Apa! Siapa yang ngelakuin semua ini, Go?” Jennifer kaget bukan kepalang ketika berita pergaulan bebas serta foto-foto tidak pantas itu ternyata sudah beredar di semua media sosial.
Di hatinya seperti ada sesuatu yang tajam menghujam jantung gadis bermata lembayung itu. Kali ini ia sungguh telah jatuh sejatuhnya. Benar saja saat seperti ini ia membutuhkan seseorang untuk menenangkan pikirannya.
***
Terlihat seorang sutradara di sana sedang mengarahkan para pemeran untuk melakoni adegan. Setiap pemain akan melakoni masing-masing perannya. Begitu juga dengan Jenifer yang sedang berdiri mengamati setiap arahan dari sang sutradara. Gadis pemilik mata lembayung itu terpilih untuk menjadi pemeran utama dalam film yang akan tayang beberapa bulan ke depan.
Jenifer dikenal sebagai sosok artis yang memiliki bakat luar biasa dalam film yang ia perankan. Berwajah oval, rambut berwarna coklat tua dan terurai panjang membuat dirinya dikagumi banyak orang. Hampir semua film yang ia perankan memiliki retting tinggi dibandingkan film lain yang sekelas.
Hari-hari penuh dengan aktivitas berakting. Jenifer tidak sempat memikirkan hal lain selain kerja keras di bidang hiburan itu. Kadang ia menghabiskan waktu hingga malam hari demi sebuah peran yang akan menjunjung tinggi namanya. Gadis pemilik mata lembayung itu sangat mendalami perannya. Setiap adegan yang dilakoninya nyaris sempurna di mata sutradara maupun khalayak ramai.
Kali ini ia beradu akting dengan salah seorang artis yang memiliki wajah tampan dan bertubuh tinggi. Lelaki itu bernama Raka, ia merupakan sosok yang paling bijak dan memiliki ketakwaan tinggi terhadap Yang Maha Kuasa. Kebetulan film yang akan diperankan olehnya ber-genre romance religi.
Peran tersebut mengharuskan seorang Jenifer membalut seluruh tubuh indahnya dengan busana syar'i sesuai dengan apa yang telah ditetapkan sebelumnya oleh produser. Keseluruhan, Jenifer tampak memesona dengan busana muslim yang dikenakan.
Awalnya Jenifer menolak keras tawaran film religi itu. Namun, ia berpikir lagi untuk kesekian kalinya demi para penggemar yang sudah membuat namanya besar seperti sekarang. Jenifer tidak ingin mengecewakan orang-orang yang mendukung karirnya di dunia hiburan. Kerja keras selama ini telah membuahkan hasil yang begitu gemilang.
"Oke, Aku akan mengambil tawaran film religi ini." ucap gadis jelita itu di hadapan seorang produser yang ternama di Kota Jakarta itu.
"Karena kamu sudah menyetujui sebagai pemeran utama dalam film ini. Maka, proses syutingnya akan dilakukan secepatnya. Mungkin dua minggu dari sekarang." terang lelaki berambut gondrong dengan tegas.
Saat itu, Jenifer belum tahu siapa orang yang akan dipasangkan berakting. Siapapun dia tidak menjadi masalah baginya. Sikap percaya diri yang dimilikinya selalu mampu membuat gadis berwajah oval itu berbeda dari yang lain.
Satu jam berlalu, artinya ini adalah waktu Jenifer menyudahi segala aktivitas shooting di lokasi yang tidak jauh dari apartemen tempat ia tinggal. Bersama dengan Vigo, menejernya, gadis yang memiliki kebiasaan mengunyah permen karet itu bergegas dan sekejap menghilang dari pandangan.
Akibat kelelahan, Jenifer nyaris jatuh karena kehilangan keseimbangan menimbang tubuhnya sendiri. Akhirnya gadis itu pun tidur asal di sofa empuk kebanggaannya.
Pagi menjelang, Jenifer masih belum bangun juga hingga ponsel di dalam tas tangannya berdering. Benda pipih itu bersuara hingga tiga kali akan tetapi, gadis itu masih belum bergerak juga. Sungguh bukan seseorang yang tidak pantas menjadi sosok ibu.
Beberapa menit kemudian seseorang mendatangi apartemen Jenifer.
“Astaga naga ini orang tidur apa mati, ya, gua hubungi beberapa kali gak sadar juga, dasar manja!”
Ternyata sang menejernya yang datang, pria kemayu itu mengguncang tubuh Jenifer sampai ia benar-benar bangun.
“Siapa, sih, ganggu orang tidur aja!” seru gadis bermata lembayung itu dengan volume tingginya.
“Duh! Katanya selebriti, bangun aja malesnya kebangetan deh, ah,” ucap Vigo dengan raut kesalnya.
“Heh, elu gua gaji bukan buat omelin gua, tahu!”
“Emm ... Tapi makasih dah datang ke sini, hehe,” lanjut gadis itu dengan rasa tanpa salahnya.
BuVigo yang sudah lama bekerja sama dengan Jenifer memahami dan memaklumi semua tingkah yang dilakukan gadis cantik itu. Walaupun terkadang buat ia kecewa tapi hanya sesaat dan kemudian hilang begitu saja.
