Matsukawa Issei menjadi pegawai di sebuah rumah pemakaman memang sangat mengejutkan. Pria tinggi dengan rambut ikal, alis hitam yang tebal, serta mata yang kadang-kadang menakutkan terasa semakin cocok ketika teman-temannya mencari-cari alasan mengapa mantan middle blocker mereka memilih pekerjaan tersebut.
Tapi, fakta itu tidak lebih mengejutkan dari kabar duka yang mereka terima secara serentak Minggu malam itu. Pelatih mereka meninggal dunia akibat serangan jantung. Selain Oikawa yang menangis paling keras dengan berita pasca kemenangannya melawan tim unggulan dari Italia adalah Matsukawa yang teramat syok dengan berita duka tersebut. Padahal beberapa hari yang lalu mereka semua, seluruh mantan anggota tim bola voli Aoba Johsai, baru bersama-sama menonton pertandingan Oikawa secara online.
“Aku selalu bertambah tua. Kalau sudah saatnya maka aku mengandalkan bantuanmu ya, Matsukawa-kun.”
“Apa yang kau katakan, Sensei? Kau masih muda. Kau masih akan hidup sampai melihat Oikawa berhasil mengalahkan Ushiwaka dan duo anak kelas satu Karasuno itu.”
“Hahaha. Semoga saja.”
Malam itu, ketika ia dan Hanamaki mengantarkannya pulang ke rumah ia menyangka bahwa itu merupakan percakapan yang sama seperti biasanya. Namun, siapa yang sangka kalau tawa datar namun tulus dari pelatihnya itu akan menjadi yang terakhir kalinya? Matsukawa selalu memikirkan hal yang sama setiap kali mengerjakan pekerjaannya, mengenai takdir kematian siapa yang tahu? Tidak disangkanya ia akan menggunakan kalimat itu untuk pelatih volinya begitu cepat.
Isak tangis sudah mereda setelah beberapa saat berlalu di ruangan yang penuh atmosfer berat tersebut. Matsukawa memberikan instruksi mengenai apa yang akan dilakukannya kepada jenazah dan meminta keluarga serta kerabat untuk duduk memperhatikan dengan sikap tenang demi menghormati jenazah gurunya. Namun, walaupun begitu Matsukawa masih bisa mendengar isak tangis yang berkali-kali lolos dari bibir istri mantan pelatihnya. Ia sendiri pun berulang kali hampir meneteskan air matanya ketika mengerjakan tugasnya.
Matsukawa akhirnya selesai. Guru serta pelatih yang telah membesarkannya selama tiga tahun itu terbaring damai dengan setelan pakaian tradisional. Pemandangan sedih tidak tampak sama sekali di dalam ekspresinya, hanya ada wajah menyejukkan tanpa penyesalan serta senyum yang sangat tipis. Teramat tipis sampai-sampai hampir tidak kelihatan jika tidak mengamati dengan teliti.
“Dia meninggal dengan damai. Aku dan seluruh teman-temanku sangat bersyukur memiliki pelatih sepertinya, Nyonya,” ucapnya pada sang istri.
“Ya. Aku tahu. Dia sangat membanggakan kalian. Kalian adalah tim terhebatnya.”
“Aku senang mendengarnya. Terima kasih sudah memberitahukan ini kepadaku.”
Matsukawa tidak mampu lagi menahan air matanya. Pertama kali dalam kariernya sebagai orang yang mengurus kematian orang lain ia menangis untuk seseorang yang ia persiapkan kepergiannya.
Keesokan harinya Matsukawa datang pagi-pagi sekali ke rumah duka. Kali ini ia tidak sendirian. Hanamaki dan Iwaizumi menunggunya di depan rumah gurunya. Mereka masuk sama-sama dan duduk bersama dengan anggota tim mereka yang sudah tiba lebih dulu.
Teman-temannya tidak ada yang menangis. Mereka juga tidak banyak bicara. Tetapi, hanya sekali lihat saja Matsukawa tahu bahwa dari mata-mata mereka yang memerah mereka menangis tidak kalah banyak darinya. Ia duduk di antara Hanamaki dan Iwaizumi, di belakang rombongan mantan anak kelas satu dan dua.
