"Barakallahu laka wabarakaalaika wajamaa bainakhuma fi khair," doa untuk pengantin, bergema memenuhi seluruh ruangan masjid manakala para saksi menyatakan 'SAH!' atas ikrar akad nikahmu. Wajahmu yang tadi terlihat tegang dan berkeringat, kini nampak lega dan bahagia. Harusnya, aku turut berbahagia. Tapi, entah kenapa, ada perasaan sedih dan hawatir dalam hatiku. Bagaimana jika aku menyesal dikemudian hari karena merelakanmu untuk dia.
Rasanya, baru kemarin saat kau diam-diam menyelipkan cokelat di meja kerjaku. Pernah juga, kau simpan boneka disana. "Surprise," katamu.
Semenjak itu, kau semakin sering menemuiku. Bertemu Paijo˗sahabatmu yang juga rekan kerjaku, selalu jadi alasanmu. Aku kagum dengan kegigihanmu yang tidak pernah lelah mendekatiku. Kau, selalu punya cara dan alasan untuk itu."Namanya juga usaha," elakmu.
Pernah, sekali, kau tiba-tiba muncul didepan pintu kelasku. Kebetulan, bapak dosen yang harus ngajar saat itu, izin tidak hadir. "Alia, ini dimakan, ya!" Katamu, lalu pergi begitu saja setelah menggantung satu kantong snack dan softdrink di knop pintu kelas.
Mendengar kau menyebut namaku, teman-teman sekelasku tampak heran. Beberapa diantara mereka mulai saling berbisik. Aku rasa, apa yang ada di pikiran mereka tidak jauh beda dengan apa yang aku pikirkan. Bagaimana bisa, seorang Alia yang katrok, bermuka sendu dan tidak menarik ini, tiba-tiba kedatangan laki-laki sepertimu.
***
Saat itu, malam minggu. Malam spesial buat muda-mudi yang sedang jatuh cinta, untuk menghabiskan waktu bersama. Setelah beberapa bulan berlalu, kau tak kunjung juga menyerah dengan sikap dinginku. Akhirnya, malam itu aku putuskan menerima ajakanmu untuk jalan berdua. Entah apalah namanya, dating mungkin. Karena kau tidak pernah membahas dan memperjelas jenis hubungan apa antara kau dan aku selama ini.
Kau membawaku ke taman di tengah kota. Gemerlap lampu dari pedagang kaki lima yang memenuhi sepanjang pintu utama taman, meramaikan suasana malam. Beberapa pasangan muda-mudi tampak asik menikmati jajanan mereka sambil duduk lesehan di tikar yang memang sudah disediakan oleh para pedagang.
"Mau makan apa, Al?" tanyamu sambil melihat sekeliling yang lebih mirip pasar malam ketimbang taman.
"Apa ya? Belum laper, sih. Gimana kalo kita ngopi aja, dulu?"
"Ide bagus, yuk! Gue tau tukang kopi yang enak," katamu sambil meraih tanganku. Reflek, aku tangkis genggaman tanganmu dengan kasar. Jelas sekali, kau kaget. Begitupun, aku. Kau menatapku heran dan aku menatapmu panik.
"Maaf, Dre, gue..." Aku benar-benar panik dan entah kenapa ada rasa takut yang tiba-tiba muncul. Padahal, aku yakin betul, aku aman bersamamu.
"Gue, yang minta maaf, Al. Gak apa-apa. Yuk, nanti kopinya keburu dingin." Kau berusaha bercanda untuk mencairkan suasana. Dan itu berhasil.
"Bagaimana kopinya keburu dingin, dipesan saja belum." Gerutuku sambil berjalan cepat mengikutimu yang sudah lebih dulu pergi meninggalkanku.
***
Perasaanku sudah jauh lebih tenang setelah menghabiskan setengah gelas kopi dan sebatang rokok.
"Dre, gue kayaknya gak bisa, deh, ngejalanin kaya orang-orang," tiba-tiba saja aku merasa malam itu aku ingin jujur. Aku tidak ingin membuat orang yang baik dan tulus sepertimu menderita karena aku.
"Ngejalanin kaya orang-orang gimana, yang gak lo bisa?"
"Malam mingguan." Jawabku. Sebetulnya ingin ku katakana pacaran, tapi selama ini kau tak pernah meminta aku untuk jadi pacarmu.
"Maksud lo pacaran? Kenapa? Karena, kejadian tadi? Gue janji, Al. Gue gak akan megang tangan lo lagi sebelum lo yang megang tangan gue duluan." Katamu dengan ekspresi setenang langit malam itu.
