"Aaaarrrghh, tolo-" tiba-tiba nafas Aimee menjadi sesak, mungkin ini yang dinamakan lucid dream sebab ia baru saja selesai berdoa dan merebahkan tubuhnya di pembaringan kemudian memejamkan mata.
Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang ganjil, begitu matanya terbuka ia melihat sosok menyeramkan dengan rambut awut-awutan duduk diatas perutnya, dengan seringaian yang mengerikan dan kuku-kuku yang runcing berwarna hitam berusaha mencekik lehernya.
Aimee berusaha menenangkan dirinya, tidak mengerti kenapa bisa mahkluk itu ada di tempat tidurnya. Aimee berusaha menggapai tubuh Bimasena, suaminya yang sedang tertidur.
"Mas ..." perutnya semakin tertekan oleh keberadaan sosok itu, lagi-lagi Aimee kesulitan berbicara karena lehernya terasa kian sempit.
Aimee berusaha berkomunikasi dengan mahkluk itu melalui tatapan matanya.
"Siapa kamu? Apa yang kau inginkan?"
Seringaian sosok itu semakin lebar menampilkan gigi tajamnya, "Aku mau makan bayi yang ada dikandunganmu, haha." Aimee seolah mendengar sosok itu berbicara, juga melalui tatapan matanya.
"Pergi! Aku tidak ada urusan denganmu. Aku tidak pernah menggangumu jadi jangan coba-coba menyentuhku dan calon anakku," tegur Aimee. Dalam hati, Aimee merapal doa untuk mengusir mahkluk mengerikan itu sekaligus untuk keselamatannya dan janin yang masih berusia 3 bulan itu.
Perlahan sosok itu memudar menyisakan tawa yang menggelegar, seketika Aimee merasa lega dan tenang sehingga ia melanjutkan tidurnya dengan nyenyak.
***
"Sayang, bangun," Bimasena menggugah Aimee.
"Sudah pagi, ya? Perasaan aku baru saja terlelap."
Bimasena menggeleng, "Belum. Aku terbangun dan merasa tidak tenang."
Aimee duduk dan menceritakan kejadian barusan pada suaminya, tiba-tiba terdengar gemuruh angin yang bertiup sangat kencang diikuti suara-suara aneh lainnya.
Aimee melirik jam kecil di nakas, masih pukul 03.00, dini hari. Aneh sekali jam segini ada badai angin.
"Sayang, kenapa ada darah di bagian bawahmu?" tanya Bimasena.
Aimee menunduk, melihat ke arah yang dimaksud suaminya. Benar, ada darah yang berasal dari bagian bawah tubuhnya.
"Aku rasa yang kamu alami bukan mimpi biasa, sayang ," kata Bimasena sambil beranjak dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana, mas?"
"Mengambil kayu raja yang diberikan nenek Awat sebelum kita pergi ke sini."
Aimee ingat, waktu itu Aimee belum tahu kalau sedang hamil, jadi saat Bimasena, suaminya yang berprofesi sebagai dokter umum mendapat SK penempatan sebagai Kepala Puskesmas di Kecamatan yang terpencil, ia memilih ikut saja.
Saat berpamitan dengan keluarganya, nenek Awat memberikan beberapa bilah kecil kayu yang bernama kayu raja. "Kita tidak tahu bagaimana keadaan di sana, kalian harus berhati-hati. Usahakan jangan sampai menyinggung perasaan warga setempat. Bakar sedikit kayu ini bersama beberapa butir merica dan dedaunan kering setiap senja hari atau saat kamu merasa ada yang tidak beres. Itu bisa mencegah terjadinya hal-hal yang dapat membahayakan jiwa Aimee dan bayinya," pesan nenek Awat.
"Aimee dan bayinya? Tapi Aimee belum hamil, nek," jawab Bimasena.
"Yah, setidaknya kamu bisa berjaga-jaga untuk istrimu, nak. Lakukan selama istrimu hamil hingga melahirkan dan masa nifasnya selesai," kata nenek Awat sambil tersenyum.