“Bagaimana dengan Oikawa?” Ia berbisik pada Iwaizumi.
“Dia akan langsung ke sini dari bandara. Mungkin agak siang,” jawabnya yang juga didengarkan oleh semua orang.
Mereka memperhatikan biksu yang memimpin upacara dengan khidmat. Dalam selang-selang waktu itu tidak sekali pun mereka melupakan kebersamaan dengan pelatih mereka. Seluruh pertandingan dengan Karasuno. Kekalahan selalu mereka dari Shiratorizawa. Serta saat menyenangkan dan melelahkan yang mereka alami selama latihan. Anehnya, walau bukan keseluruhannya adalah memori menyenangkan mereka berpendapat bahwa semua itu merupakan kenangan yang indah.
Mereka serentak menoleh ke belakang saat mendengar suara berisik dan nafas kepayahan dari seseorang. Sang bintang tim mereka telah tiba dengan wajah cemas. Oikawa langsung duduk di sebelah Iwaizumi.
“Aku belum terlambat, kan?”
“Tepat pada waktunya. Sebentar lagi giliran kita memberikan salam perpisahan,” jawab Matsukawa.
Mantan murid kelas satu dan dua bergantian memberikan bunga dan salam terakhir mereka untuk sang guru tercinta. Grup mantan kelas tiga dimulai dari Hanamaki, ia kembali dengan mata berlinang. Iwaizumi yang melihat Matsukawa tidak bergerak dari kursinya segera berdiri melakukan tugasnya, lalu kemudian diikuti oleh Oikawa. Oikawa kembali setelah lama berbicara dengan pelatihnya di peti mati.
“Sensei kelihatan sangat damai. Dia tersenyum. Sepertinya kau mempersiapkan perjalanan terakhirnya dengan sangat sempurna, Matsun. Nah, sekarang temuilah dia.” Oikawa menepuk bahunya pelan.
Ketika ia berdiri Iwaizumi mendorong punggungnya, menguatkan. Saat ia melewati Hanamaki ia diberikan senyum lembut serta tepukan hangat di dada. Matsukawa melangkah pelan mendekati peti gurunya yang sudah penuh dengan bunga krisan putih. Ketika ia melihat bunga-bunga itu ia yakin teman-temannyalah yang meletakkan tumpukan bunga di dekat wajahnya.
Matsukawa tersenyum lembut. Ia meletakkan bunga krisannya dengan hati-hati di dekat mata gurunya. Ia menyukai mata gurunya. Mata itu sudah memperhatikan mereka selama tiga tahun. Mata itu melihat kerja keras, perjuangan, kebahagiaan, kesedihan dan keputusasaan mereka. Ia masih ingin melihat mata itu terbuka lagi lebih lama.
“Sensei, aku ingin mengatakan banyak hal. Ada banyak yang ingin kusampaikan kepadamu. Tapi, Oikawa sudah melarang kami. Katanya, kami tidak boleh mengungkapkan kesedihan kami, karena dibandingkan hal itu lebih baik jika kami memberitahumu betapa bangganya kami memiliki guru dan pelatih sepertimu.”
Matsukawa meneteskan air matanya. Ia mengusapnya kasar menggunakan lengan kanannya yang terbalut jas hitam pekat. Matsukawa lantas tersenyum lebar.
“Sensei, terima kasih sudah mengawasi kami dan mengajari kami banyak hal. Kami, terutama aku, sangat bangga memilikimu sebagai pelatih. Terima kasih banyak.”
***
AN : Halo pembaca sekalian ^_^
Ini adalah fanfic yang udah lama kutulis, cuma penasaran kalo di-posting di sini ada yang baca apa enggak, hehe.
Btw, kalau ada yang tertarik sama cerita fantasi, aksi, petualangan, mampir ke novelku berjudul Terminator Warrior yuk. Ikuti kisah perjalanan Alpha dan Ursa yang harus menyelamatkan penduduk desanya, tapi mereka malah dijadikan tawanan oleh prajurit militer!
Mampir ya ^_^