"Hahh? i-ini dimana?", padahal baru saja aku menutup mata untuk tidur. Namun entah kenapa netra ini terasa ingin terbuka.
Patss
Pandangan ini mengejutkan ku. Aku yang semula berada di kamar, tiba-tiba telah berada di sebuah padang rumput. Hamparan rumput yang hijau yang begitu luas, dan langit biru tanpa awan yang hangat.
'Mimpi?', aku membatin, takut untuk bicara saat ini. Mencoba memindai sekitar, akhirnya mendesah pelan. Tidak ada apapun disini.
"Ku berharap ada orang lain disini," gumam ku tak jelas. Tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak tahu harus apa, oh inilah kebingungan yang sebenarnya.
tap! tap! tap!
Seorang remaja laki-laki berlari mendekat dari arah berseberangan. Terlihat ia juga melambaikan kedua tangannya.
"..eii... Heii... Kamu..", akhirnya perlahan aku mendengar kalimatnya. Jarak kami terkikis, dan berakhir ia duduk disebelah ku. Anak itu tampak masih mengatur napasnya.
"hhuhh... huhh.." sepertinya ia kelelahan, bahkan beberapa keringat tampak menetes di wajahnya. Uhh, andai aku punya air mineral.
Sepertinya ia sadar jika sedari tadi aku menatapnya lekat. Ketika kami bertemu pandang, aku membuang muka sedikit malu aksiku terciduk. Jika tidak salah, ia memberikan senyum sebagai balasan.
Anehnya, arah ku membuang muka, yaitu ke samping kanan, terdapat dua botol air mineral tergeletak diatas rerumputan. Aku segera mengambil dua botol itu. Dingin, sepertinya begitu segar. Salah satunya, ku berikan kepada anak tidak ku kenal itu.
"Terima kasih," netra biru sapphire nya berbinar cerah saat menerimanya, aku hanya mengangguk kecil tanpa melepas fokus ke mata indah itu. Sungguh warna mata yang cantik.
gluk,
Tegukan pertama ku disini, ah sungguh menyegarkan. "Kamu siapa?" dua kata pertama ku yang akhirnya bicara. Anak itu tersenyum lebar, "Panggil saja Angin!" Benar-benar tidak cocok untuk garis wajah yang hampir dewasa itu.
"Hahh..?" ia masih tersenyum melihat ku yang tiba-tiba saja glitch. "Hahha, reaksimu sama seperti mereka. Iya, namaku Angin, bagaimana denganmu?" aku tidak memperhatikan kalimat pertamanya.
"Namamu sungguh unik, aku Ruby salam kenal," aku tersenyum hangat, sama seperti orang-orang ketika berkenalan dengan teman baru.
Hening sejenak. Aku yang berpikir keras memilih berbagai pertanyaan yang tepat. Sedangkan Angin menikmati hembusan 'angin' yang melewati kami.
"Angin, ini dimana?" bagiku ini pertanyaan awal paling tepat. Angin menoleh dan tersenyum, "Tanyakan pada rumput yang bergoyang~" Ughh entah kenapa ini pertama kalinya aku merasa ingin memukul orang yang baru ku jumpai.
Aku tersenyum jahil, tiba-tiba jawaban unik muncul dikepala ini, "Rumput bergoyang terkena Angin~" Hhahahahha.. tiba-tiba kami tertawa bersama, anak itu sepertinya sangat ceria dan tawanya begitu menular.
"Ini tuh, tempat dimana kamu dapat membuat apapun menjadi nyata--" akhirnya Angin memberiku jawaban, ya walaupun tidak masuk akal. "Mimpi?" aku bergumam pelan, tentunya ragu dan bingung. Angin mendengar gumaman kecil itu, telinganya tajam sekali "Ya seperti itulah, tapi kamu memiliki kesadaran disini!! Ayo bermain!" Ia menarik tanganku untuk berdiri.
Kami bermain bersama di atas padang rumput itu. Tidak ku sangka, ia bahkan dapat terbang dan mengajakku ke angkasa juga. Sepertinya ini benar hanya mimpi, tapi aku menikmatinya.
Brukk~ "Hhaha, lelah tapi menyenangkan!" kami menjatuhkan diri ke alas rumput itu.
"Ternyata bisa seindah ini," aku bermaksud mengatakan 'mimpi' tapi Angin telah memberi peringatan tadi. Katanya tidak boleh mengucap kata itu. "Kamu belum pernah mengalaminya?" Angin terkejut, pantas saja ia baru menemui gadis itu.
"Tidak juga, aku sangat jarang mengalaminya-" netra Ruby menatap jauh ke angkasa, sangat jarang ia bermimpi, ".. kalaupun pernah, pasti didalam air yang tidak tahu dimana permukaannya. Atau tersesat di dalam hutan hijau yang rimbun." tanpa disadari Ruby, Angin sedikit membolakan matanya ia tahu itu tapi ia memilih diam mencoba tenang.
