Ini … adalah kisahku. Kisahku yang berakhir dan dimulai kembali menjadi ras siluman sihir, ras gabungan antara penyihir dan siluman.
Aku awalnya adalah manusia. Ya, manusia biasa yang hidup biasa-biasa saja. Sampai tiba-tiba aku membunuh diriku sendiri entah karena apa dan akhirnya terlahir kembali di dunia yang disebut dunia bawah, dunia tempat makhluk-makhluk seperti monster dan tempat di mana tidak ada manusia yang hidup.
Ya, tidak ada manusia yang hidup di sini, aku saja tidak pernah melihat ada manusia. Paling-paling hanya … para penyihir yang katanya tidak bisa disebut manusia meski tampilan mereka sama persis seperti manusia.
Aku akan langsung ke intinya saja.
***
Saat aku terlahir di dunia ini, aku tidak terlahir menjadi bayi kecil yang dibesarkan oleh orang tua. Aku tiba-tiba saja langsung terbangun di tubuh laki-laki berumur tiga belas tahun yang memiliki tanduk di kepalanya. Ya, aku benar-benar terkejut dan tak percaya saat melihat pantulan diriku di cermin yang terlahir kembali menjadi makhluk dengan tanduk. Namun, yang paling mengerikan adalah … rambutku sekarang panjang seperti perempuan!
Aku pikir aku perempuan, tapi ternyata tidak. Aku masih tetap menjadi laki-laki, meski bukan manusia lagi.
Aku pun mulai beradaptasi dan mencari informasi tentang dunia baruku. Sampai ….
Aku mendengar kalau ada akademi di dunia ini. Ya, namanya adalah akademi Arknest, tetapi ada yang aneh dengan akademi ini. Akademi ini berada di dalam hutan, dan satu-satunya cara agar diterima di akademi ini adalah dengan bertahan hidup di hutan itu.
Ya, hanya ada satu hutan di dunia ini. Hutan lebat yang berada di tengah-tengah wilayah perbatasan antara empat kerajaan. Kerajaan penyihir, kerajaan iblis, kerajaan hewan, dan kerajaan siluman.
***
Beberapa hari berlalu, dan aku belajar dan menambah pengetahuan tentang dunia bawah, juga kekuatan dan sihir ku di akademi Arknest. Meski, akademi ini sepertinya bukan akademi biasa.
Bangunannya besar dan panjang, halamannya luas dan indah, tapi tidak ada guru di sini! Yang mengajar malah para senior-senior yang terlihat tidak punya otak apalagi perasaan!
Setelah hampir satu bulan berada di akademi Arknest, aku tiba-tiba terpilih menjadi murid yang akan menjadi pengirim surat untuk pangeran kerajaan hewan. Ya, tiba-tiba bukan akhirnya! Ada akademi yang menyuruh murid-muridnya menjadi babu! Namun, dari sinilah … aku malah mendapat cinta pertamaku.
***
Afra Afifah, perempuan dari ras monster yang entah bagaimana bisa menjadi murid di akademi Arknest yang kebanyakan muridnya adalah dari ras iblis, siluman, hewan, dan penyihir saja. Aku pertama kali melihatnya saat menjalankan tugas pengiriman surat ini.
Ini bukan dari pandangan pertama, melainkan setelah … aku merasa nyaman berbicara dengannya. Kami tidak berkenalan, melainkan langsung berkomunikasi saat terpisah dari rombongan. Ya, ada tujuh orang termasuk aku yang disuruh mengantarkan surat, dan saat di perjalanan … kami terpisah. Ya, aku dan Afra ditinggal oleh mereka.
"Sialan! Ga ada yang mikir anggota kelompok nya, ya!" umpatku sambil memukul-mukul pohon.
Afra hanya melihatku dengan tatapan kebingungan saat aku melihat matanya.
"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau itu … lucu, ya," jawabnya membuatku terkejut.
"Sudahlah! Kita harus mencari mereka atau kita akan mati di sini!" ujarku langsung berjalan tanpa mempedulikannya. Namun, dia langsung mengerti dan mengejarku yang sudah berlari.
