Namaku Nayla Ambarwati, umurku baru lima belas tahun, dan aku baru saja diterima di SMA Negeri favorit di daerahku. Di pagi hari yang cerah aku berangkat ke sekolah, dengan mengendarai sepeda ontel ku. Ini adalah hari pertama ku masuk sekolah, dan di hari ini adalah MOS (Masa Orientasi Siswa), dan aku sedang menjalankannya untuk jadi siswa baru di sekolah itu.
Dengan seragam putih biru SMP ku, aku memakai tas terbuat dari kantong pelastik dan juga memaki topi jerami dan gelang dari tali rafia yang dipelintir. Aku benar-benar sangat terlihat aneh di hari ini, tapi inilah yang harus kujalani saat aku dalam masa MOS di SMA baruku.
Kurang lebih dari tiga puluh menit perjalananku dari rumah ke sekolah, aku pun masuk ke sekolah dan memarkirkan sepedaku di tempat parkir khusus untuk parkiran roda dua. Aku berjalan seorang diri ke arah lapangan sekolah, aku duduk dengan santai di kursi yang ada di pinggir lapangan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dan berkata “Hai, sedang apa kamu di sini?” tanyanya pada ku, cewek cantik yang juga berpenampilan aneh sepertiku.
Aku tersenyum dan menjawab “Aku hanya sedang duduk dan menunggu bel masuk dimulainya MOS dari kakak panitia." jawabku dengan ringan.
“Boleh aku juga ikutan duduk di sini?” tanyanya lagi kepadaku.
"Tentu saja boleh, kenalkan namaku Nayla Ambarwati." jawabku kepada cewek itu sambil mengulurkan tanganku untuk berkenalan.
"Namaku Nafa Agustin panggil saja aku Nafa.” jawab cewek itu sambil menjabat tanganku dengan erat.
“Hei Nayla, perkenalkan namaku Lira Larasati panggil saja aku Lira ya.” cewek cantik yang lainnya yang baru datang juga sambil menjabat tanganku. Lalu ikutan duduk disebelah aku dan Nafa.
Akhirnya kami bertiga ngobrol dengan seru dan kadang tertawa terbahak bersama. Sampai beberapa menit kemudian ada pengumuman dari para kakak panitia, “Pengumuman untuk semua siswa siswi baru segera berkumpul di lapangan sekolah, karena acara MOS akan segera dimulai.”
“Ayo kita ke lapangan sekolah.” ajakku pada Nafa dan juga Lira .
“Oke,” jawab mereka berdua.
“Oh ya, sekarang kita bertiga jadi sahabat ya?” kata Nafa sambil merangkul pundakku dan juga Lira.
“Oke deh Fa,” jawabku dan Lira sambil tersenyum manis. Lalu kami tiba di lapangan dengan senyum bahagia dan bergandengan tangan.
“Sekarang tugas kalian adalah meminta tanda tangan dari anggota OSIS dan juga guru serta staf SMA ini, caranya adalah dengan …?” perintah kakak kelas dua belas yang sangat ganteng dan juga tegas. Dan wajah kakak itu bikin anak anak cewek kelas sepuluh jadi pada mengidolakannya.
“Eh Kakak itu cakep juga ya?” gumamku.
“Iya Nay, dia itu kan Kak Rangga kakak kelas dua belas IPA tiga, dia pacarnya Kak Rina kelas dua belas IPA empat” jawab Nafa padaku.
“Kak Rangga dan Kak Rina itu pasangan paling waoh di SMA ini lho.” tambah Nafa lagi.
“Oh ya?” ucapku dengan nada bertanya tanya.
“Sekarang cepat kalian minta tanda tangan.” perintah Kak Rangga lagi.
“Baik kak.” jawab semua peserta MOS.
Aku, Nafa, dan Lira pergi kemana-mana selalu bersama, karena kita sudah jadi sahabat mulai hari ini, walau kami baru saja bertemu dan berkenalan. Aku mengajak Nafa dan Lira untuk ke kantin membeli minum dan makan dulu baru setelah itu kami lanjutkan meminta tanda tangan yang kurang lagi.
