjadi batal yaa..."
Sraza sudah menghabiskan 2 cup thai tea yang rasanya begitu manis tanpa ingat mengontrol tekanan gula darahnya sendiri. Karena terlalu serius memantau keadaan Sraz meskipun kamera tersembunyi hanya bisa memantau kondisi luar rumah susun.
"Huuuh, apa yang sedang mereka lakukan? Apa Sraz akan tahan hidup melarat satu hari?"
"Kau sudah menkhawatirkan nya?"
"Nenek!"
---
"Apa kau tidak ada baju lain?"
Aku memakai setelan milik Keta setelah dia bilang padaku bahwa aku harus segera membersihkan diri karena seharian aku bersamanya melakukan aktivitas berat. Dia dengan senang hati meminjamkan hoodie berwarna maroon dan celana jogger abu-abu yang aroma nya sangat khas.
"Haih kau ini, masih saja protes padahal sudah menumpang bermalam"
Makanan sudah siap di meja kecil pendek yang bisa di pakai 2 orang, ya jarak dari dapur ke ruang tengah hanya 5 langkah dan itu membuatku menjadi sesak bergerak dan seperti susah melakukan segala hal, memang sangat berbeda dengan kediaman ku yang kelewat luas dengan meja makan panjang dan mewah juga rumah yang besar.
"Selamat makan"
Hidangan nampak tersaji lezat dengan asap masih mengepul dan menguarkan aroma nikmat sehingga perutku semakin bergejolak ingin segera melahapnya sampai habis. Aku menyuapkan makanan segera setelah berdoa singkat dan merasakan bumbu yang menyerbak di indra pengecapku. Ternyata masakan Keta tidak terlalu buruk, bahkan lezat untuk seorang pegawai kepolisian. Dengan lahap akupun memakannya sampai habis.
Acara makan sudah usai, dia menyetel televisi dan menonton sebuah film action. Katanya itu merupakan film kesukaan nya yang baru saja ditayangkan di televisi setelah lama dipajang di bioskop. Keta menuangkan sebuah minuman yang aku tidak tau apa, sepertinya seperti sebuah minuman beralkohol. Aku jarang meminum arak, tapi aku sering mencicipi berbagai jenis wine yang tersedia di mansion ku di london.
"Ini arak terkenal di sini, satu botol cukup mahal. Tapi aku beli setiap gajihan jadi tidak masalah"
Dia memberikan cawan kecil padaku, lalu hanya dengan sekali teguk. Rasanya tidak begitu aneh seperti arak yang lain, tapi aku suka. Keta juga terlihat menatapku puas dan kembali menuangkan untukku.
"Kau suka kan?"
Ini sudah cangkir ke tujuh, aku merasa sedikit mabuk dengan mata yang mengantuk. Tapi aneh nya Keta masih bisa serius menonton film tersebut, dengan sedikit cegukan Keta kembali menuangkan minuman padaku, dan aku meminumnya lagi.
"Oi Ballmouthe, kenapa kau pergi dari rumah?"
Pertanyaan Keta nampak kesulitan untuk ku jawab, dan sepertinya untuk bercerita pada orang asing meskipun dia mabuk dan akan lupa adalah hal yang kurang menguntungkan.
"Oi, kau adalah pengusaha muda kaya raya yang hebat. Aku akui itu, dan kau juga sering dikabarkan dekat dengan banyak wanita seperti artis terkenal yang terakhir kau kencani bulan lalu itu? Itu tersebar luas hingga satu kantor polisi menggosipkan muu"
Aku menghela napas dengan sesekali cegukan juga. Ternyata, dia membahas hal membosankan itu. Mataku memang hampir sulit untuk dibuka dan aku juga terhuyung-huyung.
"Aku polisi mengayomi masyarakat dan menjadi pahlawan hek, juga tugas berat hek"
"Oi Ballmouthe! Jangan tidur kau!"
"Aku tidak tidur, aku hanya memejamkan mata saja...".
-Mansion-
Aku masih terjaga menghabiskan beberapa botol minuman sehat karena harus memantau keadaan saudara sendiri yang terluntang-lantung dirumah orang.
"Nona terjaga semalaman?"
Nenek tiba-tiba masuk keruangan pemantauan kembali juga melihat keadaan cucu pria kesayangannya itu heeekh.
"Aku tidur kok. Tapi tidak terlalu pulas, aku cemas karena salahku dia jadi harus pergi dan merajuk seperti anak kecil"
Aku mendengar nenek nampak tertawa lembut, dan pasti sambil melirik ku.
"Akhirnya kau merasa bersalah juga dengan kakakmu"
Aku menghela napas, setelah aku introspeksi diri akhirnya aku mengaku. Bahwa yang kekanak-kanakan selama ini adalah aku. Aku terlalu kesal dengan segala hal yang dilakukan Sraz tanpa meminta kesempatan untuk nya bicara satu kata pun.