***
Hari pun terus berlalu, dan kami masih tidak menemukan kelompok kami. Akhirnya, kami menginap di tempat inap yang ada di kota dan mencari-cari berita di koran. Ya, meski ini dunia makhluk dan monster, tetap saja kebiasaan mereka sama seperti manusia pada umumnya.
Selama kami bersama, aku tidak merasakan apapun darinya. Yang kurasakan hanyalah ….
"Eum, apa tidak apa kau yang memasak makanan setiap hari? Bagaimana kalau kita kembali ke akademi?" ucapnya dengan wajah polosnya yang membuatku semakin lama semakin kesal.
"Tidak usah! Kita akan mencari mereka dengan menginap di sini!" jawabku dengan nada kesal, tetapi dia hanya menatapku dengan wajah kebingungan.
Sampai akhirnya … aku tiba-tiba menyukainya.
Entah kenapa, sikapnya malah membuatku merasa … bersalah jika terus melampiaskan emosi ku padanya, meski dia tidak merasa itu sebuah masalah. Namun, saat dia mengatakan ….
"Kau itu … tak pernah menyerah, ya," ucapnya saat melihatku terus membaca koran-koran dan mencari informasi.
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan nada dingin.
"Ya, aku … suka, dengan sifatmu itu, Sira," jawabnya seketika membuatku … langsung berubah pikiran tentangnya.
***
Waktu berlalu dengan cepat, dan kelompok kami akhirnya mendatangi kami sendiri. Mereka terlihat tidak merasa bersalah sama sekali dan malah tersenyum-senyum melihat kami.
Akhirnya, kami bertujuh pun kembali ke akademi Arknest, meski saat kami sampai di sana … semuanya sudah hancur.
Wanita dengan sabit besi yang penuh darah, ras monster yang dulunya pernah menjadi murid di akademi Arknest, dia … yang membunuh semua murid-murid yang ada di akademi saat kami bertujuh pergi. Ya, para senior juga terlihat tidak bisa apa-apa meski kesadaran mereka terlihat abadi.
Kami bertujuh melawan wanita monster itu, meski pada akhirnya hanya aku yang tersisa. Sedangkan Afra … ia hanya bisa diam dan ketakutan. Ia tidak bisa maju dan menyerang, dan wanita monster itu juga tidak menyerangnya. Wanita itu malah terus menebaskan sabitnya ke tubuh ku dengan penuh nafsu pembunuh.
Aku terus menghindar dan menyerangnya dengan kekuatan es ku, sampai … tubuhku penuh luka dan mengeluarkan banyak darah. Dan … Afra hanya bisa diam dan melihat ku dengan tubuh gemetaran. Sekarang, aku benar-benar kesal. Tidak, bukan kesal dengan perasaan yang dulu, tetapi … ini berbeda.
"Afra Afifah!" teriakku memanggil nya, "Afra!"
Sabit tajam wanita monster itu langsung menusuk perut ku. Darah keluar dari tubuhku, organ-organ tubuhku mulai terasa tak bergerak, dan … jantungku mulai berdetak kencang dengan nafasku yang mulai menghilang.
"S-Sira! Sira!" panggil Afra sambil berlari menghampiri ku, tetapi … wanita monster itu langsung berdiri di hadapan Afra dan menendangnya. Afra terpental jauh dan terjatuh!
"Afra!"
Aku … tidak bisa menahan semua ini!
Tanah mulai membeku, tubuhku yang penuh darah mulai kembali seperti sedia kala. Wanita monster itu terkejut dan langsung melihat ke arahku. Aku melayang di udara dengan kedua tangan terangkat ke atas. Aura biru dengan kristal-kristal es mulai muncul di sekitar tubuhku dan mengelilingiku.
"Es Biru!" teriakku langsung menyerang wanita monster itu dengan kristal-kristal es yang mengelilingi ku. Namun, wanita itu masih bisa menahannya, meski aku sudah tahu sekarang.
"Beku!" teriakku langsung membuat tanah yang terlapisi es membekukan tubuh wanita itu, tetapi … ternyata aku salah.