Selesai sarapan roti panggang lalu Jenifer bergegas mandi lalu bersiap berangkat ke lokasi shooting. Tentu saja bersama Vigo, pria penyabar itu.
Tiga puluh menit berlalu. Jenifer melihat ada beberapa orang sedang menunggunya. Mereka adalah tim produser. Entah kenapa wajah mereka berubah begitu melihat gadis cantik itu mendekat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun seorang pria setengah baya dengan cepat melemparkan beberapa gambar Jenifer dengan teman-teman prianya sedang menikmati malam di sebuah bar. Jelas, pergaulan bebas itu mempengaruhi film religi yang akan dibintangi dirinya nanti.
Bukan hanya karir Jennifer yang dikenal sebagai artis papan atas saja yang akan hancur bahkan perusahaan produksi filmnya akan mendapatkan akibat buruk.
Untung saja foto yang tidak senonoh itu belum sampai ke media mana pun. Hingga Jenifer bisa bernapas lega dan juga produsernya.
“Oke! Semuanya sudah clear ya, Jen, satu minggu lagi kita mulai shooting,”ujar Om Dimo panggilan untuk produsernya.
Meski berita itu belum sampai ke media. Namun, dalam hati Jenifer masih ada ketakutan akan kegagalan film kali ini. Dengan pikiran gusar ia keluar dari ruangan untuk menenangkan diri sejenak. Gadis bertubuh tinggi itu beranjak duduk di taman yang biasa digunakan untuk beberapa scene romantis pada saat proses shooting.
“Yang terjadi biarlah terjadi. Tidak ada gunanya merutuki diri. Karena semua yang terjadi di dunia ini adalah izin dari Yang Maha Kuasa,” terang Raka yang mencoba menenangkan keadaan Jenifer saat ini.
Mendengar kata-kata indah itu Jenifer sempat terpana dibuat Raka.
“Terima kasih karena kata-kata kamu barusan bisa buat aku tenang.” Jenifer menoleh ke arah Raka dengan senyuman yang seolah tanpa dosa.
“Sama-sama.”
***
Hari ini merupakan pertama kalinya Raka dan Jenifer beradu akting. Sejak pertemuan di taman, gadis bermata lembayung itu tidak berhenti memikirkan sosok Raka yang begitu santun bersahaja. Seolah ada sesuatu yang berbeda dari cara pria itu menatapnya. Entah, mungkin rasa peduli biasa pada umumnya yang dilakukan seseorang ketika ingin menghibur temannya yang sedang bersedih.
“Nisa! Walaupun kita tidak bisa bersama karena orang tuamu tidakk merestui. Biarlah aku bawa cintamu ke dalam doaku setiap malam sujudku. Karena aku yakin bahwa jodoh tidak akan pernah tertukar.’’
Cut!
Jenifer merasa dalam hatinya berdesir hebat. Padahal gadis itu tahu bahwa itu hanyalah sebuah dialog yang diperankan oleh Raka. Seolah ada ritme yang dapat menariknya dalam hayal gadis berambut panjang itu.
Setelah semua scene dilakukan, akhirnya proses shooting di hari pertama selesai sudah. Jenifer bahagia. Tidak mampu disembunyikan bahwa hatinya telah terpaut pada sosok Raka.
Dibalik jendela, seorang Raka menampilkan seutas senyum merekah menatap Jenifer yang kikuk sendiri.
Setelah mengganti kostum, lalu Jenifer berjalan menghampiri Vigo karena ia sangat penasaran dengan lawan mainnya tersebut. Jenifer tahu bahwa manejernya mengenal Raka lebih baik darinya.
Dati kejauhan dengan napas tersengal Vigo berlari dengan panik.
“Gawat! Gawat ...” Sepertinya Vigo begitu cemas terlihat dari raut wajahnya.
“Apanya, sih, yang gawat?” tanya Jennifer.
“Lo lihat sendiri, deh mendingan,” ucap pria itu lemah
“Apa! Siapa yang ngelakuin semua ini, Go?” Jennifer kaget bukan kepalang ketika berita pergaulan bebas serta foto-foto tidak pantas itu ternyata sudah beredar di semua media sosial.
Di hatinya seperti ada sesuatu yang tajam menghujam jantung gadis bermata lembayung itu. Kali ini ia sungguh telah jatuh sejatuhnya. Benar saja saat seperti ini ia membutuhkan seseorang untuk menenangkan pikirannya.
Orang yang pertama terlintas adalah Raka. Iya, hanya pria itu yang Jennifer butuhkan.
“Kenapa ini semua harus terjadi, sih, Tuhan?” Setelah sekian lama nama itu tidak pernah terucap lagi dari mulut gadis itu. Dengan penuh penyesalan Jenifer menyadari perbuatannya selama ini.
Mungkin dengan dicabutnya peran dari film religi itu. Jenifer berpikir ini semua adalah bagian dari hukuman dunia dari Allah untuk dirinya. Ketika semua manusia mengucilkan dan menghina harga dirinya. Dengan segala kekuatan untuk bangkit dari dosa-dosa yang membentengi dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Setelah memantapkan keputusan atas masa depannya. Jenifer bergegas menemui seseorang untuk membimbingnya ke jalan hijrahnya.
“Maukah kau mengajari aku tentang cara bertaubat?”
Raka yang sedang berdiri di depannya kemudian mengangguk dan tersenyum bahagia.
End