"A-ah, pasti sesak ya, di air kan tidak bisa bernapas. Dan juga dihutan, apakah kamu bertemu hewan liar?" nada bicara Angin sedikit terganggu, ia mencoba memperbaikinya.
"Entahlah, tapi rasanya nyaman. Di hutan itu juga sangat sejuk dan segar,--" aku tersenyum, aneh memang, tapi itu yang aku rasakan, "...tapi paling enak disini! Cerah dan hangat, hembusan 'angin' juga sejuk!" untungnya Ruby tidak melihat Angin yang tersipu malu. Ia baru saja dipuji, oleh gadis cantik pula.
"terimakasih", Angin mencicit pelan. Kruukyukk~ tiba-tiba perut ku berbunyi. 'Aaaa memalukan sekali!' aku berteriak dalam hati dan wajahku pasti sudah memerah sekarang. "Hihii, kamu lapar ya?" sudah tahu lapar masih menggodaku, dasar Angin! "Apa yang kamu inginkan untuk makan sekarang?" Angin bertanya kepadaku? Apakah ia akan mengabulkannya?
Tanpa sadar aku menutup mata dan membatin, menyebutkan makanan-makanan yang aku inginkan, 'Ayam goreng, pizza, spaghetti, ramen, burger, sandwich, eskrim coklat, susu stroberi, blablabla..'
Satu persatu makanan tersebut muncul di sekitar kami, lengkap dengan meja kecil dan alat makan. "Woww woahh, stop Ruby, kamu yakin bisa menghabiskan semua ini nanti?" Angin memekik membuatku tersadar. Saat membuka mata, banyak makanan yang entah dari mana asalnya.
"Hahh? K-kok bisa?" aku masih belum menyadari apa yang terjadi.
"Kamu menyebutkan banyak makanan tadi, ingat *apa yang kamu inginkan, pasti terjadi disini* " kalimat Angin akhirnya menyadarkan ku. "uhh, maaf--"
"Tidak apa-apa, ayo makan!" lucunya, Angin malah makan mendahului Ruby. "Heii!" Ruby juga ikut makan makanan penuh junk food itu.
"Uhh, kenyang~" kami menghela napas bersamaan. Makanan tadi sudah ludes dilahap. "Nafsu makan mu cukup besar ya," sebuah pernyataan kecil seperti itu tidak pernah menyinggung Ruby. Memang benar adanya, dan itu tidak membuatnya gemuk. "Semua berkata seperti itu."
Setelah mereka benar-benar berhenti makan, sisa makanan itu menghilang. Tak lama, kantuk menyerang Ruby. Ia berbaring beralaskan padang rumput itu, diikuti juga oleh Angin.
Ketika ia berdiri dari tempatnya berbaring, Angin melihat Ruby sudah tertidur.
"Berpikirlah positif, Ruby. Lawan kegelapan dalam dirimu.." bisik Angin pelan sebelum menghilang dan menyatu dengan udara.
...
Pat!
Ketika aku membuka mata, sesuatu yang lain menyambutku. Pusaran angin tornado berada didepan mata. Pusaran besar itu menyapu bersih lautan rumput ini.
Pertama kali yang ku cari adalah Angin, "Angin? Dimana Angin?! ANGIN KAMU DIMANAA?" Aku khawatir, khawatir Angin tidak bersamaku, juga khawatir tornado itu mendekat.
Perkataan Angin tiba-tiba terlintas dalam benak ku. Aku menutup mata dan mengharap semoga tornado besar itu berhenti. Nyatanya tidak sesuai ekspektasi besarku, angin besar itu masih ada dan bertambah besar. Rasa tarikan anginnya pun mulai terasa, aku mencoba berlari.
Sekarang jarak kami hanya tinggal satu kilometer, uhh aku sudah tidak kuat lagi. Selain tarikan pusaran bertambah kencang, kakiku juga lelah berlari.
"AAAAA--" dan akhirnya tornado itu menarikku, dan sekarang aku terbangun.
"Kamar.. ini kamarku.. a-aku benar-benar hanya bermimpi?" aku bersyukur karena ini hanyalah mimpi buruk ku. Tetapi rasa takut masih menggerayangi ku.
gluk! gluk! Untunglah segelas air mineral siap di nakas. Setidaknya minum dapat menetralkan rasa takut ini. "Mengapa tiba-tiba menjadi mimpi buruk?", aku bergumam pelan.
"Lucid dream sialan, aku tidak akan mencobanya lagi!!" aku memekik tertahan karena ini sudah hampir tengah malam. Bodohnya aku mau melakukan percobaan lucid dream yang sedang trending akhir-akhir ini. Tanpa pendamping pula, cukup sekali ini saja aku melakukannya.
"Tapi, sepertinya aku melihat Angin ditengah tornado tadi," lihat sekarang aku mulai terbayang dan bergumam tak jelas.
Aku merenung, semua mimpiku selama ini apakah berkaitan? "Ini hanya mimpi, ya hanya mimpi" aku memutuskan jika semua mimpi yang aku alami sampai sekarang tidak berkaitan sama sekali.
"... padahal semua itu berhubungan." -someone