"Monster tetaplah monster, dan kalian hanya santapan bagi kami!" ujarnya dengan nada kejam dan langsung menendang tubuhku sampai terpental lebih jauh dari Afra.
Sakit? Tentu saja sakit! Tapi, ini tidak sesakit … perasaan kesal ku!
Wanita monster itu tertawa, sedangkan Afra … ia tak bisa apa-apa dan … hanya bisa meneteskan air matanya saat melihatku sudah tak berdaya. Darah yang sebelumnya menghilang dan luka-luka yang kembali menutup di tubuhku langsung terbuka kembali, bahkan lukanya semakin besar.
Afra benar-benar tak bisa apa-apa, dan … aku kesal dengannya sekarang!
"Hei … Afra!" panggilku dengan berteriak meski suara ku mulai menghilang.
Afra menatapku dengan mata tangisan. Tubuhnya masih gemetar ketakutan. Ia benar-benar tak bisa apa-apa.
"Kau … monster, kan? … Kenapa … kau tidak menyerang dan membantuku?" tanyaku padanya, tetapi Afra langsung menundukkan kepalanya.
Aku … semakin kesal dan sudah marah sekarang karenamu!
"Kenapa! Kenapa kau tidak menghentikanku jika tidak bisa membantuku!" teriakku langsung membuat Afra menatap tajam mataku. Matanya terlihat penuh kesedihan dan … emosi yang terpendam.
"Aku bukan monster! Aku bukan siapa-siapa di sini! Aku hanya manusia! Manusia!"
Hah? Manusia! Jangan bilang kalau—
"Aku hanya manusia yang seharusnya tak terlahir di dunia ini! Di dunia di mana manusia tidak boleh hidup! Seharusnya ras ku bukan manusia!"
Apa … apaan itu. Jadi … dia manusia ….
Manusia … yang terlahir di sini ….
Aku pun tersenyum tipis.
"Baguslah, aku juga dulunya manusia, Afra!" ucapku tanpa ragu membuat mata Afra terbelalak. Namun ….
"Ara ara … drama manusia, ya …!" ucap wanita monster itu dan langsung mengarahkan sabitnya ke Afra, tetapi … aku tentu tak bisa diam seperti ini kan!
"Es biru abadi!" ucapku dengan lirih seketika langsung membuat sabit wanita itu membeku dan hancur.
Wanita itu langsung menatapku dan berdiri di belakang ku yang masih tergeletak di tanah.
"Mangsa seharusnya tidak melawan pemangsa!" teriak wanita monster itu langsung mengeluarkan cakar dari tangannya dan mulai mengarahkannya ke tubuh ku, tetapi … ini adalah saat yang bagus!
"Beku lah kau!" teriakku langsung menatap tajam mata wanita monster itu. Seketika, tubuh wanita itu langsung membeku dimulai dari matanya. Ya, tubuhnya langsung berhenti bergerak dan ia tak bisa apa-apa. Namun …. tubuhku juga perlahan ikut membeku seperti wanita monster itu.
"Sira! Hentikan!" teriak Afra membuat ku tersenyum senang. Meski Afra tentu saja menunjukkan raut wajahnya yang tidak senang dan benar-benar tidak setuju dengan keputusan ku.
"Bye bye, Afra." ucapku seketika langsung membeku bersama dengan wanita monster itu dan ….
"Aku juga menyukaimu," sambungku lalu tersenyum pada Afra.
Meski es sihirku sudah membekukan ku dan wanita monster itu, dan … perlahan es sihir yang menyelimuti tubuhku dan wanita monster itu langsung pecah. Begitu juga dengan tubuhku dan tubuh wanita monster itu. Aku tak sudi mengatakan kami jika dengan wanita monster yang kejam! Namun ….
Aku melihat sesuatu sebelum aku benar-benar hancur bersama dengan es sihirku. Itu adalah ….
Masa depan … di mana kita akan bertemu lagi, aku yakin itu. Kita akan bertemu lagi, dan bersama … selamanya.