Malam itu, seorang gadis berusia delapan belas terbangun dalam ketakutan. Tangannya bergetar tanpa bisa ia cegah. Sentuhan dingin membuat dia semakin takut.
Ini kedua kalinya dia nyaris terkurung dalam mimpinya dalam satu malam. Dia mengucapkan istighfar berulang kali dengan suara pelan.
Dia ingat bagaimana tubuhnya tidak bisa bergerak saat dia mencoba bangun. Perasaan itu begitu familiar dan sangat menakutkan. Perasaan itu seperti lumpuh pada seluruh tubuh.
Setelah mengalami hal itu dua kali berturut-turut. Lea, gadis itu mencari handphonenya dibalik bantal.
Dia melihat jam pada telepon genggamnya.
23.33
Malam ini sama seperti malam sebelumnya. Begitu sepi tidak ada suara lain selain jangkrik yang sesekali menunjukkan kehadiran mereka.
Lea yang masih ketakutan mencoba menghubungi adik kelasnya yang kebetulan adalah seorang indigo. Dia mengirim salam pada WeChat adik kelasnya itu. Tapi, hanya ada satu centang yang berarti gadis disisi lain sudah tidur.
Lea, mengirim salam juga pada teman baiknya. Dan kali ini dia mendapat tanggapan. Lea ingin menceritakan kisahnya malam ini pada teman baiknya itu.
Tapi, teman baiknya itu juga lebih takut dibanding Lea. Mereka berbicara di chat. Tapi, karena sudah malam. Teman baik Lea itu menanggapi dengan sangat lambat.
Lea akhirnya melihat kontak khusus dengan nama yang sangat aneh.
Dia melirik kontak itu berulang kali.
Ini adalah kontak seorang yang telah dia sukai selama masa SMA nya yang akan berakhir dalam beberapa pekan ini.
Perasaan yang sangat kuat mendorongnya untuk menceritakan pengalamanya malam ini pada orang itu. Tapi, dia tidak pernah berbicara di chat dengan orang itu. Dia hanya mendapatkan kontak pria itu beberapa hari yang lalu.
Dia ragu sejenak dan akhirnya meminta saran dari teman baiknya. Setelah percakapan yang sedikit rumit. Dia menyuruh Lea untuk tidur.
"San, aku pengen banget chat dia!" Pesan Lea padanya.
"Ya, chat aja kalau gitu!" Balas Sania dengan lambat.
"Tapi aku takut!" Balas Lea kembali, tapi setelah waktu yang lama, Sania masih tidak menanggapi.
Lea kembali melihat kontak pria itu, dengan sedikit ragu. Lea mengirim salam di kotak percakapan yang kosong itu.
Hanya ada satu centang seperti sebelumnya. Ya, dia tidak aktif. Dia pasti sudah tidur! Pikir Lea.
Disaat yang sama, Sania membalas pesannya. Setelah dibuka, Sania mengatakan coba aja dulu.
Dan Lea mengatakan bahwa dia telah mencoba dan orangnya tidak aktif. Jadi, Sania menyimpulkan kalau pria itu sudah tidur. Itu sebabnya dia menyuruh Lea untuk segera tidur.
Sania juga bilang kalau dia akan tidur. Jadi, Lea tidak mengganggu lagi. Dia kembali ke kotak obrolannya dengan pria itu. Dengan jarinya yang ragu sejenak, dia menghapus pesan itu.
Lalu Lea kembali pada kesunyian kamar yang gelap itu. Dia masih tidak berani tidur. Hari sudah semakin larut, dan jam sudah menunjukkan pukul satu tiga puluh.
Lea dengan enggan mencoba tidur lagi, besok dia masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Apalagi dia sudah kesulitan tidur belakangan ini, dia tidak bisa merusak tubuhnya begitu saja.
Lea membaca ayat kursi, doa selamat dan mengaji dalam keheningan. Setelah dirasa puas dan cukup, Lea mencoba membaringkan tubuhnya untuk tidur lagi.
Tapi, setelah berputar sebanyak yang dia mau. Lea masih tidak bisa tidur. Dia beristigfar berulang kali sampai dia akhirnya bisa tidur. Dia tidak tahu sudah jam berapa dia tidur.
Ditengah kebisingan pagi hari, Lea terbangun pada pukul enam dini hari. Dengan malas dia keluar kamarnya dan turun untuk mencuci muka.
