Hari itu tidak ada yang spesial, awan awan menutup pancaran cahaya Matahari dengan sempurna. suasanananya kurang begitu bagus untuk di pandang. di sebuah rumah terlihat seorang pemuda tengah duduk di teras rumah menghadap ke bukit yang tidak terlalu tinggi, bukit itu begitu hijau di selimuti awan di bagian atasnya. Pemuda itu memandangnya dengan perasaan gembira, sesekali terlihat tersenyum, apakah yang ada sesuatu yang membuatnya memandangnya? Tentu iya.
Pemuda itu menyandarkan dagu dengan tanganya. tidak ada orang lain di sampingnya hanya ia sendiri. angin Utara mulia berhembus membawa udara sejuk dan segar menerka wajahnya, ia tau bahwa hujan akan datang, tidak hari ini saja ia memandangnya, tetapi setiap hari di saat pagi hari, saat hari cerah ia akan bergembira menyambutnya, saat mendung ia juga bergembira menyambutnya, tidak ada hari yang tidak bagus baginya untuk memandang keindahan itu, baginya semua hari, suasana, cuaca harus di nikmati, karena ia tahu bahwa sesuatu yang terjadi sekarang atau dulu tidak akan sama persis.
10 tahun lalu
Saat pemuda itu bangun di pagi hari ia selalu keluar, entah apa yang membuatnya begitu, ia terpukau memandang bukit hijau yang di pancarkan cahaya matahari baginya itu begitu indah. ia duduk di teras mandangnya.
“ Bukit begitu indah saat ini.” Ujar dari seorang pria tua yang sudah berada di depan pintu.
Ia memalingkan wajah.“ kakek.”
“ Apa kau tahu, bukit itu dapat mengabulkan keinginan apapun yang kau mau.” Ucapnya seraya duduk di samping cucunya itu.
“ apa aku bisa mendapakan mainan, makanan enak, uang, emas!?” tanya antusias.
Kakeknya tertawa. “ Apapun yang kau inginkan.” Ia mengusap usap rambut cucunya
Anak itu memalingkan wajahnya memandang bukit hijau itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang entah apa. wajahnya di penuhi semanagat akan keinginan Tahuan yang tinggi lalu memandang kakeknya lagi. “ kakek apa ada di desa kita yang sudah ada yang mendaki bukit itu?” ujarnya seraya menunjuk ke arah bukit.
“Sudah cucuku, dulu seorang pemuda pernah mendakinya, saat itu ia masih muda, semua orang memberitahunya bahwa jika dia ingin uang atau apapun itu, dia dapat menemukanya di atas bukit itu.” Sekarang telunjuknya menunjuk awan di atas bukit yang mendung itu.
“ pemuda tetap saja pemuda ia tidak mempercayainya dan ia menggagap bahwa itu Cuma lelucon untuk menipunya, “mana ada uang di atas bukit” katnya. pemuda itu mulai melupakanya, tetapi ia malah menjadi penasaran akan hal itu, tanggapannya berubah, ia menggap bahwa apa salahnya aku coba, toh Cuma berjalan dan mendaki saja, ujanya dalam hati.”
“ Lalu ia pergi menggujungi orang orang yang memberitahunya, dari mana kalian tahu bahwa di atas sana ada uangan dan yang lainnya? Tanyanya.
“ aku tidak pernah kesana, tetapi aku yakin di atas sana memang ada sesuatu, sesuatu yang akan sangat berguna. Ucapnya.
“ aku mengalami mimpi, dalam mimpiku aku menemukan emas di sana.”
“ aku juga.”
“ kenapa tidak kalian saja yang pergi ke sana bersamaan?”
“ jika kami pergi, mungkin kami tidak akan sampai di atas sana.” Ujar salah satu dari mereka.
Semua mengangguk membenarkan.
“ kenapa?”
Kami sudah lewat usia dan tidak sanggup lagi mendaki bukit, kau masih muda lakukanlah, jika kau lakukan kelak kau tidak akan seperti kami ini yang menahan rasa penasaran kami akanya dan tidak akan kami capai.” Ujanya dengan nada yang semakin lemah.
Wajah mereka menjadi sedih dan terlihat jelas di wajahnya ada rasa penyesalan yang dalam.