"Bukan, Dre... Jujur, sejauh ini gue gak pernah ada ketertarikan sama cowok, bahkan sebetulnya, gue takut sama cowok." Mendengar ucapanku, ekspresi tenangmu seketika hilang. Rona kaget jelas sekali tergambar di wajahmu. Kau menatapku tak percaya sekaligus sedih.
"Please, jangan tanya kenapa? Gue gak mau terlihat menyedihkan di depan lo," aku hisap kuat-kuat rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuku, berusaha menutupi mataku yang mulai bersaput dan terasa panas.
Jelas sekali, tarikan napasmu yang menggambarkan kekecawaan, "Dari awal liat lo, gue udah duga sih, Al. Gue, gak nyangka aja kalau itu benar."
"Tapi, gue yakin lo bisa berubah, Al. Gue yakin. Gue bisa bantu lo untuk tertarik sama cowok, tertarik sama gue," kau menatapku penuh keyakinan. Tapi entah kenapa, hal itu semakin membuat aku ragu pada diriku sendiri. Aku takut mengecewakanmu labih dari ini.
"Lo baik, Dre. Tadinya, gue pikir dengan segala perhatian, kebaikan dan sikap tulus lo yang nerima gue apa adanya, gue akan bisa jatuh cinta sama lo," kini aku yang menarik napas dalam-dalam, merasa tak berdaya dan kecewa pada diri sendiri.
" Tapi... Gue rasa, semua ini hanya akan buang-buang waktu lo aja." Kata-kataku itu akhirnya membuatmu diam. Aku yakin, malam itu kau menyerah.
***
Mungkin, kau memang jodohnya Veta, sahabatku. Dengan ajaibnya setelah hampir enam tahun kau menghilang tanpa kabar, tiba-tiba kau de-em aku. Dan dengan anehnya Veta yang dulu super sibuk sampai gak punya waktu untukku, akhir-akhir ini hampir setiap weekend mampir, bahkan tidak jarang sampai bermalam dirumahku. "Biar hemat." katanya.
Setidaknya, di rumahku cukup dengan satu kaset dvd berisi enam film dan popcorn siap saji yang bisa dibeli di minimarket terdekat, sudah cukup untuk me-refresh otaknya yang penuh dengan deadline kerjaan.
"Kenapa lo, Al? kaya orang kaget gitu." Tanya Veta, penasaran karena aku tiba-tiba ambil posisi duduk tegak dengan mata melotot ke layar hape.
"Ini, si Andre. Gila, nih bocah. Udah enam tahun gak ngabarin gue, tiba-tiba de-em gue. Lagi patah hati kali nih bocah." Kataku spontan.
"Itu Andre anak jurusan Tehnik yang pernah deketin lo, kan?" tanya Veta sambil terkekeh.
"Maaf ya, Al. Inget gak, dulu waktu si Andre dengan romantisnya ke kelas, cuma buat ngasih lo makanan?" lanjutnya sambil berusaha nahan ketawa. "Gue kan ngomong ke Shabin, Itu cowok cakep-cakep, kok mau, sih, ama si Alia." Aku menatap Veta, gak percaya. Veta tertawa, terbahak-bahak melihat ekspresiku.
"Menurut lo, Andre, cakep?" tanyaku, seketika menghentikan gelak tawanya.
"Cakep, lah! Idaman gue banget, kan, cowok kaya Andre. Tipe-tipe bad boy gitu, kan?"
"Lo siap-siap! Dandan yang cantik! Si Andre gue ajak ketemuan malam ini juga di Serah Bae Café dan dia udah jawab, Oke." Aku beranjak berdiri, meraih sweater yang menggantung dibalik pintu kamar.
"Hah? Maksud lo, apa sih?"
"Gue, mau kenalin lo ke Andre. Kali aja, dia jodoh lo." Kataku mantap.
"Hah???"
***
Belum genap empat bulan sejak kau dan Veta berkenalan, kini kau dan dia tampak serasi di kursi pengantin. Tak pernah ku sangka, kau memang jodoh untuk sahabatku. Perjalanan jodoh setiap manusia memang kadang sangat unik.
Perlahan hatiku berangsur tenang, perasaan sedihku hilang sirna terkikis oleh kebahagiaan yang terpancar dari wajah kalian berdua.
"Selamat ya!" kataku sambil menjabat tanganmu.
"Makasih banyak, Al." Kau menjabat tanganku lebih erat. Sungguh rasa terimakasih yang dalam. Aku mengangguk pelan, kemudian beralih ke Veta yang langsung menghambur memelukku.
"Makasih banyak, Alia... Semoga lo cepet nyusul, ya!" kata Veta sambil melepas pelukan.
"Dre... titip sahabat gue, ya. Awas, lo, kalo sampe bikin dia nangis!" candaku yang langsung kau respon dengan mengacungkan dua jempol tangan.
***