Setelah itu dia langsung membersihkan rumah dan mencuci piring yang sudah menumpuk. Masak dan sarapan dengan makanan yang ada.
Lea baru selesai beraktivitas setelah pukul sepuluh. Kedua orang tuanya juga sudah berangkat ke ladang sejak Lea bangun tadi pagi.
Lea adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua kakaknya berada di kota. Satu sedang menempuh pendidikan dan yang lebih tua sedang mencari pekerjaan tetap.
Adik Lea juga sudah pergi entah kemana sejak dia bangun. Anak bungsu itu memang suka keluyuran.
Remaja yang sudah selesai berberes itu berbaring tengkurap di sofa panjang dan melihat telepon genggamnya.
Dia melihat ada pesan dari pria yang dia kagumi itu. Jika bukan karena dia yang terbiasa menahan diri, dia mungkin sudah melompat kegirangan saat ini.
Lea mengirim pesan pada teman baiknya untuk meminta saran. Dan nomor kontak teman pria yang dia suka. Lea meminta agar nomornya disimpan.
Setelah itu ada percakapan yang sangat singkat dan aneh. Dan topiknya mati begitu saja tanpa bisa Lea melanjutkan. Yang Lea tahu adalah, tanggapan pria itu sangat dingin!
Semua jawaban pria itu tidak lebih dari tiga kata, dan yang paling luar biasa adalah...
Setiap kata itu sendiri dibuat sangat singkat.
Lea tidak tahu harus senang atau sedih?
Senang karena tanggapan pria itu yang dingin dan pasti dia tidak akan mudah selingkuh jika punya pasangan.
Dan layak untuk cinta Lea selama tiga tahun ini.
Tapi, sedih juga karena tanggapan pria itu sangat singkat padanya.
***
Beberapa hari berlalu, Lea juga menjadi semakin rajin beribadah karena takut akan mengalami hal serupa lagi.
Tidak ada kemajuan pada hubungan Lea dan pria itu. Kotak percakapan mereka juga terhenti disana.
Rebahan di kasurnya seperti kebiasaan harian Lea. Gadis itu melihat kotak percakapan yang sangat aneh dan singkat itu. Dengan bosan dia menghitung jawaban pria itu yang lebih dari tiga kata.
Tiba-tiba, dikala kegiatan tidak berguna Lea itu. Dia memikirkan sesuatu hal yang tampak sangat menyenangkan.
Dia mematikan koneksi internet ditelepon genggamnya.
Dia dengan senyum licik membayangkan dia dan pria itu sudah dekat dan mengirim pesan chat yang begitu manja.
Tidak banyak yang dia kirim, hanya:
"Assalamualaikum"
"Hai ganteng! Kamu apa kabarnya?"
"Aku kangen tauuu!"
"Kamu kangen aku balik ga?"
Hanya empat pesan itu, Lea membacanya lagi dan merasa geli. Dengan segera dia menghapus pesan itu untuk semua orang. Dan dengan ceroboh dia langsung menghapus pesan itu untuk dirinya sendiri tanpa memastikan ulang.
Malamnya, pria itu mengirim pesan pada Lea.
Awalnya Lea sangat senang karena pria itu memulai chat dengan dia. Tapi, setelah membaca pesan yang masuk itu. Lea mati kutu.
"Hei, gak salah kirim?" Tanya pria itu.
"?"
"Apa yang salah kirim?" Balas Lea dengan sedikit ragu.
Lea bingung saat itu. Apa pesan itu terkirim? Pikirnya.
Tapi jelas-jelas Lea sudah menghapus untuk semua orang sebelum dia menghapus untuk dirinya sendiri!
Lea benar-benar beku saat ini, pikirannya kacau.
Pesan barusan sangat manja dan tidak sesuai dengan sifatnya yang tampak cuek selama ini.
Pipi gadis itu memerah tanpa dia sadari. Dia terduduk dari posisi rebahannya di kasur.
"Ya ampun apa aja haa yang terkirim? Jangan-jangan bagian itu! Ahhh..." Gumam Lea dengan frustasi. Dia menceritakan hal itu pada sahabat baiknya di kotak percakapan. Tapi, dia tidak mendapat tanggapan dari temannya itu.
Dan pria itu juga tidak membalas pertanyaan Lea.
Gelisah?
Tentu saja Lea sangat gelisah, dia tidak bisa tidur. Padahal dia sudah mengalami kesulitan tidur selama lebih dari dua minggu ini.