---
"Maaf jadi harus merepotkanmu, padahal kita baru kenal"
Aku menoleh pada Keta yang pagi ini menyiapkan sarapan. Aku kembali memakai setelan milikku setelah kering karena di cuci kemarin malam. Sambil mengaitkan kancing baju bagian atas aku berjalan menuju Keta yang mengorak-abrik isi lemari kulkas.
"Hari ini, tomat dan sup saja"
"Tomat?"
Nada bicaraku meninggi kala mendengar buah bulat berwarna merah tersebut. Keta menoleh padaku dengan wajah penuh tanya.
"Sudah jangan banyak protes, tomat bagus untuk kesehatan. Selain itu, akan kutunjukan masakan sup tomat ala Keta Fujira"
"Hiro masih belum kembali"
Keta mengacak-acak surai anak lelaki itu pelan, mereka sudah susah payah mencari kemana Hiro pergi.
"Sudahlah, tak apa. Sebaiknya kita pulang saja"
Tiba-tiba terdengar gonggongan kecil dan imut sehingga membuat anak itu mendongak cepat dan matanya membulat kala melihat sosok anak anjing di gendongan Sraz Ballmouthe.
"Hiroo!"
Anak itu segera berlari menuju anjing kesayangan nya memaksa Sraz untuk di ambil alih oleh nya dan memeluknya erat.
Saat aku melihat anak itu, wajahnya sangat bahagia. Dia sangat bersyukur atas kepulangan hewan peliharaan nya yang sudah dua hari menghilang. Tiba-tiba aku teringat Sraza dan nenek di rumah, mereka pasti mengkhawatirkan aku tinggal dimana selama dua hari ini.
"Dimana kau temukan Hiro?"
Mataku melirik ke wajah penasaran Keta.
"Dia ditemukan oleh keluarga lamanya, Sugar Pets kata Eva si owner, Hiro tengah kebingungan di pinggir jalan menoleh kanan-kiri. Beruntung dia kembali dibawa pulang dan siapa tahu, keluarga anak ini akan datang mencari"
Keta melongo tidak percaya dengan apa yang barusan aku katakan panjang lebar, insting seperti ini membuatku kembali teringat dengan cita-citaku di masa kecil. Heh sudah sangat terlambat mengakuinya.
"Heh, kau cukup hebat juga"
"Tuan Ballmouthe, terima kasih banyak"
Anak itu tersenyum padaku berterima kasih dan segera pulang menggendong Hiro. Aku juga teringin pulang, karena setelah aku introspeksi diri lagi, aku yang terlalu kekanakan meninggalkan rumah hanya karena dijahili adik sendiri.
Aku lalu berbalik meninggalkan Keta yang berdiri sendiran.
"Hey! Kau mau pulang?"
"Yah"
Sial. Kaki ku terhenti berjalan ketika teringat aku tidak punya uang untuk naik kereta. Jarak antara taman ini dan mansion lumayan jauh saat kemarin aku menumpang naik mobil pak Ralle.
"Oi, aku mau pinjam uang untuk naik kereta"
---
"Tuan Muda!"
Sraza berlari kecil menyambutku di teras rumah, dan aku berusaha untuk tetap keren meski tidak pulang dan tidak berganti baju selama dua hari.
"Selamat datang kembali tuan muda"
Aku berusaha tersenyum saat kakaku mengacuhkan ku. Dia mungkin agak gengsi saat harus pulang kerumah, tapi tunggu. Jari nya, telunjuk kanan di plester luka? Apa jangan-jangan?.
"Tuan muda! Jari mu?"
Sraz menoleh padaku setelah mengucap salam pada nenek. Dan berbalik menghadapku menilik telunjuknya, dan tersenyum padaku.
"Selama dua hari ini aku banyak belajar, terima kasih sudah memperhatikan ku"
Tiba-tiba aku kaget dengan semua yang ia ucapkan, membuat aku terharu dan meneteskan air mata bangga padanya.
"Hiks, kakak..."
"Kau lapar?"
Aku mengangguk, aku lihat dia juga membawa kantong kresek.
Dan dari mana dia bisa dapatkan uang untuk membeli barang tersebut?.
---
"Kemudian taburkan daun prasley kering dan jadi"
Aku melihat sebuah sajian makanan lezat bertemakan tomat. Sup tomat yang nampak masih mengepul asap dan aromanya begitu menggiurkan. Nenek dan pak Ralle juga terkagum melihat tampilan tersebut.
"Sejak kapan kau bisa memasak sup tomat dengan bau memikat begini"
Aku lalu mengambil sendok, dan mencicipinya.
"Waaaah! Rasanya enak sekaliiii!"
Dan juga terasa pedas yang begitu kuat berpadu di indra pengecapku.
Sraz tersenyum penuh kemenangan.
"Kunamakan ini sup tomat level neraka"
"Eeeh, yang sudah suka makan tomat sekaraaang..."
"Nenek!"
"Hahahaha...."
™
™
™
~THE END~
😊😊😊