“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.” Walau tak seelok senandung itu, aku ingin mempersembahkan sebuah kisah untukmu, tentang jerih payah seorang ibu.
...
Di pagi hari yang cerah, di kota yang dipenuhi dengan bangunan besi menjulang tinggi itu, para penduduknya sudah menghambur, menutupi setiap jalan dengan hewan-hewan tunggangan mereka yang setiap hari disuguhi minyak kualitas prima yang di satu sisi mencekik leher dan kantong mereka yang tersisih dari peradaban layak.
Tidak, kali ini bukan soal kebahagiaan lagi, tapi hidup dan mati. Menengadah pasrah dan mati susah payah adalah dua hal yang berbeda, walau tak ada yang sempat tahu dimana letak perbedaannya. Tapi akan jauh terhormat kalau mau berusaha. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh seorang Ibu yang masih bertahan di bumi antah berantah, sambil memotongkan agar-agar di piring kertas untuk buah hatinya.
“Mak, sudah. Aku sudah lelah makan agar-agar.” Rengek sang anak.
“Jangan mengeluh, Tio. Maafkan Emak, tapi hanya ini yang Emak punya untuk saat ini.” Jelas Sang Ibu sambil mengusap kepala buah hatinya yang masih berusia enam tahun itu.
“Bukan, Mak. Sebenarnya Tio sudah lelah mengunyahnya. Bagaimana kalau sebagian untuk Emak saja, dan sebagian lagi untuk makan siang? Emak juga harus makan, ya?” bujuk sang anak.
Sang Ibu menghela nafas. Ada perih di dadanya ketika melihat buah hatinya harus terlihat sama menyedihkan dengan dirinya. Tapi Ibu itu tetap tersenyum, pura-pura bangga melihat anaknya mau menyisihkan makanan untuk si Ibu. Itu mungkin perangai yang baik, namun itu tidak akan membawa kebaikan untuk fisiknya. Bukankah seorang anak seharusnya mendapatkan makanan yang banyak dan bergizi?
“Daripada begitu, bagaimana kalau kamu bawa ke panti saja? Katanya nanti mau diajarin baca-tulis dan berhitung ya sama Kak Dika?”
Tio mengangguk dengan penuh antusias. Terlihat jelas ada binar kebahagiaan di mata bocah polos itu.
“Nah, agar-agar ini nanti bisa dibuat camilan sambil belajar. Kamu juga bisa bagikan ke teman-temanmu. Kalau buat Emak sih gampang, Emak masih bisa buat lagi yang banyak.” Balas sang Ibu dengan nada lembut.
“Hmm, ya udahlah kalau Emak tidak mau. Kalau begitu, Tio berangkat dulu, ya, Mak?” pamit sang Anak, tak lupa sambil mencium tangan Ibunya.
“Iya, hati-hati ya, Nak. Belajar yang sungguh-sungguh, supaya pinter...”
“Lalu nanti bisa jadi dokter.” Potong sang Anak sambil tersenyum girang.777
Selesai mengawasi kepergian anaknya, sang Ibu lantas pergi ke dapur. Dengan cekatan ia mencuci sebuah panci berukuran sedang miliknya sampai bersih, kemudian memasukkan air bersih ke dalamnya, yang tentu saja sebelumnya sudah ditakar. Lalu ia menambahkan beberapa sendok gula, segelas santan segar hasil, dan tak lupa sebungkus agar-agar. Ia kemudian meletakkan panci itu di atas tumpukan batu-bata yang lebih dikenal sebagai pawonan, dimana di bawahnya terdapat bara api hasil pembakaran dari kayu dan segala macam sampah kertas yang ia pungut di jalanan.
Setelah selesai merebusnya hingga mendidih, sang Ibu menuang agar-agar itu ke dalam wadah kecil yang sudah disiapkannya sedari awal. Lalu akhirnya, tibalah waktunya untuk menunggu agar-agar itu untuk mendingin dengan sempurna.
Sambil menunggu, Ibu itu mengambil sebuah benang lentur, gunting, dan aneka manik-manik yang sengaja ia simpan di dalam toples. Ya, sang Ibu yang tegar ini mampu membuat hasta karya, meski hanya alakadarnya. Setiap kali ia memasukkan benang ke dalam manik-manik itu, ia akan menyebut nama sang Pencipta. Berharap apa yang ia lakukan dapat memberi berkah untuknya, juga orang yang sudi membeli dagangannya dengan ikhlas.
...