"Apa semuanya terkirim? Tapi tadi aku yakin udah hapus sebelum menghidupkan koneksi internet!" Bisiknya pada diri sendiri.
Dan yang paling penting, Lea tidak ingat kalimat terakhir atau pesan yang keempat berisi tentang apa. Tidak peduli sebanyak apa dia berpikir, Lea tidak bisa mengingatnya.
Tapi, Lea memutuskan untuk menutup malunya dulu.
"Eh, iya kayaknya tadi aku emang ada salah kirim pesan. Maaf!"
Katanya pada kotak percakapan dia dan pria itu.
Setelah jam sebelas malam.
"Oh, gakpapa!"
Lea menatap balasan singkat itu.
"Gak ada penasarannya apa itu sebenarnya mau dikirim ke siapa? Dasar!" Maki Lea kesal.
Tapi dia tetap ingin terus bercakap dengan pria itu.
"Eh, ngomong-ngomong apa aja yang terkirim?"
Kirim Lea pada pria itu. Tapi, ternyata pria itu sudah tidak aktif lagi.
Lea yang kesal melempar teleponnya ke bawah bantal dan bersiap untuk tidur. Lea tidak lupa untuk berdoa agar tidak terganggu lagi saat dia sedang tidur.
Subuh dini harinya. Lea terbangun oleh suara keras sang alarm. Lea sholat subuh dan setelahnya dia melihat telepon. Ada lagi jawaban dari pria itu.
"Apa?" Pesannya singkat.
Lea menjawab dengan segera, " Pesan yang salah kirim itu yang mana aja? Ada berapa yang terkirim?" Balas Lea dengan segera. Tapi, pria itu selalu saja tidak aktif disaat sedang chatting dengan dia.
Karena tidak mendapat jawaban, Lea memutuskan untuk bersiap pergi ke sekolah. Karena hari ini masih hari penilaian akhir semester.
Sesampainya di sekolah, Lea menunggu Sania datang dan menceritakan kejadian semalam pada Sania.
"Gimana dong San, gue malu banget kalau gini! Mana itu kata-katanya manja banget. Rusak deh citra gue yang cuek dan cool!" Curhat Lea pada temannya yang sedang membaca buku itu.
"Kamu juga sih, kenapa bilang kalau itu salah kirim. Coba aja kamu bilang itu emang buat dia!" Tanggap Sania santai.
Sania memang sangat terbuka, dia tidak punya malu yang sangat besar seperti rasa malu Lea.
"Ya loe sih, gue chat gak dibales! Semalam kan gue mau minta saran loe!" Ujar Lea menyalahkan Sania yang semalam tidak ada saat dia sedang dilema.
"Ya sorry, gue udah tidur semalam!" Jawab Sania dengan nada acuh.
"Huh, udahlah! Gak bisa diulang juga kan?" Ujar Lea, tapi tiba-tiba dia melanjutkan dengan nada memelas, "tapi serius San, gue harus gimana? Atau atur drama salah kirim aja kalau didepan dia?" Tanya Lea dengan ide yang terdengar unik.
Sania menatap wajah temannya yang begitu pemalu ini.
Dia mengangguk dengan menyakinkan, "Gue dukung loe!" Ujarnya pasti.
"Oke, semoga ada kesempatan!" Jawab Lea dengan bersemangat.
"Sebenarnya bagus juga sih insiden salah kirim ini. Kan dengan itu kalian jadi punya topik percakapan, siapa tahu bisa jadi akrab kayak waktu kelas sepuluh dulu!" Ujar Sania menyimpulkan sisi positifnya untukku.
"Gue mikirnya juga gitu sih semalam!" Tanggap Lea.
Waktu berlalu dengan cepat, bel masuk berbunyi dan menandakan bahwa kedua gadis itu sudah harus berperang dengan otak.
Karena mendapat nama yang jaraknya jauh, Lea mendapat ruang ujian satu dan Sania mendapat ruang ujian dua. Jadi, setelah Lea keluar dari ruang ujiannya. Dia menjemput Sania untuk ke kantin.
Biasanya pria yang Lea sukai itu akan ke kantin setiap istirahat. Tapi, hari ini Lea dan Sania tidak melihat satupun batang hidung pria itu.
Setelah kembali ke sekolah, ini karena kantinnya ada di luar lingkungan sekolah ya.
Benar saja, pria itu dan rombongannya tidak ke kantin. Mereka duduk di depan mushollah.