Belum sempat kami makan, tiba-tiba ada Kak Rani di kantin dan menegur kami supaya tidak makan karena bisa terlambat mengumpulkan tanda tangan, dan harus bergegas. Akhirnya aku hanya membeli jus jambu dan membawanya untuk ku minum sambil jalan. Kami berjalan terburu-buru ke arah lapangan untuk meminta tanda tangan kepada kakak anggota OSIS, karena tadi kami sudah ke ruang guru untuk meminta tanda tangan dan sudah dapat semuanya.
Bruk.
“Auw..” teriakku karena ada orang yang menabrakku sehingga buku catatanku jadi berantakan dan juga basah kena tumpahan minuman yang dibawah oleh orang itu, dan minumanya juga tumpah mengenai ke bajunya, sedangakan sebagian minumannya ke bajuku.
“Eh, Lo punya mata gak sih?! Lihat nih baju gue jadi basah semua dan minuman yang ku beli belum sempat gue minum.” bentaknya dengan nada yang begitu tinggi.
“He,,,kamu aja kali yang jalan gak lihat-lihat, nih, kamu lihat buku ku jadi basah semua, dan bajuku juga kena.” ucapku lebih judes.
“Kok Lo malah marah ke gue, kan Lo yang salah, minta maaf gak Lo.” ucapnya marah dengan nada tinggi.
Dengan judes aku bilang, “Ih.. ogah banget ya, ngapain gue minta maaf sama Lo.” ucapku padanya.
Bruk.
Dia mendorongku sampai Kedinding dan menahan tubuh ku, serta menatap ku dengan tajam.
“Hei, apa yang mau Lo lakukan pada …” perkataanku terhenti, karena ada Kak Rangga datang berjalan kearah kami.
"Radit stop, jangan ribut lagi, kalian berdua kakak hukum untuk hormat di bawah tiang bendera di lapangan sampai jam pulang sekolah.” perintah Kak Rangga dengan marahnya.
“Baik Kak.” jawabku dan Radit barengan.
“Nih aku titip bukuku.” ucapku kepada Nafa dan Lira.
“Ayo kalian berempat kumpul di aula untuk melanjutkan acara MOS, masih ada waktu satu jam lagi acara akan selesai." ucap Kak Rangga.
Nafa, Lira, Kenan dan Yoga berjalan menuju ke aula bersamaan. Ku tatap mereka berjalan dan sepertinya sedang mengobrol.
“Ini semua gara-gara Lo sih, jadi dihukum kan.” ucap Radit kesal pada ku.
“Kok aku sih, kamu tuh ngeselin banget pake dorong aku nabrak dinding lagi, sakit tau.” ucapku dengan marah kepada Radit.
Kami berdua hormat di bawah tiang bendera walaupun sinar matahari begitu terik. Tiga puluh menit telah berlalu, tapi kami berdua hanya diam saja, dan juga tak ada informasi selanjutnya dari kak Rangga.
“Emmm.. nama Lo Nayla ya? Nama gue Radit.” ucap Radit padaku memecah keheningan.
“Iya, nama gue Nayla Ambarwati." ucapku dengan ketus.
Radit tersenyum “Oh, nama gue Radit Prasetio, panggil aja gue Radit." jelasnya padaku
“Oke,” jawabku singkat.
Setelah itu kami terdiam kembali, dan tak terasa pulang sekolah hanya tinggal tiga puluh menit lagi.
“Sebentar lagi pulang nih Nay.” ucap Radit sambil menoleh ke arahku. Aku juga menoleh ke arahnya.
“Iya nih.” jawabku dengan nada lemas.
“Eh.. ya ampun Nay muka Lo pucat banget tuh, mendingan Lo duduk di tempat teduh dulu gih." ucap Radit padaku.