Agar-agar telah siap. Manik-manik yang dirangkai tadi pun sudah selesai dan sudah dikemas serapi mungkin. Kini tiba saatnya membuat kaki-kaki yang uratnya hampir mengendor itu berjalan mencari malaikat-malaikat kecil yang akan memberinya rezeki, meski hanya empat atau lima ribu perak. Tak apa kecil, yang penting ia bisa mencukupi kebutuhan makan si Anak.
“Kuharap semuanya laku terjual.” Batin sang Ibu.
Saat masih pagi, sang Ibu akan berjalan kaki sambil mencoba menawarkan dagangannya ke penduduk sekitar kompleks tempat tinggalnya. Kemudian mencoba menitipkan ke warung atau toko-toko yang masih jualan. Beberapa orang akan membeli, entah dengan ikhlas, sukacita, atau sekedar iba, dan beberapa yang lain akan menolak dengan halus, meski tak jarang pula sambil memaki. Tak apa, rezeki tetap rezeki.
Selebihnya, ketika matahari mulai terik, dan dagangannya masih tersisa, Ibu itu akan mencoba menjajakannya ke sekolah-sekolah. Biasanya dagangannya akan laris jika dibawa kesana. Tapi, entahlah, rezeki tak selamanya melimpah.
...
“Masih jualan agar-agar aja, Mak?” sapa Mang Kajen, pedagang batagor baik hati yang selalu menemani Ibu itu mengobrol.
Sang Ibu tersenyum.
“Ya, mau bagaimana lagi, Mang? Saya tidak seterampil Mang Kajen yang bisa membuat batagor enak. Jadi ya.. walau cuma agar-agar, yang penting bisa buat nyari duit.”
“Hahaha, Emak masih saja berpikir positif di dunia yang susah ditinggali seperti ini.” Ucap Mang Kajen sambil memberikan dua bungkus batagor. “Ini buat Emak sama Nak Tio.”
“Baiklah, makasih ya, Mang.” Ucap Ibu itu, yang disusul dengan anggukan mantap dari Mang Kajen.
“Oh ya, kenapa Emak nggak coba cari pekerjaan lain? Jadi TKW misalnya? Kan gajinya besar.” Tanya Mang Kajen.
“Kalau maksudmu nyambi sih, Emak sudah lakukan sedikit-sedikit. Tapi buat jadi TKW sih kayaknya enggak aja. Kasihan anakku nanti, siapa yang jaga.”
“Lha, suami Emak?”
“Merantau entah kemana.” Jawab Sang Ibu. “Atau mungkin diam-diam sudah berangkat jadi TKI di suatu tempat. Entahlah, Mang.”
“Nggak pernah balik?” tanya Mang Kajen setengah kaget.
Ibu itu menggeleng.
“Adakalanya merantau itu bukannya menambah nafkah, malah menghapus sejarah. Jadi jangan heran kalau ada orang yang lupa kampung halaman ketika mereka sudah sukses dengan pekerjaan.”
Mang Kajen hanya bisa ikut menggeleng mendengar cerita sang Ibu.
“Ya, metropolitan memang kejam, Mak. Membuat orang-orang jadi semakin tak peduli, kejam, dan begitulah.”
“Bukan, Mang. Bukan metropolitan yang kejam, tapi kitanya.” ucap sang Ibu, yang spontan membuat kening Mang Kajen mengernyit, tak mengerti.
Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Semua anak-anak berhambur keluar. Ada sebagian yang mampir ke gerobak Mang Kajen, ada sebagian yang mampir di dagangan si Ibu, dan sebagian lagi mampir ke gerobak pedagang lain.
“Syukurlah cuma sisa tiga.” Gumam sang Ibu setelah kerumunan anak itu semakin surut, dan akhirnya hilang sepenuhnya.
Sang Ibu mulai beranjak dari tempatnya. Mungkin berniat untuk pulang ke rumah. Namun sebelum itu, ia menghampiri gerobak Mang Kajen. Memberikan sebungkus kresek yang isinya tiga agar-agar dan sebuah gelang indah hasil rangkaiannya. Hitung-hitung untuk mengganti ongkos batagor pemberian si Amang tadi.
“Ini dagangan Emak sisa tiga, buat Mang Kajen saja. Hitung-hitung buat ganti ongkos batagor tadi.”
“Aduh, Mak.. padahal saya tidak minta diganti, loh. Tapi, makasih ya, Mak.” Ucap Mang Kajen. “Ngomong-ngomong, istri saya suka sekali dengan agar-agar bikinan Emak ini.”
“Wah, saya jadi senang mendengarnya.”
“O iya, soal pembicaraan Emak tentang metropolitan tadi...”
“Kenapa, Mang?”