"Ah, baiklah. Terima kasih, nek," Bimasena yang tidak percaya hal-hal mistis itupun menerima pemberian nenek Awat.
***
"Jadi mas mau membakar kayu raja dari nenek Awat?" tanya Aimee.
Bimasena mengangguk. Lelaki yang semula tidak percaya hal-hal suprnatural itu terpaksa melawan prinsipnya, kejadian ini sungguh diluar nalar dan dia harus mengutamakan keselamatan istri dan anaknya.
Tidak lama, asap mengepul dari pembakaran kecil yang dibuatnya di dalam kuali kecil yang terbuat dari tanah liat.
Prang. Prang. Praaang.
Tiba-tiba terdengar suara benda berjatuhan, pigura yang bergantungan di dinding, piring-piring di rak tampak berserakan tanpa ada yang menyentuhnya dan seketika suara gemuruh angin berhenti saat aroma wangi menguar dari asap pembakaran yang dibuat Bimasena. Suasana menjadi tenang, perasaan kedua suami istri itupun tentram.
Bimasena membantu Aimee membersihkan diri lalu memberikan obat penguat kandungan pada istrinya. "Tidak apa-apa, sayang. Tidurlah. Kita harus percaya, Tuhan melindungi kita."
***
Langit masih belum terlalu terang karena matahari yang malu-malu menyembulkan sinarnya. Aimee mengerjapkan matanya dan menaikkan doa paginya.
"Uuuh, mas ..." ringis Aimee.
"Kenapa, sayang?" Bimasena khawatir melihat istrinya tampak kesakitan.
"Perutku, mas. Perutku sakit sekali, antar akubke kamar mandi."
Bimasena pun menggendong Aimee ke kamar mandi.
"Jangan di closed, keluarkan di lantai saja," pinta Bimasena saat melihat darah semakin banyak keluar dari area kewanitaan Aimee.
"Mas," ujar Aimee yang merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya.
"Tenang, tarik nafas dan hembuskan perlahan," Bimasena memberi instruksi sambil menahan tubuh Aimee.
Plok. Tiba-tiba benda berwarna putih menyerupai telur angsa keluar dari bagian yang menyebabkan Aimee kesakitan.
"Mas, apa itu?" tanya Aimee keheranan, sakitnya hilang seketika bersama keluarnya benda itu.
Bimasena yang khawatir, tetap berusaha tenang. Ia membersihkan tubuh istrinya dan memberikan pembalut. Kemudian kembali menggendong Aimee ke tempat tidur. Ia menyiapkan obat-obatan dan memberikan suntikan pada Aimee.
"Mas, aku kenapa? Apa yang keluar tadi?" cecar Aimee penasaran.
Bimasena tampak menghela nafas, lalu mengambil benda putih yang keluar dari tubuh Aimee dan membungkusnya dengan kain bersih.
"Maaf sayang, dengan berat hati aku katakan ... kamu keguguran dan ini adalah, janin kita." Bimasena memecahkan benda itu dengan gunting sehingga tampaklah isinya berupa tubuh manusia kecil berwarna merah. Jelas sekali mereka lihat, ada kepala, bakal mata, hidung, mulut, perut, kaki dan tangannya yang sedang bertumbuh.
"Ja-jadi mimpi burukku tadi ..." perkataan Aimee terhenti karena tangisnya.
"Sepertinya bukan mimpi biasa sayang, mahkluk itu mungkin sosok 'hantuen' yang kita dengar suka mengganggu ibu hamil di sini," sahut Bimasena.
Tangis Aimee makin menjadi, seandainya ia bisa mencegah, maka ia akan memilih tidak tidur saja tadi malam agar tidak bermimpi, mimpi buruk yang tidak terlupakan seumur hidupnya yaitu 'bertemu' hantuen tapi bukankah segala sesuatu terjadi tentunya atas izin Allah?
Kedua suami istri itu menangis sambil berpelukan, meratapi janin kecil yang telah tiada itu.
(Based on true story)
.
.
-TAMAT-