“ Bukankah itu begitu mudah untuk di capai?”
“ tidak, itu memerlukan usaha yang keras, bagi kami. apa kau pernah melihat langit biru yang indah, yang selalau di temani awan putih seperti kapas itu.” Ujar yang lainya.
“ iya.”
“ pasti kau sangat menikmatinya, aku jamin, kau pasti ingin melihatnya lebih dekat, matamu tidak lelahnya memandangnya ke atas, setiap pagi ataupun di sore hari yang orangen itu, apa kau tahu bahwa langit biru itu tidak seindah terlihat dari bumi atau luar angkasa semuanya berbeda.”
“kami adalah orang orang yang hanya memandang langit itu dari sini, hanya disin lalu mengaguminya sekarang, kami ingin kau mendakinya dan menceritakannya kepada kami apa yang akan kau dapatkan.”
Pemuda itu sekarang menjadi bingun entah apa yang mereka katakan, tetapi supaya tidak terlihat bodoh ia mengatakan “aku mengerti, aku akan mendakinya sekarang.” Saat hendak berjalan salah satu tanagn menegang bahunya.
“ apa yang kau pilih selesaikan lah karena yang selesai yang dapat kau ceritakan.”
Pemuda itu mengguk lalu pergi.
****
Setelah menyelesaikan semua perlengkapannya pemuda itu langsung bergegas menuju bukit, saat ia sudah di depan bukit ia melihat cahaya Matahari sudah di barat, betapa jauh ia berjalan, betapa lelah ia melakukan itu dengan sendiri? Tidak dapat di bayangkan.
Ia memutuskan untuk duduk di kaki bukit seraya melihat lihat bukit itu. ia sangat bersyukur karena hari itu tidak hujan, sepertinya Tuhan memberkatinya.
Ia melanjutkan perjalannya, di dalam pikirannya ada sesuatu yang mendorongnya untuk itu; sesuatu seperti rasa ingin tahu, rasa penasaran yang kuat.
Bulan sudah menampakan dirinya seolah olah berbicara dengan matahari bahwa aku sekarang dan kau pergilah.
Bulan itu belum bersinar, hanya terlihat berwana putih.
Awan awan tipis menghiasi langit; tidak ada awan awan tebal yang terlihat, mungkin mereka sudah tahu, bahwa Bintang bintang akan menggantikan perannya.
Pemuda itu sudah mendaki badan bukit yang tidak terlalu tinggi, saat ia mendengar suara jangkrik dan suara lainya, ia mulai menyadari lupa membawa perlengkapan malam, sungguh kesalahan yang patal,
Sesaat kemudian ia mulai menyadari lagi, ia lupa membawa senjata untuk melidungi diri, mungkin karena ia hanya memikirkan apa yang akan di dapatnya di atas. Ia sangat memarahi dirinya sendiri dengan keras, “betapa bodohnya diriku?” gumanya kesal tidak bisa melakukan apa apa.
Malam sudah tiba ia sudah merasa lebih baikan,
Pemuda itu sudah mendaki puncak badan bukit dan hendak menuju tahap yang lebih tinggi.
Ia mulai memikirkan apakah baik jika ia menaiki pohon untuk berjaga atau lebih baik melanjutkan meski malam masih panjang? Dua pilihan itu berputar putar di dalam pikirannya.
10 menit kemudian ia memilih untuk melanjutkannya, ia tahu bahwa bukit yang di dakinya tidak begitu tinggi membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam dari sekarang, mungkin akan sampai di atas saat pagi mulai.
Ia terus mendaki meski kulitnya menjadi makanan nyamuk yang tidak dapat di lawan.
5 jam pun berlalu, malam semakin larut, Sura Sura aneh mulai bermunculan dan yang paling penting hawa dingin yang mencekam menusuk tulang terasa dan untungnya saat itu bulan purnama yang cerah membuat jalan terlihat jelas.
Sura suara malam lebih menakutkan untuk di dengar membuat pemuda Takut, tapi ia terus melanjutkan pendakianya.
Ia memusatkan pikiran untuk berpikir hanya perpikir, apa yang akan didapatnya saat pagi hari dan membayangkan bagaimana kehidupannya setelah mendapakan itu.