Lea dan Sania awalnya berpura-pura tidak melihat mereka. Kedua gadis itu menghampiri pintu mushollah dan melihat ada rombongan OSIS didalamnya.
Anggota OSIS sekarang memang lebih suka berkumpul di mushollah karena ruang mereka dijadikan kelas.
Lea menyapa mereka dan ada seorang anggota OSIS yang sudah lama tidak dia lihat. Dan Lea dengan suara kencangnya berteriak, "Reva aku kangen kamu!!!"
Lea memang mantan anggota pengurus OSIS dan yang sedang dia sapa tadi adalah salah satu adik pengurus OSIS.
Selagi Sania masih sibuk dengan adik kelas itu, Lea berpura-pura melihat kearah pria yang dia sukai itu. Lalu dia berlari kearah pria itu dan bertanya tentang pesan yang salah kirim itu.
"Angga! Angga!" Teriak Lea dan berjongkok disamping dia yang sedang duduk di teras mushollah ini.
Pria itu tidak menanggapi bahkan tidak menoleh, biasanya jika Lea memanggil pria itu akan langsung menoleh. Sekali panggil saja biasanya Lea akan mendapat tanggapan, tapi ini sudah berulang kali dan pria itu masih tidak menanggapi.
Sembari menepuk punggung pria itu berulang kali, Lea bertanya:"Angga, pesan yang salah kirim itu ada berapa? Yang mana aja?"
Kalian tahu apa tanggapan pria itu, dia tetap diam!
Setelah berulang kali bertanya barulah Lea berhasil mendapat jawaban.
"Dua!" Jawabnya singkat.
"Ah, dua! Yang mana aja?" Tanya Lea kembali.
"Nanti aku screenshot aja!" Jawabnya singkat dan cuek lagi.
Sania berjalan mendekat, "Apa yang salah kirim?" Tanyanya berpura-pura tidak tahu.
Belum sempat aku menjawab, salah satu temannya menjawab: "Salah kirim pap dia!" Jawab Mars yang juga merupakan teman seangkatan OSIS Lea.
"Apaan sih, bukanlah!" Bantah Lea dengan wajah kesal. Lalu dia berbalik lagi dan menatap Angga.
"Jangan kasih tau siapa-siapa ya?" Pinta Lea dengan memohon pada pria itu.
Angga hanya mengangguk kecil.
Mars mewakili suara Angga menjawab tanpa diminta. "Tenang aja, Angga ini orangnya terpercaya dan gak bakalan sebarin rahasia kok!" Ujarnya dengan yakin.
Lea tidak peduli dengan mars dan kembali menepuk punggung Angga lagi.
"Beneran jangan dikasih tahu siapa-siapa ya?" Tanya Lea menyakinkan dirinya sekali lagi, dan untuk yang kedua kalinya Angga hanya mengangguk.
"Emang siapa yang kirim?" Tanyanya singkat karena dia ragu Lea yang mengirimkan pesan itu.
"Ya, aku!" Ujar Lea agak malu.
"Emang apa sih yang salah kirim?" Tanya Sania lagi yang sekarang sudah berdiri didepan Lea dan Angga.
"Gak deh, rahasia!" Jawab Lea cepat.
"Pesan buat kamu, sahabat baiknya!" Jawab Angga dengan suara yang agak... Ekhm, gatau deh.
"Nanti kirim beneran ya screenshot nya ke aku?" Ujar Lea untuk terakhir kalinya menepuk punggung Angga. Lalu, dia berjalan melewati depan mereka dan duduk di samping Ade yang merupakan sahabat baik Angga.
Sekarang posisi mereka itu seperti ini.
Lea duduk di sisi paling kiri, lalu Ade, Angga dan Mars. Dan Sania berdiri didepan Angga.
"Ih, Lea jangan bikin penasaran tau, emang apa sih yang salah kirim?" Tanya Sania tidak mau menyerah.
"Salah kirim pap!" Balas Mars meyakinkan.
"Yailah, kalau wajah aku yang manis itu salah kirim ke Angga, yang ada nanti Angga jadi diabetes tahu!" Ujar Lea dengan asal dan berekspresi seimut mungkin.
Angga menunduk dan sepertinya dia sedang menahan tawa.
Akhirnya ada juga perubahan wajahnya, tapi bagaimana aku bisa merasa ini merupakan sesuatu yang begitu membingungkan?
Bagaimana menurutmu?
Lea dan Sania saling memandang dan setelahnya mereka memutuskan untuk kembali ke kelas.
TAMAT