“Ah.. gak usah, gue gak apa kok.” jawabku dengan senyuman.
“Oh ya Nay, gue mau ngomong kalau gue mau minta ma..”
GUBRAK!!!
Ucapan Radit terhenti, karena aku pingsan. Samar samar aku merasakan Radit langsung menggendong aku ke tempat teduh dengan panik berusaha untuk membuatku sadar.
“Nay sadar dong, Lo kenapa sih?” Radit menciprati wajahku dengan air untuk bisa membangunkan ku.
“Emm.. aku gak apa kok, paling cuma haus dan laper aja.” jawabku dengan nada masih sangat lemas dipangkuan Radit.
“Ayo ke UKS.” ajak Radit.
“Gak usah, sepuluh menit lagi kan sudah pulang." jawabku dengan nada lemas.
Dan akhirnya kami kembali lagi hormat di bawah tiang bendera. “Thanks ya Dit, kamu tadi nolongin aku.” ucap terima kasihku kepada Radit.
“Oke gak masalah.” jawab Radit.
“Emmm… kamu tolong jangan bilang ke siapa-siapa ya tentang tadi.” ucapku lagi dengan malu.
“Iya gak usah khawatir," jawab Radit dengan nada juteknya.
Kring… Kring…
Suara bel pulang sekolah yang terdengar begitu nyaring, dan semua orang pada berhamburan keluar.
“Hai Nayla kamu gak kenapa-napa kan?” tanya Lira dan Nafa dengan nada cemas kepadaku.
“gak kok, gak papa.” jawabku dengan tersenyum. Dan ku lihat Radit sudah melenggang pergi.
“Oh ya gimana kalau kita makan bakso dulu di perempatan jalan depan,” ajak Nafa.
“Oh.. Ayo ayo, nanti kamu sama aku aja ya Nay kita anterin kamu pulang, sekalian pengen main ke rumahmu.” ucap Lira.
“Oke, terserah kalian." jawabku.
"Aku ambil sepedaku dulu ya diparkiran," ucapku dan langsung berjalan ke arah parkiran.
Keesokan harinya aku sedang berada di perpustakaan, tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.
“Hai Nay, gimana kabar Lo hari ini?” tanya Radit padaku dengan senyuman yang aneh.
“Baik, ngapain Lo di sini.” ucapku ketus padanya.
“Ketus banget si neng, aku mau minta maaf soal yang kemarin, dan juga mau ngajak Lo ke kantin bareng.” ucapan Radit yang terdengar sedikit aneh bagi ku.
“Eh. Ngapain mau ngajak gue ke kantin? Lo mau palak gue dan minta gue traktir gitu?” tanya ku yang heran dan juga penasaran.
“Nggak kok, justru gue yang mau traktir Lo.” jawab Radit tersenyum lebar.
“Aneh." jawabku dan mengabaikan dia.
"Ya...Kok gitu si Nay?" keluhnya padaku.
"Ok deh, ayok." aku bangkit dan berjalan keluar dari perpustakaan.
Wah ternyata di kantin sudah ada Lira dengan Kenan, dan anafa dengan Yoga. Mereka sudah jadian, gak tau kenapa bisa begitu dan sejak kapan. Aku pun duduk dengan Radit, dan Radit terlihat begitu salah tingkah. Entah kenapa hatiku jadi deg-degan saat begitu dekat dengan Radit, apa lagi dia jadi perhatian dengan ngambilin aku minuman dan juga bawain pesenanku.
Keesokkan harinya Radit mengatakan cinta kepadaku di lapangan sekolah dan dilihat oleh anak kelas sepuluh dan dua belas, dia memintaku untuk jadi pacarnya. Akhirnya aku menerima pernyataan Radit pada ku, karena sebenarnya aku juga suka dengan Radit dari hari pertama MOS, cuma gengsi karena dia jute padaku. Dan kami pun resmi jadian pada hari itu, dan Adit menjadi cinta pertamaku juga pacar pertamaku.