Perasaan sayang dan cinta seorang sahabat gak umum jika di ungkapkan dengan kata "Gue cinta ama lo," itu pasti menggelikan banget. Apalagi ama si Juju, bisa-bisa dia GR dan salting ama gue.
Jadi, gue nunjukin rasa sayang dan cinta gue sama si Juju dengan cara mensuport dia untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Juju itu unik cenderung aneh mendekati gila. Dia memperkenalkan diri dengan nama lengkap Jubaedah, nama panggilan Joy. Sumpah, sampai detik ini gue gak ngerti dan gak bisa terima nama dia dari Jubaedah jadi Joy, gak nyambung banget. Akhirnya, sejak perkenalan sampai hari ini, gue manggil dia Juju.
Gue kenal Juju pas kita sama-sama kerja di pabrik sepatu. Kita sama-sama anak baru disana. Penampilan Juju, tuh, laki banget, tapi cupu. Dia sering pake celana khaki warna cokelat tua yang bikin dia lebih mirip anak pramuka ketimbang karyawan pabrik. Untung aja, wajahnya lumayan manis. Jadi, masih ada lucu-lucunya.
Kesan pertama gue kenal dia adalah, dia unik. Gak ada lagi yang seperti dia di pabrik ini. Dia juga baik dan pinter banget mencairkan suasana.
Seperti di hari pertama kita kenalan. Setelah saling memperkanalkan diri, tiba-tiba dia ngebuka obrolan, seolah udah kenal lama ama gue.
"Eh, inget gak waktu kita di bawa keliling area pabrik? Apa tuh namanya?" katanya sambil memegang jidatnya.
"Factory tour?"
"Nah, bener itu. Inget gak? Ada yang sol sepatunya copot terus orangnya gak ngeh, kalau sol sepatunya udah ketinggalan jauh di belakang, hahahaha..." katanya di akhiri tawa terbahak.
"Gak mungkin gue bisa lupa kejadian itu." Gue terkekeh. "Eh, lo tau gak? Yang copot sol sepatunya itu, siapa?"
"Siapa? Emang lu tau?" tanya Juju dengan muka polos dan masih menahan tawa. Sungguh manusia minus simpati, bisa-bisanya tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Gue!" Seru gue.
Mendengar jawaban gue, bukannya minta maaf, dia malah kembali tertawa terbahak-bahak bahkan sampai guling-guling dilanti.
Gue yang awalnya kesal, mulai tertawa melihat Juju yang masih terpingkal-pingkal dilantai."Untung itu bukan lo, Ju. Coba, seandainya itu lo. Sampe usia lo pensiun, orang bakalan inget dan ngenalin ,lo." gue mulai ikut tertawa.
"Iya bener... untung bukan gue, orang bisa langsung ngeh, itu gue. Bisa-bisa nama panggilan gue jadi Solpatu bukan, Joy." Katanya, membuat gue mulai terbahak-bahak. Si Juju, kepolosan dan ketulusan dari binar matanya, bikin gue gak sanggup marah.
Juju memang beda. Sebagai manusia yang terlahir jadi perempuan, dia tidak seperti perempuan. Dia tidak suka berdandan, dia tidak suka pake high heels dan dia tidak suka laki-laki.
Biarpun begitu, gue sayang ama dia. Dia baik, sopan dan enak di ajak ngobrol. Dan yang pasti, dia gak pernah mencoba menyesatkan gue. Sebaliknya dia yang selalu ngingetin gue soal ibadah.
Gak banyak yang gue tau tentang Juju. Apalagi sekarang kita beda kota. Baik gue maupun Juju, kita gak bertahan lama di pabrik sepatu itu. Sekarang gue kerja di family karaoke, sementara Juju merantau ke Jakarta. Meskipun begitu, komunikasi kami masih terjalin baik.
Suatu hari gue iseng ngajakin dia ke paranormal, mudah-mudahan kan tuh paranormal bisa bikin dia normal. Gue pikir dia bakalan nolak dan tersinggung dengan ajakan gue. Diluar ekspektasi, ternyata dia mau bahkan antusias banget untuk datang ke paranormal rujukan gue.
"Kalau tuh dukun bisa bikin gue sembuh, gue seneng banget, Dit." katanya setengah berteriak melawan deru suara motornya yang menderu karena jalan menanjak.
"Ini dukun sakti banget, Ju. Gue udah pernah kesana sekali. Dia bisa tau lho apa yang lagi gue alamin, sampe bisa nebak apa yang gue bawa," kata gue semangat. Pastinya, sambil teriak juga dari belakang.
