Zalfa meremas dressnya gelisah. Sudah hampir lima jam lebih dan Rio belum juga kembali ke restoran tempatnya kini berada. Karena Rio tadi sore mengajaknya dengan tiba-tiba dan tanpa persiapan. Zalfa bahkan lupa membawa ponsel dan dompet. Dia tidak ingat nomor Rio dan masalah lainnya, dia sama sekali tidak hafal nomor ponsel siapapun kecuali nomornya sendiri. Nomor papanya juga ada di ponsel. Mana bisa dia minta tolong sang Papa yang sekarang ada di Sidney sana.
Beberapa kali dia melihat tatapan tajam pelayan restoran yang menatapnya sinis. Seakan dia salah tempat. Oke, saat ini dia memang hanya memakai dress selutut yang biasa dia gunakan di rumah, jadi mungkin bukan kostum yang sesuai untuk restoran berbintang ini. Tapi apa mau dikata jika dia tadi bahkan tak sempat mengambil dompet. Apalagi berganti baju.
Tiba-tiba Rio menariknya pergi dan mengajaknya makan malam.
Astaga. Bagaimana dia membayar semua tagihan ini. Banyak sekali menu yang dipesan Rio dan semua tampak mahal.
Zalfa tak berani menyentuh minuman dingin yang terlihat menggiurkan bagi tenggorokannya yang kering. Apalagi mencoba cake dan steak atau yang lainnya ini.
Malam ini benar-benar menakutkan baginya. Menginjak ibukota yang katanya kejam tanpa sedikitpun bekal.
"Maaf, nona. Ini billnya. Kami harus tutup satu jam lagi." Seorang pelayan berkata ramah.
Zalfa semakin ketakutan. Bagaimana ini?
"Mbak..Maaf, sa-saya tidak bawa uang. Sa-saya..tadi diajak tunangan saya kesini." Zalfa takut-takut berkata.
Wajah pelayan itu berubah dan segera pergi kedalam restoran. Tak lama dia datang lagi ke hadapan Maiza.
"Manager kami mau bertemu dengan anda."
Zalfa bangkit dan mengikuti pelayan itu dari belakang. Dia mengigit kukunya gugup.
Dan sekarang disinilah Zalfa berakhir. Dia menatap gunungan piring kotor dan berbagai peralatan memasak yang kotor dan nampak berlemak. Menggulung lengan dressnya, dia memulai mencuci satu per satu piring dan peralatan di depannya. Matanya sudah berkaca- kaca siap meluncurkan air bah. Seumur hidup, dia tak pernah dimaki- maki dan dihina orang. Apalagi ditatap sengit penuh hinaan seperti saat ini.
Meskipun dia sering mencuci piring di rumah dulu, tapi dia tak pernah dipermalukan seperti ini. Dia bisa menerima kalau memang dia bekerja sebagai tukang cuci piring, tapi kalau sebagai hukuman atas ketidak mampuannya membayar makanan, itu sangat memalukan.
Dia tidak pernah malu bekerja, karena papanya selalu mengatakan jika bekerja itu yang paling penting adalah kehalalannya. Tidak! Dia tidak malu jika berkerja sebagai pencuci piring di restoran.
Tapi bukan seperti ini.
"Kalau nggak bisa bayar, jangan makan di restoran mahal dong. Nggak punya uang belaga sih." Seorang pelayan perempuan lewat di belakangnya seraya mencibir dirinya.
Air mata yang susah payah dia tahan akhirnya jebol juga. Dia mencuci piring dengan berlinang air mata.
'Papa...mama...' rasanya ada yang memukul ulu hatinya. Dia yang selama ini selalu dipenuhi segala kebutuhannya oleh sang Papa. Dan hari ini dia diperbudak orang.
Lihat saja jika papanya tahu.
***
Maiza menatap kedua tangannya yang terasa kebas. Rasanya sakit dan pegal. Ujung jemarinya pun mengkerut dan pucat karena terlalu lama terendam air.
Restoran itu sudah tutup dan kini dia kebingungan untuk pulang ke rumahnya. Dia bahkan lupa alamat rumah itu karena sejak lahir, dia sudah tinggal di Sidney. Hanya sang Papa yang beberapa kali ke negeri ini udah memantau perusahannya.
