"Rin, coba lu lihat cowoknya ganteng banget?!"
Dewi memutar kepalaku dengan paksa untuk melihat ke arah cowok yang sendang ia bicarakan.
"Apaan sih?! Jodohnya orang tahu..."
"Ya elah..., yang bilang jodohnya hewan siapa?! Tapi kok ceweknya gitu ya? Kelihatan tua banget nggak sih?"
Walau Dewi memutar kepalaku dengan paksa tapi aku enggan melihat ke arah pasangan yang sedang melintas di depan kami. Aku lebih memilih menyedot minumanku hingga tandas.
"Cabut yuk, udah keburu magrib nih?!"
"Ish...nih anak nggak bisa banget di ajakin gibah!"
Merengut wajah Dewi melihat ke arahku yang bersiap untuk pulang.
Lalu suatu hari di suatu malam. Dirumah tampak sibuk mempersiapkan sesuatu. Hanya aku yang santai sambil memperhatikan ibu dan bibi sibuk memasak dan berbenah rumah.
"Ada yang bisa Airin bantu bu?"
Tanyaku ketika mendekati ibu dan melihat keringat mulai luruh di pelipisnya.
Ibu melihat ke arahku sambil memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala.
"Ada. Tolong kamu mandi dan pakai baju yang rapi, anggun dan cantik karena kita malam ini akan kedatangan tamu yang sangat spesial"
"Siapa? Ayah ya?"
Tanya ku dengan wajah senang karena sang ayah berjanji pulang dari luar kota akan membawakan sesuatu yang sangat aku inginkan.
"Bukan, ayah sudah pulang dan lagi diruang kerjanya"
"Hah, terus siapa dong?"
"Nanti kamu juga bakalan tahu. Sudah sana buruan mandi dan dandan yang cantik"
Perintah ibu dan ayahku tidak pernah aku abaikan. Meski terkadang cemberut, tapi aku akan tetap melaksanakannya.
Waktu yang di tunggu tiba, tamu yang di nanti pun datang berkunjung. Aku hanya ikut menyalami mereka sambil tersenyum.
"Waah sudah lama sekali, apa kabar kamu Her?"
"Hahaha, aku baik. Bagaimana denganmu Kris? Sepertinya hampir 10 tahun kita tidak bertemu ya kan?"
"Hahaha kamu benar. Dan kamu Her tidak ada perubahan di wajah mu, masih terlihat muda saja"
"Hahaha bisa saja kamu Kris. Mari silahkan duduk..."
Ayahku tampak senang sekali bertemu dengan sahabatnya.
"Ini Airin kan?"
"Iya mbak Yu... ini Airin yang masih kecil dulu"
Dan ibu tampak senang memperkenalkan aku pada tamunya
"Ting"
Sebuah notif pesan berbunyi di ponselku. Aku membaca sebentar pesan dari Dewi yang mengatakan ia ada di depan rumahku untuk meminjam beberapa novel yang aku miliki.
Kami memang janjian bertemu dirumahku tanpa aku tahu jika orangtua ku sedang ada acara bertemu kangen dengan sahabatnya.
"Bu, Airin permisi sebentar ya?"
"Jangan lama-lama ya nak?"
"Iya bu..."
Aku pun meninggalkan keramaian itu dan menghampiri Dewi yang menungguku di luar.
"Lagi ada tamu ya?"
Dewi celingak celinguk memperhatikan kedalam rumahku.
"Sahabat ayah dan ibu lagi berkunjung. Gue nggak bisa lama-lama nih, nggak enak soalnya. Besok aja deh lu kesini lagi"
"Ya udah deh"
Dewi terlihat lesu. Aku merasa tidak enak dengannya. Tapi mau gimana lagi, rumahku sedang ada tamu.
Sebuah motor gede masuk ke halaman rumahku ketika Dewi sedang memutar motor meticnya dan bersiap untuk jalan.
Dewi menatap ku dengan penuh tanda tanya. Aku yang tidak tahu dan merasa tidak mengenal lelaki yang turun dari motor gede itu hanya mengangkat bahu menjawab rasa penasaran Dewi.
"Ini rumah om Herlan bukan?"
Tanya lelaki itu pada ku.
"Oh my God!!"
Celetuk Dewi ketika melihat wajah tampan lelaki yang mengajakku berbicara.
Aku hanya menjelingkan mataku sekilas ke arah Dewi, kode agar dia tahu untuk menjaga sikapnya.
"Benar ini rumah Herlan"
Jawabku singkat.
"Kalau begitu aku permisi masuk ya, karena mama dan papa menunggu ku di dalam"
Lelaki itu minta ijin kepadaku sambil tersenyum manis.
Dewi yang sedari tadi mendekatiku dengan menyeret motornya langsung mencengkeram lenganku dan berbisik...
"Gila, itu cowok yang waktu itu lu ingat nggak?"
"Nggak"
Balas ku berbisik.
"Ish... yang waktu kita nyantai di perempatan dekat odong-odong. Yang gue bilang ganteng banget inget nggak?!"
Aku berusaha mengingat tapi hanya sekadarnya. Dan aku pun menggeleng karena tidak ingat.
"Itu loh... yang lu bilang jodohnya orang?! Masa nggak ingat sih?!"
Aku baru teringat sekaligus merasa bersalah, andai saja Dewi tahu kalau aku mengalihkan pandanganku ketika ia memaksa kepalaku melihat cowok itu.