Suara motor Juju semakin menderu, jalan menuju rumah Mbah Dukun semakin menanjak dan curam. Biarpun begitu, Juju mampu melewatinya dengan baik.
Rumah Mbah Dukun yang berada ditengah perkebunan terlihat temaram dengan bohlam 5 watt yang terpasang dilangit-langit ruang tamunya. Cahaya kekuningan keluar dari pintu rumahnya terbuka lebar, menerangi teras rumahnya yang asri dipenuhi tanamah hias. Sepertinya ada tamu lain yang sudah lebih dulu disana.
Setelah mengucap salam, gue dan Juju di persilahkan masuk. Mbah Dukun riang menyambut gue, yang datang untuk keduakalinya bahkan bawa calon pasien baru.
"Neng Dita, Abah sudah tau kamu bakal datang malam ini," seru Mbah Dukun sambil mempersilahkan gue dan Juju duduk.
"Dia udah tau kita mau kesini, Ju." Bisik gue pada Juju, memamerkan kesaktian Mbah Dukun. Si Juju nyengir aja, nanggepin omongan gue.
"Siapa ini, Neng? Kenalin atuh sama Abah," Mbah Dukun terlihat berusaha ramah menyambut wajah baru calon pasiennya, si Juju.
"Ini, Juju, Bah. Nama aslinya Jubaedah," kata gue sambil menepuk pundak Juju. "Coba, menurut Abah, kenapa ini si Juju belum laku-laku?" tanya gue sambil terkekeh. Gue emang orangnya to the point, gue gak suka basa-basi. Itu kenapa gue cocok sahabatan ama si Juju. Kita gak suka basa-basi, gak suka ribet dan selalu apa adanya.
Mbah Dukun tersenyum sambil manggut-manggut menatap lekat si Juju. "Inimah, anaknya solehah, solatnya rajin, hatinya tulus." Mbah dukun terlihat menarik napas panjang lalu memejamkan matanya. "Sebetulnya, banyak yang suka dan mau sama Neng Juju. Tapi, Neng Juju ini kayaknya gak cukup satu, ya." Mbah dukun membuka matanya, lalu tersenyum sambil menatap lekat ke si Juju. "Suka ganti-ganti cowok, ya?"
Gue melongo menatap Juju, sumpah gak nyangka dukun sakti yang gue rekomendasiin ke Juju bisa salah menerawang si Juju. Oke, di bagian Juju rajin solat itu bener. Tapi, Juju gonta-ganti cowok? mana pernah, satu cowok aja gak ada. Dan, setau gue, cewek juga dia gak gonta-ganti, bisa di bilang gak ada juga.
"Hehehe, Abah bisa aja. Enggak gitu, Bah." Juju tertawa, matanya menatap gue seolah bertanya, 'ini yang lo sebut sakti?'
"Coba, Abah terawang lebih dalam lagi, Bah!" Gue belum bisa terima kenyataan Mbah Dukun gue gak sakti.
"Iya, kan, Neng Juju. Gak usah malu-malu sama Abah, jujur aja. Nanti Abah bantu supaya Neng Juju bisa cocok dengan satu cowok yang pas." kata Mbah Dukun, bikin gue makin gak enak hati sama Juju.
Akhirnya, gue ama Juju manut aja dengan hasil terawanagn di Mbah Dukun. Sebelum pulang, Juju di suruh mandi dulu pake air kelapa yang udah dia jampe-jampe. Tidak lupa dia di beri sebotol air dan selembar kertas bertuliskan huruf Arab dengan tinta merah.
"Itu dukun tidak sakti, Dit. Dia gak bisa nerawang gue, hahahaha" Kata Juju diakhiri dengan tawa yang bikin gue makin gak nyaman.
"Gue kapok ah ke dukun itu" gue frustasi.
"Yang bener, tuh. Kapok ke dukun. Bukan kapok ke dukun, itu," kata Juju membuat gue memutar bola mata karena kesal. "Tapi, makasih ya. Setidaknya lo udah berusaha bikin gue kembali ke jalan yang bener. Jangan nyerah dan lelah doain gue ya, Dit." Juju menepuk pundak gue pelan. "Gue harap, ini akan jadi kali terakhir lo main dukun." lanjutnya. Dia emang pinter banget bikin kata-kata yang bisa bikin orang terharu.
Gue mengangguk mengiyakan.
Dalam suasana hening, kami lewati perjalanan pulang. Meninggalkan rumah dukun [tidak] sakti, sekaligus harapan-harapan palsu yang sempat gue sematkan pada dukun itu.
Nb : Tulisan ini semata diperuntukan untuk hiburan, tidak bermaksud menyinggun profesi tertentu.