Dia sangat asing dengan suasana di sini. Bagaikan seorang anak kucing di dalam kandang anjing. Semua nampak menyeramkan dan semua orang nampak siap menggonggong ke arahnya.
Apa yang harus dia lakukan?
Meremas dressnya, Zalfa menoleh ke sembarang arah. Dia kebingungan. Beberapa orang yang melewatinya di trotoar itu, menatapnya aneh.
Dia harus kemana? Dia harus apa? Dia bahkan tidak tahu alamat rumah Rio dan rumah Aunty Sita. Dia bisa saja mencegat salah satu taksi yang berlalu lalang sejak tadi di jalanan depannya. Hanya saja kemana dia harus pulang? Bisakah taksi itu mengantarkan dirinya ke Sidney sana?
Hik ... hik ...
Air mata yang sejak tadi sudah kering kini menetes lagi. Dia seperti anak ayam yang hilang arah dan tak bisa menemukan induknya.
"Hei ... Nona ...." panggilan ragu itu menyentak kesadaran Zalfa dan membuatnya mendongak, lalu memperbaiki posisi duduknya.
"A-ada a-apa Om? Hik ..."
Laki-laki itu berdehem mendengar panggilan itu. Om? Yang benar saja? Apa dia sudah setua itu? Dia baru dua puluh sembilan. "Maaf mengganggu. Saya tadi baru saja bertemu klien di restoran depan, dan saya tidak sengaja melihat Nona yang nampaknya tidak baik-baik saja. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria dewasa itu dengan sabar menjelaskan perihal keberadaannya di sana agar tidak menakuti gadis itu.
"Sa-saya tidak tahu."
"Ini sudah malam, Nona. Berbahaya sekali perempuan secantik anda ada di tempat sepi begini." Pria itu mengamati penampilan gadis di depannya dengan saksama. Entah bagaimana dia yakin jika gadis ini adalah gadis baik-baik. Pakaian yang sederhana dengan dress selutut berlengan panjang nampak manis. Bukan nampak nakal dan menggoda.
"Saya mau pulang, Om."
"Lalu ... kamu kehabisan uang?"
Gadis itu menggeleng cepat-cepat. "Saya tidak tahu harus pulang kemana."
"Hah?!"
"Saya tidak tahu alamat rumah Aunty Sita. Saya juga tidak tahu alamat rumah Mas Rio."
Pria itu mengernyit heran dan juga bingung. "Lalu rumah kamu di mana?"
"Di Sidney, Om."
"Apa?!" Laki-laki itu terbelalak. Gadis ini ngelindur?
"Saya baru tiba di Jakarta dua hari yang lalu dan tadi Mas Rio ngajak makan malam. Saya belum pernah tinggal di negara ini."
Lelaki di depannya nampak kebingungan kini. Pantas saja gaya bahasa gadis di hadapannya ini terdengar kaku dan kurang fasih.
"Kamu bawa ponsel?"
Gadis itu menggeleng. "Tadi Mas Rio buru-buru ajak Zalfa pergi. Bahkan Zalfa nggak sempat ganti baju."
Lelaki itu nampak geram. Bagaimana bisa ada laki-laki yang tidak bertanggungjawab meninggalkan gadis buta arah dan alamat ini sembarangan? Apa laki-laki itu tidak punya otak? Tidak tahu kejahatan di ibukota seberapa ganasnya? Apalagi gadis di hadapannya ini gadis yang sangat cantik dan polos.
"Sudah berapa lama dia pergi?"
"Hik ... mungkin lima jam lebih. Zalfa tadi harus cuci piring di restoran karena nggak bawa uang buat bayar. Zalfa padahal belum makan apa-apa sejak siang. Zalfa capek. Zalfa malu. Zalfa ... mau pulang ke Sidney saja Om. Hik ... hik ...."
Astaga!
Laki-laki itu nampak kebingungan sekarang. Kemana dia harus membawa anak gadis ini? Ke kantor polisi?
Sepertinya bukan pilihan tepat karena gadis ini terlihat sangat kelelahan dan juga berantakan. Belum lagi gadis ini tadi bilang belum makan sejak siang.
Dengan banyak pertimbangan akhirnya laki-laki itu mengajak Zalfa pergi. Setidaknya dia harus memberi makan gadis itu agar tidak pingsan.
***
TBC