“Saya tidak mengerti dengan maksud Emak.” Jawab Mang Kajen berterus-terang.
“Baiklah, begini saja...” kata Sang Ibu membuat alternatif. “Menurut Mang Kajen, kemiskinan itu apa?”
“Kemiskinan? Ya nasib buruk-lah, Mak. Masa karunia?”
Sang Ibu hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Emang salah ya, Mak?” tanya Mang Kajen.
“Enggak salah, cuma beda saja sama pandangan Emak.” Balas Ibu itu.
Sang Ibu mulai diam beberapa saat. Sementara Mang Kajen hanya memandanginya, menunggu dengan sabar setiap kata yang bakal terlontar dari mulut bijak si Ibu yang akrab ia panggil “Emak” itu.
“Bagi orang seperti saya ini, kemiskinan itu tidak lain adalah jalan. Karena miskin itu kita jadi tahu bahwa mencukupi kebutuhan hidup itu susah, makanya tidak akan pernah ada kata ‘foya-foya’ di kamus orang miskin. Hidup miskin juga syarat akan kekurangan, makanya kita susah payah cari uang, supaya menunjang masa depan penerus kita. Jadi begitu, Mang. Jadi, metropolitan itu nggak salah, itu kan cuma tempat buat tinggal. Dengan kata lain itu sudah jadi tanggung jawab penghuninya, karena penghuninya yang membuat lingkungan itu sedemikian rupa.” Jelasnya.
Mang Kajen yang mendengar penjelasan si Ibu hanya terkesima sambil mengiyakan setiap penjelasan beliau.
“Iya-ya, Mak.” Sahut Mang Kajen. “Heran deh sama Emak kok mikirnya bisa sebijak itu.”
“Hahaha, bijak apanya toh, Mang?”
“Ya, pokoknya bagiku Emak itu sudah seperti orang bijak tempo dulu.”
Sang Ibu tertawa. “Bisa saja, si Amang ini. Aja ndagel wae, Mang.”
“Lho, kapan saya bercanda sama Emak?” sahut Mang Kajen.
“Haha, ya sudah. Tapi intinya, Mang...” Ibu itu menghentikan kalimatnya sejenak. Mencoba menenangkan deru di dadanya yang semakin lama semakin perih setiap kali ia memikirkan masa depan Tio, anaknya. “Mungkin saya miskin harta, tapi saya tidak mau miskin hati. Saya tidak mau dikasihani, yang seperti itu sama saja mendzalimi diri sendiri, Mang. Nggak bersyukur sama pemberian Tuhan namanya. Aku tidak mau anakku nanti jadi sama menyedihkannya denganku. Dia masih muda, masa depannya masih ada.”
Mata Ibu itu mulai berkaca-kaca. Hampir saja embun di pelupuk matanya jatuh ke tanah, tapi ia buru-buru menyekanya. Membuat Mang Kajen, dan beberapa pedagang cilik lain turut bersimpati.
“Sabar, Mak. Yang namanya orangtua tentu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku juga begitu, Mak. Kita tabah saja.” Hibur Mang Kajen.
“Iya.” sahut Emak. “Aduh, maaf ya Mang, tiba-tiba pembicaraannya jadi kayak adegan sinetron begini.”
“Hahaha, nggak apa-apa, Mak. Sekali-kali.”
Sang Ibu hanya tersenyum lembut. Untuk suatu alasan, ia begitu bersyukur mendapati bahwa bukan dirinya saja yang sedang menderita, malah bisa jadi ada yang lebih menderita darinya.
“Sekali lagi, terimakasih, Mang. Oh ya, saya pamit dulu. Kasihan anakku, biasanya siang begini dia sudah pulang.” Pamit sang Ibu.
“Iya, Mak. Hati-hati, sampaikan salam saya ke Tio ya. Bilang ke dia, kapan-kapan main ke rumah Mang Kajen, biar nanti Ijal ada temannya.”
“Iya, Mang. Makasih juga sudah dikasih batagor.”
Mang Kajen hanya mengangguk seraya tersenyum melihat sesosok Ibu yang tegar itu berjalan memunggunginya.
“Kau benar, Mak. Walau sekejam apapun dunia yang kita tinggali, setidaknya kita harus yakin bahwa tidak semua yang miskin harta itu miskin hati. Seperti dirimu, Mak.” Gumam Mang Kajen, yang masih kagum dengan sosok tegar si Ibu. “Ah, aku jadi ingin segera pulang.” Kata Mang Kajen, sambil mendorong gerobaknya menuju rumah tempat istri dan anaknya menunggu.
...