1jam pun berlalu nafasnya tergesa gesa, keringat mulai keluar membuatnya lebih hangat.
Tinggal 2 jam perjalanan lagi yang harus di tempuhnya.
Pemuda itu memutuskan untuk istirahat sejenak, kakinya terasa sangat lelah dan sakit, Sura suara malam tidak membuatnya takut lagi.
10 menit pun berlalu, ia melanjutkan lagi pendakianya.
2 jam pun berlalu dengan sanangat cepat, bintang bitang sudah bercahaya sangat banyak di lagit yang mulai membiru.
Pemuda itu yang melihatnya membuat bibirnya tersenyum sebentar lagi ia akan sampai di puncak, hatinya berdetak lebih kencang, bukan karena kelelahan, tetapi rasa penasaran yang memenuhinya, meskipun kakinya terasa sakit dan lelah ia terus di paksa untuk berjalan Hingga ia sampai di puncak,
Saat melihatnya, wajahnya yang tersenyum tadi tidak terlihat lagi, ia Hanya melihat pepohonan saja, tidak ada apa lagi.
Rasa marah memenuhi perasaanya. “ haha Haha, sungguh bodoh! Bodoh!” Ujarnya lalu melempar semua barang barangnya.
Suara burung burung berkicau menyambut pagi hari dengan hati yang bergembira.
Membuat pemuda itu lebih marah, bagaimana bisa dirinya begitu bodoh nya, “ apakah ini yang mereka bicarakan!”
Ia memukul pohon di dekatnya melampiaskan kemarahannya yang memuncak, hingga tanganya berdarah, lalu menghentikanya.
Ia memandang pohon pohon di depanya lagi yang memancarkan cahaya matahari yang masuk dari sela sela di timurnya.
Ia memutuskan untuk berjalan melihat apa yang ada di belakang pepohonan itu.
1 satu menit pun berlangsung, samar samar melihat Padang rumput yang tidak begitu tinggi seperti ada orang yang merawatnya, rasa penasaran tumbuh lagi.
Ia terus berjalan matanya melihat cahaya putih yang semakin cerah yang membuatnya tidak bisa melihat hingga ia melewati pepohonan itu.
Dan betapa terkejutnya apa melihat apa yang ada di depanya.
Sebuah Padang rumut yang tidak begitu luas, di ujunya ada batu besar di tumbuhi pohon sakura yang besar dan berkeriput, akar akarnya seperti menggenggam batu besar itu dengan erat.
Bagian atasnya mempunyai rangtin rangting yang lebar membentuk seperti kubah yang di penuhi bunga bungan sakura yang sedang bermekaran, di baratnya lagi hanya ada danau yang dalam dan memiliki air yang jernih di pinggir pingirnya terlihat batu batu berwarna warni menghiasinya.
“Apakah ini yang mereka maksud.” Gumanya merasa lega bahwa ia mendapatkanya, meski tidak mendapatkan apa yang di bayangkannya, tetapi ini sungguh lebih dari cukup yang ia dapatkan.
“Perjalanan yang mengerikan membuahkan hasil yang baik.” Ujanya lalu berlari dan berenang di danau itu dengan wajah yang gembira.
Meski ia tidak mendapatkan emas, uang atau yang lainya, ia sangat senang akan di dapatnya itu, tidak ada yang dapat merasakan segarnya dan indahnya yang ia rasakan, meskipun ia menceritakan.
Tamat.”
“Kakek tidak ada mainan hanya pemandangan saja.” Ujarnya kesal.
“ Memang tidak ada, mainan, uang atau yang lainya yang akan luput oleh waktu sedangkan pengalaman tidak akan luput oleh waktu itu akan tetapi menjadi bagian dari kehidupan nya, jika kau memiliki uang, mainan, suatu saat kau akan kehilanganya lebih cepat!”
“Aku tidak mengerti.”
Kakenya menaikan wajahnya menatap bukit. “ kelak kau akan mengerti.”
‘’ '’ '’ '’ '’
“ kakek aku tidak akan mendakinya, aku hanya akan berharap dan berharap, aku sadar harapan akan selalu bersamaku dan membuatku semangat.”
Tetesan hujan mulai jatuh satu persatu hingga tidak dapat di hitung jumlahnya.