"Emm... kamu Airin kan?"
Baru berapa langkah lelaki itu memutar tubuhnya dan menanyakan namaku. Aku tertegun sesaat dan mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Senang ketemu kamu lagi"
Senyum lelaki itu semakin melebar setelah melihat anggukan kepalaku. Ia pun melangkah masuk kedalam rumahku.
"Gila!! Lu kenal?! Dia nyebut nama lu kan barusan?!"
Dewi heboh mendengar lelaki itu menyebut namaku.
"Entahlah gue lupa. Tapi kayaknya nggak deh..."
Jawab ku sekenanya.
"Tapi tu doi nyebut nama lu tadi?!"
"Udah ah, gue masuk dulu. Ntar ibu marah lagi"
"Chat gue, awas nggak?! Gue tunggu pokoknya!"
Dewi baper. Dia penasaran sekali siapa lelaki itu dan bagaimana dia mengenalku.
Setelah Dewi pergi aku pun bergegas masuk ke dalam.
"Airin sini?! Kamu ingat nggak dia siapa?"
Ibu terlihat antusias menanyakan lelaki itu padaku ketika aku baru saja duduk di dekat ibu. Aku hanya menggeleng merespon pertanyaan ibu.
"Dih, masa kamu nggak ingat?! Ini loh Ragil yang kamu maksa ngajakin nikah waktu kecil dulu"
Hah.. Ragil...?Aku bingung, lalu mencoba mengingat kembali masa lalu ku. Jika dia Ragil yang gembul semasa aku kecil dulu, tentu aku tidak bisa mengenalinya karena perubahan wujudnya yang drastis. Dan menikah? Itu hanya ucapan ku semasa kecil dulu.
Aku yang suka duduk bersandar pada Ragil yang empuk karena tubuhnya yang gendut, merasa takut Ragil jauh dari ku. Aku bertanya pada seorang kakak, bagaimana agar kami tidak terpisahkan. Dan kakak itu menjawab dengan menikah. Sejak itu aku selalu mengajak Ragil untuk menikah. Dan Ragil berjanji akan menikahi ku jika aku sudah besar nanti.
Mengingat itu wajahku merona. Siapa sangka Ragil akan berubah menjadi laki-laki yang tampan begini. Lelaki itu terus menatapku sambil tersenyum, tapi aku teringat Dewi yang waktu itu berkata "
Tapi kok ceweknya gitu ya? Kelihatan tua banget nggak sih?"
"Nggak bareng ceweknya ya?"
Celetukku tanpa sadar.
"Apa sih Airin, justru Ragil kesini mau melamar kamu sesuai janji masa kecilnya"
"Hah...?"
Melengos, satu-satu nya hal yang dapat aku lakukan saat itu.
"Mungkin yang kamu maksud Tya ya Airin? Ragil dan Tya sangat dekat bahkan sering di kira pacaran sama orang-orang"
Mama Ragil bertanya padaku. Tya? Siapa lagi itu? Aku hanya diam dan berusaha tetap tersenyum.
"Pasti Airin nggak ingat dia mbk Yu. Tya itu kakak kandung Ragil yang ngasi kamu wejangan untuk menikahi Ragil kalau nggak mau jauh darinya.
Hah..., tuh kan. Sikap cuekku sering kali membuat aku malu ketika salah mengira. Bukan lagi merona, tapi mungkin wajahku memerah dengan segala hal yang baru aku ketahui malam ini.
Malu-malu aku mencuri pandang terhadap Ragil. Tiap kali mata kami bertemu, jantungku berdebar tak menentu.
Aku kedapur mengambil camilan yang di minta ibu untuk di sajikan ke ruang tamu.
"Apa aku terlalu cepat melamar mu?"
Suara Ragil yang tiba-tiba ada di belakangku mengejutkanku hingga aku nyaris menjatuhkan piring toples camilan yang sedang aku pegang.
"Maaf, aku membuatmu terkejut"
"Ah.. nggak apa. Nggak jadi jatuh juga karena kamu menahannya.
Canggung, siatuai kami benar-benar canggung. Bertemu kembali setelah 10 tahun kemudian tidak pernah terlintas dibenakku.
"Apa kamu sudah mempunyai pacar?"
Kepalaku menggeleng begitu saja.
"Kalau begitu ayo kita menikah. Kita pacaran setelah menikah saja. Bagaimana? Mau ya nikah sama aku?"
Ragil gila, bagaimana bisa dia mengajakku menikah seperti mengajakku nonton bioskop. Namun hati dan tubuhku seperti kutub Utara dan Selatan yang saling bertolak belakang. Hati ku sedang pro kontra tapi kepala ku mengangguk menyetujuinya.
Ragil langsung meraih tanganku, dan membawaku ke hadapan orang tua kami.
"Airin sudah setuju, dan kami ingin segera menikah"
Ucapnya sambil menunjukkan pada semua tangan kami yang saling menggenggam. Semua orang tertawa bahagia, seperti telah mengharapkan kalau kami benar-benar menikah.
Kadang kala tanpa kita sadari belahan jiwa selalu ada di dekat kita. Siapa sangka, belahan jiwaku ternyata cinta manis masa kecilku yang sering aku todong dengan ajakan menikah dulu. Dan ah... aku harus menyiapkan kata-kata untuk sahabat ku yang paling bawel itu. Berita pernikahanku mungkin serangan jantung untuknya besok.